
Janji adalah hutang itu yang diyakini Ayres, lelaki bertubuh tegap ini sudah berada di sebuah gelora dimana suatu tempat biasanya Qiandra memberikan pelatihan beladiri.
Seperti janji awal Ayres datang seorang diri tanpa didampingi rekan dinasnya, begitupun dengan kawan berlatih beladiri mengajak tanding tanpa sepengetahuan Qiandra yang kebetulan sudah lebih dulu berpamitan pulang.
"Sudah dengan persiapan pak.." sapa salah satu dari mereka yang sudah bersiap diri.
"Saya selalu siap" balas Ayres dengan tersenyum ramah menyapa.
"Langsung saja atau bapak ingin pemanasan terlebih dahulu?" tanya salah satu dari lelaki muda menurut sudut pandang Ayres.
"Langsung boleh saya sudah pemanasan sebelum datang kesini" balas Ayres yang meletakkan tas yang bawahnya dipinggir lapangan.
"Bapak boleh pilih satu diantara kami.. sebagai lawan" pinta lelaki yang berbadan cukup atletis.
"Kalian tentukan saja siapa dari kalian saya siap.." Ayres bersikap siaga seperti membaca tiap gerak lawannya.
"Bagaimana kalau kita semua menyerang bapak secara bersamaan?" ledek salah satu dari mereka dengan sedikit tertawa sombong.
"Boleh.." jawab Ayres tidak mau diremehkan bocah bau kencur pikirnya.
Ayres bersiap diri dengan mengambil sikap siap menghadapi lawan dimulai dengan saling memberi hormat pada lawan dan dilanjutkan bersikap kuda-kuda untuk siapa membalas serangan lawan.
Ayres yang secara fisik terlatih tidak mudah untuk bisa di jatuhkan sebagai bukti satu dari mereka harus merasakan kekalahan karena balasan dari serangan dari Ayres.
'Gila fisiknya benar-benar terlatih walaupun diserang dari beberapa arah' gumam salah satu dari mereka.
Sebelum satu persatu dari mereka tumbang Qiandra yang kebetulan kembali karena tas punggung miliknya yang berisikan seragam beladiri tertinggal di ruang ganti dan dapat menyaksikan Ayres menghadapi perlawanan dari kawan latih beladirinya.
'Kenapa mereka melakukan tanding tanpa sepengetahuan aku,atau mereka sengaja melawan pak Ayres tanpa sepengetahuan ku,tapi dengan tujuan apa?' Qiandra seperti mencari tahu.
Pada akhirnya mereka mengakui kalau seorang Ayres bisa diandalkan dan pantas untuk bisa bersanding dengan Qiandra yang terbilang gadis yang memiliki talenta dalam banyak hal.
"Dengan segala kerendahan hati kami mengakui kemampuan bapak dan bapak pantas untuk melindungi Sha yang sangat kami jaga bukan hanya sebagai rekan tapi lebih dari saudara" dengan memberikan hormat khas beladiri mereka bersama-sama tunjukkan yang membuat Ayres membalasnya dan memberikan salam khas lelaki TOS juga saling berpelukan.
Qiandra yang melihat hal itu sedikit paham dengan apa yang baru saja dilihatnya,ada rasa bangga juga sedikit kecewa karena mengapa mereka melakukan hal konyol seperti itu kepada pak Ayres.
Mereka tidak membubarkan diri selepas bertanding melainkan nongkrong disalah satu warung tenda yang biasanya menjajakan makanan khas malam hari dengan harga merakyat tapi cukup bikin perut kenyang.
"Saya yang traktir" pinta Ayres yang duduk lesehan diantara mereka.
"Serius nih pak..tapi bukan pajak jadian kan pak..?" canda salah satu dari kawan Qiandra.
"Tenang..soal pajak nanti nyusul,doakan saja Sha tidak menolak saya" dengan tawa ringan Ayres berkata.
"Tenang pak kita-kita dukung Sha..ga bakal nolak bapak" terdengar semangat dari tiap ucap katanya tapi Ayres bisa mengerti ada hati yang terluka karena sikap yang akan dirinya ambil untuk mendekati Qiandra.
