Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Nakalnya anak putih abu-abu


__ADS_3

Sebenarnya tidak ada hari sial mungkin rencana tuhan untuk umatnya dengan harapan akan ada hikmah dibalik semua kejadian ini.


Qiandra yang selalu pulang pergi diantar sopir saat ini harus terjebak di tengah-tengah tawuran antar pelajar yang saat ini berlangsung di tengah jalan tepatnya persimpangan lampu merah.


"Gimana nih mbak..?" tanya pak Dul yang tidak bisa menjalankan laju mobilnya karena posisi mobil diantara gerombolan pelajar yang siap saling menyerah dari beberapa penjuru dengan membawa peralatan ditangannya.


"Kita tenang saja pak..jangan panik selama mereka tidak bermaksud jahat pada kita" Q menenangkan pak Dul yang terlihat panik.


Di luar kendaraan Qiandra terdengar teriakan-teriakan yang entah apa maksudnya yang jelas hanya mereka yang tahu,yang jelas terlihat mereka saling mengacungkan senjata dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka yang menjelaskan identitas sekolah mereka tanpa mereka sadari.


"Mbak.. mereka bukan dari sekolah mbak ?" tanya pak Dul ingin tahu.


"Sepertinya bukan pak,tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal.." jawaban dari Q cukup dimengerti oleh pak Dul.


Bukan hanya kendaraan Qiandra yang terjebak dalam situasi ini,ada beberapa yang nasibnya sama dengan Q dan kendaraan yang mereka tumpangi tidak bisa untuk melintas karena tawur benar-benar terjadi ditengah jalan tanpa rasa takut yang terpancar dari raut wajah mereka yang Q lihat.


Qiandra merasa prihatin dalam situasi ini dan berpikir apakah mereka lebih mementingkan ego dan rasa kesetiakawanan tanpa memikirkan bagaimana nantinya bila terluka atau melukai, bagaimana juga dengan nyawa dan keluarga yang pasti akan mengkhawatirkan dirinya saat ini.


Tidak lama pemikiran itu benar terjadi mobil Qiandra terkena pukulan benda yang sangat keras mengakibatkan kaca mobil itu pecah dan pecahan kaca itu mengenai pak Dul yang tangannya berdarah.


"Awas...pak..!!!" teriak Qiandra spontan yang membuat pak Dul tidak menyadari tangannya terluka karena pecahan kaca.


"Mbak ga kenapa-kenapa kan?" tanya pak Dul belum menyadari dirinya terkena pecahan kaca.


"Tangan bapak yang berdarah,kalau saya ga kenapa-kenapa.." Q mendekat ke arah pak Dul.


Situasi di luar kendaraan Qiandra semakin memanas dapat terdengar teriakan-teriakan yang bisa Qiandra dengar dengan jelas.


"Sha...you ok.."teriak seseorang yang mengetuk salah satu pintu mobil Qiandra.


'Gimana dia bisa ada disini..' dalam benak Qiandra memikirkan Dean yang bukannya menghindari situasi ini malah menghampiri kendaraan Qiandra.


Belum sempat Qiandra menjelaskan keadaannya pada Dean seseorang datang dengan seragam dinasnya dengan lantang meminta Qiandra membuka pintunya.


"Buka pintunya Sha...!" pinta Ayres yang entah datangnya darimana yang jelas sudah ada didekat mobil Qiandra.


"Sha you ok..?" tanya Ayres pada Qiandra yang bingung dengan situasi dan kedatangan dua lelaki didekatnya yang menanyakan keadaannya.


"Pak Dul yang terkena pecahan kaca.." ujar Qiandra yang membuang napas mungkin karena rasa paniknya dengan situasi yang tidak diduganya.


"Ada kotak obat pak..?" tanya Ayres tapi sudah terlebih dahulu di jawab oleh Qiandra.


"Sudah saya lakukan pertolongan pertama tapi lukanya cukup dalam dan perlu di jahit..pak" Qiandra menjelaskan.


Dean hanya bisa jadi pendengar saja tidak bisa berbuat lebih dan kendaraan Qiandra sudah menepi,belum cukup dengan kehadiran dua lelaki yang Tuhan kirim untuk Qiandra kini datang lagi Ken yang terlihat mengkhawatirkan keadaan Qiandra.


"Sayang you ok..?" sorot mata tajam Ken menyapu keadaan mobil yang sedikit kacau.


"Ehm.."Qiandra menolak tangan Ken yang akan mengusap kepala Q seperti biasanya.


