
Sudah menjelang malam keduanya masih berada jauh dari tempat dinas hans, padahal hans sudah meminta pada ceisya untuk kembali tapi hans tidak bisa membujuk ceisya untuk pulang dia masih ingin terus melihat banyak tempat, sebab dari banyak tempat yang hans tunjukkan semuanya menarik menurut ceisya apalagi saat ini ada pertunjukan seperti ketoprak atau apapun itu biasanya sebagai sarana hiburan di masayarakat jawa tengah dan jawa timur yang jelas hiburan, hal ini menarik perhatian ceisya yang ingin melihatnya padahal acara akan berlangsung beberapa saat lagi dan akan usai hingga menjelang pagi.
Di tempat itu banyak berjejer pedagang makanan dan main anak-anak, yang cukup menarik ceisya ingin menikmati kuliner yang ada diantaranya kacang, jagung rebus, martabak dan beberapa makanan yang di sukai anak-anak salah satunya permen kapas yang warna warni.
"Ada yang sya mau?" hans sepertinya tahu ceisya ingin menikmati permen kapas itu.
Ceisya sedikit heran pada ucapan hans tidak memanggilnya nona lagi padanya dan tawaran dari hans tidak ceisya sia-siakan dengan langsung menyetujui dengan serakah ceisya banyak permintaan yang lain pada hans.
"Boleh dengan yang itu, itu, itu" pinta ceisya dengan manja pada hans.
"Boleh, mau apa lagi?" tanya hans dengan senyum dan gelengan kepala, yang menurut hans ceisya seperti baru melihat semua ini dan hans bisa memakluminya.
Dan tidak beberapa lama pertunjukan berlangsung dalam hiburan itu ada bagian yang membuat ceisya tidak berhenti tertawa yang menurutnya lucu, buat hans ini tidak biasa melihat ceisya bisa tertawa begitu lepas seperti tidak ada beban dalam benaknya saat ini.
Hans merasa sangat bahagia ada banyak momen selama perjalanan hari ini yang membuat ceisya begitu bahagia, tidak seperti beberapa hari yang lalu ceisya bersikap tidak sepantasnya kepada dirinya sebagai seorang pasangan hidupnya tapi baginya apapun perlakuan ceisya sudah bagian hidupnya yang harus bisa di terima tanpa ada penyesalan.
Hampir menjelang pagi keduanya masih berada di tempat yang cukup jauh dan di tempat yang membuat ceisya ingin bermain air, tempat ini banyak nelayan yang baru saja kembali dari menangkap ikan.
Hans membeli beberapa ikan dan ingin di nikmatnya berdua, tidak jauh dari keduanya ada sebuah warung, hans terlebih dulu mengikat kedua ekor kuda pada pohon yang cukup rindang, hans menuju warung dan meminta pemilik warung memasak ikan yang di belinya.
Dan pemilik warung bersedia, berbeda dengan ceisya yang seperti lapar akan kebebasan dia lebih memilih bermain air laut dan mengumpulkan kulit kerang yang menurut dirinya menarik.
Tidak lama pemilik warung menyajikan makanan dan ikan yang di beli hans, ceisya begitu menikmati hidangan sederhana menurut hans tapi begitu istimewa di mata ceisya dengan tanpa malu ceisya menikmati dengan sesekali tersedak karena terlalu buru-buru dalam mengunyah.
"Pelan-pelan sya, semua untuk sya" pinta hans dengan mengusap punggung ceisya dan memberikan segelas air minum pada ceisya yang malu karena di bantu meminumnya.
"Kenapa berhenti?" tanya hans pada ceisya yang seperti bingung juga malu.
"Ga, bisa kupas kulitnya" ucap ceisya pelan terdengar yang membuat hans tersenyum.
"Apa sih yang sya bisa?" goda hans yang membantu ceisya mengupas kulit udang yang dia minta pada hans.
Kali ini ceisya sangat di buat malu tapi sangat menikmati kehangatan seorang hans yang dengan sabar menyuapi udang yang ceisya minta, ini juga salah satu hal yang ceisya rindukan selama ini pada orang terdekatnya.
Tapi kehangatan yang hans berikan sangat berbeda dengan mas adhi yang dulu jadi orang terdekatnya, hans memberikan rasa cinta tanpa banyak kata tapi memberikan sentuhan yang lansung sampai ke hati walaupun dengan cara yang tanpa berharap balasan dari ceisya itu yang saat ini dirasakan ceisya yang sesekali memandang hans takut seseorang itu bertanya padanya.
"Enak" tanya hans pada ceisya yang hanya bisa tersipu malu pada hans terlihat kedua pipinya memerah, yang membuat hans tertunduk malu bila terus memandangnya.
