
Tugas adalah segalanya bagi seorang hans, tapi kali ini ada yang berbeda harus dengan berat hati meninggalkan ceisya di tempat dinasnya karena panggilan tugas dari komandan besarnya yang memintanya menghadap dalam beberapa hari kedepan.
Hans mengerti ceisya pasti sangat keberatan harus berpisah dengan dirinya yang baru saja dekat beberapa waktu ini, wajah cantik ceisya terlihat murung tidak seperti biasanya yang selalu ceria Itu yang hans lihat saat ini.
"Sepertinya langit mendung ya sya ?" tanya hans yang masuk kedalam kamar ceisya.
"Ga, tahu" balas ceisya yang tertunduk memainkan jari kakinya dengan suara sedikit ketus terdengar oleh hans.
"Kenapa, ko tidak seperti biasanya?" tanya hans pada ceisya yang sebenarnya tahu, ceisya merasa sedih tidak ingin di tinggalkan oleh hans untuk tugas.
Ceisya tidak menjawab dia memilih membelakangi hans, yang sebenarnya dia ingin menangis dan berharap hans membatalkan perjalanan dinasnya untuk tetap bersama dengan dirinya.
"Sya, aku salah ya?" pinta hans yang terus ingin menggoda ceisya yang semakin tidak kuasa menahan kesedihan akan kepergian hans bila tiba waktunya nanti.
"Tinggalkan sya sendiri !" ucap ceisya berlari menuju pintu tapi hans lebih dulu mencegahnya.
"Kenapa dengan sya ku ?" tanya hans yang memeluk ceisya yang sudah dalam isak tangisnya pecah terdengar menyayat hati.
"Sya ga mau sendiri !" dalam isak tangisnya ceisya meminta pada hans agar tidak meninggalkan dirinya di tempat asing ini.
"Ceisya di sini tidak sendiri ada banyak pasukan dan beberapa orang ajudan yang akan menemani sya" ucap hans menjelaskan pada ceisya yang sebenarnya dengan suara lembut terdengar.
"Tapi sya tidak butuh mereka semua, sya hanya butuh seorang saja !" protes ceisya pada hans yang menurut dirinya hans tidak mengerti dirinya.
"Oh, seperti itu baiklah mas akan minta retno menemani sya selama mas berdinas,ok" hans pura-pura tidak mengerti maksud dari permintaan ceisya.
"Ih, mas ga ngerti maksud sya sih !!" ucap ceisya semakin sedih terdengar membuat hans mengusap lembut kepala ceisya.
"Maafin mas sya, mas ga akan tinggalkan sya sendiri ko" ucap hans yang membuat ceisya tersenyum senang dan memeluk erat hans.
"Benarkah?" ucap ceisya dengan mengangkat wajahnya menatap hans.
"Terimakasih mas memenuhi keinginan sya,ga jadi pergi" ceisya terlihat senang sekali.
"Ga, seperti itu sya maksudnya" hans seperti terkena jebakanny sendiri karena ucapannya.
"Mas tetap pergi gitu dan bagaimana dengan sya?" ceisya makin tidak mengerti dengan apa yang hans ucapkan barusan.
"Sya akan ikut bersama mas tapi di rumah ayah bunda,sebab mas baru terima telepon dari kakek yang mengundang kita berdua untuk pernikahan mas adhitama" penjelasan hans sedikit membuat ceisya senang tapi juga sedikit sedih sebab ceisya takut kebebasannya akan kembali terhalangi seperti dulu.
"Ko, sya tidak sepertinya tidak senang?" hans menatap ceisya yang tertunduk.
"Sya senang ko, akhirnya mas tama menemukan wanita pilihannya" balas ceisya masih dengan nada tidak terlihat senang, karena akan terpisah dari hans.
"Mas tahu sya, apa yang ada didalam hatimu?" ucap hans dengan pelan dan menggenggam tangan ceisya.
Ceisya seperti tidak percaya hans mengetahui apa yang ceisya rasakan dalam hatinya, kelembutan yang hans berikan membuat dirinya takut kehilangan sosok hans yang tegas tapi sangat mengerti dirinya.
