
Qiandra bukan menolak dilamar secara resmi oleh Ayres dengan mendatangkan keluarganya tapi ingin sedikit saling mengenal terlebih dahulu,dan hal itu sepengetahuan Hans tentunya sebab Qiandra tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya.
Sebenarnya keduanya masih dalam dunia yang sama ruang lingkupnya, tanpa harus diberitahu Qiandra sangat tahu dunia ayres sebab tidak jauh dengan sang ayah yang satu profesi dengannya.
Siang yang terik ini tidak menyurutkan semangat Ayres untuk menemui pujaan hatinya yang masih sibuk dengan membagikan ilmunya.
"Siang pak" sapa salah satu siswa yang kebetulan berpapasan dengan Ayres.
"Siang.."balas Ayres sopan.
"Mau ketemu Mrs.Sha..pak?" tanya siswa itu dengan sedikit menggoda Ayres.
"Ya..ada keperluan sedikit "Ayres menjelaskan masih dengan langkah tegapnya menuju ruang guru.
"Mrs.Sha..saat ini mengajar di laboratorium" ucap siswa itu menjelaskan.
"Oh..ya,bisa tunjukkan dimana letak laboratorium?" tanya Ayres yang sebenarnya tahu hanya butuh teman untuk berbincang.
"Mari saya antar..pak" ajak siswa itu pada Ayres.
"Disini pak.. sebentar lagi juga istirahat,saya permisi pak" pamit siswa dengan sopan.
"Ya.. terimakasih sudah mengantarkan saya" ucap Ayres dengan sopan.
"Sama-sama,pak" balasnya dengan membungkuk.
Benar saja tidak beberapa lama bel istirahat terdengar, membuat siswa berhamburan keluar dari laboratorium hanya menyisakan beberapa siswa dan Qiandra yang masih merapikan buku miliknya yang akan di bawahnya ke ruangannya.
"Assalamualaikum..hai cantik" ucap pelan Ayres saat Qiandra keluar dari pintu laboratorium.
"Waalaikum salam..ini sekolah pak" Qiandra menjawab sekaligus menegur Ayres.
"Maaf ga boleh ya..?" dengan polos Ayres meminta maaf dan bertanya.
"Ga boleh lah,kenapa juga harus ke laboratorium,kenapa ga nunggu diruang tamu?" Qiandra meminta penjelasan dari Ayres.
"Baik kedepannya aku perbaiki,kenapa langsung kesini supaya hemat waktu sebab waktu kita tidak banyak,bisa temani aku untuk menghadiri pernikahan salah satu rekan dinas undangan, acaranya nanti malam" sebenarnya Ayres hanya menyampaikan tidak mengharuskan.
"Harus pak?"tanya Qiandra yang membuat Ayres gemas sebab wanita dihadapannya masih sepolos dulu saat pertama mengenalnya.
"Kalau Sha..sibuk ga masalah, sebenarnya hanya ingin ditemani saja" Ayres memang bukan lelaki memaksakan.
"Ehm.. sepertinya selepas jam sekolah Q ada jadwal melatih, kira-kira sebelum waktu magrib baru selesai.. gimana?" Qiandra memberikan pilihan sebagai pertimbangan.
"Tapi Sha, pasti cape biarlah aku pergi sendiri" Ayres menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal.
"Bener berangkat sendiri ?" goda Qiandra yang membuat Ayres tersenyum.
"Sebenarnya ingin ditemani tapi aku ga mau sha cape,ya sudahlah" ucap Ayres dengan santai.
"Bisa sih..cuma Q ga harus dandan rapihkan..sebab waktunya yang mepet" Qiandra tidak ingin Ayres kecewa.
"Ga harus dandan juga ga apa-apa,Sha ku sudah cantik dari lahir" puji Ayres yang memang selalu melihat Qiandra berdandan natural.
"Bukannya bapak nanti malu,disana akan bertemu banyak rekan dinas bapak dengan pasangannya bisa jadi dikira bapak bawah pembantu di acara pesta" Qiandra mencairkan suasana sebab Ayres terlihat kecewa beberapa saat yang lalu tapi berusaha ditutupi.
