Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Kalah Rindu Mulai Melanda


__ADS_3

Ayres memang orang yang irit bicara hanya dengan orang terdekat dia akan banyak bicara semua yang mengenalnya tahu itu.


"Gue paling ga suka bila komandan sudah mode freezer macam ini" gerutu Helmi dengan merapikan senjata api miliknya.


"Seperti loe baru kenal komandan aja" tegur Nayaka dengan menepuk pundak Helmi.


"Siapa orang ga bete di momen penting dalam waktu dekat tapi harus menerima tugas negara yang kita semua tahu tidak bisa ditentukan waktunya kapan kita akan pulang" ucap Arga seperti mengingatkan rekannya.


"Bener juga sih,kalau bukan karena tugas negara gue juga lebih memilih mengundurkan diri" Cleon ikut menambahkan dengan tatapan serius.


"Sttt..orangnya datang" Arga memberikan isyarat.


"Hemmm" Ayres mengeluarkan suaranya walaupun hanya gumaman yang rekannya dengar.


"Apa sudah cukup persiapan kalian?" Ayres bertanya dengan nada datar tapi masih bisa di mengerti rekannya.


"Siap dan..!!"ucap mereka bersamaan dengan kompak.


"Ok..kita istirahat sebentar sebelum menuju lokasi" pinta Ayres dengan serius.


"Gue tahu loe merasa sedih karena harus memenuhi tugas diwaktu yang tidak tepat" Helmi mengusap punggung Ayres.


"Gue baik-baik saja bro" Ayres menepis tangan Helmi sepertinya Ayres tidak ingin orang lain mengetahui kegalauan hatinya.


"Loe bisa berucap tapi tidak dengan bahasa tubuh loe,bro" Helmi kembali mengusap punggung Ayres.


"Gue baik-baik saja !!" dengan suara tinggi Ayres meninggalkan rekannya.


Ayres tidak ingin suasana hatinya mempengaruhi kinerjanya sebagai seorang abdi negara apalagi mempengaruhi suasana hati rekan dinasnya.


"Biarkan dia sendiri "Arga menenangkan Helmi yang sebenarnya berniat baik mungkin Ayres yang terlalu sensitif dalam hal ini.


Ayres menarik kasar rumput liar yang dijumpainya dengan langkah lemah tapi terbayang wajah ayu sang pujaan hati.


'Pergilah pak sebab ini tugas,soal lamaran bisa dihadiri keluarga dan orang tua bapak,saya ikhlas dengan tidak kehadiran bapak karena tugas' Ayres masih mengingat setiap ucapan Qiandra saat dirinya meminta ijin untuk menjalankan tugas.


"Maafkan..aku Qiandra di momen penting ini tidak bisa ada didekat mu" ucap Ayres seorang diri dengan mengingat wajah ayu Qiandra dengan senyuman manis miliknya.


Ayres tertunduk dengan tersenyum getir mengingat momen beberapa hari yang lalu sebelum keberangkatan tugasnya.


Terbayang senyum malu dengan tertunduk Qiandra saat Ayres meminta untuk menjadi istri dari lelaki yang saat ini sedang bertugas.


"Tenang bro.. Qiandra ga akan nolak walaupun tanpa kehadiran loe" tanpa di undang Cleon menghampiri Ayres yang duduk di pinggir sungai kecil yang airnya mengalir jernih.


"Kalau sampai nolak kita samperin bro..tenang" tanpa diminta Helmi ikut menambahkan.


"Emang berani ?" tanya Ayres pada Helmi seadanya.


"He..he,ga kalau sendiri sebab bokapnya pawang" balas Helmi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sok berani dia, padahal seperti anak kucing di depan bokapnya Qiandra"Helmi mendapatkan pukulan di bahunya oleh Arga.


"Tapi loe berani ngelamar bro?" dengan rasa ingin tahu Nayaka bertanya.


"Beliau juga manusia makan nasi seperti kita,wajar berharap putrinya mendapatkan pendamping yang sesuai harapan beliau" Ayres sedikit menjelaskan.


"Loe ga takut bro waktu pertama berkunjung ke rumah beliau?" tanya Arga dengan penasaran.


"Gue lelaki normal takut juga tapi keinginan untuk memiliki Qiandra lebih besar mau tidak mau harus bertemu dengan beliau" Ayres yang biasanya irit bicara menjelaskan perjalanan untuk mendapatkan Qiandra.


"Pasti tatapan menyeramkan dan galak yang beliau tunjukkin ya bro" penilaian sepihak yang terlontar dari mulut Cleon.


