
Rasanya bercampur aduk yang kini dirasakan oleh Dean yang saat ini termenung di keramaian perpisahan sekolah yang sedang berlangsung dengan meriah.
Pandangan mata Dean tidak luput memandang Qiandra yang bercengkrama dengan teman-temannya sepertinya sangat akrab yang Dean lihat.
"Mana pajak jadiannya.."goda salah satu teman lelaki pada Alex yang tersenyum malu.
"Serius loe jadian sama Ina..cie..cie"tambah yang lain makin menggoda.
Tapi sayang semua itu hanya dalam angan-angan Alex seorang bukan untuk Ina yang saat ini masih tidak mendengar karena suara ramai dari acara perpisahan yang saat ini berlangsung.
"Ssstt..serius gue belum nembak tuh anak sebab Licin kayak belut"ujar Alex yang membuat kawan-kawan lelakinya tertawa lepas.
"Kalau dia belut loe pawangnya bro..itu baru klop"yang lain menambahkan.
"Yang jelas gue kudu berguru biar tuh anak bisa gue taklukkan"ucap Alex terdengar serius.
"Ngomong-ngomong kalau temannya Ina gimana tuh bro..?"tanya yang lain yang kebetulan bukan satu kelas dengan Alex dan Ina yang jelas menanyakan Qiandra.
"Jangan ditanya kalau soal dia bro..!"Alex tidak menjelaskan bagaimana karakter Qiandra.
"Dia terlalu sempurna menurut gue..sebagai orang yang kenal dekat dengannya" kini Alton ikut menjelaskan.
"Serius bro..emang dia gimana gitu ?" untuk mengobati rasa penasaran lelaki yang bukan satu kelas dengan kawan Qiandra bertanya.
"Dia lebih nyaman berteman kalau untuk urusan rasa dia akan perlahan menjauh.. sebenarnya anaknya sangat asyik bahkan lebih peduli dan pengertian tanpa ada batasan..tapi jangan coba-coba main rasa kalau ingin kenal dengan dia..itu yang gue tahu" Alton menjelaskan yang membuat semua yang mendengar mengangguk tanda paham.
"Bukannya dari nyaman itu kita jadi suka..iya ga bro..?" ujar yang lain yang meminta penjelasan.
"Bener-bener..terus gimana tuh,bukannya rasa ga bisa kita hindari..unik ya anaknya"yang lain menambahkan.
"Ya..itu susahnya dekat dia,harus tulus berteman jangan main rasa..emang berat tapi nyaman ada didekatnya.. serius bro itu yang gue rasain"ucap Alton yang langsung membuat semua kawan lelaki nya menjitak kepala Alton.
"Loe curhat..ya"ucap yang lain dengan rasa ingin tahu.
"Kasihan deh loe sudah berapa lama loe simpan rasa loe sama dia ?"Alton seperti dihujani peluru dari kawan-kawannya.
"Sejak pertama mengenalnya..dia sempurna yang gue rasain seperti tidak ada celah.. cantik ada di dia,manis..body yang seperti kalian tahu perfek..pintar dan yang tidak dimiliki semua perempuan yang gue tahu dia mandiri dan ga pernah ngeluh.. pokoknya idaman banget.." ucap Alton seperti menjelaskan apa yang dimiliki seorang Qiandra.
"Pantas..yang gue denger Dean mantan ketua OSIS kita saja dibuat patah hati karena di tolak cintanya dengan alasan ya.. seperti yang barusan kalian dengar 'nyaman untuk berteman saja' nyesek ga tuh padahal kurang dari dia apa coba"seperti sakit tidak berdarah yang mereka rasakan saat ini.
Pada akhirnya obrolan laki-laki ini harus berakhir karena ada penampilan bintang idola dari salah satu band yang digandrungi anak muda dari penampilan mereka membuat semua siswa-siswi ikut bernyanyi.
