
Kicau burung menyambut pagi sangat jelas terdengar di telinga semua peserta pelatihan yang sudah siap berbaris memenuhi lapangan.
Ayres hanya bisa memandang Qiandra dari kejauhan karena dirinya sangat tahu saat ini waktunya bertugas dan tidak ingin di tegur oleh Qiandra untuk kedua kalinya.
Peserta pelatihan yang sudah siap di lapangan mengikuti instruksi dari pembinaan untuk menjalankan tugasnya, seperti biasa kegiatan awal mereka di perkenalkan dengan kegiatan baris berbaris sampai jam makan siang.
Suasana masih kondusif pada awalnya tapi di pertengahan latihan ada siswi yang langsung ambruk membuat terkejut peserta dan pembinaan yang saat ini memberikan instruksi.
"Yang lain tetap lanjutkan" perintah pembina yang sudah membantu memindahkan yang pingsan kedalam tenda yang sudah disiapkan panitia.
"Kamu lupa sarapan ya..." Qiandra bicara sendiri , karena siswi yang itu masih pingsan.
"Gunakan ini" Ayres memberikan minyak kayu putih pada Qiandra.
"Terimakasih.." Qiandra menerima pemberian dari Ayres.
"Sepertinya tidak akan ada siswi yang sehebat kamu Sha..dalam pelatihan ini" Ayres memandang lapangan dimana siswa yang mengikuti pelatihan.
"Jangan terlalu memuji pak.. yang membuat saya besar kepala nantinya" balas Qiandra dengan mengusapkan minyak pemberian Ayres pada bagian-bagian yang penting untuk membantu menyadarkan siswa yang masih dalam keadaan belum sadar.
"Saya tidak memuji apalagi membuat kamu besar kepala"Ayres balas balik ucapan Qiandra.
"Ternyata dunia ini sempit" ucap Qiandra masih dengan memperhatikan siswa yang terlihat mulai tersadar.
"Maksud kamu ?" tanya Ayres yang terlihat bingung dengan ucapan Qiandra.
"Kenapa harus selalu ada bapak disekitar saya..itu maksud saya" Qiandra berucap pelan.
Senyum manis Ayres terlihat bahkan hampir tertawa mendengar ucapan dari mulut manis Qiandra "karena kamu jodoh saya" ucap Ayres mendekati Qiandra setengah berbisik.
Qiandra tidak ingin memperpanjang pembahasan yang diucapkan Ayres dia lebih memilih menanyakan keadaan siswanya.
"Kamu baik-baik saja kan..?" tanya Qiandra dengan mengusapkan punggung siswanya.
"Hhmm"
"Kamu lupa sarapan pagi ya..kan ?" Ayres memberikan roti dan satu gelas teh manis hangat.
"Usahakan sebelum beraktivitas sarapan pagi dulu..ya" Qiandra mengusap kepala siswanya yang masih terdiam malu memegang roti yang di berikan Ayres.
"Ga usah malu, nikmat roti dan teh hangat itu" perintah Ayres dengan meminta Qiandra menyakinkan siswanya.
"Iya.. makanlah" pinta Qiandra mengusap kepala siswanya dengan lembut.
"Mungkin dia malu..Mrs, sebaiknya kita keluar dulu untuk memberikan waktu untuk dia makan" Qiandra mengerti akan ucapan dari Ayres.
"Kita biarkan dia menikmati makanannya" ucap Ayres lagi setelah keluar dari tenda untuk sebagai posko.
"Kita..maaf apa bapak ga salah ucap?" tegur Qiandra dengan menaikkan satu alisnya.
"Ya..kita,saya dan kamu jadi kita" dengan tanpa bersalah Ayres menjelaskan tapi tidak dengan Qiandra.
"Bukan kita,tetap saya dan bapak"balas Qiandra dengan menunjukkan muka datar.
"Terus kapan untuk jadi kitanya..?" dengan percaya diri Ayres bertanya.
"Bapak..anda sudah sedikit berani melewati batasan" Qiandra masih dengan penolakannya secara halus.
"Saya harus melewati batas itu karena kamu sudah bukan lagi anak ABG..tapi sudah layak untuk di lamar" Ayres langsung pada intinya untuk menyampaikan tujuannya.
"Ih..bapak semakin kesini semakin menyebalkan" Qiandra kembali masuk kedalam tenda posko.
Ayres tersenyum tanda kemenangan walaupun ada rasa takut Qiandra akan semakin menjauh darinya setelah tahu isi hatinya.