"Kalian terlalu jauh menilai beliau, beliau ayah yang baik bahkan lebih cenderung seperti teman dan asyik untuk menjadi partner dalam banyak hal itu yang gue dapat dari pertama kali berjumpa secara pribadi di kediamannya" dengan menunjukkan senyum Ayres berbicara.


"Serius bro.. sesantai itu?"tanya Helmi dengan muka tidak percaya.


Anggukan kepala yang Ayres berikan pada rekan dinasnya yang terkesima hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya sebab siapa yang tidak mengenal seorang Hans yang disegani oleh semua kalangan termasuk musuh yang akan ditaklukkannya pada masanya dari beberapa senior yang satu angkatnya dengan Hans.


"Gue jadi penasaran sebucin apa komandan kita nanti pada pasangannya" goda Arga.


"Gue yakin dia bakal jadi lelaki yang tegas saat bareng kita tapi bucin bila bareng bininya"dengan tertawa Helmi menggoda Ayres.


"Tapi gue salut dengan perjuangan loe dan, yang tanpa menyerah untuk menunggu hingga titik dimana seorang Qiandra membuka hati dan menerima,sebab yang gue tahu itu yang tidak mudah "Nayaka dengan mengedipkan satu matanya seperti menyakitkan Ayres memang itu fakta sebenarnya.


"Kenapa gue yakin sama dia karena dia gadis baik-baik, jadi gadis baik-baik itu wajib gue perjuangkan" ucap Ayres dengan keyakinan.


"Walaupun awalnya dia galak ya bro" goda Helmi dengan tersenyum menggoda Ayres.


"Tapi gue salut sama loe bro,bisa menyakinkan Qiandra sebab banyak yang suka sama dia benarkan bro ?" Cleon meminta Ayres menjelaskan.


"Untuk soal yang satu itu jangan ditanya dari bocil,teman satu angkatnya sampai seumuran gue ga ada yang ga suka sama tuh anak" Ayres dengan menepuk dahinya menjelaskan yang bisa diartikan Qiandra banyak fans fanatiknya.

__ADS_1


"Memang tuh anak penuh pesona tiada lawan" ucap Helmi yang terdengar santai tapi bikin Ayres mendelik tidak percaya calon istrinya di kagumi oleh rekan dinasnya.


"Tenang bro..hanya sebatas mengagumi tidak lebih"Helmi dengan menunjukkan tangannya yang dilipat di dadanya tanda maaf.


"Sensi amat sih bro sama teman sendiri aja"goda Agra dengan menepuk bahu Ayres.


"Awalnya mengagumi lama-lama mendemeni" sewot Ayres dengan nada menekan.


"Santai bro gue ga bakal seperti pagar makan tanaman,tapi makan nasi sebab gue bukan rayap dan bukan juga kambing yang makan tanaman" ucap Helmi sampai dosa.aa


"Gila loe, kalau loe rayap ga mungkin ada disini tapi lagi sama ratu rayap dan kalau loe kambing loe saat ini lagi dikandang makan rumput"balas Nayaka dengan terkekeh tertawa geli.


"Nasib jomblo memang begini, mengagumi dikira mendemeni" cicit Helmi dengan mengusap kepalanya.


"Sabar bro,akan tiba waktunya giliran loe tiba"seru Arga dengan tertawa.


"Bukannya yang sabar bakal dapat sisanya" goda Cleon dengan berniat membuat suasana gaduh.


"Memang jodoh gue gorengan,dasar teman ga ada akhlak" balas Helmi dengan melempari Cleon rumput yang baru dicabut sampai akarnya.


"Ya..maaf gue doain jodoh loe yang Sholehah, cantik dan bohay pokoknya sesuai harapan-harapan loe selama ini dalam setiap sujud loe" Nayaka berusaha menghibur.


"Ini baru bestie gue" Helmi merangkul pundak Nayaka.


"Oh..jadi cuma si sipit yang bestie loe,serius?" dengan muka serius Cleon bertanya.


"He..he, maksud gue kita semua memang bestie gue" dengan sedikit gugup Helmi menjelaskan.


"Tenang bro..memang kita best friend forever" Cleon dengan tersenyum dan memberikan tangan terkepal untuk bertos dan dibalas Helmi.


"Ini yang gue suka dari kalian"ucap Ayres sebelum meninggalkan rekannya karena ada panggilan alam.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di kediaman Qiandra


Ada rasa bahagia tapi sedikit rasa tidak rela untuk melepaskan, mungkin itu wajar bagi seorang Hans yang hanya memiliki seorang putri tapi Hans cukup tenang untuk melepaskan putrinya yang akan dijadikan istri dari seorang Ayres yang Hans sudah cukup mencari tahu latar belakang siapa seorang Ayres beserta keluarganya.