"Siapa yang berani bilang begitu langsung akan kena" Ayres menunjukkan kepalan tangan.
"Q ga suka kalau ga terpaksa untuk beladiri" Qiandra menunjukkan muka kecewa.
"Maaf sayang,aku ga gitu kok" bujuk Ayres dengan tersenyum.
"Pak.." Qiandra menangguhkan ucapannya.
"Iya..Sha, kangen tanpa harus Sha bilang aku tahu" dengan percaya dirinya Ayres berucap.
"Ih..percaya diri sekali bapak" tegur Qiandra dengan tertunduk takut ucapan Ayres di dengar oleh siswanya.
"Aku memang selalu percaya diri,kalau tidak musuh sudah melibas habis aku" Ayres menjelaskan.
"Maksud saya bapak sudah makan siang belum, bukan yang bapak bilang barusan" dengan tersenyum Qiandra menjelaskan.
"Oh..kirain yang tadi,soal makan siang belum sebab aku langsung kesini selepas jam istirahat" Ayres memegang perutnya.
"Ayo.. sebelum waktu habis"Qiandra menarik tangan Ayres,hal ini membuat Ayres senang bukan kepalang.
Qiandra menyimpan buku miliknya dan mengambil tas bekal makan siangnya dengan tidak pakai waktu lama keduanya sudah berada di taman sekolah yang rindang dengan banyak siswa yang duduk bersantai menghabiskan waktu istirahatnya.
"Silahkan dimakan" ucap Qiandra yang sudah membuka kotak bekal makanannya.
"Serius sebanyak ini ?" tanya Ayres yang bingung dengan beberapa kotak bekal yang dibawa Qiandra.
"Hari ini Q sampai menjelang malam pak, jadi ini yang Q siapkan biar ga jajan diluar, untuk mengisi perut Q "Qiandra menjelaskan dan Ayres mengerti.
"Nanti habis dimakan aku gimana?" tanya Ayres di sela acara makannya.
"Ga, masalah Q masih punya stok kue-kue kok" penjelasan Qiandra membuat Ayres makin tahu kalau Qiandra bukan anak yang suka jajan di luaran sana.
"Enak nih..boleh ikut gabung Mrs ?" canda salah satu siswa.
"Ayo..sini" ajak Qiandra pada siswanya.
"Nanti ganggu" balas salah satu siswa yang lain.
"Ga..kok,pak Ayres memang kebetulan saja datang pas jam makan siang jadi Mrs minta untuk gabung,ayo Mrs malah senang kalian mau gabung" ucap Qiandra dengan meminta begitu pun dengan Ayres yang tanpa merasa risih dengan kehadiran siswa didik Qiandra untuk bergabung.
Ayres makin mengerti kenapa Qiandra begitu di kagumi sosoknya oleh siswa-siswinya,bukan hanya kepribadiannya saja tapi kedekatan secara emosional dia begitu dekat dengan anak didiknya.
"Mrs,besok boleh bawah lagi sebab enak.." ujarnya dengan tersenyum.
"Mrs, usahakan" balas Qiandra.
"Ga..usah Mrs,dia bisa keenakan dia kan suka gratisan" sambar yang lain membuat suasana riuh karena saling melempar sorakan.
"Memang gratisan paling enak,bener ga?" ujar Ayres dengan memberikan tissue pada Qiandra yang berkeringat.
"Terimakasih pak" ucap Qiandra yang memperhatikan Ayres merapikan kotak bekal yang sudah tandas isinya.
'Kenapa semua yang ada diri ayah ada pada mu' Qiandra membatin dengan pura-pura mendengarkan candaan siswanya.
"Berhubung sudah kenyang aku pamit" canda Ayres pada Qiandra yang sebenarnya berharap siswa didik Qiandra meninggalkan dirinya untuk bicara berdua dengan Qiandra.
"Ih..bapak smp" tegur siswi yang membuat Ayres bingung.
"Saya sudah lulus lebih dari SMP" balas Ayres.
__ADS_1
"Maksudnya,sudah makan pulang" ujar Qiandra mewakili siswanya.
"Oh..kirain sekolah,terus kalau saya disini terus mau ngapain?" tanya Ayres dengan datar sebab ga paham candaan anak kekinian.