Jam makan siang pun tiba, Qiandra lebih fokus pada siswa-siswinya dengan memberikan perhatian karena masih banyak agenda yang harus mereka jalani dan berharap mereka bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa ada yang merasa kelelahan karena tenaganya terkuras.
"Mrs.. kenapa hanya jadi penonton,ayo kita juga butuh asupan nutrisi" tegur salah satu guru pada Qiandra.
"Ya.. terimakasih saya punya bekal makanan sendiri dari rumah" ujar Qiandra yang masih memperhatikan siswanya menikmati menu makan siangnya.
Selepas makan siang masih ada Jedah waktu untuk persiapan sholat dan sedikit istirahat untuk membersihkan diri, waktu itu di gunakan untuk Qiandra menikmati bekal makan siangnya yang di berikan oleh bundanya.
"Sepertinya bekal dari rumah lebih menggoda dari makanan disini ?" goda rekan dinas Ayres yang kebetulan membawa nampan makan siangnya yang siap di lahap.
__ADS_1
"Ga..gitu,saya hanya menghargai seseorang yang membutuhkan makanan ini dengan penuh kasih sayang" balasan dari Qiandra begitu menyentuh hati seseorang.
"Boleh saya ikut menikmatinya?" pinta seseorang itu yang tanpa menunggu pemiliknya memberikan ijin pada dirinya.
"Hmm, belum juga di nikmati aromanya begitu menggoda selera" ucapnya dengan tanpa malu menghirup wangi makanan itu.
"Ammm.."Qiandra hanya bisa terbengong melihat seseorang itu begitu rakus meningkatkan menu beka makan siang miliknya.
Begitu tersadar Qiandra hanya bisa melihat bekal makan siangnya hanya menyisakan satu suap untuk dirinya "ya..habis te****rus saya harus makan apa pak.." tegur Qiandra dengan muka polosnya dia tunjukkan.
"He..he maaf sebab terlalu enak" dengan tawa yang Ayres tunjukkan tanpa sedikitpun rasa bersalah.
"Ya..bapak" ucap Qiandra lagi dengan sedikit sedih.
"Tenang saya ganti..,ayo makan" Ayres memberikan napan yang sudah berisikan menu makanan siang komplit untuk Qiandra.
Qiandra hanya bisa memandang tanpa ingin menikmati menu makan siang itu,yang ada di pikirannya saat ini sesuatu yang ada didalam kotak makannya yang telah habis.
"Maaf.."Ayres menunjukkan rasa bersalah,tapi tidak ada maksud lain selain ingi lebih dekat dengan Qiandra yang susah diluluhkan hatinya.
"Hi..hi, tapi bohong,makan aja pak saya bawah bekal banyak" Qiandra mengambil kotak bekal yang lain masih dengan tawanya.
"Kamu.." ayres langsung memeluk Qiandra dari belakang dengan spontan yang membuat kawan satu tim Ayres terbengong menyaksikan adegan yang tidak pernah dilihatnya selama ini.
Begitupun dengan Qiandra yang tidak pernah menyangka akan mendapatkan pelukan dari Ayres.
Ayres menyadari dirinya melakukan kesalahan dengan reflek dia melepaskan pelukannya dan meminta maaf "maaf" semua rekan dinas Ayres bersikap pura-pura tidak menyaksikan adegan romantis yang Ayres lakukan.
"Hmmm" Qiandra tidak ingin memperpanjang masalah.
Siang sudah berganti sore, begitupun dengan sore sudah berganti menjelang malam,dinginnya malam tidak menyurutkan semangat peserta pelatihan untuk mengikuti pembekalan materi yang di berikan.
Rasa kantuk sudah menghampiri baik semua peserta maupun guru pendamping, ditambah hawa dinginnya malam 'seandainya saja berbeda di dalam kamar sudah menarik selimut setinggi leher' gumam salah satu siswa yang menguap dengan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ngantuk..?" tegur Qiandra pelan terdengar pada siswanya.
"Iya..Mrs" dengan mengulangi hal yang sama siswa menjawab.
"Thanks Mrs" balasnya yang langsung mengupas bungkusnya dan menikmati isinya.
Seseorang memperhatikan interaksi Qiandra dengan siswanya seperti ingin memanfaatkan momen yang ada.
"Bagian saya mana ?" ucapnya dengan berbisik karena tidak ingin membuyarkan konsentrasi siswa yang masih mendengarkan pembekalan.
