
Ceisya yang terbiasa bebas sesuai kata hatinya dalam kesehariannya tidak ada yang mengikatnya dalam hal apapun,berbeda terbalik dengan dunia hans yang serba terjadwal dengan rapi.
Tapi di waktu-waktu tertentu hans harus pulang hingga larut malam karena sesuatu yang penting,hans merasa tidak nyaman takut mengganggu istirahat orang tua ceisya bila pulang terlalu larut.
Hans tidak pernah mengungkapkan ketidak kenyamanannya pada ceisya tapi pada akhirnya ceisya mengerti apa yang hans rasakan dan ini yang menyebabkan ceisya menyetujui menempati rumah pemberian kakeknya,dan memberikan kebebasan terutama pada hans yang tidak mengungkapkan secara langsung ketidak nyamanannya itu.
Kakek dan ayah ceisya sangat senang karena keduanya menempati rumah itu,sebagai orang tua ingin memberikan kebebasan untuk keduanya untuk lebih dekat sebab kakek dan ayahnya tahu keduanya disatukan tanpa ada perkenalan terlebih dahulu.
Ceisya tidak sendiri menempati rumah yang terbilang cukup besar itu,ada beberapa asisten yang membantu keperluan ceisya tentu saja rima turut serta ikut menemani dan membantu menyiapkan segala keperluannya di rumah barunya.
Beberapa hari ini hans hampir pulang larut malam hal ini yang membuat ceisya sering kesepian dengan canda tawa yang hans berikan padanya,tapi ceisya berusaha mengerti dengan dunia yang selama ini hans jalani.
"Ko,belum tidur non?" tanya rima yang kebetulan mematikan lampu dan memeriksa jendela sebelum dirinya istirahat.
"Iya, rim menunggu mas hans yang di minta menghadap kakek" balas ceisya yang duduk dan rima menghampirinya.
"Saya temani ya, non" ucap rima pada ceisya yang memainkan ponselnya.
"Terimakasih rim,sebaiknya kamu istirahat saja mas hans sebentar lagi pasti kembali" pinta ceisya pada rima yang di setujui rima dengan meninggalkannya.
Tidak lama terdengar suara pintu samping terbuka yang jelas ada orang yang masuk dan terlihat sosok yang di kenalnya langsung masuk menuju kamar utama milik keduanya.
Ceisya yang tahu siapa yang datang langsung berdiri didepan pintu kamar utama miliknya dengan menutup tirai tipis yang biasanya sebagi penutup setelah pintu bila dari luar kamar.
"Assalamualaikum sya" ucap salam hans lembut pada ceisya yang terlihat dari balik tirai oleh hans.
Ceisya sengaja melarang hans masuk dengan cara menghadangnya layaknya anak kecil yang melarang siapapun masuk kedalam kamarnya.
"Waalaikumsalam, mas ga boleh masuk kenapa tidak tidur dengan kakek saja?!" ucap ceisya dengan nada ngambek pada hans.
"Ok,kalau maunya sya seperti itu" balas hans yang tahu ceisya hanya ngambek padanya karena merasa waktunya habis hanya untuk urusan dinas.
Hans pura-pura membalikkan badan untuk keluar dari kamar utama,belum juga hans melangkahkan kakinya ceisya sudah membuka tirai dan kembali merengek pada hans dengan suara manjanya.
"Memang kakek lebih penting dari sya yah?" ceisya dengan cemberut memandang hans.
Hans kembali membalikkan badan untuk menghampiri ceisya yang masih marah padanya, ceisya masuk dengan berusaha menghindar dari hans yang terus mendekati dengan berusaha membujuk.
"Sya, ga ada yang lebih penting di dunia ini dari ceisya anadhita dalam hati dan hidup hans fahreza tapi tugas harus mas emban, kalau dulu ok mas akan memilih dinas tapi setelah ada sya mas juga harus adil pada sya, maafkan mas sya bila tidak cukup waktu untuk sya" ucap hans yang sudah duduk disamping ceisya diatas kasur besarnya.
"Maafkan sya mas yang tidak memahami dunia mas" dengan tertunduk ceisya berkata seperti bersalah pada hans.