"Coba saja, kali saja menurut anda berbeda" ceisya hanya ingin menggoda hans yang tertunduk, entah apa yang membuat hans tersipu malu dengan tertunduk pikir ceisya.
"Aku percaya, ini pasti enak" hans kembali tertunduk setelah menyuapi ceisya, yang membuat ceisya berpikir buruk pada hans yang takut mengerjainya.
"Bukannya anda belum mencobanya tapi kenapa anda bilang enak, anda tidak sedang membohongi sya!" kali ini ceisya menolak udang yang ada di tangan hans.
"Tidak, untuk apa aku membohongi diri mu" hans berusaha memberikan penjelasan pada ceisya yang cemberut.
"Lalu kenapa anda belum mencoba tapi anda bilang enak!" ceisya memandang intens hans tanpa ada rasa enggan apa lagi takut.
"Sya mau tahu" kali ini hans ingin sekali ceisya kesal padanya sebab menurut hans terlihat sisi gadis kecil yang sombong yang dulu dilihatnya.
"Ih, kenapa anda membuat sya kesal, tentu sya mau anda jujur pada sya" ceisya terlihat kesal pada hans tapi sebaliknya yang membuat kesal malah tersenyum tanpa bersalah pada ceisya dan tanpa sadar ceisya memukul dada hans dan terisak di dada hans.
Hans merasa bersalah atas tindakannya yang sebenarnya ingin menggoda berbalik menjadi melukai hati ceisya, terlihat hans menyesali perbuatannya.
"Maaf bukan maksud ku ingin melukai hati sya, memang terlihat enak udang yang sya makan sebab sya begitu menikmati jadi menurut ku sudah bisa dipastikan itu enak rasanya" hans menjelaskan pada ceisya yang membuat ceisya malu tapi ingin rasanya membalas hans dengan cara ceisya tentunya.
"Benar bukan ingin mengerjain sya?" tanya ceisya yang sebenarnya ingin membalas hans dengan pura-pura mengusap air mata yang terlanjur menetes.
"Benar sedikit pun tidak ada dalam benak ku sya, untuk mengerjain sya sebab tidak ada keuntungan buat ku" ucapan hans terdengar tegas dengan harapan ceisya tidak terluka.
__ADS_1
"Apakah anda berkata yang sebenarnya?" tanya ceisya yang jelas-jelas membalas pada hans.
"Tentu tiap ucapan ku bisa di pertannggungjawabkan sya, bila ada yang menurut sya mengerjain mohon maaf dan siap menerima hukuman dari sya" hans sepertinya tidak ingin ceisya terluka hatinya.
"Kenapa anda mau di rendahkan seperti ini?" ujar ceisya yang kali ini tidak ingin membalas sebab siapa hans seorang komandan di kesatuannya yang begitu di hormati kenapa sampai mau merendahkan dirinya hanya karena masalah udang yang sangat sepele ini.
"Ini bukan di rendahkan, tapi aku tidak ingin menyakiti hati seorang wanita yang kelak menjadi ibu dari anak-anak ku kelak, itu yang ku takutkan sya, aku tak ingin menyakiti hati sya" ucapan hans membuat ceisya kembali memeluk hans dan tanpa malu mencium pipi hans, yang membuat hans spontan kaget.
"Terima kasih, untuk semua yang hal indah dalam beberapa hari ini" balas ceisya yang berlari kembali menuju ke bibir pantai.
Pemilik warung di buat tersenyum melihat tingkah ceisya yang terbilang genit, tapi tidak ada hak untuk ikut campur sebab tidak ada kepentingan di dalamnya.
"Bu, maaf berapa ini semua?" tanya hans yang ingin bergegas pergi dari tempat ini sebab waktu sudah hampir menjelang senja.
"Hanya tiga puluh ribu mas" ucap ibu pemilik warung yang ramah
"Ini uangnya, maaf ya bu bila ada kegaduhan tadi istri saya memang manja" hans tidak ingin ceisya mendapatkan penilai buruk dari orang yang tidak mengenalnya.
"Oh, ibu kira pacar mas" ujar ibu warung yang hanya bisa mengangguk seperti menarik penilaian tentang ceisya.
"Dia istri saya bu, terbiasa di manjakan keluarganya, sekali lagi maaf dan banyak terimakasih, saya permisi bu" hans memberikan penjelasan sebelum meninggalkan warung.
Keduanya sudah kembali berkuda dan berniat kembali ke tempat dinas tapi dalam perjalan ada hal yang sangat tidak di harapkan terjadi tepatnya di pertengahan jalan nampak beberapa orang yang bersiap untuk melakukan tindakan ingin memeras hans dan ceisya.
"Sasaran empuk nih !!!" ucap salah satu begal yang terlihat bertato banyak di tangannya dengan tatapan sadis.