"Ya..habis pak" setelah Qiandra mencari isi dalam saku jaketnya.
"Kalau boleh yang ada di dalam situ juga mau.. mungkin lebih enak rasanya" ujar Ayres yang dimaksud isi dalam mulut Qiandra.
"Ih.. bapak jorok" tegur Qiandra dengan menutup mulutnya spontan.
"Itu bukan jorok Sha..tapi berbagi rasa,enak tahu" goda Ayres yang menganggap Qiandra bukan gadis ABG lagi.
"Ih..ga,bapak suka yang melakukan hal seperti itu" tegur Qiandra dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Belum..makanya ingin cara tahu rasanya dengan kamu Sha.."bisik Ayres yang semakin menggoda Qiandra.
"Bapak..!!" ucap Qiandra spontan dengan suara terdengar keras, membuat seisi tenda utama menghadap sumber suara.
Dengan rasa malu Qiandra berucap "maaf" terlihat sekali merah muka Qiandra menahan rasa malu yang membuat Ayres tertunduk menyembunyikan tawanya dan mengikuti langkah Qiandra yang meninggal tenda.
"Sha.. tunggu !" panggil Ayres pada Qiandra yang masih tertunduk.
"Ih.. bapak bikin saya malu tahu.." Qiandra berucap tanpa ingin melihat Ayres yang mengikutinya di belakang.
"Maaf..kalau tadi membuat kamu malu" Ayres meraih tangan Qiandra berusaha menghentikan langkahnya.
"Apa bapak tidak cape, dengan segala sikap konyol yang bapak tunjukkan untuk saya" pada akhirnya Qiandra bisa membaca isi hati Ayres dari semua sikap yang ditunjukkan Ayres padanya.
"Ga,Sha karena saya ingin lebih dekat dengan kamu yang selalu susah di dekati dengan cara yang serius untuk menjalin sebuah hubungan" Ayres menunjukkan tatapan mata yang tajam berharap Qiandra bisa membaca isi hatinya.
"Sebenarnya bapak tidak harus susah payah melakukan hal konyol untuk bisa berhubungan dengan saya" balasan dari Qiandra membuat Ayres sedikit bingung.
"Maaf saya ga paham dengan apa yang kamu jelaskan Sha.." Ayres mengerutkan dahinya seperti orang berpikir.
__ADS_1
"Bapak cukup mengerti dunia saya..dan kebiasaan saya itu saja..ga lebih" penjelasan dari Qiandra masih membuat Ayres belum paham.
"Bukannya saya sudah mencoba mengerti dunia dan kebiasaan kamu..cuma kamu terlalu mandiri sebagai wanita dan itu yang cukup susah untuk saya mencari tahu kelemahan kamu Sha.." kini Qiandra hanya bisa terdiam sesaat seperti berpikir.
"Bukannya lelaki suka wanita yang mandiri dan tidak menyusahkan?" pertanyaan itu Qiandra lontarkan pada Ayres.
"Mungkin sebagian lelaki ya..tapi tidak dengan saya sebab menandakan wanita itu tidak membutuhkan keberadaan saya..bermanja sedikit tidak apalah menandakan saya di butuhkan keberadaan saya disisinya" semua yang di ucapkan Ayres benar secara naluri wanita tidak sepenuhnya harus mandiri tetapi ada rasa ingin perlakuan manja oleh pasangannya.
"Itu berarti bapak belum sepenuhnya mengenal dunia saya.." Qiandra kembali menunjukkan sikap tegasnya tidak ingin Ayres menyimpan rasa pada dirinya yang belum siap walaupun sudah sekian lama Ayres menunjukkan rasa sukanya.
"Bukan seperti itu Sha..tapi kamu terlalu pintar menyembunyikan sisi lain yang belum saya tahu itu saja.." Ayres masih tidak mau menerima penolakan dari Ayres.
"Pak..saya yang melihat bapak memperlakukan saya berlebih cape rasanya..apa tidak sebaiknya bapak cari yang lebih baik.." seperti biasanya Qiandra menolak secara halus.
"Mungkin dalam kamus orang lain akan menyerah tapi tidak dengan saya Qiandra Mettasha" Ayres menekan setiap katanya.
"Terserah..yang jelas saya sudah mengingatkan bapak untuk menyudahinya.."Qiandra meninggalkan Ayres yang tersenyum setelah mendengar ucapan dari mulut manis pujaan hatinya.
