Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Cinta boleh,bodoh jangan.


__ADS_3

Sengatan sinar mentari tidak menyurutkan semangat Qiandra untuk menghentikan aktivitas rutinnya memberikan ilmu bela dirinya pada adik tingkatnya dengan bersemangat.


"Boleh istirahat sebentar kak..?"pinta anak lelaki dengan tubuh berisi yang mengusap keringat dari wajahnya.


"Ehm..boleh,kita istirahat sebentar ya..!"perintah Qiandra pada peserta didiknya.


Air mineral ditangan Qiandra sudah habis diminumnya hanya menyisakan setengahnya,belum sempat Qiandra menutup botol air mineral ditangannya terdengar keributan dari adik didiknya.


"Pokoknya kak Sha..punya ku !" teriak bocah lelaki berbadan tambun yang mengemaskan.


"Ga..boleh kak Sha punya ku !" dorong bocah yang badannya lebih kecil pada bocah lelaki yang berbadan tambun dengan sekuat tenaga yang di milikinya.


"Ga...kak Sha cuma punya aku !! ucap anak berbadan tambun yang tidak mau kalah.


Merasa dirinya kalah bocah yang berbadan kecil menangis dan menahan rasa kesal yang dalam karena merasa dirinya kalah.


Dengan sedikit berlari kakak pembina laki-laki menghampiri keduanya dan menenangkan keduanya untuk berbaikan.


"Kenapa..?" tanya lelaki itu dengan pura-pura tidak tahu.


"Dia..ingin ingin kak Sha jadi miliknya.." dengan terisak bocah kecil itu menjelaskan.


"Memang kak Sha punya ku..!!" dengan tanpa bersalah bocah berbadan tambun itu berucap dengan melipat kedua tangannya di dadanya menjelaskan dirinya yang pantas memiliki Qiandra.


"Oh..ya,bukannya kak Sha milik kita semua.." ucap lembut kakak lelaki itu dengan senyuman ramah.


"Ga..kak,kak Sha hanya punya ku sebab kak Sha selalu baik pada ku" bocah tambun itu menjelaskan dengan sorot mata tegasnya.


"Kak Sha menyayangi kalian semua tanpa terkecuali.."ucap Qiandra yang datang menghampiri dan membuat kedua bocah itu cemberut.


"Jadi bisakan kalian berbaikan..mau kan kak Sha selalu menyayangi kalian ?" tanya Qiandra dengan memegang kedua tangan kedua bocah itu.


"Huh.."dengan malas bocah tambun itu memberikan tangannya untuk berbaikan.


"Harus ikhlas dan tidak ada dendam.."pinta kak lelaki yang melihat tatapan mata yang masih kesal dari kedua bocah itu.


Setelah keduanya bersalaman dengan tanpa ragu Qiandra meminta keduanya memeluk dirinya "boleh kakak minta peluk" dan kedua bocah itu memeluk Qiandra dengan erat.


"Mau dong kak ikutan dipeluk " ucap kakak lelaki yang langsung diprotes kedua bocah itu bersamaan.


"Ga...kak Sha punya ku" ucapnya bersamaan dengan lantang.


Qiandra hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua bocah yang menjadi adik didiknya.


Latihan kembali berlangsung tanpa meninggalkan rasa dendam pada kedua bocah itu hanya semangat berlatih yang terlihat.


"Sha,bocil aja demen sama loe gimana kita-kita yang harus nahan rasa.." ucap salah satu lelaki yang langsung tanpa main belakang.


"Apaan sih kak..semua yang ada di sini Sha anggap saudara tidak ada yang Sha bedakan.." balas Qiandra dengan tersenyum ramah yang selalu dia tunjukkan.


"Sampai kapan loe akan menganggap diantara kita semua orang spesial di hati loe" tanya salah satu dari mereka bertanya.


"Selamanya kalian ada saudara di hati, untuk orang spesial seperti bukan orang yang aku anggap saudara.." balas Qiandra membuat mereka hanya bisa tertunduk lesu.


"Maaf.." ucap Qiandra lagi yang sebenarnya tidak ingin menyakiti.


"Ga..masalah Sha soal rasa memang tidak bisa dipaksakan,mungkin kami semua terlahir untuk jadi orang yang pantas disebut saudara loe" salah satu lelaki itu berusaha mengikhlaskan dengan merangkul Qiandra kembali ke lapangan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selepas membagikan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya Qiandra mempunya agenda yang sudah lama direncanakannya untuk mengunjungi suatu tempat yang sangat favoritnya 'pameran buku' di salah satu gedung yang cukup terkenal dan sangat besar.


