
Bicara soal perasaan memang tidak bisa di bohongi dan tidak bisa juga dengan mudah untuk cepat berpaling dari orang yang pernah mengisi relung hati,sepertinya semua orang mengakui itu apalagi yang telah lama saling mengenal satu sama lain begitupun dengan adhi yang pernah menjalani hubungan dengan ceisya yang sudah sedari kecil dan kini sudah berbahagia menjalani hidup berumah tangga dengan hans.
Adhi sudah berusaha melupakan ceisya tapi tetap saja akan kembali pada titik dimana bayangan sosok ceisya masih muncul dalam benaknya,seakan masa lalu itu masih bermain di benaknya dengan indah sepertinya tidak ada yang berubah walaupun tanpa ceisya lagi di dalamnya.
Ini yang membuat kesal tiara selaku adik sepupu adhi yang melihat ceisya yang sudah begitu bahagia dengan hans beberapa waktu yang lalu di pesta mas tama,sedangkan mas adhi yang terluka karena perpisahan ini masih terus mengingat sosok ceisya.
Nampak jelas adhi tidak ingin melepaskan bayangan masa lalunya dengan ceisya,salah satu bukti nyata masih adanya gambar diri ceisya yang masih terpajang di kamar mas adhi dan itu tidak hanya satu tapi hampir menghiasi seisi kamar yang luas milik mas adhi.
Ukuran lamanya waktu ternyata tidak merubah rasa cinta seorang adhi yang di tinggalkan oleh ceisya tapi masih saja dengan rasa yang sama bahkan menanti dengan setia juga penuh harap dan seakan adhi yang menutup diri dari wanita lain,seakan-akan masih menaruh harapan pada ceisya yang menurutnya akan kembali padanya dan melepaskan pernikahan dari perjodohan kakeknya yang sudah berjalan hampir empat bulan lamanya.
"Mas..mas,hanya lelaki bodoh yang masih memikirkan wanita yang sudah jadi milik orang !!" dengan tegas tiara mengomentari isi kamar adhi.
"Larangan dari mana itu" balas adhi tidak mau disalahkan oleh tiara yang menurutnya tidak berhak mengomentari hidup yang di jalaninya.
"Tidak ada yang melarangnya tapi sadar diri lah, orang yang mas pikirin tidak sedikit pun memikirkan mas, jangan buang waktu percuma mas,berpikir yang realistis aja kita hidup di dunia nyata bukan cerita novel mas yang bucin !!" tiara sepertinya ingin menyadarkan adhi.
"Sudah..sudah sana keluar, berisik tahu !!"adhi mendorong tiara ke luar kamar miliknya.
"Ingat mas, wanita bukan dia saja di muka bumi ini, buka mata mu lebar-lebar mas !!" teriak tiara yang di paksa keluar kamar adhi yang langsung membanting pintu dengan keras setelah tiara keluar.
"Ssstt..berisik aku mau sendiri please" teriak adhi dari dalam kamar,sepertinya adhi tidak suka tiara melarang dirinya yang masih mengingat kembali hubungannya dengan ceisya.
"Ada apa sayang?" tanya ibu adhi yang mendengar kegaduhan dan menghampiri tiara yang masih berdiri tidak jauh pintu kamar adhi,
"Mas adhi itu keras kepala, tidak mau mendengarkan apa kata tia" dengan menunjukkan muka cemberut tiara berucap manja pada ibu adhi yang sudah seperti ibunya yang sangat sayang padanya.
"Tia sayang, biarkan mas mu lebih tenang dulu yah" ibu adhi tahu betul putranya yang masih terluka dengan perjodohan ceisya.
"Terus sampai kapan mas mau melupakan semua ini, fotonya saja masih terpajang di kamar,waktu terus berputar loh bu !" tiara menjelaskan pada ibu adhi yang hanya tersenyum sebab dia lebih tahu dari tiara bagaimana keadaan anaknya saat ini.
"Akan ada waktunya sayang, biarkan mas adhi berdamai dengan dirinya itu akan lebih baik untuk dirinya" kali ini ibu adhi lebih bijak menjelaskan pada tiara yang masih terlihat kesal karena tidak mendapatkan dukungan dari ibu adhi.