"Ini bukan empuk lagi tapi kakap bro !!!" yang lain menambahkan dengan pedang yang di mainkan di tangannya.
"Turun, serahkan apa yang anda bawa !!!" bentak yang lain pada hans dan ceisya.
Hans turun dan memerintahkan ceisya juga turun dari kudanya, tapi dengan mata memerintahkan ceisya untuk siap berlari bersama dengannya untuk sementara menghindar.
Dan benar saya hans langsung mengusap kepala kuda kepercayaannya dan seperti berbisik padanya dan tidak lama kedua kuda itu sudah berlari kencang menjauh dari hans dan ceisya, bersamaan keduanya juga sudah berlari berlawanan arah dengan arah kuda yang berlari juga, cara ini untuk memecah konsentrasi lawan itu yang hans pikirkan.
Malam semakin larut keduanya masih dalam perjalanan dan tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan lagi sebab dalam kegelapan malam, cukup berbahaya juga dari hewan buas itu yang hans tahu apalagi ada ceisya bersama dirinya.
"Kita akan bermalam disana" hans menunjukkan tempat yang sepertinya hans sering mendatanginya, itu yang ceisya pikirkan sebab tempat ini begitu nyaman dan tidak asing buat hans yang langsung mengambil kayu bakar dan bersiap membuat api unggun untuk membuat malam ini tidak dingin dengan udara malam yang sudah mulai terasa di kulit.
"Sepertinya tempat ini tidak asing untuk anda?" ucap ceisya yang melihat hans menyalakan kayu bakar.
"Sya benar, tempat ini sesekali menjadi tempat istirahat buat kami semua bila terjebak badai" hans menjelaskan pada ceisya yang terlihat kedinginan.
"Pakai ini " hans melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya yang membuat ceisya hanya bisa menatapnya dengan tatapan bahagia bisa bersamanya.
"Ada apa, sya takut?" tanya hans yang hanya itu ada dalam benaknya saat ini.
"Tidak, hanya kenapa anda begitu baik pada sya" ceisya berharap hans memberikan penjelasan pada dirinya.
"Karena sya istri ku" balas hans yang kembali membuat ceisya tidak percaya pada ucapan hans untuk kedua kalinya.
"Sya tidak percaya dengan apa yang anda ucapkan" ucapan ceisya sepertinya menyadarkan hans untuk jujur pada ceisya yang pasti akan membencinya.
"Baiklah, akan ku katakan hal sebenarnya tapi" hans berhenti sesaat seperti mengatur napas berlahan.
"Katakan saja walaupun itu sakit yang akan sya dengar" ucap ceisya membuat hans harus mengatakannya dengan harapan tidak ada beban lagi dalam dadanya.
"Ceisya gadis yang terlalu polos di mata seorang hans, sya hanya di manfaatkan orang terdekat sebagi alat kekuasaan sang penguasa, rasanya tidak pantas seorang hans untuk jadi suaminya sebab berbeda dunia tapi aku tidak ingin melihat sya di manfaatkan orang yang seharusnya menjadi pelindung sya" ucapan hans membuat ceisya menangis dan mengakui memang benar apa yang ucapkan sesuai yang dirinya rasakan selama ini.
Hans tidak ingin melihat ceisya sedih dan di peluknya tubuh ceisya dengan di usap punggungnya berharap ceisya lebih tenang dan berhenti dari tangisnya.
__ADS_1
"Bagaimana setelah mengetahui kebenaran dari ku?" tanya hans pada ceisya yang sudah mulai tenang.
"Apa anda akan membawa sya kembali kepada keluarga sya?" tanya ceisya yang membuat hans terkejut sebab tidak ada sedikit pun dalam benaknya pemikiran seperti itu pada ceisya.
"Kenapa sya berpikir bahwa aku akan membawa kembali sya pada keluarga sya?" tanya balik hans pada hans yang membuat ceisya melepaskan pelukan dari hans dan ceisya yang memeluk hans.
"Terima kasih, sya sayang anda" ucap ceisya yang mencium hans tepat di bibir hans yang membuat hans sangat terkejut.
"sya !!" ucap hans singkat yang membuat ceisya semakin erat memeluk hans.
"Bisa kan tidak memanggil ku dengan sebutan anda, aku kan suami mu sya" pinta hans pada ceisya yang kali ini ditatapnya dengan penuh harap pada ceisya.
"Haruskah dengan panggilan suami pada anda" ujar ceisya yang membuat hans mengacak lembut kepala ceisya gadis kecil yang sombong pikir hans.
"Tidak seperti itu juga sya, cukup panggil mas saja itu sudah cukup buat ku" pinta hans dengan tersenyum yang menghangatkan itu yang ceisya rasakan.