"Mas akan kembali jangan khawatir sya" ucap hans mengusap lembut ceisya yang kali ini menatap hans sepertinya mengharapkan hans tidak mengingkari ucapannya.
"Kenapa, seperti tidak percaya sya?" tanya hans pada ceisya yang masih memandang hans serius.
"Mas janji selepas tugas, akan menemui sya" kali ini ceisya dalam pelukan hangat hans.
Waktu yang sebenarnya tidak di harapkan akhirnya tiba dengan berat hati ceisya harus kembali menginjakkan kakinya di kediaman orang tuanya yang sudah menyambut kedatangannya.
Saat ini keduanya sedang berbincang di ruang keluarga, ayah ceisya masih terlihat kaku dalam berbincang dengan hans, tapi menurut hans masih terbilang wajar sebab keduanya hanya beberapa kali bertemu Itu pun tidak banyak bicara hanya indra sebagai kakek ceisya yang banyak berbicara dengan hans, jadi wajar bila ayah ceisya masih terlihat kaku pada hans.
"Ceisya selama bersama dengan mu banyak menyusahkan !" ujar ayah ceisya yang terdengar janggal di telinga hans.
"Tidak tuan, sya sudah jadi kewajiban saya untuk memenuhi segala keperluannya selama berada bersama saya" balas hans menjelaskan dengan rasa gugup walaupun berusaha sopan.
"Kenapa kamu panggil saya tuan, kenapa tidak ayah seperti sya?" balas ayah ceisya yang kali ini lebih santai dengan menunjukkan senyum ramahnya.
"Baiklah, jika itu yang ayah minta" kali ini hans yang terlihat kaku karena gugup.
"Ha ha ha, santai saja disini bukan tempat mu berdinas" goda ayah ceisya yang membuat hans menutup wajahnya karena malu.
Akhirnya suasana pun mencair terlihat sesekali ayah ceisya tersenyum melihat hans yang masih bersikap malu pada ayah ceisya.
"Sya, ajak hans istirahat di kamar sya bukannya perjalanan kalian cukup melelahkan?" ayah ceisya sepertinya mengerti keadaan hans yang tidak suka berbincang yang basa basi.
__ADS_1
"Sya, ayo ajak hans!" pemerintah ayah ceisya pada putrinya yang kali ini sudah menarik tangan hans menuju kamar miliknya.
Hans di buat takjub dengan apa yang di sebut kamar milik ceisya, ruangan yang sangat luas dengan fasilitas yang lengkap sesuai apa yang ceisya perlakuan tentunya.
"Kenapa ga masuk, ayo" ceisya menarik tangan hans yang masih dalam posisi bingung dan tidak percaya.
"Sya mas langsung ke tempat dinas saja ya?" pinta hans yang masih tidak jauh dari pintu masuk.
"Ih, kenapa sih mas?" rengek ceisya pada hans yang bingung pada ucapan hans.
"Rasanya ga pantas mas berada disini sya" ucap hans yang merasa minder dengan keberadaan dirinya di rumah ceisya.
"Ok, mas boleh pergi tapi sya ikut !!" ucap ceisya tegas terdengar di telinga hans.
"Ga bisa sya, disana mas tugas dan sya akan tinggal di asrama ga sebaik disini sya" hans berusaha menjelaskan pada ceisya dengan berharap ceisya lebih baik berada di kediaman orang tuanya.
"Asalkan bersama mas sya, baik-baik saja" dengan manja ceisya memeluk satu tangan hans yang kekar.
"Tidak seperti yang sya pikirkan sana itu?" tatapan mata hans begitu intens pada mata ceisya yang menurut hans gadis di dekatnya sudah berubah banyak dari gadis kecil yang sombong jadi gadis yang penurut walaupun masih sedikit keras kepala dengan pendapat yang menurut dirinya benar.
"Ga pokoknya sya ikut mas !!" ucap ceisya dengan nada yang tidak mau kalah terdengar oleh hans yang kali ini terlihat tersenyum menatap gadis sombong yang masih nakal.