Merasa tidak ada dukungan dari ibu adhi tiara memilih berpamitan untuk pulang tapi dalam benaknya seperti menaruh siasat buruk pada ceisya tapi belum terpikirkan apa rencana busuknya yang jelas tiara dengan tersenyum sinis masuk kedalam mobil miliknya seperti senang walaupun belum menang.
Berbeda di tempat lain ceisya yang hari ini asyik berkebun dengan menanam beberapa bunga yang baru saja datang di pesannya beberapa hari yang lalu,sepertinya ceisya saat ini ingin menambah koleksi tanaman bunganya yang menurutnya akan terlihat semakin beragam bunga yang tumbuh ditamannya dengan di tambahkan tanaman lainya.
Hans sendiri masih di sibukkan dengan tugas yang saat ini terbilang berat sebab negerinya di rugikan dengan maraknya penyelundupan yang dalangnya adalah orang penting negerinya tapi semua butuh penyelidikan bukan asal tuduh tanpa bukti ini yang harus hans dan tim cari tahu.
Pada akhirnya hans banyak menghabiskan waktunya di luar karena tugas ini,untuk bisa bertemu dengan ceisya waktu yang hans berikan sangat sedikit tapi ceisya tidak sedikitpun protes pada hans,sepertinya ceisya makin memahami siapa hans begitu juga dengan dunianya.
Walaupun waktu yang berikan terhitung sedikit tapi ceisya cukup senang sebab hans sangat memanfaatkan waktu sedikit itu dengan memanjakan dirinya dalam banyak hal dari menuruti semua keinginan ceisya juga menghibur ceisya hingga membuat ceisya sangat menikmati kebersamaan itu
walaupun tidak harus pergi jauh.
Ceisya tahu hans bukan lelaki romatis tapi dia bisa membuat pasangannya merasa beruntung ada di dekatnya dan merasa nyaman bersamanya walaupun hanya bisa ngobrol berdua di ujung hari dengan menikmati senja di temani segelas susu cream hangat dan cake coklat yang tidak terlalu manis buatan rumah tapi ada sesuatu yang berbeda karena hans selalu memberikan kejutan kecil tapi menyenangkan hati tentunya.
Langkah kaki terdengar tergesa-gesa mendatangi kamar ceisya yang saat ini baru saja membersihkan diri dan terlihat segar dengan penampilan santai yang ceisya kenakan sore ini.
Ceisya sedikit curiga dari suara langkah kaki di tambah seseorang terdengar menyebutkan nama orang tuanya tapi ada rasa khawatir yang ceisya dengar dari nama yang seseorang ucapkan itu.
"Siapa di luar ?!" ceisya bertanya dengan suara tegas terdengar.
"Kami nyonya muda" jawab salah satu asisten dengan terdengar gemetar dan ada kesedihan yang ceisya rasakan.
"Masuklah ada yang ingin disampaikan ?" perintah ceisya dan bertanya pada keduanya yang sudah berada di hadapan ceisya dengan tertunduk lesu.
"Nyonya muda ada berita duka" ucap salah satu asisten yang kembali tertunduk lesu.
"Iya,kata saja berita dukanya apa?" pinta ceisya pada asisten makin ingin tahu.
__ADS_1
"Tuan dan nyonya mengalami kecelakaan saat ini keduanya dalam perjalanan pulang pulang" kedua asisten tidak menjelaskan kalau kedua orang tua ceisya telah meninggal.
"Kenapa baru memberi tahu sya?" rasa khawatir kini dirasakannya yang langsung berganti pakaian.
Dan tidak lama terdengar suara sirene ambulance yang terdengar sangat jelas memasuki kediaman rumah besar indra yang saat ini sangat berduka karena kehilangan anak perempuan satu-satunya bersama menantu lelakinya.
Ceisya yang tanpa sadar berlari dari kediamannya bermaksud melihat orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja itu harapannya tapi yang nampak di depan mata dua mobil ambulance yang menurunkan du peti mati yang menjelaskan pada ceisya keduanya telah berpulang kepada illahi sang pemilik kehidupan.