"Yang jelas ga jadi penjaga pohon ini pak" ujar salah satu siswa yang membuat tawa siswa yang lain termasuk Qiandra.
'Ya..tuhan senyum manisnya bikin hati Abang adem neng' Ayres tertunduk bukan karena malu di goda siswa Qiandra tapi melihat senyum milik bidadari yang ada di sampingnya.
"Kalau menjadi penjaga hati seseorang boleh ga?" ucap Ayres yang mematahkan godaan siswa Qiandra yang garing.
"Boleh saja pak..tapi sekelas kita-kita ga mungkin,bagaimana kalau dengan Mrs Sha.. bapak seperti cocok " balasan ucapan salah satu siswa membuat Qiandra batuk-batuk.
"Kenapa?" tanya Ayres dengan suara pelan,hanya gelengan yang Qiandra berikan.
"Kalian ini gimana sih,ga mungkin kalau harus sekelas sedangkan saya sendiri..ini tidak masuk akal" tawa kembali pecah.
"kami kira bapak orang yang serius ga tahunya bisa juga kita ajak seru-seruan" bincang santai harus berakhir seiring suara bel masuk yang membuyarkan siswa dari tempatnya melepaskan penat.
"Mrs..thanks untuk makanannya bikin nagih" ucap salah satu siswa yang berjalan menjauh dari Qiandra yang hanya memberikan senyumannya.
"Sha..boleh ga aku minta" ucap Ayres yang membuat bingung Qiandra.
"Boleh saja tapi minta apa dulu..dan jangan yang aneh-aneh ya" Qiandra menunjukkan muka seriusnya,ini yang Ayres sebenarnya tidak suka.
"Belum juga meminta sudah dalam mood siaga satu" ucapan Ayres sangat di mengerti oleh Qiandra yang diam.
"Aku hanya minta kalau senyum manisnya dikit aja..maksudku sebab kamu sudah manis" ucapan Ayres membuat Qiandra menunduk.
"Sayang aku pamit dulu ya.." pamit Ayres pada Qiandra.
"Maaf atas persetujuan siapa bapak memanggil saya dengan panggilan itu" ucap Qiandra dengan serius.
"Inisiatif aku saja" Ayres menunjukkan senyum.
"Maaf ya..pak saya ga suka panggilan itu"penolakan Qiandra membuat Ayres diam seperti berpikir.
"Ok..kalau ga suka untuk sementara aku samain sama panggilan ayah dan bunda ga masalahkan?" Qiandra tersenyum yang bisa diartikan dia setuju.
"Aku pamit..ya,nanti aku jemput dirumah sekalian ijin sama ayah dan bunda" ayres siap melangkah meninggalkan Qiandra.
"Ya..Q tunggu tapi jangan sendiri ajak salah satu rekan dinas,kita ga mau berduaan" ujar Qiandra yang dimengerti Ayres dengan mengangguk.
Waktu tidak seperti langkah yang bisa dihentikan terus bergerak begitupun dengan Qiandra yang masih dengan kesibukannya yang saat ini sudah bersiap untuk pulang selepas melatih beladiri disalah satu gelanggang olahraga.
Ingin rasanya Qiandra memejamkan matanya sepanjang jalan yang dilaluinya didalam kendaraan yang dikemudikan oleh mas Joko yang sudah jadi supir pribadinya.
"Langsung pulang mba ?" tanya mas Joko.
"Iya..mas sebab pak Ayres menunggu di rumah" Qiandra memberikan tahu mas Joko.
Benar saja tidak bjauh dari gerbang utama nampak terlihat dengan jelas mobil milik Ayres bertengger.
"Terimakasih mas" ucap Qiandra ada mas Joko,sikap seperti itu sudah jadi kebiasaan Qiandra.
"Sama-sama mba" ucap mas Joko sebagai balasan.
Langkah kaki yang terlihat berat tapi masih dengan semangat Qiandra tunjukkan, itulah salah satu keistimewaan yang orang tidak banyak tahu.
"Assalamualaikum..Q pulang dengan selamat" ucap Qiandra yang masuk kedalam tanpa Ayres tahu, karena Qiandra masuk bukan pintu utama.