Empat mata lelaki yang lain penuh tanya dengan kehadiran Ken yang terlihat sangat dekat bahkan dengan kata 'sayang' bisa artikan adanya hubungan sangat dekat.


"Kita langsung ke rumah sakit saja sayang.."ajak Ken yang membuat situasi tidak nyaman.


"Sebaiknya kakak pulang saja,aku sudah hubungi ayah..dan asisten ayah sudah dalam perjalanan.."dengan tersenyum Ken mengangguk dan bersiap meninggalkan Q.


"Ok..hati-hati,dah sayang" Ken kembali mengusap kepala Q yang saat ingin tidak bisa menghindar dari usapan tangan Ken yang tersenyum senang.


"Maaf sudah menyusahkan dan terimakasih..oh ya.. sekali lagi nitip Q sayang.." ucap Ken pada kedua laki-laki dan pak Dul.


'Siapa juga yang mau di titipin memang aku barang' gumam Q dalam batin.

__ADS_1


"Tidak masalah..tidak usah terimakasih memang ini kewajiban saya.."balas Ayres dengan tatapan tidak nyaman pada Ken.


"Sampai ketemu di rumah sayang.."ujar Ken lagi yang membuat Ayres semakin ingin mengusir Ken.


Kepergian Ken di barengi dengan pamitnya Dean yang merasa kehadirannya tidak bisa berbuat apa-apa,dia memilih meninggalkan Qiandra dengan Ayres yang bersiap mengantarkan pak Dul ke rumah sakit, yang menurut Dean Sha sudah berada ditangan orang yang tepat.


"Ehm.. berhubung sudah ada yang membantu saya pamit ya..Sha "Dean yang langsung meninggalkan Q tanpa menunggu balasan dari Q yang hanya bisa memandangi kepergian Dean.


"Alangkah baiknya bapak juga kembali berdinas sebab saya sudah meminta pertolongan pada ayah saya dan sudah dalam perjalanan.." Q tidak ingin merepotkan orang lain dalam hal ini.


"Apa tidak sebaiknya saya yang mengantarkan kamu sama bapak..ini ke rumah sakit..,biar orang suruhan ayah Sha langsung ke rumah sakit saja..ok" Ayres membujuk secara halus ada Q yang jelas-jelas enggan di bantu.


"Terserah bapak saja.." pada akhirnya Q menyerah mengikuti permintaan Ayres dan sepertinya tahu Q,Ayres memaksa untuk membantu dirinya dan pak Dul.


"Ok..kenapa ga dari tadi saja..sih Sha..,biar saya yang bawa pak.." ayres mengambil alih kemudi dan dia sudah siap berseluncur meninggalkan olah TKP.


"Bagaimana dengan kendaraan bapak..?"tanya Q yang berusaha mencari kendaraan yang di pakai oleh Ayres.


"Itu mudah nanti ajudan saya yang akan mengambilnya..yang terpenting saat ini kamu dan pak Dul..ok" dengan mahir Ayres memainkan setir bundar itu di jalanan.


Pak Dul langsung mendapatkan penanganan sebab Ayres turun langsung dan tanpa tunggu lama, pak Dul sudah dalam pemeriksaan begitu tiba di rumah sakit.


Di ruang tunggu Q menunggu dengan sabar dan menunggu seseorang yang sudah di hubungi lewat ponsel miliknya.


Belum hilang rasa cemas mengingat kejadian tawuran antar pelajar tadi kini di kejutkan lagi dengan dua pelajar laki-laki yang babak belur dengan darah segar masih mengalir dari pelipis,hidung juga mulutnya yang diiringi tangis pelajar wanita yang didampingi orang dewasa masuk kedalam UGD.


Ayres dengan spontan memandang Qiandra yang tidak bisa diartikan dari tatapan matanya mengandung banyak pertanyaan yang butuh untuk dijawab pastinya.


"Tolong tatapan mata bapak biasa saja..sebab saya tidak seperti mereka.." dengan tersenyum Ayres bisa mengartikan kata-kata yang di ungkapkan oleh Qiandra.


"Om..handsome !!"teriak Q pada seseorang yang sepertinya mencari dirinya.


'Sebegitu spesialnya kah dia sampai memiliki panggilan spesial untuknya' Ayres memperhatikan lelaki yang baru saja mendekat.


'Ini apalagi..kenapa semua yang menyangkut kamu harus berurusan dengan laki-laki.." Ayres hanya bisa memperhatikan keduanya yang terlihat sangat dekat hubungannya bisa terlihat dari kenyamanan yang Qiandra rasakan dengan kehadirannya.


