
Cerahnya mentari 🌄 pagi ini membuat kicau burung 🐦 saling bersahutan tapi sayang tidak membuat semua penghuni bumi secerah mentari suasana hatinya.
Rasa enggan untuk memulai masuk sekolah selepas liburan kenaikan kelas yang kini Q rasakan, Q masih nyaman berada didalam kamar miliknya, permintaan bundanya untuk sarapan pagi sudah kedua kali di abaikannya hanya dengan balasan kata "ya..bunda, sebentar".
Pada akhirnya sang ayah yang langsung menjemputnya langsung ke kamar miliknya dengan cara lembut yang membuat sang pemilik kamar tidak tega untuk menolak permintaannya.
"Sayang..ayo temani ayah sarapan,lihat nih cacing dalam perut ayah sudah melakukan demo.."tuan,bagian mana dari dalam perut tuan yang harus saya makan.." aduh jangan nanti aku sakit" canda Hans pada putrinya dengan menirukan suara anak-anak.
"Sayang..dengar tidak.." Hans kembali dengan gaya rayuannya.
"Tidak.."balas Q santai dengan tatapan polosnya pada ayahnya.
"Oh..iya cacingnya kan demo di perut ayah.." dengan polosnya Hans nyengir yang membuat Q tertawa.
"Ayah..boleh Q tidak sekolah hari ini ?" dengan manja meminta pada ayahnya.
"Boleh tapi harus ada alasan yang tepat..sebab sayang sudah beberapa hari yang lalu sekolah sudah kasih liburan sayang" Q mengerti penolakan dari ayahnya.
"Alasannya...Q masih ingin di rumah,he..he" dengan gaya manjanya Q tertawa kecil yang memeluk satu tangan Hans.
"Itu bukan alasan yang tepat,ayo dimana anak ayah yang selalu semangat...go..go"Hans menyemangati putrinya yang masih terlihat malas.
"Ayah..boleh,ya" rengek Q lagi tapi tidak tega melihat sang ayah yang sepertinya kecewa.
Hans membalas dengan gelengan kepalanya yang bisa diartikan dirinya tidak menyetujui permintaan putrinya saat ini.
"Ok..tapi gendong.." permintaan Q langsung disambut dengan sang ayah yang membalikkan badannya dan memberikan punggungnya untuk sang putri.
"Ayo..ayo,ayo ayah cacing diperut ayah akan makan usus ayah..ayo"teriak Q yang membuat Hans sedikit berlari kecil menuju meja makan.
"Sayang..kamu bukan anak kecil lagi.."ceisya berucap dengan tersenyum.
"Mau sama apa..?"tanya ceisya pada suami dan putrinya.
"Ayah..itu saja"Hans menunjukkan nasi goreng spesial yang sudah ceisya siapkan.
"Q juga bunda.."pinta Q pad ceisya yang memenuhi keinginan kedua orang yang di cintainya.
Keluarga kecil Hans telah menyelesaikan rutinitas paginya,dengan memanfaatkan waktu mereka masih berbincang di meja makan.
"Awas ada yang cemburu yah.."ceisya menggoda putrinya yang bersandar di pundak sang ayah yang memeriksa beberapa pesan di ponsel miliknya.
"Paling bunda..yang cemburu ya..yah"balas Q yang masih memperhatikan sang ayah.
"Memang ada bunda belum punya pacar?" ceisya kembali menggoda Q yang terlihat tidak suka dengan candaan sang bunda.
"Apaan sih bunda,pacar ga..Q ga mau pacaran" Q semakin memeluk satu tangan sang ayah.
"Serius..kalau gantengnya lebih dari ayah gimana Q tetap nolak" ceisya masih menggoda.
"Tetap ayah yang paling ganteng menurut Q,ya..yah" kini Q meminta persetujuan dari ayahnya.
"Pasti ada lah, sayang yang lebih diatas ayah gantengnya.."Hans tidak ingin membanggakan dirinya.
"Tapi tetap ayahlah menurut Q ga ada yang menyamai"Q mencium pipi Hans dengan kasih sayang.
"Malu..tuh dilihatin pak Dul"goda Hans pada putrinya yang langsung mengusap pipi ayahnya dari bekas ciumanan yang diberikan olehnya.
"Maaf" Hans dan ceisya tertawa melihat tingkah putrinya yang masih suka bertingkat manja pada Hans.