Ruangan penyambutan untuk calon keluarga besar Ayres telah disiapkan dengan cukup indah sesuai keinginan sang putri juga bundanya yang tidak ingin terlihat terlalu mewah.


"Ih..bunda ini terlalu mewah buat Q"protes Qiandra pada bundanya yang hanya tersenyum.


"Tapi ini mewah menurut Q bunda" protes Qiandra lagi dengan sedikit menunjukkan muka cemberut.


"Putri ayah yang paling cantik biarkan bunda memberikan yang terbaik untuk mu sayang"rangkul Hans yang membuat Qiandra memeluk sang ayah dengan manja.


"Tapi Q ingin yang sederhana saja ayah" rengek Qiandra dengan manja.


"Beri kesempatan kami untuk memberikan yang terbaik untuk mu sayang" Hans menunjukkan wajah memelas.


"Ayah sama bunda sudah memberikan yang terbaik untuk Q sepanjang usia Q"Q memberikan ciuman kepada kedua orangtuanya.


"Sayang..jangan buat bunda melo"nampak mata Ceisya berkaca-kaca.


"I love ayah bunda" ucap tulus Qiandra yang membuat Ceisya tidak dapat menahan kristal bening yang meluncur tak berijin.


"I love more sayang muach"balas Ceisya dengan mencium tiap sudut wajah putrinya.


"I love too sayang" Hans tidak kalah memeluk erat putrinya.


"Masih teringat betapa susahnya perjuangan bunda untuk memiliki mu sayang tapi waktu tidak bisa berhenti yang kini harus rela melepaskan genggaman tangan mu untuk di genggaman lelaki yang akan meneruskan perjuangan ayah"Hans mengusap lembut kepala Qiandra.


"Ayah.."Qiandra semakin erat memeluk Hans.


"Rasa sayang kami akan tetap ada untuk mu begitupun dengan doa kami akan terus terucap tulus untukmu sayang" ucap Hans yang banyak bicara tidak seperti biasanya.


"Pelukan bunda akan selalu ada untukmu sayang"Ceisya merentangkan keduanya untuk Qiandra yang siap beralih memeluk Ceisya.


"Bunda..bolehkan nanti Q sering berkunjung" dengan manja Qiandra menatap Ceisya.


"Akan selalu terbuka untuk kalian berdua" ucap Ceisya dengan tersenyum.


"Tidak ada yang akan berubah sayang hanya status mu saja istri dari ayres bukan lagi Qiandra Mettasha yang singel" Hans menjelaskan.


"Siap ayah" balas Qiandra dengan hormat pada sang ayah,tawa ketiganya hadir bersamaan.


"Sudah sana bersiap tidak lama lagi keluarga besar Ayres hadir" tegur Hans pada kedua kesayangan Hans.


"Siap komandan laksanakan" ucap Ceisya dan Qiandra bersamaan.


Hans hanya bisa tersenyum melihat keduanya meninggal dirinya yang masih melihat persiapan untuk tamu yang datang.

__ADS_1


"Rasanya tidak percaya,kenapa harus aku sih yang pak Ayres pilih"ucap Qiandra seorang diri selepas membersihkan diri yang melihat bayangannya di pantulan cermin miliknya.


"Mba...boleh saya masuk"pinta salah satu assisten rumah kepada Qiandra yang menyudahi mengingat Ayres.


"Masuk..mba" saut Qiandra dengan sopan seperti biasanya.


"Ini mba,orang yang akan membantu mba untuk merias sesuai permintaan nyonya" perempuan yang biasa disapa Mimi menjelaskan pada Qiandra.


"Oh,iya terimakasih mba Mimi sudah mengantar mbanya" saut Qiandra tapi di protes oleh mba selaku MUA.


"Ih..jangan mba dong,inces Wati,he..he" protes lelaki yang sepertinya tidak bertulang kekar tapi cukup lunak.


"Oh..inces Wati" Qiandra dan Mimi bersamaan.


"Wanita tidak jadi"ucap lelaki bertulang lunak dengan suara aslinya.


Qiandra dan Mimi sangat kaget sampai-sampai keduanya memegang dada karena terkejut mendengar suara asli lelaki tulang lunak itu.


"Maaf kaget ya,he..he ini suara eike yang sebenarnya ga usah takut eike baik kok dan tidak sombong"ucapnya dengan suara mendayu-dayu.


"Oh.."Qiandra dan Mimi hanya bisa ber oh ria tanpa bisa berkata lagi karena masih terkejut.


"Mba bisa temani Q disini" pinta Qiandra yang merasa tidak nyaman,dia lebih nyaman langsung dengan manusia yang sebenarnya dari pada yang setengah jadi sebab tidak bisa menebak kepribadian yang dimilikinya, kalau boleh memilih Qiandra lebih tidak takut bila berhadapan langsung dengan lelaki baik yang bertampang baik maupun yang menyerahkan.