"Ok, bila itu membuat anda senang, ups maaf" ucap ceisya yang langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Apakah sya akan bahagia bila selalu bersama ku, sedangkan sya tahu dunia sya berbeda dengan dunia ku sya, aku tak ingin sya susah karena ku sya, bukan aku tidak ingin sya bersama ku" ucapan hans kembali membuat ceisya berlinang air mata.
"Apakah mas tahu selama ini hidup sya sebahagia apa?" ceisya bertanya balik pada hans yang membuat seorang hans terkejut.
"Bukannya sya hidup dalam keadaan nyaman dan serba berkecukupan kenapa tidak bahagia sya?" hans seperti ingin tahu apa yang ceisya rasakan dalam hatinya.
"Bahagia, memang bagi yang melihat dari jauh coba jadi sya" ucapan ceisya membuat hans seperti tidak percaya.
"Semua ada aturannya mas bahkan bernapas pun harus sesuai aturan, sya seperti boneka yang sudah di program harus sesuai petunjuk tidak boleh sesekali sesuai kata hati sya" ceisya makin menjelaskan pada hans yang membuat lelaki didepannya seperti sedih setelah mengetahui apa yang selama ini ceisya jalani dan rasakan.
"Kenapa mas yang sedih, itu sudah lewat mas, bukannya sekarang sya bersama mas yang sudah memberikan kebebasan kepada sya dalam banyak hal, terimakasih mas" ucapan ceisya begitu polos membuat hans ingin menggodanya.
"Bukannya aku menyeramkan menurut sya" goda hans yang membuat ceisya merasa malu sebab awalnya dirinya sangat membenci seorang lelaki yang ada di dekatnya banyak di kagumi orang.
"Ih mas, ih jahat deh" rengek ceisya yang membuat hans hanya bisa memeluknya berharap ceisya tenang.
"Biarlah mas jahat di mata sya tapi mas tulus pada sya, love you sya" ucap hans yang membuat ceisya terkejut dan sangat senang bisa di pertemukan dengan seorang hans yang di takuti lawan.
"Sya belum mengantuk?" tanya hans pada ceisya yang masih memainkan tangan hans.
"Belum, ga tahu kenapa sya ga mengantuk ya mas?" tanya ceisya pada hans yang mendekapnya mesra, dalam dinginnya malam.
"Ya, sudah mas saja yang tidur biar sya yang terjaga" goda hans yang membuat ceisya berteriak protes.
"Ga, ga sya takut iya, ya sya tidur" ceisya pura-pura menutup matanya yang membuat hans gemas pada tingkah ceisya yang sesekali terlihat polosnya layaknya anak-anak.
Hans makin mendekap tubuh ceisya dengan harapan ceisya tidak kedinginan di malam ini karena keduanya berada di alam bebas tanpa pelindung.
Hans terus terjaga hingga pagi menjelang, berbeda dengan ceisya yang tidur dengan sangat lelap dalam dekapan hans.
Dari jauh terdengar suara derap langkah kaki kuda tapi bukan satu atau dua tapi terdengar lebih dari yang hans kira, hans dengan berbisik pada ceisya berharap bersiap diri tapi dalam benak hans hanya pasukannya yang tahu tempat persembunyian ini, tapi apa salahnya dalam posisi siaga pikir hans.
Ceisya yang baru terbangun sedikit bingung tapi hans menenangkannya dan ceisya cukup mengerti dan betapa terkejutnya yang datang ternyata pasukannya dan bersiap menjemputnya untuk kembali ke tempat dinas.
"Siap komandan, maaf kan kami tidak segera menjemput komandan" ucap ajudan hans yang membuat hans menepuk pundaknya.
"Sudahlah ayo kita kembali" pinta hans yang sepertinya ingin meninggalkan tempat ini.
"Kita-kita memberi waktu untuk bisa berdua bro" bisik ajudan hans pada hans, bukan sanjungan tapi hukuman push up yang ajudan terima dari hans.
"Turun dua puluh kali" ucap hans dengan tegas pada ajudannya yang membuat ceisya hanya bisa bengong tidak paham denga semua ini.
__ADS_1
Kali ini ceisya satu kuda dengan hans dan sesekali hans menjelaskan apa saja yang di laluinya dalam perjalanan pulang, pasukan yang menjemput hans sesekali di buat kagum oleh sikap hans yang selama ini tidak dekat dengan wanita mana pun, tapi kali ini mencair begitu saja dapat di lihat dari ceisya begitu nyaman berada di dekat hans.
Ajudan berharap hans bisa diterima oleh ceisya sebab hans orang yang baik dan tulus dalam berhubungan apalagi ini ceisya istrinya, dirinya sebagai ajudan saja di perlakuan layaknya keluarga terdekatnya.