"Sayang ini bekal makan siang.."ceisya memberikan kotak makan untuk Q yang senang membawa bekal makanan rumah.
"Terimakasih..bunda"balasan dari Q yang sudah siap meninggalkan rumah setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.
Hari ini Q diantarkan oleh pak Dul, karena Hans ada kepentingan yang lain dan Q faham akan kesibukan Hans yang bisa dimengerti oleh Q dan ceisya.
"Terimakasih, pak.."balas Q pada pak Dul yang sudah bersiap kembali pulang.
"Sama-sama..mbak, hati-hati di sekolah"pinta pak Dul yang sudah sangat akrab dengan Q.
Sebenarnya hari pertama sekolahnya masih disibukkan dengan kegiatan MOS anak baru yang merupakan adik kelas Q, memang seharusnya Q melibatkan diri dalam acara ini tapi Q beralasan ingin liburan bersama keluarganya.
__ADS_1
Di lapangan terlibat siswa-siswi baru yang masih mengikuti pengarahan oleh panitia dan beberapa anggota OSIS lainnya termasuk Ina, Alton dan Alex.
Terbayang masa pengenalan masuk sekolah dulu yang Q masih ingat betul, dengan tersenyum seorang diri Q membayangkan masa itu yang masih tergambar jelas.
"Bedah..deh yang habis liburan.."goda Ina yang langsung memeluk dari belakang.
"Hai..gimana kabarnya,aku kangen tahu"Q membalas pelukan dari Ina.
"Alhamdulillah,baik cuma ga maksimal karena harus.."Ina menunjuk lapangan yang bisa diartikan dirinya harus mengorbankan masa liburannya di sebagian hari' di habiskan di sekolah.
"Tapi senangkan..ada Alex yang siap menghibur" goda Q yang langsung membuat Ina mengoceh.
"Ih..ogah banget sama 'Duralex' ('nama merk perabotan yang ada di dapur atau meja makan)..kenapa juga dia harus ikut" sewot Ina yang terlihat kesal.
"Bukannya kalian berdua saling melengkapi" canda Q yang membuat Ina makin sewot.
"Melengkapi dari mananya sih Sha..setiap kita bertemu sudah kayak kucing sama tikus..sibelex biang ngeselin" Ina mengumpat setiap kali membahas soal Alex.
Sebenarnya Alex tidak ada kurangnya dia supel,soal tampang standard,dia aktif di OSIS dan klub basket sekolah bahkan dia termasuk anggota inti bareng Alton, cuma kurangnya suka menggoda Ina,itu yang selalu membuat Ina sewot bila bersama dengan dirinya.
"Ga..baik pagi-pagi sudah ngomongin calon suami"tegur Alex yang datang tiba-tiba.
'Oeek' Ina bersuara seperti orang yang ingin memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya.
"Kamu dengar sendiri Sha..ayo"Ina langsung menarik tangan Q untuk menjauhi Alex yang masih senyum-senyum senang menggoda Ina.
"Pelan-pelan na..aku mau kamu ajak kemana sih..aku mau lihat kelas ku.."permintaan Q tidak menyurutkan keinginan Ina yang ingin mengajak Q kedalam ruangan panitia siswa baru.
"Duduklah disini..jangan kemana-kemana"pinta Ina lagi yang membiarkan Q duduk dalam ruangan seorang diri.
"Na..ga aku ga mau.."penolakan dari Q sepertinya tidak bisa terbantahkan, karena Nina sudah melesat jauh ke luar ruangan.
"Sebentar Sha..aku akan cepat kembali" Ina kembali melarang Q untuk pergi.
Hanya suara detak jam dinding yang Q dengar,terasa sunyi dalam ruangan yang berisikan tumpukan dokumen dalam sebuah lemari serta meja besar yang dikelilingi banyak kursi.
"Ehmm.."suara seseorang yang mengejutkan Q.
"Ga..kok,kak" dengan rasa tidak nyaman Q membalas.
"Gimana liburan kemarin?" tanya Dean yang sibuk memeriksa dokumen.
"Ya, seperti gitu deh" balas Q berusaha santai karena hanya berdua dalam ruangan yang besar ini.
"Setahu saya liburan itu menyenangkan atau tidak menyenangkan,bukan seperti itu deh.." Dean kembali membahas soal liburan.