"Baik mba,Mimi akan disini"sepertinya Mimi tahu nona mudanya tidak nyaman.


"Tenang mba,eike ga gigit ko udah jinak" ujarnya seperti tahu Qiandra tidak nyaman.


"Bukan begitu inces,saya ingin mba Mimi ada disini biar membantu untuk menyiapkan keperluan yang saya yang lain bukan tidak nyaman dengan inces"Qiandra berusaha mengelak berharap inces tidak berpikir yang macam-macam.


"Oh..maafin inces ya,yang salah menduga" dengan mulai membersihkan bagian wajah Qiandra yang sebenarnya tidak nyaman.


"Saya maafin inces"Qiandra berusaha mencairkan suasana.


"Non..kata nyonya minta di dandanin senatural mungkin,itu permintaan sapose" protes inces pada Qiandra.


"Saya ces,memang kenapa?" tanya Qiandra pada inces.


"Ini bagian dari acara istimewa nona harus cantik" inces masih dengan keinginannya.


"Jangan panggil nona panggil mba aja,ces" pinta Qiandra.


"Pokoknya percayakan sama Eike yang mba,eike dandanin natural sesuai keinginan tapi tetap harus cantik,ok mba" inces menyakinkan Qiandra.


"Tapi saya tetap minta senatural mungkin sebab ga biasa di dandanin takut nyamain badut kasihankan badutnya tersaingi"canda Qiandra yang membuat inces tertawa dengan mengeluarkan suara aslinya.


"Maaf kelepasan tawa eike jadi kodoknya keluar deh" ujarnya dengan menutup mulutnya spontan.


"Ga.. apa-apa ces,saya malah suka jadi ga boring suasananya" Qiandra mulai merasa gugup sebab waktu kedatangan keluarga Ayres dengan mengusirnya dengan menikmati candaan dari inces sedikit banyak bisa mengusir rasa gugup.


Tidak butuh proses lama sebab Qiandra memiliki wajah cantik alami hanya butuh polesan sedikit sudah terlihat cantik dan tidak menghilangkan karakter wajah alami Qiandra.


"Gimana..cantikan?" tanya inces pada Qiandra dan Mimi ikut mengamati.


"Ih..iya mba cantik banget,Mimi pangling melihatnya"puji Mimi dengan tersenyum ikut senang.


"Pokoknya percaya saja sama eike,pasti masnya makin yakin deh ga salah pilih" seru inces dengan mengoleskan sedikit lipstik warna peach di bibir mungil Qiandra yang merah alami.


"Masnya lagi tugas ces,ga bisa hadir hanya keluarga besarnya saja"Mimi mewakili menjawab.


"Ih..sayang banget ini kan momen istimewa, kalau eike udah ngomel bila perlu Eike cakar sama tuh atasan ga ngertiin banget sih.."dengan gaya seperti macan yang sedang mencakar sebab terlihat kuku inces yang panjang tapi terawat.


"Emang inces berani kalau atasnya seperti itu"Mimi menunjukkan gambar diri Hans berpakaian lengkap yang kebetulan terpajang di kamar Qiandra.


"Ha.. serius"inces menutup mulutnya seperti takut.


"Seperti itu calon suami mba Q"Mimi menjelaskan yang membuat inces berkeringat.


"Maaf"Qiandra dan Mimi hanya bisa tersenyum melihat kegugupan lelaki bertulang lunak yang gugup.


"Sayang sudah bisa turun ga, keluarga Ayres sudah datang sayang" pinta Ceisya pada putranya.


Rasa gugup kini menyelimuti Qiandra yang biasanya penuh penuh percaya diri,seakan kepercayaan dirinya pergi untuk sesaat kali ini.


"Ayo..mba,inces doain biar lancar acaranya"ucap tulus terlihat dari raut wajah inces yang Qiandra lihat.


"Terimakasih untuk doanya inces dan terimakasih sudah membantu mendandani walaupun terasa aneh untuk saya saat ini tapi ya.. sudah lah sekali terimakasih sudah membantu" seperti itulah Qiandra yang selalu tulus tanpa membedakan.


"Ih..mbanya itu sudah paling natural kok yang eike berikan"rengek inces yang tidak mau di protes Qiandra yang hanya bisa menepuk pundak lelaki tulang lunak itu.


Semoga sukses acaranya Qiandra untuk menuju jenjang selanjutnya memasuki pernikahan yang merupakan ibadah terpanjang sepanjang jodoh keduanya.

__ADS_1


__ADS_2