Berbeda dengan Qiandra yang lebih memilih sedikit menjauh karena terlalu bising dan dia tidak menyukai situasi seperti saat ini.
"Kenapa ga ikut gabung bareng mereka..?"tanya Alton pada Q dan Ina yang lebih asik ngobrol santai.
"Lagi ga mau aja.." balas Q yang tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya.
"Oh.."balas Alton singkat yang ikut bergabung duduk tidak jauh dari Q.
Sesaat mereka terdiam dalam suasana hening diantara mereka tanpa ada yang bersuara hanya dentuman suara musik dari panggung yang cukup keras terdengar.
"Hai.."sapa Alex yang baru datang.
"Cantik.."gumam Alex polos yang keluar tanpa berpikir dulu.
"Emang dari lahir Bambang"balas Ina dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Na..na loe borong semua rasa percaya diri loe sampai-sampai yang lain ga kebagian.." Alton berucap membuat Qiandra tersenyum,sebab bukan hanya Ina yang dibilang cantik masih ada cewek lain yaitu Qiandra di dekatnya.
"Emang gue cantik..loe baru tahu kasihan deh.."balas Ina lagi yang membuat tawa Alex semakin kencang.
"Ih..tawa loe..tawa jahat duralex.."sewot Ina yang membuat Alex spontan terdiam.
"Ga gitu yayangnya babang.."dengan gaya merajuk Alex menghampiri Ina.
"Yang..yang,yang ini yang itu yang mana..geli dengernya duralex" ucap Ina lagi dengan mengangkat kedua bahunya.
"Sebenarnya kalian berdua itu cocok tapi kenapa sih harus saling jail "kali ini Alton berkomentar.
"Cie..cie kita cocok katanya say.."ucap Alex yang membuat Ina makin tidak mood.
"Hoek..cocok dari Hongkong.." sewot Ina yang membuang muka.
"Kenapa saya jadi sakit perut ya..mendengar perdebatan kalian berdua..na aku ke toilet dulu" Q meninggalkan Ina yang tidak mau mengalah dari usilnya Alex.
"Duralex itu yang harus loe salahin Sha.." protes Ina yang membuang muka dari pandangan Alex.
Protes dari Ina pada Alex tidak mau Qiandra dengar dia lebih memilih panggilan alam yang menurut dirinya lebih penting.
Tepukan tangan di bahu Qiandra dari seseorang mengejutkan dirinya dan sedikit membuat kaget "Astaghfirullah..".
__ADS_1
"Maaf..membuat mu terkejut.." ujar Dean dengan tersenyum ramah.
"Is ok.." balas singkat Qiandra.
"Bisa minta waktu mu sebentar Sha.." pinta Dean dengan berharap.
"Ada yang penting kak..?" tanya Qiandra pada Dean yang mengangguk.
Dean menatap intens Qiandra sepertinya dia ingin menyimpan semua apa yang di lihatnya saat ini dalam ingatannya,tapi tidak dengan Qiandra yang merasa tidak nyaman di perhatikan begitu intens oleh Dean.
"Ehm..kak hallo saya masih disini.."tangan Qiandra melambai berharap Dean Kembali pada kesadarannya.
"Maaf.." balasan singkat yang Dean berikan.
Qiandra berinisiatif memulai berbicara sebab Dean seperti dalam kebingungan yang Qiandra tidak mengerti.
"Kak..selamat ya,kapan kakak akan berangkat ?" tanya Qiandra yang tahu Dean di terima di universitas luar negeri.
"Terimakasih..kemungkinan lusa,saya akan berangkat walaupun dengan berat hati karena separuh hati saya tertinggal untuk seseorang" pada akhirnya Dean bisa mengungkap apa yang mengganjal di hatinya.
"So sweet..ih beruntungnya seseorang itu" ujar Qiandra dengar tersenyum yang manis membuat Dean ingin melihat senyuman itu selamanya.