"Kenapa sya yang jadi minta maaf,bukannya mas yang salah?" hans di buat bingung dengan apa yang ceisya ucapkan.
"Terus siapa yang salah?" dengan polosnya ceisya bertanya dan keduanya tertawa bersama memang tidak ada yang salah dalam hal ini.
"Sya hanya kasihan saja sama mas sudah lelah seharian berkerja ditempat dinas dirumah harus memenuhi panggilan kakek yang pasti itu tugas bukan sekedar bincang santai iya, kan?" ceisya yang sudah bersandar di bahu hans dengan manja.
"Ga,juga sya kakek cuma butuh masukkan dari mas itupun kakek sudah mempertimbangkan dengan baik segala sesuatunya,ga usah terlalu serius dalam hidup sya?" hans tidak ingin ceisya terlibat urusan laki-laki yang pasti penuh dengan intrik dan kekerasan pastinya.
"Kenapa sya belum tidur?" tanya hans penasaran dengan ceisya yang masih belum istirahat.
"Nungguin mas pulang" jawab ceisya dengan manja pada hans yang terlihat sedang di perhatikan.
"Enak sekali jadi hans yah,ada yang setia menunggu hingga malam" ucapan hans membuat ceisya bingung.
"Enak dimananya mas?" ceisya balik bertanya pada hans yang kali ini sudah senyum-senyum karena kepolosan ceisya yang hans lihat.
"Iya enak saja, pulang ada yang menunggunya di rumah coba kakek siapa yang menunggunya kalau bukan asistennya" akhirnya ceisya mengerti dan membalas hans dengan memukulnya dengan bantal yang ada di dekatnya.
Hans hanya tidak bisa menahan tawanya yang sudah pecah karena lucu dari tingkah ceisya yang dengan polosnya mau dikerjain oleh hans.
"Ih,mas jahat deh" balas ceisya dengan suara manjanya yang hans rindukan.
"Sudah sholat?" tanya hans yang akan melaksanakan ibadah yang belum di jalankannya karena memenuhi permintaan kakek ceisya.
"Sudah" balas ceisya yang akan masuk ke kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya hans pada ceisya yang bangkit dari tempat tidurnya.
"Mau tahu aja" balas ceisya seenak hatinya yang membuat hans merasa gemas pada ceisya.
Beberapa saat kamar sunyi tanpa suara hanya gemericik air yang terdengar samar dari aktivitas ceisya di kamar mandi,gelapnya malam nampak terlihat jelas tapi sinar rembulan malam ini cukup bersinar terang sehingga gelap malam terbiaskan oleh sinarnya.
Harum wangi yang bersumber dari sesuatu yang ceisya pakai membuat rasa tenang hans,seperti wangi bunga pikir hans karena rasa penasaran bertanya pada ceisya.
"Sya, wangi apa yah?" tanya hans yang membuat ceisya tidak enak karena wangi yang di timbulkan dari produk lotion yang dia pakai.
__ADS_1
"Maaf bila mas tidak suka sya akan membersihkan diri" ceisya berniat kembali ke kamar mandi untuk membasuh tangan dan kakinya,yang menurut ceisya hans tidak menyukai wangi dari lotion miliknya.
Tapi hans melarangnya dengan menarik pelan tangan ceisya dan membuat dirinya jatuh di pangkuan hans yang masih duduk di atas sajadah dengan muka malu di tatap mesra hans.
"Sudah wudhu?" tanya hans serius pada ceisya yang masih malu dan hanya anggukan yang ceisya berikan pada hans.
"Kita sholat sunah dulu yah" hans mengajak ceisya dan di setujui oleh ceisya permintaan dari hans.
Tidak begitu lama keduanya melaksanakan sholat sunah itu banyak do'a yang hans panjatkan untuk kelangsungan hubungan keduanya,ini hal baru yang ceisya tahu dari hans yang sangat takut akan tuhan.
Hans tidak langsung merebahkan tubuhnya yang sebenarnya sangat lelah tapi memeriksa beberapa emil yang masuk melalui ponselnya dan ingin rasanya berbincang sekedar menanyakan keseharian istrinya.