"Sya, disini akan ada acara besar bukannya sya akan ikut terlibat dalam acara itu ?" hans seperti menjelaskan pada ceisya, dengan berharap ceisya ada di acara penting keluarga besarnya.
"Tapi sya lebih suka bersama mas" ucapan ceisya sedikit banyak membuat hans sedikit tersanjung.
"Bukannya mas sudah janji akan datang bila tugas telah selesai di laksanakan" hans mengingatkan ceisya akan janjinya yang membuat ceisya kembali tersenyum.
"Tapi malam ini mas bermalam disini ya, please ?" ceisya memohon pada hans yang sebenarnya tidak ingin bermalam di rumah keluarga ceisya.
"Baiklah, tapi?" hans tidak melanjutkan ucapannya yang membuat ceisya bertanya pada hans.
"Tapi apa?" tanya ceisya dengan memegangi tangan hans dengan mengangkat wajahnya ke atas menatap hans.
Hans di buat gemas dengan apa yang ceisya lakukan pada dirinya, terlihat kepolosan dari gadis kecil sombong yang selama ini menilai dirinya jahat dan buruk di matanya.
Hans sepertinya tidak bisa menahan rasa yang selama ini bisa ditahannya, dan pertahanannya kali ini tidak bisa di kendalikan dengan akal sehatnya tapi masih terbilang wajar apalagi ceisya sudah bagian dari hidupnya.
"Maaf" bisik hans dengan memeluk hangat tubuh ceisya yang seperti mematung tidak memberikan perlawanan sedikitpun pada hans.
Keduanya diam beberapa saat seperti berbicara dalam hatinya masing-masing, entah apa yang keduanya rasakan akibat dari ciuman itu yang jelas ada rasa yang nyaman untuk keduanya yang kini ada dalam dada keduanya.
"Sya ga marah kan sama mas?" tanya hans yang kali ini sudah menangkup wajah cantik ceisya dengan satu tangannya.
Hanya gelengan kepala yang ceisya berikan dengan mata tertunduk malu pada hans, sebaliknya hans sangat suka ceisya yang malu pada dirinya dan tanpa sadar keduanya kembali melakukan hal yang sama tanpa malu lagi dan sepertinya sudah dengan rasa yang sama saling menyukai.
Terlihat rasa malu dari keduanya setelah menyudahi ciuman itu, terutama ceisya yang sembunyi di dada hans, senyum tipis hans seperti mewakili kalau dirinya tahu ceisya malu pada dirinya yang sebenarnya juga malu melakukan itu.
Tawa keduanya pecah beberapa saat tanpa ada hal yang lucu tapi ini awal keduanya makin dekat dalam kehangatan hubungan suami istri, walaupun masih dalam batas ciuman, pelukan belum lebih.
Keduanya merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik ceisya yang terbilang sangat luas sehingga membuat keduanya leluasa merebahkan tubuhnya.
"Kruyuk " bunyi khas yang sangat di kenal membuat hans tertawa tapi tidak dengan ceisya yang malu dan memegang perutnya yang lapar karena dalam perjalanan tadi ceisya tidak mau berhenti di rumah makan.
Ceisya berlari ke pintu kamarnya dan keluar sifat asli dari gadis kecil sombong itu yang hans lihat dari ceisya.
"Rimaaaa, bawakan aku makanan ke kamar !!!" suara khas dari nonanya membuat asisten rumah bergegas menyiapkan beberapa menu makanan.
Hans yang berada di atas kasur bergegas merapikan diri dan tanpa sadar menegur ceisya yang tertunduk malu pada hans.
"Bisa kan sya memintanya dengan tidak berteriak akan lebih sopan sayang" ucap hans yang membuat ceisya menyadari dirinya bersalah dan teguran hans begitu lembut terdengar di telinga ceisya.
"He he, maaf, sya ga akan ulangi lagi sya janji" ucap ceisya dengan tertunduk menandakan dirinya bersalah.
Hans mengusap lembut kepala ceisya dan kembali senyuman hangat hans yang membuat ceisya senang.