"Ya..menyenangkan"dengan rasa enggan Q membalas karena persolan privasinya.
"Saya senang bisa kembali melihat mu Sha" Dean memberanikan diri mengatakan apa yang ada dalam hatinya.
Seorang Qiandra yang terbilang tidak polos soal perasaan seseorang lawan jenis diusianya yang masih remaja,dia bisa langsung peka dan muncul rasa yang tidak nyaman.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada kamu Sha.." Dean sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan momen yang selama ini di tunggu-tunggu oleh dirinya.
"Memang apa yang ingin kak Dean sampaikan ?" Q berusaha menenangkan dirinya, dengan harapan tidak gegabah yang berakibat tidak baik dalam hubungannya dengan Dean dikemudian hari.
"Selama ini..saya sudah menyukai mu Sha, tepatnya pertama mengenalmu "(pertama kalinya seseorang menanyakan bulan lahir dirinya yang kebetulan sama dengan milik Sha).
"Oh..ya, terimakasih sudah menyukai Sha" dengan santainya Q membalas yang sedikit banyak memberikan harapan pada Dean yang saat ini berbunga-bunga.
"Bolehkah saya menyukai mu..Sha?" tanya Dean mengeluarkan isi hatinya.
"Itu hak kakak..untuk menyukai seorang,tidak bisa saya melarangnya dan apa hak saya melarang kak Dean menyukai saya" Q masih bersikap sewajar mungkin.
"Maksud saya, maukah kamu jadi pacarku" pada akhirnya Dean lebih menjelaskan isi hatinya pada Q yang terlihat masih tenang walaupun dengan detak jantung dan perasaan ingin lari sejauh mungkin menghilang dari pandangannya dari semua yang ada di sini.
"Ehm..boleh ga kalau saya berkata jujur pada kak Dean untuk soal yang satu ini..?"entah kekuatan dari mana Q merasa bisa setenang ini untuk membalas ungkapan isi hati Dean.
"Kenapa ga..jujur lebih baik buat saya " Dean seakan sudah siap dengan jawaban apapun dari Q.
"Saya tidak menyalakan soal rasa suka dan apapun itu yang menyangkut rasa yang kakak milik untuk saya..tapi dengan berat hati saya tidak bisa menerima itu kak" Dean seakan tidak percaya pada Q yang bisa dengan tenang menolak dirinya padahal secara usia dia begitu muda tapi dari tiap kata yang terucap tidak sedikitpun menyakiti Dean yang jelas-jelas di tolak cintanya oleh Q.
__ADS_1
"Apa karena sudah ada seseorang yang istimewa di hati mu Sha..?"seakan tidak ingin menyerah Dean masih mencari tahu.
"Ha..ha pasti adalah kak.."dengan tertawa Q menjawab santai.
"Oh..boleh saya tahu.." Dean semakin di buat penasaran dengan seseorang yang telah membuat Q nyaman bersamanya.
"Boleh..dialah lelaki pertama yang memberikan rasa cinta dan mengenalkan rasa cinta tanpa meminta untuk di balas cintanya"terlihat senyum milik Q yang jarang di perlihatkan.
"Apa kelebihan dia dari saya ?"semakin Q menerangkan seseorang itu semakin membuat Dean penasaran.
"Dia..sangat sempurna sepertinya tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun" Q membayangkan sosok ayahnya yang selalu ada untuk dirinya.
"Sesempurna itukah dirinya?"untuk kesekian kalinya Dean masih di buat penasaran oleh sosok yang belum Q sebutkan namanya.
"Ya..dia memiliki postur tubuh ideal,kulit putih,dengan wajah tampan dan memiliki kecerdasan diatas rata-rata,pastinya dia memiliki cinta dan sayang yang tulus untuk saya" dengan tertunduk Q mengingat momen sebelum pergi ke sekolah bersama ayahnya.
"Bersyukurnya dia telah mendapatkan mu Sha.." pada akhirnya Dean menyerah.
"Kak Dean salah saya yang bersyukur karena memiliki dia.."Q merasa bersyukur memiliki seorang ayah yang selalu ada untuk dirinya.
"Tapi kita masih bisa berteman kan Sha..?"Dean masih berharap pada Q walaupun hanya sebatas seorang teman.