Balas ucapan dari Qiandra bagai embun penyejuk di hati Dean yang senang tapi tidak lama kesadaran dia kembali.
Suasana seperti mendukung samar-samar terdengar seseorang menyanyikan lagu yang di populerkan oleh Judika "Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja'
Andai aku bisa memutar waktu
aku tak ingin mengenalmu
mengapa ada pertemuan itu
yang membuat aku mencintaimu.
Bagaimana kalau baku tidak baik-baik saja
trus mengingatmu memikirkanmu semua tentang dirimu
bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
tak seperti kamu yang mampu tanpa ku
bagaimana ?
walau hati mu untuk ku
adakah kesempatan untuk cinta ku?
bahagia walau kita berbeda
Mungkin kamu bukan untukku
tapi kau selalu di hatiku
bagaimana?
"Kakak jangan kangen selama disana..dengan semua yang ada di sekolah ini.."pada awalnya Dean senang dengan ucapan 'kangen' dari Qiandra tapi bukan kangen pada sosok manis yang berada didekatnya saat ini.
"Saya akan selalu kangen sebab disini lah banyak momen indah yang tidak bisa terhapus kan.." Dean menundukkan wajah tampannya seperti mengisyaratkan kesedihan yang dalam.
"Qiandra Mettasha..terimakasih untuk tiap momen indah bersama dirimu..yang akan selalu ku rindukan.."Dean memberanikan diri mengungkapkan apa yang dipendamnya.
'Kenapa dengan kak Dean ko bahasanya aku kamu..bukan saya..aneh deh' Qiandra berusaha menenangkan dirinya.
"Apa..an sih kakak"Qiandra ingin menetralkan suasana yang sedikit aneh bagi Qiandra.
"Sungguh Sha..hari-hari ku indah setelah kehadiran mu, walaupun tidak setiap waktu" seadanya saja tatapan mata Qiandra melihat muka Dean saat ini akan terlihat wajah yang menunjukkan kebahagiaan.
"Kakak.."Dean menghentikan Qiandra untuk berbicara.
"Dengarkan aku Sha..kamu wanita spesial yang pertama aku kenal" Dean semakin berani mengungkapkan isi hatinya.
Qiandra tidak ingin meninggalkan kesan buruk apalagi menyakitkan dalam momen perpisahan dengan Dean, Qiandra harus berhati-hati dalam menyampaikan kata-kata penolakan tapi tidak menyakiti, dengan harapan meninggalkan kesan baik dirinya pada Dean
"Terimakasih buat semua hal selama ini..tetap semangat untuk menggapai cita-cita kakak dan saya berharap akan ada seseorang yang lebih baik disana untuk menemani hari-hari berat kakak di negeri orang..saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kakak dalam segala hal..maaf belum bisa jadi yang kakak harapkan..saya harap akan ada kesempatan untuk menjadi adiknya yang baik di lain waktu.." Qiandra yang dewasa dalam pemikiran bisa menata kata-kata menjadi kalimat yang indah didengar tanpa menyakiti seseorang yang berharap lebih padanya.
"Sha..memang tidak ada sedikit ruang dalam hati mu untuk diri ku" tanya Dean memberanikan diri.
"Untuk kakak tidak sedikit ruang tapi seluas hati Sha..kak,tapi sebatas teman kalau untuk kakak spesial deh..jadi seorang kakak yang spesial untuk Sha..ok kak "entah kenapa Dean tidak bisa marah apabila membenci pada Qiandra walaupun sudah menggoreskan luka karena penolakan darinya.
"Entahlah Sha..kamu memang berbeda dimata ku"Dean mengacak dan menarik rambutnya karena tidak bisa mengekspresikan suasana hatinya.
__ADS_1
"Kalau tidak halangan boleh saya mengantar kepergian kakak..kabarin saja waktunya,saya tunggunya kak.."senyuman yang tulus terpancar dengan menampilkan gigi putih yang berbaris rapih.
