
Ada yang hilang yang ceisya rasakan dari sosok yang biasanya melengkapi keseharian ceisya kali ini tidak berada di dekatnya, ini tidak mudah untuk ceisya yang memandang langit sore dalam diam mengingat saat-saat bersama sosok yang untuk pertama kalinya dirindukannya.
Rima sudah lama mengenal ceisya sebagai nona mudanya saat menjalin hubungan bersama mas adhi dulu, saat ini ceisya menjadi sosok yang berbeda setelah menjalin hubungan dengan tuan hans yang sekarang menjadi suaminya,nona terlihat lebih dewasa dalam bersikap dan makin ramah pada semuanya itu yang rima rasakan saat ini.
"Baru juga beberapa jam pergi non, sudah dikangenin ?" goda rima dengan bermaksud menghibur nonanya.
Ceisya tidak membalas godaan dari rima, ceisya masih tetap diam mengingat tiap momen saat bersama hans yang selalu meninggalkan kesan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya terutama rasa nyaman serta hangatnya perlakuan yang hans berikan pada dirinya.
Orang yang mengenal ceisya pasti akan menilai dirinya manja, sensitif bahkan lebih menilai semaunya dalam bersikap tapi hans lebih memberikan kebebasan pada ceisya tapi di saat-saat tertentu hans akan bersikap tegas yang menyadarkan ceisya di luar sana dirinya tidak bisa bertindak semaunya sebab semua ada aturannya yang harus di patuhi.
Ceisya semakin merindukan sosok yang dulu dipandangnya sebagai lelaki yang kasar dan ditakuti, tapi kini sangat dirindukan kehadirannya terutama saat ini yang hanya bisa berbicara dengan rima asistennya uang setia menemani kesendiriannya mengusir rasa sepi tanpa hans di sisinya.
"Rim, mas hans sedang apa ya saat ini?" tanya ceisya pada rima yang kali ini bingung tidak bisa menjawab pertanyaan nonanya.
"Ih, rima ko diam sih?" protes ceisya pada rima yang hanya diam pada nonanya.
"Maaf non, bukannya nona yang lebih tahu keseharian tuan kemana dan ngapain aja ?" jawab rima yang tidak mau asal menjawab pertanyaan nonanya.
Jawaban dari rima membuat ceisya semakin merindukan sosok hans yang biasanya menyapanya selepas pulang dari dinas, memasuki ruanganya dengan suara yang menyenangkan hatinya.
"Sudahlah non,nanti juga tuan menghubungi non bila tugasnya sudah selesai" ujar rima berusaha menghibur nonanya yang mulai kehilangan sosok hans.
"Tapi rim, tidak bisa sebentar gitu kasih kabar pada sya" ceisya menjelaskan keinginannya pada rima yang hanya bisa tersenyum pada nonanya yang biasanya selalu terpenuhi segala keinginannya tanpa terkecuali.
"Non, tuan berdinas untuk negara bukan pada tuan besar " rima berusaha menjelaskan pada nonanya yang sepertinya rindu berat.
Hampir masuk waktunya magrib ceisya masih belum membersihkan diri dia memilih masih bermalas-malasan di atas kasur miliknya hanya memandang ponsel sesekali berharap hans mengirimkan pesan atau menghubungi dirinya.
Sesekali ceisya bergumam sendiri memanggil nama hans dengan rasa kesal menunggu kabar darinya, berharap hans cepat menghubungi dirinya.
"Mas, hans kamu ga ingat sya sih?" gumam ceisya seorang diri.
Waktu magrib sudah berlalu tapi ceisya masih saja belum bergeming dari posisinya, terlihat kegelisahan dalam dirinya yang semakin merindukan hans untuk ada di dekatnya.
Ponsel miliknya berdering dan terlihat nama seseorang yang menghubunginya, terlihat ceisya senang tapi juga kecewa sebab bukan seseorang yang di rindukannya menghubungi dirinya melainkan mas adhi.
~ "Hallo sya, gimana kabar mu?" mas adhi memulai menyapa ceisya dengan ramah seperti melupakan masa kelam yang telah mengecewakan ceisya tentunya.
~ "Hallo juga mas, baik" jawab ceisya seperlunya saja tidak ingin lebih, karena tidak ingin mengingat masa lalu yang menyakitkan hatinya.
Sepertinya mas adhi faham betul ceisya pasti masih kesal pada dirinya yang tidak memperjuangkan cintanya dengan harapan bisa di satukan dalam ikatan yang halal itu pikir mas adhi yang masih berusaha santai dalam ucapan.