"Sya,boleh mas tahu apa yang sya lakukan hari ini?" tanya hans dengan menghampiri ceisya yang melepaskan piama yang menutupi baju tidurnya yang terbilang tipis menurut hans.
"Sya hanya di rumah saja, oh iya sya hari ini menanam beberapa bunga, kenapa mas bertanya seperti itu?" tanya ceisya dengan penasaran.
"Mas hanya ingin tahu aja" hans memeluk ceisya dari belakang wangi dari tubuh makin tercium membuat hans begitu menikmati tanpa sadar hembusan napas hans membuat ceisya seperti kaku tidak berdaya harus melakukan apa.
"Sya..kenapa, ga nyaman?" tanya hans lembut yang terdengar seperti berbisik.
Ceisya masih tidak berucap dan tidak memberikan penolakan, ini yang membuat hans takut melukai hati ceisya yang belum lama di kenalnya.
"Sya..katakan kalau sya ga nyaman mas ga akan melakukan apapun" bisik hans lagi yang akan melepaskan pelukannya tapi ceisya lebih dulu memegang erat tangan hans berharap tetap memeluknya.
"Bener sudah siap?" bisik hans pada ceisya yang hanya malu terlihat dari pipinya yang memerah.
"Orang bila ga nyaman loh" hans makin menggoda ceisya yang semakin malu karena bisikan hans.
"Tapi enak ga?"balas ceisya tiba-tiba membuat hans kaget sekali.
"Ternyata sya bukan gadis kecil yang selama ini mas lihat ya" hans sudah mengangkat tubuh ceisya dalam gendongannya.
"Sya m****au mas bikin enak apa mas bikin.." hans tidak melanjutkan ucapannya melihat ceisya hanya sembunyi di balik dada hans karena malu.
Sebenarnya hans bingung juga harus mulai dari mana dan harus ngapain ini anak,yang hans ingat hanya apa kewajiban yang harus dia berikan pada ceisya selaku istrinya.
"Kita do'a dulu ya sya" hans hanya ingat apa yang pernah di ajarkan guru agamanya masalah yang lain hans masih berada di luar otaknya yang cerdas.
Hans masih berpikir harus dari mana terlebih dahulu dan tidak ada gambaran dalam otaknya dan hanya bisa mengingat strategi dalam pertempuran yang terlintas dan ini sangat konyol menurut dirinya dan hanya kesal dalam hati "sesulit ini kah mengatur strategi bertempur dengan mu sya?".
Hans menarik selimut tebal dan meminta ceisya masuk bersama dengan dirinya yang membuat ceisya bertanya dengan polosnya.
"Mas kita mau ngapain?" tanya ceisya yang hanya bisa mengikuti perintah hans.
"Kita main petak umpet dulu ok" dengan tersenyum malu hans memandang ceisya.
Ceisya masih terlihat bingung namun tetap mengikuti apa yang hans perintahkan dan didalam selimut hans hanya bisa menatap ceisya yang juga memandangnya dengan penuh tanya.
"Sya..kamu merasa terbebani ga jadi istri mas tanpa mengenal mas terlebih dulu?" tanya hans dengan rasa ingin tahu.
"Awalnya iya, malah tidak terima dengan semua ini, tapi..sekarang ga sebab mas sayang sya" ceisya langsung naik di atas tubuh hans,yang membuat hans sangat terkejut.
"Sya..." panggil hans lembut membuat ceisya turun berlahan dari tubuh hans.
"Sya, diam jangan bergerak" suara hans terdengar seperti merintih yang jelas hans menahan sesuatu yang sudah tidak bisa ditahannya.
"Kenapa mas?" tanya ceisya dengan suara yang lebih pelan dari hans dengan penasaran.
"Aduh sya.." hans makin meringis menahan sesuatu yang sudah makin menjadi yang dia rasakan.
Ceisya makin bingung dengan apa yang hans rasakan tapi pada akhirnya hanya godaan yang hans tunjukkan membuat ceisya menjepit hidung hans karena kesal.
Sebenarnya hans ingin ceisya merasa nyaman terlebih dahulu berada disisinya seperti saat ini dia tidak jutek padanya.