"Bukan saya tidak yakin,cuma sha terlalu sempurna,itu yang membuat rasa percaya diri saya sedikit menyusut" entah sekedar gurauan atau jujur dari lubuk hati yang jelas mereka paham siapa Qiandra.
'Ya..Sha memang gadis yang hampir sempurna dimata siapa pun dengan segala yang ada di dirinya' gumam salah satu reka beladiri Qiandra yang sedikit menaruh hati padanya.
"Saya berharap tidak ada dendam diantara kita sebab saya hanya ingin memiliki teman banyak bukan mencari musuh dalam hal ini" Ayres tanpa sungkan meminta pada rekan beladiri Qiandra yang secara usia lebih muda darinya.
"Kenapa harus ada dendam pak..kita sportif kok.. kalau pun ada yang kecewa itu manusiawi tapi kami semua sudah seperti saudara untuk Sha..bapak tenang saja.."ayres merangkul rekan beladiri Qiandra yang tidak jauh duduknya dengan dirinya.
Canda tawa malam ini sekian melupakan kejadian yang telah lewat tanpa ingin menyisakan rasa tidak nyaman sebab Qiandra sendiri orang yang selalu bisa menenangkan dan menyenangkan hati semua orang didekatnya.
Motor sport milik Ayres memecah jalanan malam yang sepi selepas berpisah dengan rekan beladiri Qiandra,Ayres dalam ini harus kembali ke markas walaupun besok bukan hari dinas.
"Malam komandan" sapa salah satu rekan yang kebetulan berjaga pada Ayres dengan memberikan hormat.
"Malam..tolong bagikan pada yang lain" perintah Ayres setelah membalas hormat.
"Apa ini dan..?" tanya rekan yang berdinas.
"Sekedar teman ngopi" balas Ayres yang bersiap menjalankan motor sport miliknya.
"Thanks dan, sering-sering aja" ucapnya yang hanya dibalas acungan jempol oleh Ayres.
Berhubung besok buka hari dinas,rekan dinas yang merasa masih bujangan menikmati malam dengan berkumpul bersama di salah satu rumah dinas yan kebetulan bersebelahan dengan rumah dinas Ayres.
"Malam dan..gimana misi berhasil ?" ucap salah satu dari mereka dengan cara ingin tahu.
"Malam.. Alhamdulillah berhasil tinggal sang ratu yang harus ditaklukkan" balas Ayres ya g memasukkan motor sport miliknya kedalam gerbang rumah dinas.
"Yeah.. selamat dan,..ayo gabung" ujar yang lain dengan menggoda.
"Iya..saya bersih-bersih dulu.." Ayres langsung masuk kedalam rumah dinasnya.
"Lagian pawang buaya di kadalin" ucap salah satu rekan dinas Ayres.
"Memang komandan loe masih belum menyerah taklukin tuh gadis ?" tanya yang lain bukan dari rekan dinas Ayres.
__ADS_1
"Mana ada komandan kita menyerah..maju terus sebelum janur kuning melengkung" pa
kicaunya dengan tertawa.
"Ghiba terus.." tegur Ayres yang datang membawa beberapa kue dalam kaleng.
"Tenang dan..yang di ghiba sudah datang,pastinya yang baik dan.." goda rekan dinas Ayres.
"Mana ada ghiba yang baik..udah makan tuh" tegur Ayres yang memilih tempat duduk.
"Ya..maaf jangan sewot,kayak emak-emak kurang jatah" ujarnya dengan fokus membuka isi kaleng.
"Memang loe tahu emak-emak kurang jatah sewotnya kayak gimana ?" tanya yang lain dengan menyentuh jidat.
"He..he mana gue tahu, gue udah ga punya emak" balasnya dengan polos.
"Busyet deh..makanya ngomong jangan asal buka mulut aja bro" balas yang lain dengan mengacak kepala yang setengah plontos.