~ "Syukurlah bila sya baik, mas dengar sya ada disini, kapan sya datang?" tanya mas adhi basa basi yang membuat ceisya ingin menutup ponselnya.
~ "Kemarin mas, maaf mas langsung to the poin saja ada yang mau mas sampaikan ?!" ucap ceisya dengan tegas yang membuat mas adhi sedikit kaget sebab ceisya sangat berbeda yang mas adhi rasakan.
~ "Mau tanya aja, apa sya ikut serta dalam acara mas tama, hanya itu saja sya maaf bila mengganggu waktu sya" ucap mas adhi yang sepertinya kecewa pada ceisya yang begitu cepat berubah.
~ "Soal acara mas tama, sya tidak ingin ikut serta sya masih cape" balas ceisya tanpa basa basi pada mas adhi.
~ "Sudah dulu ya mas sya mau membersihkan diri !" ceisya langsung menutup ponselnya sepihak tanpa menunggu mas adhi menjawab ucapan ceisya.
Ceisya membanting ponselnya di atas kasur sepertinya dia kesal sendiri, seseorang yang di harapkan menghubungi dirinya belum menghubungi dirinya, melainkan orang yang tidak diharapkan menghubungi dirinya.
Dan ponsel kembali berdering, wajah ceisya masih menampakkan kekesalannya dan ceisya menjawabnya tanpa melihat siapa orang yang menghubungi dirinya.
~ "Assalamualaikum say, ko kusut bener" ucap hans yang menghubungi ceisya melalui vidio call.
Ceisya sangat terkejut mendengar suara khas seseorang yang di rindukannya dan langsung menatap layar ponselnya.
__ADS_1
~ "Waalaikum salam mas, ih mas jahat kenapa baru menghubungi sya" ceisya menunjukkan muka manja pada hans yang membuat hans ingin mencubitnya kalau saja di dekatnya.
~ "Maaf sya, mas baru bisa menghubungi sya acaranya sangat padat, dan mas baru bisa sekarang menghubungi sya" hans berusaha menjelaskan pada ceisya berharap tidak ada salah paham.
~ "Pokoknya mas jahat sama sya" ceisya kembali menunjukkan muka imut yang manja pada hans,yang membuat hans tersenyum sendiri.
~ "Ga ada yang jahat sya, ini tugas" ujar hans dengan suara menenangkan ceisya.
~ "Mas ga tahu ya,apa yang sya rasain disini?" ceisya menunjukkan muka kesalnya pada hans tapi masih dengan muka manja yang hans lihat.
~ "Apa yang mas ga tahu, mas tahu kok apa yang sya rasain saat ini" hans menggoda ceisya yang mulai tersenyum bikin hans ingin cepat ada di sisinya.
~ "Kalau tahu kenapa mas ga cepat pulang?" kali ini ceisya seperti merengek pada hans.
~ "Maafin mas sya masih ada beberapa pembahasan yang harus selesai malam ini karena sangat penting" hans memahami apa yang ceisya rasakan,sebenarnya sama dengan dirinya merindukan kebersamaan tapi tanggungjawab harus dia dahulukan.
~ "Ok,ok sya mengerti t**api cepat pulang ya**" dengan manja ceisya meminta pada hans yang membuat hans ingin cepat berlari memeluknya.
~ "Siap nyonya hans, akan langsung meluncur bila tugas telah selesai di laksanakan" hans memberikan hormat pada ceisya seperti pada atasannya ,yang membuat ceisya tertawa senang karena hans menghiburnya.
~ "Boleh mas tahu sepertinya ada yang belum mandi sebab baunya sampai sini" goda hans pada ceisya yang berpenampilan kusut dan terlihat sedikit acak-acakan.
~ "Mas jahat deh, masih wangi tahu nih" ceisya menunjukkan pada hans kalau dirinya tidak bau dengan mencium dirinya sendiri.
~ "Tapi tercium bau sya" goda hans pada ceisya yang langsung menutup hidup berbeda dengan ceisya yang merengek tidak terima pada hans.
~ "Sya ga bau mas, ih ga bau nih cium kalau ga percaya" balas ceisya pada hans yang tertawa menggoda ceisya.
~ "Kapan mas pulang?" tanya ceisya lagi pada hans seperti meminta kepastian pada hans.
~ "Secepatnya tapi janji mas datang sudah harus wangi, ok !" goda hans pada ceisya yang kali ini tidak menjawab hanya tersenyum malu pada hans.
~ "Sudah dulu ya, seperti rapat akan di mulai dah sya, mas sayang sya, assalamualaikum" ucap hans sebelum mematikan ponselnya.