"Sya..boleh mas penuhi kewajiban mas?" tanya hans meminta persetujuan dari ceisya.
"Kalau kewajiban sya, apa ya mas?" ceisya bertanya balik pada hans yang membuat hans tersenyum dan hanya bisa berkata.
"Kamu memang anak cerdas" hans mengusap kepala ceisya lembut dan berbisik.
"Melayani mas, sya mau" dengan malu ceisya menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Mau ga, sya mau ga" goda hans yang berusaha membuka tangan ceisya agar terlihat wajah malu ceisya.
Dan ceisya memberikan persetujuan pada hans dan dengan rasa malu ciuman pertama hans berikan pada ceisya begitu lembut yang ceisya rasakan, penyatuan jiwa pun terjadi dalam ikatan suci dan halal,dan kini keduanya sudah saling memiliki seutuhnya.
Beberapa saat kemudian situasi kamar sudah berubah dari kain seprei dan selimut yang sudah hans ganti hanya ceisya yang terlihat malu dan lemas.
__ADS_1
Berbeda dengan hans yang sudah terlihat segar karena sudah membersihkan diri dan siap membantu ceisya membersihkan diri.
"Masih sakit" tanya hans pada ceisya yang malu pada hans.
"Sedikit" balas ceisya dengan pelan dan malu.
"Aduh kasihan,anak orang hans kamu apain, awas ya hans nanti kalau ketemu kamu saya kasih lagi yang lebih enak"ucap hans dengan konyolnya menggoda ceisya yang semakin malu.
"Sya..tahu dimana hans,udah enak di biarin aja anak orang bukannya di bantu untuk mandi biar segar" hans makin konyol bertingkah membuat ceisya makin malu menutup tubuhnya dengan selimut.
"Awas ya hans,kamu jangan lari" ucap hans lagi yang kali ini sudah menggendong ceisya untuk mandi.
Sebenarnya hans ingin membantunya tapi ceisya menolaknya dan tidak lama ceisya sudah terlihat segar dan wangi dengan tubuh yang masih terlihat lemas.
Hans yang terbiasa menyiapkan segala sesuatunya sendiri tidak jadi halangan dengan kondisi ceisya yang lemah,hans lebih meminta ceisya untuk berbaring saja tanpa melakukan kewajibannya yang biasanya menemaninya sarapan pagi berbeda dengan pagi ini yang seorang diri menikmati beberapa potong roti dan air lemon hangat juga madu.
Di tempat berbeda asisten rumah di buat bingung dengan jemuran kain seprei dan selimut yang sudah berjajar yang menurut asisten rumah ceisya semua ini milik nonanya, tapi sepagi ini siapa yang telah mencucinya itu yang saat ini jadi pertanyaan di benaknya, sebab ini tugas dirinya.
Berbeda lagi dengan rima yang di minta langsung oleh hans untuk menyiapkan keperluan ceisya tanpa menggagunya beristirahat yang menurutnya aneh sebab tidak biasanya nonanya beristirahat sepagi ini saat hans akan berdinas.
"Rim, biarkan nona mu istirahat saja hari ini" perintah hans pada rima sebelum meninggalkan rumah.
Hans yang sudah berpamitan pada ceisya siap keluar rumah untuk berdinas seperti biasanya cuma ada yang berbeda dari hans yang terlihat sangat segar dan ada yang berbeda dari biasanya itu yang di lihat beberapa asisten rumah sebelum hans meninggalkan rumah.
Asisten rumah saling berbisik ingin tahu apa gerangan yang telah terjadi dengan nonanya dan berusaha mencari tahu langsung dari sumbernya melalui rima.
"Non..sakit?"tanya rima dengan memeriksa tubuh ceisya ingin tahu.
"Ga..rim,hanya lemas saja" balas ceisya dengan posisi berbaring bermalas-malasan di kasur miliknya.
"Rim,mas hans sarapan dengan cukup kan?" tanya ceisya pada rima yang bingung sebab biasanya nonanya selalu menemaninya.
"Menang non..ga ikut sarapan?" rima balik bertanya pada ceisya,sebab dia tidak tahu tuannya sarapan dengan apa dan banyak atau sedikit.