Sepanjang malam Ayres mengingat wajah manis yang mengusik tidurnya hingga pagi menjelang.
"Dari mana kept..?" salah satu kawan dinas yang curiga melihat Ayres menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
"Mulai kepo" balas Ayres dengan menghindari kawan dinasnya.
Tidak jauh dari tenda Ayres melihat Qiandra yang melakukan olahraga pagi sekedar lari kecil mengelilingi tenda.
"Pagi..cantik" sapa Ayres yang langsung memberikan buket bunga dari sekitar hutan tempat pelatihan.
"Buat saya,pak ?" Qiandra bertanya dan melihat sekeliling.
"Ya.. siapa lagi yang cantik disini selain kamu" goda Ayres yang membuat Qiandra tersenyum masam tidak bisa digombali.
"Terimakasih pak,sayang ya..bunga secantik ini harus di petik,kan jadi layu kan" sindir Qiandra yang membuat Ayres mengerutkan dahinya.
"Sha..itu salah satu fakta susahnya meluluhkan hati kamu.. apalagi dengan bunga bank bisa-bisa dikira saya korupsi sama negara dengan menjual aset negara" balas sindiran dari Ayres.
"Lebih baik Sha.. hidup sederhana tapi bahagia dari pada hidup mewah dari hasil menindas orang lain dengan mengatasnamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak" Qiandra menunjukkan rasa tidak suka dengan perlakuan orang yang memanfaatkan fasilitas negara.
"Inilah salah hal yang saya suka dari kamu Sha.." ayres tanpa malu menunjukkan sikap suka pada Qiandra.
"Ijinkan saya untuk lebih mengenal mu Sha..tapi dengan cara ku" ucap Ayres lagi tapi terdengar aneh di telinga Qiandra.
"Saya..tidak bisa menghalangi bapak untuk menyukai saya tapi.." Qiandra tidak bisa melanjutkan ucapannya dia memilih berlari menjauh dari Ayres yang terlihat bingung.
'Ya..Rabb ini kah waktu yang di nanti itu, telah tiba, salahkan bila aku menolaknya karena merasa tidak pantas untuk bersanding dengan dirinya yang terbilang sempurna ' dalam diam Qiandra terisak dan berdoa dalam hati.
''Yah..diakah lelaki yang akan mengantikan peran mu dalam membimbing diri ini yang miskin ilmu' Qiandra seakan merindukan sang ayah untuk berbagi pendapat dengan apa yang saat ini dia rasakan.
'Ya..Rabb pemilik hati jika ini waktunya dan dia lelaki pilihan-Mu,yakinkan aku jikalau dia bukan lelaki yang terbaik pilihan-Mu jauhkan sejauh-jauhnya' Qiandra kembali dalam doa dan isak tangis yang dalam tanpa orang lain tahu.
Tangan seseorang mengejutkan diamnya Qiandra yang memandang langit pagi menjelang siang "mrs..ada yang ingin bertemu dengan anda" tegur seorang guru yang mengusir keheningan.
"Siapa..?" tanya Qiandra dengan menghapus sisa bulir bening di sudut matanya.
"Assalamualaikum..sayang" sapa lelaki cinta pertama Qiandra yang langsung dipeluk Qiandra.
"Ayah..." teriak Qiandra yang sangat dirindukannya saat ini.
"Whay..honey ?" bisik Hans pada putrinya yang tidak ingin melepaskan pelukannya.
"Q..rindu ayah" bisiknya dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ayah tahu.."Hans sangat tahu bahasa tubuh Qiandra putri semata wayangnya.
"Yah..Q,ga mau jauh dari ayah" Qiandra tidak bisa menjelaskan lebih karena saat ini bukan waktunya.
"Ayah akan selalu dekat dengan putri kesayangannya ayah..sayang" Hans mengusap lembut kepala Qiandra.
Ayres yang kebetulan melihat adegan ayah dan putrinya bisa membaca betapa dekatnya hubungan keduanya wajar bila Qiandra begitu mengidolakan sang ayah.
'Pantas dia susah di taklukkan,dia terlahir dari sosok yang sempurna dan panutan semua angkatan' dalam diam Ayres bisa menilai siapa sosok di balik seorang Qiandra gadis yang susah di taklukkan hatinya dengan sejuta pesona yang di milikinya.
Ayo berjuang Ayres kejar cinta sejati mu yang selama ini kamu tunggu dengan sabar,jangan patahkan semangat yang selama ini kamu perjuangkan.
__ADS_1