Sesuai permintaan hans, ceisya bergegas membersihkan diri dan meminta pada rima menyiapkan makan malam bila nanti suaminya belum menikmati makan malam di tempat dinasnya.
Ceisya yang kali ini begitu sabar menunggu kedatangan hans, bagi dirinya ini pertama kalinya dirinya di buat menunggu oleh seseorang tapi dirinya merasa senang di minta menunggu walaupun sesekali di buat kesal karena lamanya waktu kedatangan seseorang itu yang tidak kunjung datang.
Sudah beberapa buku di bacanya begitu pun dengan acara tv hingga bosan berpindah program sampai permainan game di ponsel di cobanya,bahkan ceisya yang tidak biasanya membaca apa saja yang ada di ponselnya yang berhubungan dengan media sosial dirinya membuka-buka untuk mengusir rasa bosan karena menunggu sodok yang sangat dirindukan kedatangannya.
Seseorang yang di tunggunya tidak kunjung datang membuat ceisya tertidur di kursi malas yang biasanya di gunakan saat perawatan yang di lakukan asistennya untuk membuat tubuhnya terawat.
Hampir menjelang pagi hans baru datang dan penjaga gerbang sudah mengenal hans dan sesuai permintaan ceisya untuk meminta hans langsung memasuki ke kamar utama ceisya.
Hans berterima pada penjaga yang dengan sopan mengantarkan dirinya sampai ke dalam rumah besar milik ayah ceisya yang sudah sangat sepi karena hampir semua penghuninya telah beristirahat.
Hans hanya bisa mengucap salam tanpa ada jawaban dari penghuni rumah begitupun kedalam ruangan milik ceisya terlihat sepi dengan lampu kamar yang menyala terlihat menenangkan yang hans lihat.
Di dalam kamar tercium aroma wangi terapi yang menenangkan itu yang hans rasakan, langkah kakinya semakin mendekat dan sosok yang manja terlihat terlelap dengan posisi tidak di atas kasur miliknya melainkan di kursi malas.
"Maafin mas sya" ucap hans yang mengecup kening ceisya, rasa bersalah yang hans rasakan karena menunggu terlalu lama membuat ceisya tertidur itu yang hans rasakan.
Hans memilih membersihkan diri terlebih dahulu dan berganti pakaian santai, tubuh gagahnya tidak terlihat lelah padahal lebih dari seharian beraktivitas di luar sana.
"Sya kita pindah yah" hans memindahkan ceisya yang masih terlelap dalam gendongan hans, wangi tubuh ceisya tercium membuat hans tersenyum seorang diri dengan memandang wajah cantik ceisya.
Dalam benak hans senang ceisya memenuhi keinginan walaupun saat itu hanya sekedar candaan tidak lebih tapi ceisya melakukannya, hans makin dalam memandang ceisya yang menurutnya gadis kecil sombong.
Ceisya masih dalam tidur lelapnya tanpa merasakan kehadiran hans yang saat ini sudah turut serta merebahkan tubuhnya disamping dirinya.
__ADS_1
Hans hanya bisa memandangi wajah ceisya sangat dekat membuat jantung hans berdetak kencang, bagaimana tidak membuat jantung hans berdetak kencang semua yang tuhan berikan pada ceisya begitu sempurna dari hidung yang bisa disebut mancung, mata dengan bulu mata cukup lentik dengan bibir yang merah alami menggoda hans serta kulit pipi putih mulus.
Tanpa hans sadari ceisya menggeliat merubah posisi tidurnya yang membuat hans sedikit terkejutnya takut ceisya mengetahui dirinya menikmati kecantikan yang tuhan berikan pada dirinya begitu sempurna.
Malam makin larut hans berusaha menebus rasa bersalah pada ceisya yang sudah di tinggalkannya lebih dari seharian karena tugasnya yang mengharuskan melakukan itu.
Tangan hans memeluk tubuh ceisya yang semakin terlelap dalam tidur malam ini, dan sesekali hans pengusap punggung ceisya juga mengecup kening ceisya dengan lembut.
Usapan lembut tangan hans tetap saja tidak sama dengan usapan lembut asistennya yang biasa lakukan, maklum saja hans yang banyak beraktivitas di lapangan yang jelas pasti berbeda rasanya dengan asistennya yang melakukannya, ceisya terbangun dan dipandangnya sosok yang lebih dari seharian ini yang dirindukannya sudah berada di hadapannya dan memandang dengan sorot mata terlihat tegas dengan senyum tipis menghiasi bibirnya
"Kapan mas sampai ?" tanya ceisya dengan suara khas bangun tidur menyapa kehadiran hans.
"Beberapa menit yang lalu" hans mengusap pipi ceisya dengan lembut.
