Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Arti hadirmu


__ADS_3

Waktu seakan lambat berjalan tapi begitu dinikmati oleh kedua insan yang saat ini menanti kehadiran mahluk mungil yang masih berada didalam perut istri tercintanya hans.


Hans begitu memperhatikan segala kebutuhan ceisya apalagi menjelang hari-hari kelahiran buah cinta keduanya, kondisi ceisya yang sering terlihat lelah terutama pada malam hari yang sudah susah tidur karena banyak hal terutama karena tidak nyaman dalam posisi badannya yang sudah menurut dirinya semakin gendut karena perubahan kehamilannya saat ini.


Ceisya yang biasanya lincah kini terlihat lamban terutama dalam menjalankan aktivitasnya tapi bukan ceisya namanya bila dia tidak melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan wanita hamil ada umumnya.


Salah satunya dia tidak sabar bila menunggu lama meminta tolong pada asisten rumahnya,dia akan jalan sendiri untuk memenuhi keinginannya, seperti saat ini dia melihat tanaman di taman miliknya tidak sesuai harapannya.


"Aduh...kasihan kenapa kamu sendirian ga terawat"ceisya berucap seorang diri yang berniat mengangkat pot bunga itu untuk di pindahkan.


"Maafkan aku ya..sayang"ucap ceisya yang siap memindahkan pot.


"Sayang...!!"teriak Hans yang berlari dan langsung memegang pot dari tangan ceisya.


"He..he..maaf" terlihat sorot mata Hans tajam yang menandakan tidak suka akan tindakan yang ceisya lakukan.


"Masih bandel ya" Hans mengusap lembut tangan ceisya dari debu.


"Maaf..sebab kasihan dia sendirian mas" ceisya tidak mau disalahkan oleh Hans.


"Memang masih kurang orang yang membantu mu sayang" dari nada suaranya terdengar ada penekanan.


"Ga" ucap ceisya singkat tapi membuat Hans gemas.


"Santai sedikit sayang..mas ga mau sesuatu terjadi pada mu sayang" Hans merangkul pundak ceisya hangat.


"Aku cape kalau harus selalu berdiam diri" ceisya menjelaskan kepada Hans.


"Ok, lakukan apa yang menurut sayang bisa tapi ingat jangan hal yang membahayakan diri juga baby,ok" Hans mengusap lembut kepala ceisya.


"Siap komandan laksana!"balas ceisya yang memeluk satu tangan Hans.


waktu bergerak mengikuti alurnya begitu pun Hans yang sudah bersiap untuk beristirahat selepas membantu keperluan ceisya dari minum susu sampai vitamin.


Hans masih memeriksa sedikit tugas di meja tugasnya, sesekali dia tersenyum seorang diri melihat layar lektop miliknya yang sudah siap untuk di matikan terlihat dengan jelas gambar empat dimensi baby yang akan mengisi warna hidup dirinya dengan sang istri yang sudah lama menantikan kehadirannya.


"Rima!!!"suara ceisya memanggil salah satu asisten kepercayaan,tapi terdengar kecemasan dari suara itu.

__ADS_1


Hans yang berada di ruang kerja langsung mengambil langkah seribu,dan benar saja istri tercintanya merasakan sakit di perutnya.


"Sabar ya sayang mas ada disini,kita langsung ke rumah sakit ya"Hans menggendong ceisya yang menahan rasa sakit yang sangat dia rasakan.


Ceisya seakan pasrah tidak memperdulikan apapun yang Hans lakukan pada dirinya,yang ceisya mau rasa sakitnya hilang dari dirinya hanya itu,tapi apa yang ceisya mau berbanding terbalik rasa itu semakin menjadi.


Hans begitu iba melihat kondisi ceisya yang semakin lemah karena rasa sakit itu, keringat membasahi pelipisnya yang menandakan rasa sakit itu sudah melebihi batas kemampuan ceisya.


"Sayang,maafkan mas ya"bisik Hans yang tidak berhenti berdoa,seakan laju mobil yang mengantarkan ke rumah sakit berjalan lamban.


"Mas, sepertinya aku sudah ga kuat" ceisya merintih pada Hans yang membuat hati seorang Hans teriris.


"Sayang kamu pasti kuat,mas akan ada bersama mu"Hans tidak henti-hentinya mencium kepala ceisya dengan rasa yang bercampur aduk.


Lelaki yang bisanya paling pantang menyerah di hadapan musuh terberatnya kali ini menjadi lelaki paling lemah dan rapuh dihadapan orang terkasihnya.


Begitu sampai di rumah sakit, ceisya langsung mendapatkan penanganan,sesat Hans seakan tidak bisa bernapas dengan baik begitu dokter keluar dari dalam dimana ceisya mendapatkan penanganan.


"Gimana dok?"tanya Hans yang bisa membaca pikiran sang dokter.


Hans cukup tahu sebab dokter yang menangani ceisya adalah dokter yang sangat tahu riwayat ceisya sebelum hal yang diinginkan terjadi dimasa lampau.


"Maafkan kami,hanya ini yang bisa kami lakukan"tambah sang dokter sebelum kembali masuk kedalam ruangan.


Hans tertunduk lemas, seperti mengingat semua momen bersama ceisya untuk pertama kalinya yang membenci dirinya bahkan mengira dirinya seorang yang kejam bahkan tidak berperasaan.