"Ga, aku lemes rim..sama sedikit ga enak disini" ceisya menunjukkan area intimnya dan membuat rima berteriak senang.
"Serius non,akhirnya..!!" teriak rima membuat beberapa asisten wanita datang menghampiri kamar besar nonanya.
"Ada apa rim,dengan nona?" tanya salah seorang asisten yang khawatir.
"Nona kita sudah bukan nona lagi tapi nyonya" bisik rima pada asisten yang lain yang ikut senang.
"Oh..jadi kain itu tuan yang cuci non..eh nyonya?" akhirnya terjawab sudah teka teki kain di jemuran.
"Ya, mas hans yang mencucinya katanya ga pantas bila kalian yang mencucinya"dengan malu ceisya berbagi cerita yang sebenarnya rahasia dia dan hans.
"Gimana non ?" tanya rima yang langsung mendapatkan larangan dari asisten yang sudah berkeluarga.
"Rim..nanti juga kamu akan merasakan apa yang nyonya rasakan tunggu saja akan ada waktunya" yang membuat tertawa semua,ceisya memang dekat dengan semua asisten rumahnya.
"Nanti juga terbiasa ko nyonya" tambah yang lain yang melihat ceisya masih terlihat lemah.
Semua asisten ceisya merasa senang karena hans juga lelaki baik di mata asisten ceisya walaupun keduanya dalam pernikahan lewat perjodohan yang awalnya ceisya kecewa.
Hans terlihat cemas di kantor memikirkan keadaan ceisya,berbeda dengan dirinya yang di bantai habis-habisan oleh komandannya yang sepertinya tahu dirinya sudah tidak lagi hans yang dulu.
"Mampu berapa skor?" goda komandan dengan meninju lengan hans.
"Belum mencapai skor maksimal dan" balas hans yang iseng membalas kejailan komandannya.
"Masa jagoan ga bisa mencapai skor maksimal sih, ayo tunjukkan kemampuan mu" goda komandan lagi yang membuat hans hanya bisa tersenyum.
"Tapi aku tidak percaya,dari penampilan yang aku lihat kamu sudah menembak lebih dari sasaran, pokoknya tetap semangat sampai mencapai hasil,ok" tegas komandan pada hans dengan menepuk pundak hans beberapa kali.
"Siap dan laksanakan" balas hans yang di tinggalkan komandannya berjalan ke ruangan lain.
Pada akhirnya hans harus menghubungi ceisya karena rasa khawatir pada keadaan ceisya yang saat hans pergi masih berbaring lemah.
Dan dari ponsel di dapat ceisya sudah lebih baik keadaannya dan suara serta wajah ceria ceisya sudah terlihat lebih baik ini membuat hans senang dan hanya satu pesan ceisya memintanya cepat pulang yang membuat hans senang sekaligus malu.
Memang tidak bisa dipungkiri siapa yang tidak akan senang memiliki istri cantik masih dengan kepolosan sebagai wanita yang sebenarnya walaupun dengan kemampuan yang melebihi wanita di atas rata-rata secara keilmuan sebab dia berpendidikan walaupun tidak dengan sekolah formal tapi guru yang mendidiknya guru-guru profesional di bidangnya.
Di tambah terlahir dari keluarga yang sangat berada dengan segala fasilitas yang di miliki hanya dia masih terbilang polos secara pergaulan karena hanya bergaul di lingkungan keluarga besarnya saja tanpa ada teman wanita seumuran dengan dirinya,ini sebenarnya sangat menguntungkan hans yang sama-sama tidak banyak bergaul.
Hanya satu perbedaannya hans bukan cinta pertama ceisya tapi hans orang yang tulus mencintainya dalam ikat pernikahan, sebaliknya ceisya adalah cinta sekaligus istri pertama hans,jadi hanya ceisya wanita yang hans kenal secara lahir batin.
Hanya satu yang hans takuti kepolosan ceisya yang akan menjadi kelemahan dirinya untuk di jadikan senjata oleh orang yang ingin menjatuhkan dirinya ini yang jadi ketakutan terbesar hans saat ini.
__ADS_1