Tidak lama keduanya sudah menikmati makanan yang asisten rumah siapkan bersama rima yang terlihat senang nona mudanya sudah kembali berada di rumah milik tuannya.
Malam ini seperti malam yang lainnya bersama hans tapi banyak hal yang keduanya ceritakan di malam ini, apalagi hans yang melihat tembok tinggi dan besar milik keluarga ceisya.
"Ada yang lucu?" tanya ceisya yang melihat hans tersenyum seorang diri pada tembok besar di depannya dengan pohon yang besar terhubung.
__ADS_1
"Hanya mengingat gadis kecil sombong juga nakal yang malam-malam memanjat hingga terpeleset " hans tersenyum dengan tertunduk sepertinya mengingat kejadian itu.
"Ih, mas jahat deh" ceisya mencubit lengan hans yang masih tersenyum yang menurut ceisya mengejek dirinya.
"Auw, sepertinya ada yang malu ini" goda hans pada ceisya yang kali ini tidak malu memeluk hans karena malu dari kejadian konyol yang di lakukannya dulu.
Hans hanya bisa tersenyum dan ceisya yang makin malu pada hans, beberapa asisten yang melihatnya ikut senang nona mudanya sudah menerima hans lelaki yang di jodohkan oleh kakek dan ayahnya.
"Akankah kita semalaman disini ?" tanya hans pada ceisya yang masih memeluk tubuh hans.
"Tentu tidak lah, ayo kita masuk" ceisya yang menarik tangan hans dengan berlari kecil.
Hans hanya bisa menuruti permintaan ceisya dan dilanjutkan membersihkan diri serta beribadah sebelum tidur malam.
Selepas berganti pakaian tidur hans yang terlebih dulu merebahkan tubuhnya walaupun belum tertidur hanya bisa melihat ceisya yang melakukan aktivitas malam yang biasa wanita lakukan seperti memanjakan wajah dan tubuhnya dengan beberapa produk kecantikan yang membuat hans hanya bisa melihat tanpa banyak bertanya apapun.
Wewangian yang lembut dari produk kecantikan membuat hans sedikit membangkitkan serta menggoda jiwa lelaki normal yang selama ini ditahannya, walaupun sesekali hanya bisa dilepaskan dengan hembusan napas kasar yang hans lepaskan sebagai bentuk pertahanan untuk dirinya,buang masih bisa di tahannya.
Sebenarnya hampir saja pertahanan itu runtuh saat ceisya yang melepaskan sebagian gaun tidur yang dulu pertama kali terjatuh dalam dekapan tangan hans.
Dengan sengaja hans menutup matanya berharap pikirannya bisa ditenangkan dan membiarkan tubuhnya istirahat, tapi ceisya sepertinya tidak ingin tidur tanpa pelukan dari hans.
Ceisya yang manja sepertinya tidak mengerti kondisi hans yang sudah berusaha menahan rasa sebagai lelaki normal, tangan dan kaki ceisya mendekap hans dan di tutup satu selimut dengan dirinya.
Hans berusaha rileks mungkin tapi ada saja gerakkan yang ceisya lakukan yang membuat hans makin menahan diri, walaupun dalam hatinya membatin "Sya bisa kan kamu diam, aduh kamu ga ngerti apa yang aku rasain" dalam diam hans menahan napas dalam untuk hal yang satu ini.
"Mas, peluk sya dong" pinta ceisya yang membuat hans ingin lari ke kamar mandi berendam air dingin merendam otaknya biar beku pikirnya.
"Hemm" dengan sangat terpaksa hans memeluk tubuh ceisya, sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya tapi saat ini seperti berbeda menurut hans.
Ceisya sepertinya tahu hans dalam keadaan gelisah yang tidak diketahui apa penyebabnya tapi bisa di rasakan oleh ceisya.
"Kenapa mas, sepertinya ada yang mas pikiran boleh kan sya tahu apa itu?" tanya ceisya pada hans yang terlihat pura-pura tidur.
"Mas, sya tahu ko mas ga tidur" ucap ceisya yang lebih merapatkan tubuhnya pada hans.