Ceisya tidak sanggup menopang tubuhnya yang lemas menyaksikan kedua peti itu masuk kedalam kediaman kakeknya untuk di sholatkan sebelum di baringkan di peristirahatan terakhirnya.
Hans yang sudah datang lebih dulu sebelum ambulance datang dan berusaha mencari tahu keberadaan ceisya sebab kediaman indra sudah di penuhi pelayat yang datang.
Hans sangat terkejut saat melihat kondisi ceisya yang duduk lemas tidak jauh dari ambulance dengan darah yang terlihat mengalir dari organ intimnya, sepertinya hans langsung tahu ceisya mengalami pendarahan.
Ceisya sepertinya tidak mengetahui dirinya telah berbadan dua,dalam pelukan hans ceisya jatuh pingsan tidak sadarkan diri,hans dengan sigap melarikan ceisya ke rumah sakit terdekat dan beberapa asisten menemani.
Hans sendiri memberikan penghormatan terakhir kepada orang tua ceisya sebagai menantu yang baik menemani kakak lelaki ceisya yang sangat berduka.
Ini pukulan terberat buat ceisya dengan kehilangan kedua orangtuanya sehingga membuat janin yang di kandungnya tidak bisa di pertahankan, hal ini juga berat untuk hans sebab dokter telah memberikan worning pada hans tentang kondisi ceisya kedepannya yang mau tidak mau hans harus memberi tahukan pada indra selaku wali dari ceisya.
Indra yang masih berduka harus menerima kenyataan pahit dari masalah yang di timbulkan dari keterkejutan yang ceisya alami berdampak untuk masa depan kelangsungan hubungan pernikahannya dengan hans.
"Apa tidak terlalu dini vonis yang dokter berikan hans?" dengan suara bergetar indra meminta penjelasan pada hans.
"Tapi masih ada banyak kemungkinan kakek tidak perlu khawatir hans akan selalu ada untuk ceisya" hans menggenggam tangan indra yang sudah sangat terpuruk saat ini karena duka yang mendalam kehilangan putri tercintanya beserta suaminya dalam kecelakaan di tambah mendengar kondisi ceisya yang saat ini tidak baik-baik saja.
"Kamu cari dokter terbaik untuk kesembuhan ceisya berapapun biayanya akan aku bayar" indra kembali terlihat semangat seperti tidak ingin ceisya di pandang sebagai wanita yang lemah karena tidak bisa memberikan keturunan untuk hans.
Indra dan hans tidak menyadari ada seseorang yang mencuri dengar dengan apa yang baru saja keduanya bicarakan dan ini seperti senja yang akan siap membidik musuh sekali tembak langsung terkapar tidak berdaya bisa jadi satu peluruh untuk tiga mangsa yang akan tumbang,dengan senang seseorang itu tersenyum puas tinggal menunggu waktu yang tepat kapan senapan itu akan dibik tepat sasaran pada musuhnya.
Ceisya yang sudah sadarkan diri masih di temani rima yang membantunya memberikan makan malam,sebenarnya ceisya menolaknya dengan alasan masih kenyang.
"Makan ya nyonya muda nanti tuan pasti marah pada saya" pinta rima dengan lembut.
"Nyonya sehat dulu baru bisa pulang" rima hanya bisa membujuk ceisya yang masih terlihat lemah.
"Benar mau pulang?" tanya seseorang yang langsung masuk tanpa ucap salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, sayang" ucap hans yang langsung mencium ujung kepala ceisya lembut membuat rima malu dan undur diri keluar.
"Waalaikum salam, iya mas sya mau pulang" jawab ceisya yang langsung memeluk satu tangan hans.
"Boleh tapi harus janji tidak boleh cape dan harus mau makan dan minum obat teratur, gimana?" mendengar ucapan hans ada sesuatu yang membuat ceisya bertanya dalam hatinya "minum obat teratur,aku sakit?" hanya diam yang ceisya tunjukkan pada hans.
"Sya, bagaimana?" hans kembali bertanya dan menunggu jawaban dari ceisya.