'Wow..keren abis' Qiandra hanya bisa berucap seorang diri mengagumi isi pameran yang memperlihatkan banyaknya buku yang tertata dengan rapi, membangkitkan nyali keinginannya melahap habis semua buku itu untuk di baca.


Mata Qiandra seakan terhipnotis dengan banyaknya pilihan buku yang membuatnya bingung mana yang harus dia pilih untuk di belinya.


"Pilih..semua yang kamu suka Sha,kak Ken yang bayar" Ken yang datang tanpa di ketahui oleh Qiandra.


"Terimakasih kak, sepertinya uang saku ku masih cukup untuk memenuhi keinginan membeli buku yang diperlukan" dengan santai Qiandra membalas.


"Sendiri ?" tanya Ken yang sudah hapal betul dengan sikap dingin anak sepupu ayahnya.


"Ga.. sendiri kak..berbanyak orang,apa ga lihat" ucap Qiandra pada Ken tanpa melihat sosoknya.


Ken hanya bisa memandang Qiandra tanpa kembali bertanya pada gadis yang susah ditaklukkan lawan jenisnya itu yang Ken tahu.


"Kak..Ken,ih ko ga ajak-ajak sih"seorang gadis seumuran Qiandra merengek manja pada Ken tanpa tahu dari mana datangnya.


Ken hanya tersenyum tanpa membalas,hanya tatapan tidak suka dengan kehadiran gadis itu.

__ADS_1


"Kak Ken suka ya baca buku..aku juga" ujar gadis itu yang terus mengikuti langkah Ken mengelilingi rak buku.


"Buku apa yang kakak suka.. kalau aku novel remaja" gadis itu masih menjelaskan apa yang dia suka tanpa memperdulikan sikap Ken yang menunjukkan sikap tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Bisa ga diam.. mengganggu yang lain" tegur Ken yang membuat gadis itu tertunduk kesal.


"Ih..kak Ken aku kan.." belum sempat gadis itu menjelaskan Ken sudah menutup mulut gadis itu.


"Suruh diam malah makin jadi..sana keluar !"tegur Ken lagi lebih tegas yang membuat Qiandra tersenyum sinis.


Qiandra membayar buku yang telah di pilihnya pada kasir tanpa mempedulikan Ken yang masih berada di barisan rak buku.


Qiandra ingin menghabiskan sore menjelang malamnya di pelataran gedung tempat pameran buku dengan membeli minuman dan makanan ringan.


"Boleh kak duduk disini ?" Ken masih ingin bersama Qiandra.


"Silahkan ini milik umum tidak ada hak aku melarang" balas Qiandra dengan sopan tanpa memperhatikan Ken.


"Sore..kak Ken " sapa gadis yang tadi di dalam gedung pameran pada Ken.


"Kamu lagi..ga bisa ya menjauh" sewot Ken pada gadis itu yang menahan tangisnya.


"Kak Ken jahat..aku kan suka sama kak Ken" dengan terisak gadis itu langkah menjauh.


'Kasihan,cinta boleh tai jangan jadi bodoh.., mempermalukan diri sendiri' Qiandra memperhatikan gadis itu yang melangkahkan menjauh.


"Huh.." gumam Ken terdengar di telinga Qiandra.


"Ga..ingin pulang,kak antar" tanya Ken yang membuat Qiandra memalingkan wajahnya dari buku yang di bacanya.


"Pulang aja,kak aku sama pak Dul"Qiandra menjelaskan.


"Maaf kak, bukan aku ikut campur tapi bisa kan lebih lembut sama perempuan itu,kasihan loh dia jadi sedih" tegur Qiandra yang sudah tidak bisa menahan emosi.


"Kakak bisa tapi mereka yang tidak bisa ngertiin kakak,sudah tahu kakak ga suka tapi mereka terus saja mendekati kakak" Ken menjelaskan pada Qiandra.


"Beri penjelasan kak" pinta Qiandra lagi pada Ken.


"Sudah..bahkan tidak satu dua kali sering,dianya aja yang tidak mau mengerti " Ken menunjukkan muka kesalnya.


"Memang usaha kakak sudah maksimal ?" pertanyaan dari Qiandra membuat Ken sedikit terpojok.