"Ok..terimakasih atas waktunya Sha.."ingin rasanya Dean memeluk Qiandra tapi hanya bisa menyaksikan bayangannya yang mulai beranjak dari dirinya dengan melambaikan tangannya.
Rasa sakit tapi tidak berdarah karena penolakan yang halus dari Qiandra tanpa menjelaskan alasannya dia seperti nyaman meminta ingin menjadi adiknya bukan seseorang yang spesial dalam hidupnya.
Suasana pesta perpisahan sekolah yang seharusnya suka cita tapi tidak dengan Dean yang merasa semakin sedih karena cinta pertamanya harus bertepuk sebelah tangan pada seorang gadis idamannya.
Hampir menjelang sore pesta perpisahan berlangsung pada akhirnya acara harus berakhir hampir semua siswa meninggalkan tempat acara hanya menyisakan beberapa orang yang menjadi panitia begitu juga dengan Qiandra yang masih merapikan sisa acara dan menunggu pak Dul yang akan menjemputnya.
"Hai..Sha ko belum pulang ?"sapa seseorang yang mengejutkan Qiandra yang memeriksa ponselnya.
"Bapak..iya belum pulang masih harus merapikan sisa acara..apa bapak mau bantu kami ?"Qiandra memang lebih nyaman apa adanya dari pada basa basi.
"Boleh asalkan..?"Ayres mengantungkan kalimatnya.
"Ih..bapak kalau mau membantu itu tidak boleh pamrih.."Qiandra menunjukkan mukanya yang cemberut.
"Untuk mu apa sih Sha..saya ga minta apa pun..apa yang harus saya kerjakan ?"tanya Ayres dengan melihat sekitar.
"Bapak ko ada disini ?" Qiandra penasaran dengan kehadiran Ayres saat ini.
"Saya di undang pihak sekolah mu Sha..,ga mungkin saya datang tanpa di undang sebab saya bukan jelangkung.."Ayres menjelaskan membuat Qiandra tertawa.
"Bapak memang bukan jelangkung tapi om jin..yang datang setelah di gosok "canda Qiandra yang kebetulan memegang botol air mineral dan di gosok perlahan dengan tersenyum terlihat mengemaskan.
"Sha..Jangan bikin saya makin suka ya sama kamu.."balas Ayres yang menurunkan hiasan yang menempel di tembok.
"Ih..bapak siapa juga yang berniat menggoda bapak.."dengan polosnya Qiandra menjawab.
"Iya..saya tahu kamu tidak menggoda tapi saya yang tergoda Sha.." bisik Ayres yang posisinya tidak jauh dari Qiandra.
"Ih..bapak tolong di kondisikan pikiran bapak.." Qiandra menunjukkan muka sewotnya tapi dimata Ayres mengemaskan.
"Sha..coba kamu bercermin"pinta Ayres pada Qiandra yang terlihat imut menggemaskan.
"Ada apa dengan muka saya pak ?"dengan polosnya Qiandra bertanya.
"Cantik.."jawab singkat Ayres yang membuat Qiandra menatap tajam Ayres.
"Terimakasih..apa bapak baru tahu ?" ucap Qiandra yang membuat Ayres tersenyum tidak percaya akan mendapatkan balasan dari Qiandra yang memancing ingin memeluknya gemas.
"Saya kira kamu ga tahu makanya saya tanya.. berhubung kamu sudah tahu..hati-hati dengan kecantikan kamu akan banyak yang suka" Qiandra di buat bingung dengan ucapan dari Ayres.
"Kamu paham kan dengan maksud saya ?" tanya Ayres yang semakin bingung Qiandra.
"Ga.."jawaban singkat dari Qiandra membuat Ayres tersenyum sebab mengerti ketidak mengerti Qiandra.