"Cape,ya..?" tanya ceisya pada putrinya yang melepaskan sepatu dan menurunkan tas punggungnya.
"Iya..bunda" rengek Qiandra yang terdengar ke ruang tamu.
"Bunda bantu siapkan air hangat ya..biar berkurang lelahnya" ragu sang bunda yang melihat wajah lelah putrinya.
"Hmm.. terimakasih bunda" balas Qiandra yang langsung mengekor di belakang sang bunda.
Tidak lama suara adzan berkumandang,dan sudah jadi kebiasaan keluarga Hans melaksanakan sholat berjamaah sebagai rutinitas bersama bila berkumpul bersama.
Ayres malam ini tidak datang seorang diri, sesuai permintaan Qiandra yang akan memenuhi undangan pernikahan rekan dinas Ayres.
Ayres mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta ijin membawa Qiandra untuk menemaninya menghadiri undangan pernikahan rekan dinasnya.
Hans dengan tegas tidak memberikan ijin namun Ayres menjelaskan kalau mereka bukan pergi berdua saja melainkan ada dua orang rekan dinas yang saat ini menemani Ayres dikediaman Hans.
"Apa kalian berdua tidak memiliki pasangan ?" tanya Hans tegas terdengar,memang seperti itu karakter Hans yang serius bila menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan keluarga dan kedinasan.
"Baru saja di putusin..pak" dengan sedikit malu mereka berdua menjelaskan statusnya.
Hans hanya mengangguk sesekali melihat kedalam seperti enggan memberikan ijin untuk kepergian putrinya.
Dengan sedikit drama yang semestinya tidak terjadi,tapi Hans dengan berat hati untuk memberikan ijin walaupun dengan catatan pulang tepat waktu sesuai yang Ayres janjikan.
Qiandra berpenampilan sesuai acara senatural mungkin sebab Hans pasti akan memberi penilaian penampilan putrinya.
Qiandra pun sadar diri tidak ingin menjadi pusat perhatian walaupun siapa yang tidak kenal dengan Ayres yang cukup familiar di telinga rekan dinasnya dalam perjalanan karier dan status dalam kedinasannya.
"Saya bersyukur ga jadi obat nyamuk" ucap Helmi menggeluarkan jurus usilnya.
"Oh..jadi ini rencana kamu" bogem mentah melayang di salah satu lengan Helmi.
"Lah..kenapa jadi saya yang kena" protes Helmi pada Nayaka yang kebagian membawa mobil.
"Apa kalian berdua tidak malu sama bidadari yang ada di belakang kalian" tegur Ayres yang sebenarnya hanya bercanda.
"He..he,maaf Sha " ucap Helmi dengan tersenyum menunjukkan dua gigi kelinci putihnya.
"Udah ga usah lama senyumnya..pasta gigi mahal" tegur Nayaka yang fokus pada jalanan malam ini.
"Lagian sapa juga yang senyum sama beruang kutub"balas Helmi dengan membuang muka keluar jendela.
"Dasar kelinci.." balas Nayaka lagi yang membuat Helmi memandang lawan bicaranya.
"Tapi imut kan" Helmi mengedipkan matanya.
"Ih..saya masih ingin yang normal.." teriak Nayaka membuat Helmi tertawa.
"Memang seperti ini ya.. keseharian bapak kalau di luar dinas?" tanya Qiandra.
"Ya..masih batas wajar saja sih, kalau pun sampai kelewatan batas kami akan saling memaklumi sebab kami satu frekuensi " Ayres menjelaskan.
"O.." ujar Qiandra yang hanya berucap satu huruf.
"Kok O..?" tanya Helmi yang bingung.
__ADS_1
"Kalau ah..nanti bapak yang bingung" balas Qiandra tanpa maksud lain, berhubungan ketiga lelaki itu satu frekuensi berbeda pemikiran dengan Qiandra.
"Sudah..sudah Q jangan dengarkan kata mereka" pinta Ayres yang semakin membuat Qiandra makin bingung.
'Baru juga beberapa menit bersama mereka aku sudah di buat bingung dengan pola pikir mereka' dalam kebingungan Qiandra berbicara sendiri.