"Sudah..hanya satu cara yang belum kakak coba menunjukkan pacar kakak" Ken menatap intens pada Qiandra.


"Itu yang susah..gadis yang mau jadikan pacar kakak susah di taklukkan" ujar Ken masih menatap intens Qiandra.


"Masa pesona seorang CEO sekelas kak Ken ga bisa menaklukkan seorang gadis.. memalukan" ucap tegas Qiandra yang membuat Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gadis itu sangat istimewa" ucap Ken tanpa ada keraguan dari ucapannya.


"Ih..ngeri,ngeri sedap nih,ga salah dengar nih kak ?" Qiandra tersenyum dengan rasa penasaran.


"Kamu saja penasaran apa lagi kakak yang sudah menahan rasa" Ken menunjukkan senyum jailnya.


"Ga..tuh,biasa aja..ih sok tahu" balas Qiandra yang membuat Ken gemas.


"Serius kamu ga ingin tahu" tanya Ken lagi dengan mendekatkan wajahnya pada Qiandra.


"Ih..ga kak,kenapa juga kak Ken jadi orang bodoh karena cinta..masih banyak gadis lain kalau memang dia tidak bisa perjuangkan" kini Ken di buat mati gaya oleh Qiandra.


"Cinta boleh kak tapi ga jadi bodoh juga kali" Qiandra menambahkan.


'Sha..kalau saja kamu tahu,kamu orangnya yang membuat aku jadi orang bodoh karena cinta' ken menunjukkan senyumnya pada Qiandra dengan batin berkata lain mengagumi sosok yang ada didepannya.


"Ih..diajak ngomong malah senyum-senyum, jangan gila kak" tegur Qiandra yang kembali membuka bukunya.


'Gila karena kamu ******Qiandra****** Mettasha' Ken kembali berkata dalam hatinya dengan menunjukkan senyum pada Qiandra.


"Bener nih masih mau disini?" tanya Ken lagi.


"Hmm.." hanya gumaman yang Qiandra berikan pada Ken.


"Ya..udah kakak pulang ya, hati-hati jangan terlalu malam"Ken mengusap kepala Qiandra.


"Ih..kak Ken, kebiasaan deh" sewot Qiandra yang tidak mau diusap kepalanya terkecuali oleh sang ayah.


"Makin manis kalau marah"ucap Ken dengan meninggalkan Qiandra sendiri.


Kini malam menjelang terlihat langit malam menampakkan bulan dengan bintang menambah langit lebih menunjukkan pesonanya dengan kerlipnya.

__ADS_1


"Boleh duduk disini mba" tanya seseorang yang Qiandra kenal suaranya.


"Kosongkan?" tangannya lagi yang memperhatikan Qiandra yang asyik dengan bukunya.


"Duduk aja pak,ga usah nanya-nanya,sudah jelas kosong" balas Qiandra yang membuat Ayres tersenyum.


"Kirain sudah lupa setelah lama tidak bersua" Ayres menyodorkan minuman yang dia pesan beserta makanannya.


"Sendiri ?" tanya Ayres pada Qiandra kembali.


"Saya..?"tanya Qiandra pada dirinya.


"Iya..lah siapa lagi ?" balas Ayres di buat gemas dengan sika Qiandra.


"Ga..lah, sekarang lagi sama bapak" ucap Qiandra yang membuat Ayres ingin mencubit pipi Qiandra.


"Bisa ga sih Sha..ga bikin saya gemas sama kamu" ucap jujur Ayres.


"Bisa asalkan bapak ga dekat-dekat sama saya" ujar Qiandra santai tanpa ekspresi hanya tatapan datar.


"Ini yang saya suka dari kamu Sha.." Ayres meremas jari tangannya mengekpresikan rasa gemasnya tanpa ingin mencubit langsung pada pipi Qiandra.


Qiandra dalam mode off-nya yang sudah jadi kebiasaannya yang hanya diam asyik dengan dunianya tanpa memperdulikan orang didekatnya dan Ayres sudah sedikit paham.


"Kamu suka baca ya Sha..?" ayres bertanya memecahkan kesunyian di tempat yang ramai.


"Gitu deh dan memanfaatkan sedikit waktu luang saja biar pikiran ga kemana-mana" Qiandra kembali fokus pada bukunya.


"Memang kamu mikirin apa sih Sha, jangan-jangan kamu pikirin saya ya.." goda Ayres yang membuat Qiandra menatap intens Ayres.