"He..he maafin deh dan.."pintanya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Apaan sih,santai aja kali.." balas Ayres dengan merangkul dan memeluk erat kawan dinasnya.
"Gimana bro ga ada kendala kan ?" tanya yang lain dengan santai.
"Sejauh ini ga ada tapi hati orang siapa yang tahu" ucap Ayres yang meraih gitar dari salah satu rekannya.
"Ini mah bakal banyak yang patah hati bro" pekik yang lain yang tahu siapa Qiandra.
"Serius loe..?"ucapnya membuat penasaran.
"Ga, percaya nih.." rekan Ayres menyerahkan ponsel Ayres dengan gambar penampakan layar Qiandra.
"Busyet..ini mah bidadari bro..tapi daun muda" balasnya dengan terkesima.
"Pucuk kali.." tegurannya dengan tertawa.
"Pantas komandan perjuangin" ucapnya lagi yang membuat Ayres tersenyum dengan sesekali memetik senar gitar.
Di tempat berbeda, tepatnya pertemuan keluarga besar Ceisya.
"Selalu berdua..bikin ngiri aja" goda sepupu Ceisya siapa lagi kalau bukan mas Adhiatama pada Ceisya dan Hans.
"Iya..mas Q sudah punya kesibukan sendiri susah diajak" balas Hans dengan memeluk kakak sepupu istrinya.
"Kenapa harus Q yang dibahas..Ken saja dulu" protes Ceisya terlihat kesal.
"Lelaki mah gampang" balas Adhiatama dengan santai.
"Q apalagi masih terlalu muda,biarlah menikmati kesendirian dulu.." balas Ceisya dengan mengandeng tangan Hans untuk menjauh dari Adhiatama.
Menghindarinya sepasang suami istri itu bersamaan dengan Ken yang menyapanya dengan rasa hormat.
"Gimana kabarnya om,tante ?" ucap Ken dengan sopan.
"Alhamdulillah baik Ken.. gimana kabar mu?" Hans bersikap seperti biasanya berbeda dengan Ceisya sedikit kesal karena sikap ayah Ken.
"Baik om..,Q mana kok aku ga lihat ?" ujar Ken dengan mencari.
"Q ada janji jalan bareng siapa tadi yah..bunda lupa namanya ?" Ceisya pura-pura memberikan alasan.
"Bukannya pamitan sama bunda,kok tanya ayah" tanda harus memberi kode Hans ikut permainan Ceisya.
"Pacar..om?" tanya Ken dengan rasa ingin tahu yang besar juga sedikit cemburu.
"Bukan..ca "Ceisya mengantungkan ucapannya sebab Q datang tiba-tiba dan memeluk Ceisya.
"Bunda,ayah maaf Q terlambat" dengan manja Qiandra memeluk.
"Ga.. apa-apa yang penting datang" Hans mengusap kepala putrinya lembut.
"Hai..Q kok sendiri,mana calon kata tante?" tanya Ken yang membuat Qiandra sedikit bingung tapi langsung paham setelah melirik sang bunda.
"Oh..calon,maaf kak ga bisa ikut gabung ada panggilan tugas mendadak,makanya Q datang terlambat kesini" Qiandra berusaha menyakinkan Ken dengan ucapannya.
"Orang sibuk ya.. kapan-kapan kenalin ke kakak yang Q,boleh dong kakak kenal dengan calon adik ipar" terlihat jelas sikap jealous yang Ken sembunyikan dengan sorot mata menatap intens pada Qiandra yang dibaca Hans.
"Boleh..kak,tapi Q tanya kapan bisanya sebab dia sibuk kak" Qiandra masih bisa menahan tawanya mengikuti sandiwara sang bunda.
"Ok..kakak tunggu waktunya.." Ken masih dengan sikap santainya.
"Kenapa sayang ?"tanya Hans yang melihat Qiandra memegang perutnya.
__ADS_1
"He..he,lapar" dengan polosnya Qiandra merajuk.
"Mau apa..ayo" ajak Ceisya dan Hans yang meninggal Ken yang hanya bisa memandang.