Kebaikan Hans dimata ceisya hanyalah kepalsuan bahkan dipandangnya ada maksud terselubung,tapi berkat kesabaran Hans dalam memperlakukan ceisya dengan kesabaran dia mau membuka diri bahkan tidak ingin ada wanita manapun mau merebut Hans dari sisinya.


'Tuhan berikan hamba sedikit kebahagiaan bersama Amanah Mu dalam keadaan kami lengkap tanpa terpisahkan'


Dalam tangis yang dalam Hans berpasrah, berharap ada keajaiban untuk dirinya juga kedua orang yang dicintainya.


Ceisya di dalam sana harus berjuang melewati proses operasi yang sebenarnya tidak di inginkan oleh ceisya yang menginginkan dirinya melalui proses normal tapi riwayat masa lalunya tidak memungkinkan untuk itu.


Melalui proses operasi juga tidak semudah yang ceisya tahu,saat ini kedua harus berjuang untuk bisa melewati masa-masa kritis yang mendebarkan Hans tentunya.


Ceisya harus masuk ruangan ICU karena masih melalui masa kritis begitu juga dengan bayinya dalam keadaan yang sama.

__ADS_1


"Gimana ceisya nak?"tanya kakek dengan tangan gemetar sepertinya dia sangat khawatir.


"kita berdoa saja yang terbaik kek"pinta Hans yang sebenarnya dia lebih cemas dari sang kakek.


"Memang tidak ada dokter yang terbaik?"ucap kakek yang tidak seperti biasanya.


"Di atas dokter ada tuhan kek"ucap Hans yang membuat sang kakek terdiam yang menandakan segala sesuatu atas kehendaknya.


Buah hati Hans dan ceisya bisa melewati masa kritisnya tapi tidak dengan ceisya yang dinyatakan meninggal dan ini tidak mudah untuk Hans juga keluarga besar ceisya.


Ceisya terbaring lemah, terlihat wajah cantiknya pucat tapi masih bisa terlihat garis kecantikannya,ini tidak mudah untuk Hans yang enggan dari sisi ceisya yang sudah di tutup kain putih.


Semua alat yang melekat di tubuh ceisya telah dilepaskan oleh perawat,yang tertinggal hanyalah tubuh lemah tidak lagi bernapas terbujur di atas tempat dirinya dirawat beberapa saat lalu.


Hans terus memandangi jasad istrinya,tidak rela dirinya harus dipisahkan dengan belahan jiwanya yang rasanya belum lama bersama dengan dirinya.


Hans mengusap lembut wajah ayu yang dulu sangat membenci dirinya tidak lagi manja pada dirinya bahkan tidak sering Hans harus mengalah untuk menuruti segala keinginannya yang terkadang tidak masuk akal.


Hans meminta perawat membawakan baby mungilnya yang berjenis kelamin perempuan untuk memberikan ucapan terimakasih juga perpisahan pada sang pemberi kehidupan baru sang bunda.


"Sayang..bilang terimakasih pada bunda"ucap Hans lirih terdengar,tapi seperti di mengerti oleh sang buah hati.


Hans menyatukan tangan dirinya dengan baby yang diletakkan tepat di jantung ceisya,baby mungil itu sendiri di baringkan dalam posisi tengkurap memeluk ceisya.


"Bunda,tetaplah bersama kami..kami masih membutuhkan kehadiran bunda,sayang bilang sama bunda kita butuh butuh bunda"Hans masih bisa menahan sesak di dadanya tapi tidak buah hatinya yang seperti mengerti enggan ditinggalkan oleh sang bunda.


Bayi perempuan ini menangis kencang hingga membuat Hans juga tidak kuat menahan pertahanan batinnya,dengan tersedu-sedu dia memanggil nama ceisya.


"Sayang dengarkan buah hati kita memanggil-manggil nama mu,apakah tidak kau merasakan isak tangisnya,sayang... kembali lah untuk kami"kini Hans seperti menyerah begitupun dengan baby yang tertidur dalam dekapan tubuh ceisya,apakah sebegitu nyamannya tubuh sang bunda hingga bayi itu tertidur.


"Maaf pak,kami harus memindahkan ibu untuk kami rapihkan sebelum di bawah pulang"pinta salah satu perawat pada Hans dengan sopan.


Sepertinya tuhan mendengar doa dan keinginan kedua insan yang berbeda usia ini,saat bayi perempuan itu akan di pindahkan tangan ceisya seperti melarangnya.


Salah satu perawat memeriksa lengan ceisya dan segaris senyum sepertinya dia juga turut merasakan apa yang dirasakan keluarga kecil ini.


"Maaf pak, sepertinya ibu sudah melewati masa kritisnya"pernyataan dari perawatan itu membuat Hans terdiam,bersamaan dokter masuk memeriksa ceisya yang masih belum membuka mata tapi ada reaksi dari tubuhnya.

__ADS_1


'Terimakasih tuhan untuk kehadiran dua malaikat tidak bersayap dalam hidupku'


Hans masih memeluk tubuh mungil yang masih terlelap dalam dekapan sang ayah yang sedikit tenang mendengar kabar baik tentang sang istri.


__ADS_2