"Gimana sih komandan..memang kita-kita ngomong apa, sampai-sampai jangan dengarkan" protes Helmi yang memang paling banyak berbuat usil diantara rekan dinas Ayres.
"Memang Q salah ngomong ya pak ?" tanya Qiandra pada Ayres.
"Ga..ada salah ,aku yang salah" Ayres berusaha membuat suasana kondusif dengan berharap Qiandra tidak bertanya lagi siapa yang salah.
Tanpa terasa mereka sudah sampai tempat tujuan undangan pernikahan rekan dinas ayres,belum juga mereka memasuki gedung tapi suasana pesta pernikahan sudah dapat mereka rasakan.
Tegur,sapa mulai terdengar menambahkan keakraban diantara mereka,disini bukan ajang ujuk jabatan tapi kebersamaan untuk mempererat hubungan lintas generasi.
Bagi Qiandra pertemuan undangan seperti ini termasuk biasa maklum saja, level Hans selaku ayah Qiandra secara jabatan diatas Ayres tentunya.
Begitupun tamu undangan masih sebatas lintas generasi komandan serta sedikit diatasnya yang Qiandra perhatikan.
Ayres memperkenalkan Qiandra kepada rekan dinas yang sejawat serta yang berhubungan dekat saja dengan dirinya.
Ayres cukup dikenal oleh putra putri rekan dinas yang setingkat bahkan diatas Ayres,mungkin dari wajah tampannya atau dari jabatannya yang cukup diperhitungkan.
"Kak..Ayres,kita foto bareng yuk" ucap seorang wanita yang sebenarnya tidak jauh bedah secara usia dengan Qiandra yang menghampiri Ayres dengan beberapa teman gadisnya.
Ayres seperti meminta ijin pada Qiandra dengan kode matanya,yang di ijinkan oleh Qiandra sebagai balasan.
Setelah beberapa sesi foto Ayres kembali menghampiri Qiandra yang tidak sendirian masih bersama rekan dinas Ayres yang saling berbincang seputar tidak jauh dari sekolah tentunya.
"Sha..kamu ga takut komandan direbut gadis lain?" tanya Arka yang terkenal genit.
"Apa pak..tergoda, pak Ayres milik publik kenapa harus takut..soal hati pasti akan bermuara di hati yang tepat tidak mungkin akan salah" jawab Qiandra yang membikin sesak Arka.
"Wih..kalah telak sama bocil,buaya sudah dipatahkan ekornya.."Helmi tertawa senang.
"Berganti status jadi buaya buntung" Cleon menambahkan dengan tertawa puas.
"Mudah-mudahan cepetan ketemu pawangnya" ujar Nayaka dengan santai tanpa beban.
"Dan..dan,emang dia jodoh loe..satu pemikiran" bisik Arka yang tahu Ayres kalau bicara sekali tapi tepat sasaran.
Ayres hanya tersenyum berbeda dengan Qiandra yang biasa saja dengan semua yang mereka omongin.
"Kalau cemburu punya dong" kini Helmi yang memancing Qiandra untuk bicara.
"Kalau sudah sah cemburu harus tapi dalam batas toleransi dan tidak jadi buta,itu tanda merasa memiliki dan dimiliki....kalau ga ada cemburu jangan bersama sebab rasa cintanya sudah ke lain hati" ucap Qiandra dengan santainya.
"Waduh...Sha,kamu sudah katam sampai bab mana..perlu murid baru,saya daftar" ucap Helmi dengan memberikan sanjungan pad Qiandra.
"Mana..ada pelajaran itu apalagi bab berapa, saya hanya guru pelajaran sains bukan soal asrama dan sejenisnya" balas Qiandra dengan membuang pandangannya menjauh karena ingin tertawa lepas.
Yang terlintas di benak Qiandra, mereka semua lelaki yang secara usia sudah pantas menikah setidaknya memiliki some one,tapi meminta pada seorang Qiandra yang notabene anak kecil yang tidak paham soal percintaan karena tidak pernah berpacaran untuk menjadi seorang guru yang bukan bidangnya pemikiran yang konyol,pikir Qiandra dengan tertawa yang tertahan.