"Memang harus ya, mas?" tanya ceisya penuh harap pada hans.
"Haruslah, biar sya kembali sehat" ucapan hans menyemangati ceisya yang tidak tahu banyak soal sakitnya.
"Ok,sya ingin sehat dan kita pulang!" dengan semangat ceisya berniat turun dari tempat tidurnya tapi hans melarangnya dan dengan sigap hans menggendong ceisya untuk di bawah pulang menuju tempat dimana mobilnya di parkir.
Tapi dalam perjalanan menuju mobil yang ada di tempat parkir,keduanya menjadi tontonan orang-orang yang ada di rumah sakit sebab terlihat keduanya so sweet membuat pasangan di buat iri oleh sikap hans pada ceisya yang hanya bisa menyembunyikan muka di dada hans karena malu dalam gendongan hans.
Tapi tidak dengan hans yang di bantu rima membawakan tas keperluan ceisya selama di rumah sakit,rima ikut senang tuan dan nyonyanya banyak mendapatkan pujian dari orang yang menurutnya sangat romantis.
Sebenarnya rima juga di buat malu karena hans sangat perhatian selama perjalanan pulang dengan sesekali mengusap lembut kepala ceisya dan mencium tangan ceisya yang tidak lepas dari genggaman hans.
"Tuan jangan bikin rima ingin cepat punya pasangan dong" rima memberikan diri meminta pada hans dan membuat hans hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Kamu mau di cariin pasangan?" tanya ceisya pada rima yang terlihat malu duduk di belakang.
"Ga,buruh-buruh juga sih" dengan malu rima membalas pertanyaan ceisya.
Tidak lama mereka tiba di rumah dan disambut oleh asisten rumah yang berbaris sepertinya mereka sangat prihatin dengan keadaan ceisya saat ini.
Hans langsung membawa ceisya ke dalam kamar dan tidak lama hans menyuruh seluruh asisten rumah berkumpul,hal seperti ini baru pertama kalinya terjadi menurut asisten rumah ada apa gerangan yang akan hans perintahkan pada mereka,dengan penuh tanda tanya.
"Terlebih dahulu saya minta maaf bila mengejutkan ibu,bapak,mas dan mba semua sebenarnya saya hanya ingin meminta bantuannya terhitung mulai hari ini dan untuk beberapa bulan kedepan,untuk lebih mengawasi keperluan istri saya apapun keperluannya sebab istri saya tidak boleh terlalu cape akan lebih baik dia banyak beristirahat,dengan ini saya mohon kerjasamanya" permintaan hans di mengerti oleh semua asisten dan mereka bisa mengerti dengan kondisi ceisya saat ini yang harus banyak istirahat.
Hans meminta permintaan khusus pada asisten yang menyiapkan menu makanan untuk ceisya harus yang lebih bergizi sesuai anjuran dokter tentunya.
"Untuk perhatian dan bantuannya saya ucapkan banyak terima kasih,maaf bila sudah meminta waktunya" hans menangkupkan kedua tangannya di dada tanda terima kasih pada asistennya,dimata asistennya hans seorang yang santun dan tidak merendahkan.
Semua asisten sangat mengagumi sikap hans sebagai suami yang terlihat tegas di luar sana tapi begitu berada di dalam bersama keluarga terutama pada istrinya dia menjadi pribadi yang sangat sabar,lembut dan sangat sayang juga terlihat begitu tulus mencintai ceisya.
"Kenapa tuhan hanya menciptakan tuan seorang yang penuh kasih" ujar salah asisten di dapur berbicara sendiri membuat yang lain membalasnya dengan tidak kalah konyol.
"Sebab hanya nyonya ceisya cucu dari tuan besar indra bukan kamu" gelak tawa pun pecah di dapur terdengar,sebenarnya ini hanya canda semata untuk mereka tidak ada niat lain.
Sebenarnya hans kasihan pada ceisya yang harus terus meminum obat sesuai anjuran dokter untuk pemulihan rahimnya akibat keguruan yang harus dialami ceisya.