"Stop..kasih jedah dulu om handsome biar aku bisa jawab.." dengan cemberut Q meminta.


"Sorry..cantik"lelaki itu mengusap lembut kepala Q yang terlihat tersenyum.


"Aku baik-baik saja dan aku diantar oleh bapak ini..dan pak Dul dalam pemeriksaan dokter om..sudah jelas..oh ya kenalkan ini om handsome dan ini pak Ayres" Q mejelaskan dengan bahasanya yang membuat om handsome tersenyum dan menyambut perkenalan dengan Ayres yang kebetulan juga memakai seragam kebesaran miliknya.


"Reza..dari kesatuan.." dan tidak lupa memberikan hormat sebab jabatannya lebih rendah dari Ayres.


Ayres membalas perkenalan itu dan membalas hormat dari om handsome yang sebenarnya bernama Reza,dan bisa di tebak oleh Ayres ayah dari Q seorang yang satu frekuensi dengan dirinya dalam karir.


Tidak lama pak Dul keluar dan ajudan sang ayah langsung menghampiri pak Dul dan sedikit berbincang yang terlihat serius.


"Ok..cantik berhubung pak Dul tidak di rawat kita langsung pulang.." pinta ajudan sang ayah.


"Ok..om handsome" terdengar manja ditelinga Ayres.


"Tapi tunggu disini sebentar om akan menyelesaikan administrasi dulu dan mengambil obat pak Dul..sabar ya tidak lama kok" pinta om handsome pada Q yang mengangguk.


Qiandra menyempatkan diri mengucapkan terimakasih pada Ayres yang sudah membantunya sebelum berpamitan.


"Terimakasih pak Ayres sudah membantu Sha..dan maaf sudah merepotkan" ucap Q dengan sopan.


"Kenapa harus seformal ini sih Sha..saya tidak merasa direpotkan oleh kamu malah senang bisa membantu dan merasa di butuhkan oleh kamu..Sha" sepertinya ucapan Ayres dari hati yang membuat Qiandra tertunduk bukan malu tapi merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.


"Ada ucapan saya yang salah Sha..?" Ayres merasa Q tidak nyaman dengan apa yang di ucapkan oleh dirinya.

__ADS_1


"Tidak ada pak..hanya saya tidak nyaman saja dengan apa yang bapak ucapkan"Q memang bukan seperti gadis yang seumuran dengannya yang malu-malu meong tapi Q lebih to the poin dan apa adanya bahkan cenderung tegas tanpa basa basi.


"Ha..ha itu yang saya suka dari kamu Sha.. peka dan to the poin tanpa basa basi.." dengan tawanya Ayres terlihat senang.


Pak Dul dan om handsome menghampiri keduanya dan berniat untuk berpamitan pada Ayres yang masih berbincang dengan Qiandra.


"Ayo..cantik kita pulang.."ajak om handsome pada Q yang langsung bangkit dari tempat duduknya.


Reza dan pak Dul tidak lupa berterimakasih pada Ayres karena sudah membantu dan mengantarkan pak Dul ke rumah sakit dan Ayres pun membalas dengan sopan.


"Kami pamit pak.."ucap Q dan terlihat rasa kecewa dari raut muka yang ditampakkan oleh Ayres karena harus berpisah dengan Qiandra.


Perjalan menuju kediaman Q tidak membutuhkan waktu lama dan orang rumah sangat menantikan kedatangan Q dan pak Dul dengan penuh rasa khawatir.


Ucapan salam dari Q langsung disambut penghuni rumah dan pelukan hangat sang bunda langsung mendekapnya dengan erat.


"Sayang kau baik-baik saja kan..?" bunda memeriksa tiap bagian tubuh Q yang tidak luput dari pandangannya.


"Bunda Q baik-baik saja yang perlu bunda khawatirkan itu pak Dul bunda bukan Q..bunda" ujar Q yang melihat rasa khawatir dari wajah bundanya.


"Oh..gimana dengan pak Dul.."ceisya beralih bertanya pada pak Dul yang sudah terlihat lebih baik.


"Alhamdulillah sudah lebih baik nyonya.."pak Dul menjelaskan keadaan dirinya.


"Syukurlah kalau pak Dul lebih baik keadaannya..beristirahatlah "ucap ceisya yang mengusap punggung pak Dul.


Setelah membersikan diri dan beristirahat sejenak Q sudah berkumpul dengan keluarganya untuk makan malam seperti biasanya dengan berbincang seputar keseharian apalagi hari ini cukup menguras rasa baik ketakutan maupun rasa khawatir dari orang tua yang memiliki seorang anak gadis.