"Ya..saya akan tetap berteman baik dengan kakak, sebab saya lebih nyaman kedekatan ini dalam ikatan pertemanan yang tanpa rasa,bila ada rasa hubungan pertemanan itu akan berbeda, prioritas saya saat ini sekolah bukan percintaan" Dean kembali di buat bingung oleh apa yang Q ucapkan.
Dean terdiam mencerna kembali setiap perkataan yang Q ucapakan tentang penolakan cintanya dengan dasar sekolah prioritas utamanya saat ini,lalu sosok yang diagung-agungkan beberapa saat lalu itu siapa?.
Tidak mungkin lelaki fiktif yang Q jelaskan sebab tidak ada kebohongan yang Dean lihat dari mata Q tentang sosok sempurna yang telah mengisi hati Q,kali ini Dean di buat pusing dengan seseorang yang telah menyita waktunya di sela kesendiriannya.
Ditambah lagi Q tidak melarang Dean mempunyai rasa suka padanya tapi tidak boleh ada rasa cinta semua ini membingungkan Dean yang saat ini memilih diam.
"Kenapa dengan kak Dean Sha..?" tanya Ina yang baru saja masuk.
"Kenapa tidak kamu tanya saja langsung sama orangnya..?"Q sengaja Ina di buat penasaran sebab Q tidak mau Ina akan banyak bertanya nantinya.
"Sepertinya dia lagi banyak yang di pikirkan.." dengan rasa sok tahunya Ina berucap yang membuat Q tersenyum.
"Na..aku mau lihat kelas ku"pinta Q yang sebenarnya ingin pergi dari awal kedatangan Ina.
"Ayo..aku juga ingin memeriksa jadwal.." keduanya meninggalkan Dean yang masih memikirkan tiap ucap Q sepertinya ada yang salah pikirnya tapi dimana letak salahnya.
"Hai..cantik calon bini babang Alex" goda Alex dari belakang yang mengejutkan Ina juga Q.
"Alamat ga konsentrasi.."gumam Ina pada dirinya,ternyata Alex memilih meja di belakang meja Ina.
"Berisik..bisa ga sih mulut mu itu diam, nyerocos aja kaya penyiar radio" sewot Ina pada Alex.
"Ya..gue diam tapi jangan nyariin.."Alex masih tetap menjaili Ina.
"Siapa juga yang nyariin..kepedean "balas Ina dengan enggan melihat lawan bicaranya.
Tapi tanpa di duga ada saja momen untuk keduanya jadi ribut kembali,tapi disinilah kesempatan untuk orang lain jadi senang karena mereka akan saling membalas.
"Kak..bisa kasih tahu yang mana kak Alex..?" tanya siswa baru dengan sopan pada Ina dan Q yang kebetulan ada dalam ruangan.
"Lex..no ada yang nyariin kamu"ucap Ina spontan tanpa mengingat apa yang telah lewat.
"Cantiknya babang Alex katanya jangan berisik..baru diam sebentar sudah di cariin"ucap Alex yang langsung menghadap Ina.
"Bukan saya 'Duralex' tapi itu..tuh bocah itu"Ina menunjuk siswa baru yang masih sabar menunggu.
"Kirain cantiknya babang..sabar ya babang tinggal dulu.."ucap Alex yang meninggal Ina.
"Yang lama dan yang jauh ya...bila perlu sampai saya lulus"Ina berucap seakan-akan tidak main-main.
"Gimana sih na..berarti Alex ga bareng kita dong lulusnya..."Q hanya sekedar menggoda Ina.
"Habis si Alex nyebelin.."ucap Ina masih dengan muka kesalnya.
Beda kepala beda juga isinya begitu juga dengan Q dan Ina yang sangat berbeda dalam menyikapi sebuah persolan yang seharusnya tidak diambil terlalu serius,bisa jadi Alex hanya ingin menggoda tanpa pakai rasa yang ada dalam hatinya.
Ikuti saja alurnya itu yang Q terapkan dalam hidup memang terkadang ada momen dirinya sama seperti Ina dalam menghadapi Alex, kalau Q pada kak Ken anak dari sepupu bundanya yang terkenal jail tapi ada bersyukurnya kak Ken jarang bertemu dengan Q berbeda dengan Ina yang tidak bisa menghindar karena satu kelas dengan Alex yang kini dipanggil 'Duralex' sebuah merk dagang perabotan dapur oleh ina.
__ADS_1