Hans cukup mengerti bagaimana bosannya ceisya yang harus menghabiskan obat tiga kali sehari dalam waktu yang tidak tahu kapan dirinya untuk tidak lagi menghabiskan obat yang di anjurkan oleh dokter yang di tunjuk langsung oleh kakeknya,yang menurutnya dia dokter terbaik di kotanya.
"Mas dengar sya ga mau menghabiskan obat hari ini,kenapa sayang?" dengan lembut hans bertanya pada ceisya yang duduk di kursi malas menikmati malam dengan membaca buku.
"Sya bosan mas,pahit lagi" dengan manja ceisya menjawab pertanyaan hans.
"Oh,karena pahit..bukannya ada madu dan makanan kecil yang mba siapkan setelah minum obat sayang"sebenarnya hans hanya ingin memastikan kenapa ceisya tidak mau meminum obat yang harus di minumnya untuk pemulihan rahimnya.
"Iya ada tapi tetap saja pahit rasanya" ucapan ceisya cukup di pahami oleh hans tapi hans ingin ceisya cepat pulih lagi tidak lebih.
"Sepahit apa sih sya"hans berusaha membujuk ceisya untuk tetap minum obat yang sudah mbanya siapkan.
Hans mengambil obat dan memberikan pada ceisya yang tetap saja menolaknya,dengan banyak alasan yang cukup masuk akal menurut hans.
"Kalau ga percaya mas cobain rasanya,ih..pahit" ceisya menjelaskan dengan lidah yang di julurkan keluar yang menandakan rasa pahit yang tidak ingin dia rasakan.
"Ok..mas coba"hans memasukkan semua obat yang harus ceisya minum sesuai aturan terlihat ada enam butir obat yang berbeda bentuk dan warna kedalam mulutnya,ceisya melihat hans santai saja mengunyah obat itu tanpa merasakan pahit tapi ada hal yang tidak di duga oleh ceisya.
Hans dengan santai berniat mengambil air tapi dalam sekejap sudah berusaha memberikan obat itu langsung ke dalam mulut ceisya tanpa bertanya terlebih dahulu pada ceisya yang hanya bisa berteriak kepahitan karena rasa obat yang hans berikan padanya.
"Ih..pahit"hans memberikan segelas air dan dua senduk madu untuk menghilangkan rasa pahit dari obat.
"Manis kan" goda hans yang tersenyum puas melihat istrinya di kerjain.
"Ih,mas jahat" rengek ceisya pada hans yang sudah duduk disamping ceisya.
"Mas ga jahat itu tandanya mas sayang sya,nanti kalau obatnya terasa pahit panggil mas pasti jadi manis" ucapan hans mendapatkan penolakan dari ceisya dengan tegas.
"Ga..mas ga lebih baik sya minum sendiri" balas ceisya yang membuat hans tertawa puas telah membuat istrinya kesal.
"Bukannya itu so sweet sayang tandanya kita berbagi" ungkap hans yang membuat ceisya protes keras pada hans.
"Jorok tahu ih.." Hans mendapat pukulan di lengan oleh ceisya tapi hans masih tetap tertawa karena ulah jailnya pada ceisya.
"Jorok dari mananya,ini manis sayang" hans meminum madu dan kembali melakukan hal yang ceisya bilang jorok itu tapi kali ini ceisya hanya bisa diam tidak bisa menolak karena rasa manis yang hans berikan.
"Manis kan ?"tanya hans setelah menyelesaikan misinya dan hanya muka memerah yang ceisya tunjukkan pada hans tanpa kata,berbeda dengan misi awal yang hans lakukan.
__ADS_1
Ternyata memiliki suami pandai itu merepotkan pikir ceisya ada saja cara untuk memuaskan keinginannya tanpa harus melakukan hal yang lebih,cukup dengan sentuhan yang sederhana tapi memuaskan keinginannya sekaligus menyenangkan pasangannya tentunya dan membuat nyaman keduanya itu yang utama.
Yang jelas kali ini hans yang menang banyak karena bisa membuat ceisya minum obat dan tertawa senang karena ulah jailnya,ini yang namanya menyakiti tanpa tersakiti (hans si banyak akal).