"Mas sudah makan?" tanya ceisya dengan menatap hans yang berada disampingnya dan saling berhadapan.
"Sudah di tempat rapat tadi, lanjutkan saja istirahat sya masih belum pagi" hans meminta pada ceisya.
"Sya kangen mas" ceisya tanpa malu memeluk hans dengan erat membuat hans hampir sesak sekaligus kaget.
"Mas tahu sya, maafin mas ya sya" hans berusaha menahan napas tapi itu tidak lama sebab ceisya kebelet ke kamar mandi.
"Maaf sya pipis dulu ya" ucap ceisya polos terdengar di telinga hans yang hanya bisa tersenyum.
"Dasar gadis kecil" ucap hans pelan dengan tersenyum yang tidak terlalu lebar.
Hans pikir ceisya tidak lagi akan memeluknya kali ini dia langsung melompat menindih tubuh hans dan mendarat dengan sempurna diatas tubuh gagah hans yang tanpa persiapan tentunya.
"Auw sya" hans terkejut sekaligus sedikit sakit karena tanpa persiapan awal.
Hans lelaki normal mendapatkan perlakuan dari ceisya sedikit banyak membuat dirinya harus menahan napas dalam, tapi dengan polosnya dan tanpa bersalah ceisya masih dengan santai di atas tubuh gagah hans.
"He he mas tahu ga sya kangen sama mas" dengan polos tanpa bersalah ceisya bersikap santai masih berada di atas tubuh hans,dan bertanya apa yang dirasakan dalam hatinya tanpa memikirkan apa yang dirasakan hans akibat dari perbuatannya.
"Sya kamu tahu ga, saat ini berada diatas ku loh" ucap hans berharap ceisya turun dari tubuhnya tapi apa yang di dapat ceisya makin asyik berada di atas tubuh hans dan dengan santainya menatap hans dengan tersenyum menggoda.
Hans di buat tidak berkutik dan serba salah dengan sikap yang ceisya lakukan pada dirinya yang hanya bisa bergumam dalam hati "aduh jangan membangunkan macan tidur ini belum waktunya" hans berusaha menahan apa yang dirasakannya.
"Mas ga kangen sya?" tanya ceisya dengan penuh harap menunggu jawaban dari hans yang masih diam dengan pandangan menatap ceisya serius tapi lembut.
Hans memutar otaknya yang cerdas ingin menguji ceisya apakah gadis di hadapannya polos atau sebenarnya ingin menggodanya, dan hans seperti menunggu respon dari ceisya yang masih di atas tubuhnya.
"Siapa bilang mas ga kangen sya" kali ini ceisya yang di buat mati gaya dan malu sebab hans membalik posisinya.
"Ih, mas" ceisya terlihat malu di tatap hans yang hanya tersenyum simpul seperti menggodanya.
Dari perlakuan yang ceisya lakukan, hans bisa menarik kesimpulan ceisya sepertinya sudah siap menerima siapa dirinya dan sudah membuka diri untuk dirinya serta siap menjadi istri hans fahreza.
"Mas bisakan geser sedikit" ceisya dengan sopan meminta pada hans yang membuat hans malu.
"Maaf" hans membaringkan tubuhnya di samping ceisya dengan menutup matanya dengan lengan tangannya disertai senyum malu pada ceisya.
Begitupun ceisya yang melihat hans tersenyum membuat dirinya juga tersenyum sepertinya keduanya bermain dalam imajinasi liar yang hanya keduanya yang tahu.
Dan tanpa sadar keduanya sudah terlelap dalam dinginnya malam yang akan menjelang pagi dengan suara alam yang sedikit terdengar.
Ceisya senang hans begitu perhatian dan tidak seperti penilainya selama ini, hanya saja hans masih sedikit bicara itu pun hanya dengan dirinya dia banyak membalas selebihnya hanya tersenyum tipis mewakili ucapannya.
Tapi tiap ucapan hans semuanya tidak sekedar bualan semata tapi nyata yang ceisya rasakan seperti malam ini dia janji pulang walaupun hampir menjelang pagi dia sampai di kediaman ceisya tapi hans menepatinya dengan penuh tanggungjawab.
__ADS_1
Hal ini membuat ceisya senang merasa dirinya tetap menjadi prioritas dari hans yang terbilang orang penting di negerinya dengan setumpuk tanggungjawab yang besar tentunya di pundaknya yang harus terus di embannya.
Biarlah malam menjelang pagi ini berlalu masih ada hari esok yang keduanya bisa nikmati untuk bisa merasakan manis,pahitnya kehidupan dengan tetap bersama satu tujuan tentunya.