"Ayah dengar dari ajudan ayah..ada seseorang yang membantu mu untuk ke rumah sakit sayang..siapa dia,boleh ayah tahu ?"Hans tidak bermaksud over protektif pada anak gadisnya.


"Oh pak Ayres dia seorang komandan dari kesatuan..dia yang membantu Q dan pak Dul..hanya itu tidak ada hal penting lainnya ayah..percayakan pada Q ayah" Q yakin ayahnya mengkhawatirkan dirinya tanpa ada keinginan untuk melarang apapun tindakan yang Q lakukan sebab selama ini Q bertanggungjawab atas semua tindakan yang dilakukannya.


"Ayah percaya..sama putri ayah yang sudah beranjak dewasa.." ujar sang ayah dengan tersenyum.


"Apakah dia seseorang yang spesial sayang..?" goda ceisya pada putrinya yang hanya bisa tertawa.


"Ha..ha spesial bunda..dia bukan siapa-siapa Q dia hanya seorang pembina saat pelatihan OSIS saja tidak lebih..yang spesial tetap ayah bunda" Q memeluk keduanya yang terlihat senang.


"Ada ses****eorang yang spesial pun tidak masalah sayang..wajar di usia seperti mu sayang yang sudah mulai jatuh cinta" ucap Hans tapi membuat Q tersenyum.


"Mungkin wajar bagi yang lain yah..tapi buat Q buang-buang waktu untuk memikirkan seseorang itu yang jelas-jelas belum dalam ikatan halal dan lebih menunjukkan kepalsuan saja.." ucapan Q membuat kedua orangtuanya bingung dari mana putrinya bisa berbicara seperti itu.


"Sayang siapa yang memberi tahukan seperti itu pada putri ayah..yang mulai beranjak dewasa ini" Hans mengusap lembut ujung kepala Q.


"Q hanya melihat dan mendengar apa yang ada di sekitar Q,hal itu bisa jadi pelajaran buat Q.." dengan bahasanya Q menjelaskan pada orang tersayangnya.


"Jadi ga mau pacaran..nih,apa mau langsung terima saja bila ada yang mengajak nikah" goda sang bunda.


"Bunda putri bunda belum di bolehkah untuk menikah karena faktor usia masih di bawah umur.."jawaban cerdas dari Q membuat Hans memberikan dua jari jempol pada putrinya.


"Memang tidak bisa di pungkiri kalau kamu putri dari ayah mu sayang.."ujar ceisya pada putrinya yang cerdas secara pemikiran dan pengamat yang sangat baik dimata ceisya.


"Siapa dulu ayahnya..setuju yah.."Q memeluk manja pada sang ayah yang mengusap pipi Q dengan rasa sayang.


Qiandra diminta menceritakan kronologis kejadian siang tadi oleh kedua orangtuanya yang mendengar dengan sangat antusias dan ada rasa ketakutan dari ceisya yang sudah tidak muda lagi.


"Kenapa anak muda lebih mendahulukan emosi dan rasa solidaritas dari pada apa akibat yang di timbulkan.."ceisya berucap dengan membayangkan situasi dimana putrinya berada saat itu.


"Sebab teman lebih mendengarkan pendapat mereka dari pada orang tua yang lebih menilai dengan cara sepihak tanpa menjelaskan..dan jiwa muda selalu ingin mencoba hal baru tanpa memikirkan akibat yang akan di timbulkan sayang..bisa jadi nilai kepuasan tersendiri menurut mereka"Hans menjelaskan dengan cara melihat dari dua sisi.


"Itu cara mereka ayah..berbeda dengan Q yang lebih memilih dengan cara elegan.. boleh kita adu otot tapi dalam area yang aman tidak main tawuran juga keroyokan..satu lawan satu lebih imbang dan setelahnya kita harus sportif baik yang kalah atau pun yang menang..kita main cantik tapi berkelas ok..kan ayah" Hans menganggukkan kepalanya tanda satu frekuensi dengan sang putri.

__ADS_1


Hans tidak menyadari putrinya sangat dewasa dalam segala hal, begitupun dengan ceisya sangat bangga memiliki putri semata wayangnya yang tumbuh jadi gadis yang luar bisa dalam segala hal walaupun ada sedikit manja tapi hanya pada keduanya yang ceisya tahu.


'Semoga selalu jadi penyejuk hati mutiara hati ku dan selalu dalam lindungan Tuhan,doa kami selalu bersama mu sayang' tanpa terucap Hans berdoa dari hati yang paling dalam untuk Qiandra Mettasha putri semata wayangnya.


__ADS_2