"Hemm, ga sya sudah malam sebaiknya kita tidur" hans makin sering menarik napas dan melepaskannya dengan kasar.
Ceisya yang belum hanya mengenal hans hanya bisa menuruti permintaan hans dengan tidur terlelap dalam dekapan hans yang menurut ceisya menghangatkan di malam yang dingin ini.
Hanya hans yang tidak dapat memejamkan matanya karena jiwa lelakinya belum bisa berdamai dan jalan satu-satunya hanya lewat mandi air dingin dan beribadah pada tuhan yang selalu dia lakukan selama ini.
"Maafkan aku sya belum bisa jadi suami yang baik untuk mu sebab ada banyak tugas yang harus aku utamakan terlebih dahulu dari pada kamu, maafin aku sya sekali lagi" ucap hans di dalam kamar mandi dengan guyuran air dingin yang membuat tubuhnya rileks kembali.
Ceisya tertidur dengan pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya, hans membiarkannya tempat tidur luar itu di kuasai ceisya dia memilih tidur di sopa yang ada di kamar ceisya yang menurutnya ini lebih baik dari pada di dekat ceisya yang menurutnya membuat otaknya tidak tenang.
Waktu belum belum menunjukkan menjelang pagi tapi hans sudah terbangun dari tidur lelapnya walaupun belum puas tapi mata hans sudah mengajaknya untuk kembali terbuka dan mau tidak mau ibadah sebagai bentuk pilihan hans di awal pagi ini.
Selepas ibadah paginya hans berniat melakukan olah raga pagi dengan berlari kecil tapi hans tidak ingin membangunkan seisi rumah yang baru saja di masukinya, akhirnya hans memilih olah raga yang bisa di lakukan dikamar seperti push up, sit up tapi cukup untuk tubuhnya olah raga.
"Selamat pagi mas" sapaan dan dekapan dari tangan ceisya mengejutkan hans yang saat ini berada di teras kamar ceisya.
"Pagi" balas hans yang langsung menarik lembut ceisya ke dalam kamar karena hans tidak mau tubuh ceisya di lihat asisten rumah yang kebetulan membersihkan rumah.
"Ada apa mas?" tanya ceisya yang masih bingung dengan sikap unas pada dirinya.
"Mas tidak melarang sya memakai ini tapi alangkah baiknya di gunakan didalam sini saja tidak sampai keluar dari pintu itu ok, sayang" pinta hans yang membuat ceisya hanya bisa tersenyum sepertinya senang diperlakukan oleh hans, bagi ceisya larangan hans tandanya dirinya di cintai hans dengan sepenuh hati.
"Maaf" ucap ceisya dan hanya itu yang bisa ceisya ucapkan dengan sedikit malu.
Ceisya yang sadar diri bergegas ke menuju kamar untuk membersihkan diri, sebab ceisya tahu hans harus secepatnya menikmati sarapan pagi sebelum meninggalkan tempat tinggalnya karena tugas tidak bisa ditinggalkan olehnya yang dari awal sudah di bicarakan.
Selepas sarapan hans berpamitan pada kedua orang tua ceisya terutama bunda ceisya yang kebetulan masih ada di meja makan, ayah ceisya lebih dulu pamitan karena ada keperluan.
"Bunda, hans minta maaf akan merepotkan bunda sebab hans tidak bisa mengajak serta ceisya dalam tugas jadi harus tinggal di rumah bunda lagi" permintaan hans membuat bunda merubah penilai yang dulu, yang menilai hans lelaki yang akan kasar pada putrinya.
"Kenapa harus minta maaf dan ini tidak merepotkan hans, tenang saja selama bertugas soal ceisya bunda akan menjaganya untuk hans" ucap bunda ceisya yang membuat hans tersenyum sopan pada bunda ceisya.
"Ih, mas sya ga nakal ko" proses ceisya yang harus kembali di titipkan pada bundanya.
Ucapan ceisya membuat hans hanya bisa tersenyum dan kepergian hans membuat ceisya sedih tapi janji hans membuat ceisya yakin hans akan kembali membawanya turut serta dalam dinasnya nanti.
__ADS_1