"Ada yang lucu?" Ayres merapatkan dirinya pada Qiandra yang masih menahan tawanya.
"Ga.." mulut Qiandra berkata lain tapi yang bahasa tubuh bertolak belakang.
"Lepaskan saja kalau memang ada yang lucu..kenapa harus ditahan" Ayres meminta pada Qiandra yang membelakangi Ayres.
Karena menahan tawanya Qiandra sampai terbatuk-batuk dan membuat Ayres khawatir, dengan meminta rekan dinasnya mengambilkan air minum.
"Q..minumlah pelan-pelan" Ayres mengusap lembut punggung Qiandra yang sedikit menolak.
"Aku hanya menolong mu Q" ucap pelan Ayres yang membuat Qiandra terdiam.
Ayres cukup khawatir dengan muka Qiandra yang terlihat memerah karena malu di perlukan tidak biasa menurut dirinya.
"Q..kamu sakit ?" dengan reflek tangan Ayres menyentuh dagu Qiandra untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Gelengan yang Qiandra berikan pada Ayres yang masih terlihat khawatir.
"Kita pulang saja kalau Q kurang sehat" pinta Ayres yang melepaskan jas yang di pakainya untuk menutupi tubuh Qiandra.
"Ga..pak,Q ga sakit" tolak Qiandra dengan meminta Ayres kembali memakai jas miliknya.
"Tapi Q..wajahmu memerah mungkin kamu demam?" ujar Ayres khawatir.
Qiandra memegang salah satu pipinya tapi tidak merasakan panas,hanya hangat normal bahkan dahi Qiandra sedikit berkeringat karena suhu ruangan yang di penuhi tamu undangan.
"Ayo..kita pulang" ajak Ayres yang membuat rekannya memandang keduanya yang bersiap untuk berpamitan.
"Kenapa dan..?" tanya Cleon yang penasaran.
"Gue..pamit duluan Q demam"ucap Ayres yang langsung di mengerti oleh rekannya.
Karena rasa khawatirnya Ayres sampai lupa mengajak serta rekan dinasnya untuk pulang bersamanya.
Dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan lebih tepatnya keduanya diam,Ayres diam karena fokus mengendarai laju kendaraannya, sedangkan Qiandra lebih memilih memejamkan matanya karena lelah seharian tanpa istirahat.
Kedatangan keduanya tanpa di dampingi rekan dinasnya membuat Hans bertanya,Ayres memberikan jawaban yang masuk akal dan Qiandra pun mengakui kalau dirinya lelah.
"Terimakasih nak Ayres sudah mengantarkan Q dengan selamat" ucap Hans yang mendampingi Ayres yang berniat pulang.
"Saya yang seharusnya berterimakasih yah, karena Q sudah menemani saya sampai dia tidak beristirahat" Ayres menunjukkan rasa tidak enak hati.
"Ya.. sudahlah, hati-hati dijalan cepat istirahat jangan banyak begadang, manfaatkan waktu sebaik mungkin" ucap Hans menepuk pundak Ayres.
Berbeda dengan Qiandra yang di temani bunda yang masih di kamarnya.
"Kok, cepat pulang ?" ujar bunda dengan mengusap kepala Qiandra.
"Cape..Bun" ucap singkat Qiandra yang masih memandang layar lektop.
"Istirahatlah..besok lagi mengerjakannya" pinta Ceisya.
"Sebentar Bun.." ucap Qiandra dengan mata masih fokus ke layar lektop.
Hans tahu putrinya masih belum beristirahat dan menghampirinya.
"Katanya capai..?" goda Hans.
"He..he,Q kurang nyaman aja disana dan pak Ayres langsung mengajak Q pulang" ucap jujur Qiandra.
'Terimakasih sudah mau memahami putriku, teruskan mengantikan tugasku jangan ada kata menyerah' Hans memeluk Qiandra dan mengusap kepalanya lembut.
__ADS_1
Rasa haru sekaligus bahagia yang Hans rasakan saat ini dengan kehadiran lelaki baru dengan pesonanya yang mulai mengenal siapa putrinya dengan dunianya serta aktivitasnya yang luar biasa padat.