"Ih..bapak terlalu percaya diri sekali" tegur Qiandra dengan tegas.


"Boleh dong percaya diri dari pada minder" Ayres menunjukkan senyum manisnya.


"Ga,baik pak terlalu percaya diri bisa sombong" Qiandra seperti mengingatkan Ayres.


"Tenang Sha..saya tahu batasan kok" Ayres sedikit merendahkan dirinya.


"Baguslah kalau sadar" ucap Qiandra tanpa bermaksud merendahkan.


"Kok.. sendiri mana teman mu,Sha ?"tanya Ayres yang matanya sibuk mencari seseorang.


"Di rumahnya lah pak,masa harus bareng terus,ga seperti bapak yang selalu saja ada yang mengekor kemana kaki melangkah" Qiandra seperti tahu Ayres saat ini tidak seorang diri,rekan satu timnya duduk tidak jauh dari keduanya.


"He..he,kok tahu" ujar Ayres dengan tawanya.


"Tahu lah..mungkin ke kamar mandi juga mereka ikut serta" Qiandra sebenarnya hanya asal berucap.


"Ih..kok kamu tahu Sha..kamu punya Indra keenam ya..?" canda Ayres pada Qiandra.


"Bukan cuma keenam pak sudah kepuluh " balas Qiandra dengan asal berucap.


"Berarti kamu tahu dong apa warna pakai dalam yang saya pakai "jiwa usil Ayres muncul.


"Untuk yang satu itu di luar kemampuan saya sebab saya bukan istri bapak yang menyiapkan keperluan bapak" balasan dari Qiandra dimanfaatkan oleh Ayres seperti bumerang untuk Qiandra,yang sebenarnya Ayres semakin menaruh hati pad Qiandra.


"Kalau begitu mau dong jadi istri saya..kapan siap di lamar ?" Qiandra tahu Ayres berucap serius pada dirinya.


"Wah.. untuk yang ini seperti bapak terlampau jauh sebab saya masih di bawah umur dan masih sekolah loh pak, bisa-bisa bapak di laporkan Komnas perlindungan anak" balasan dari ucapan Qiandra membuat Ayres tertawa.


"Sha..kenapa sih ga bosan deh ngobrol sama kamu padahal kamu masih bocil" Ayres tertawa dengan menunjukkan muka senangnya.


"Apa..bocil,ga salah kenapa bapak suka sama bocil awas ya pak,nanti bisa dibilang bapak pedofil loh" kini giliran Ayres kena batunya.


"Bocil mana dulu,Sha.. kalau kamu ga apa-apa saya di sebut pedofil sebab kamu beda sama bocil yang lain,kamu asyik dan ga bikin boring"Ayres menatap intens Qiandra.


"Cari yang lain aja pak..nanti keburu tua loh..dikira saya sama om-om" goda Qiandra pada Ayres.


"Saya ga terlalu tua ko Sha..paling selisih enam,tujuh tahun sama kamu..masih wajar lah di selisih usia itu" Ayres menjelaskan.


"Jangan terlalu berharap pak..sebab saya masih ingin menikmati masa-masa remaja dan mencari yang pantas untuk dijadikan kebanggaan didepan kedua orang tua saya" Qiandra menolak secara halus walaupun Ayres tidak menyatakan perasaannya secara resmi.


"Entahlah Sha..saya tidak bisa membohongi diri sendiri, kalau kamu terlalu pantas diperjuangkan untuk saya" Ayres tanpa ragu jujur pada Qiandra.


"Ingat pak dunia tak selebar daun kelor" Qiandra merasa tidak ingin seorang Ayres berharap terlalu jauh ada dirinya.


'Sha..kamu terlalu pandai menolak secara halus tanpa menyakiti' Ayres tersenyum dengan berdialog di balik senyuman yang dia tunjukkan di hadapan Qiandra.


Sejuta pesona yang dimiliki seseorang Qiandra tapi begitu susah untuk bisa digapai oleh siapa di usianya saat ini,yang masih terlalu muda tapi bisa membius pandangan lawan jenisnya dari beberapa umur darinya.

__ADS_1


**note


Dengan segala kerendahan hati saya minta maaf bila selama ini terlalu lama up sebab ada hal lain yang tidak bisa saya tinggalkan dikarenakan satu dan lain hal,sekali lagi maaf dan terimakasih bagi yang masih terus setia menunggu.🙏🙏😍**


__ADS_2