"Bagus kalau kamu ga mengerti..yang jelas saya suka sama kamu" ucap Ayres membuat Qiandra tertawa.
"Terimakasih,bapak sudah suka sama saya dan bapak orang yang ke sekian mengatakan suka sama saya..padahal bapak salah orang loh.." tanpa ragu Qiandra menjelaskan dengan tangan masih sibuk merapikan beberapa atribut panggung.
"Ko bisa salah orang maaf saya ga paham Sha.."Ayres sesaat menunggu jawaban dari Qiandra yang masih diam karena fokus pada pekerjaannya saat ini.
"Iya..lah bapak salah orang bukanya saya masih anak kecil yang bapak katakan, dan saya yakin pasti banyak cewek yang suka sama bapak BSI yang seumur bapak atau lebih mudah dari bapak sedikit.."Qiandra sedikit menjelaskan maksudnya.
"Mungkin..tapi saya sukanya sama kamu yang jauh lebih muda dari saya..dan saya tegaskan saya tidak setua itu Sha..mungkin lebih muda dari lelaki yang berdasi yang memanggil kamu sayang waktu itu.."Ayres mengingat sosok lelaki saat kejadian beberapa waktu lalu dengan menunjukkan rasa tidak suka.
"Saya lihat bapak ko jealous sih..sama seseorang itu"Qiandra to the poin tanpa harus menunggu Ayres yang mengatakannya.
"Ko tahu..memang saya jealous sama dia sok akrab..sama kamu" Ayres tanpa canggung mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Memang kami dekat pak..karena kami ada hubungan famili..sebaiknya bapak jangan jealous karena bapak cukup berteman baik saja dengan saya" ucapan dari Qiandra cukup membuat Ayres tidak percaya sebab sudah jelas-jelas Ayres mengatakan rasa suka dan Qiandra tidak menolak tapi memintanya sebagai teman,sakit sih yang dirasakan Ayres tapi masih batas wajar bila melihat usia Qiandra menurut Ayres.
"Kapan kamu Sha akan membalas perasaan yang sama dengan yang saya rasakan kepada kamu sha?"pada akhirnya Ayres meminta kepastian pada Qiandra.
"Memang harus dibalas ya pak perasaan yang bapak rasakan..?"terdengar konyol tapi memang seperti itu Qiandra yang apa adanya tanpa basa basi dan terlihat tegas tapi ini yang disukai lawan jenis dari Qiandra selain melihat dari bentuk fisik yang dimilikinya.
"Ga..di lihatin saja sampai subuh,ya iya lah Sha..bisa ga sih kalau bicara ga bikin saya gemas sama kamu"Ayres mengepalkan tangannya karena gemas dengan sikap yang Qiandra tunjukkan.
"Maaf.."bersama dengan suara seseorang yang tidak asing menjemput dirinya.
"Mbak..sudah selesai ?" tanya pak Dul dengan sopan pada Qiandra dengar sopan.
"Ya..pak tunggu sebentar"Qiandra mengambil tas miliknya dan bersiap untuk pulang.
"Saya pulang duluan ya gaes..dan tugas saya sudah rapi dah.." pamit Qiandra pada beberapa teman yang mempersilakan Qiandra pulang.
Berbeda dengan Ayres yang merasa di gantung perasaannya oleh Qiandra ya g lebih memilih pamit pada dirinya karena sudah di jemput.
"Maaf pak saya pulang dulu..terimakasih atas waktunya dan sudah dibantu dah pak Ayres.."Qiandra memberikan kiss lewat udara yang membuat Ayres terkejut tidak bisa menebak apa maksud dari kode yang Qiandra berikan.
__ADS_1
Ayres merasa senang tapi juga ragu akan kode dari Qiandra,akankah ada rasa yang sama di hati Qiandra itu yang menjadi pertanyaan besar untuk Ayres yang masih berdiri mematung tanpa sadar beberapa rekan dinasnya menghampiri dirinya.