"Yah..yang tadi itu apaan sih..?" tanya Qiandra pada sang ayah yang sibuk menyuapi Qiandra.
"Ga..tahu ayah ikut permainan bunda,tanya saja sama bunda" dengan santai Hans melemparkan pada sang istri.
"Nanti bunda jelasin di rumah" ucap Ceisya dengan tersenyum memandang ke depan yang masih dipenuhi keluarga besar sang kakek di kediamannya.
"Untung Q langsung paham.. kebiasaan bunda nih" dengan manja Qiandra bersandar di bahu sang ayah.
"Kalau tidak ada adrenalin bukan bunda namanya sayang" ujar Hans yang sangat mengenal Ceisya sang istri uniknya.
"Untung jantung Q sudah terbiasa dengan kejutan-kejutan dari bunda.. kalau ga harus siap stok jantung pengganti ya..yah" gurau Qiandra dengan sedikit tertawa.
"Insyaallah keluarga kita memiliki jantung yang kuat sayang" Hans mengusap jantung miliknya dengan tersenyum ada sang putri.
"Memang putri ayah belum ada yang naksir nih..?" bisik Hans dengan menggoda.
"Ada..malah banyak jadi pusing milihnya" balas Qiandra tidak mau kalah sama sang ayah.
"Oh..ya..,boleh ayah bantu seleksi ?" tanya Hans dengan konyol seperti biasa.
"Hi..hi,boleh tapi jangan galak-galak nanti anak orang sawan" balas Qiandra mengingatkan sang ayah.
"Baguslah kalau sawan tandanya belum siap jadi calon mantu ayah" Ceisya ikut menambahkan.
"Paling kencing di celana Q.." ujar Hans dengan menunjukkan muka datarnya.
"Ih..sadis bener" dengan menaikkan kedua bahunya Qiandra berkata.
"Cie..cie,akur bener keluarga kecil bahagia" tegur salah satu keponakan Ceisya.
"Biasa ayah sama putrinya saling jail" Ceisya mengalihkan pembicaraan.
"Tapi yang saya lihat Q malah suka di jailin om Hans" ucapnya dengan duduk bergabung.
"Karena Q sayang ayah.." Qiandra memeluk satu tangan Hans dan sesekali mencium pipi Hans.
"Ih..Q kamu ga malu,kamu kan bukan anak kecil lagi !" tegur sepupu Qiandra.
"Ga, kenapa harus malu ini ayah ku bukan ayah orang lain..iya kan bun.." Qiandra memandang bundanya yang mengiyakan.
"Memang kamu malu bila di cium papa mu ?" tanya Ceisya pada keponakannya.
"Ih..malu lah tante,sebab bukan anak kecil lagi" balasnya dengan memandang Qiandra yang terlihat manja pada sang ayah.
"Tapi di cium pacar ga malu..iya kan?" goda Qiandra dengan tatapan menyindir.
"Beda lah Q.." balasnya dengan malu-malu.
"Ih.. kalau Q mendingan di cium ayah dari pada dicium lelaki yang cuma status pacar yang belum tentu jadi suami " dengan tegas Qiandra berucap berharap ada yang tersindir.
"Hayo..udah pernah di cium ya..kamu" goda Ceisya pada keponakannya.
"Ih..tante jangan bilang papa " dengan merengek memohon gadis itu meminta.
"Halalin dulu makanya.." tegur Qiandra yang menatap sang ayah yang tersenyum seperti bangga pad putrinya.
"Kita pengen saling kenal dulu Q..baru nikah" gadis itu menjelaskan.
"Saling kenal boleh tapi ga di cicipin dulu ya.. sebab bukan makanan yang harus di cobain dulu untuk tahu rasanya" ujar Qiandra yang membuat Ceisya membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan putrinya.
"Cuma cium pipi doang Q.. serius ga lebih" dengan malu keponakan Ceisya menjelaskan.
"Awalnya say, lama-lama menuntut lebih" Qiandra semakin menunjukkan sikap tidak ingin saudara terlalu dekat dengan pacarnya.
"Makanya cepat minta kejelasan mau di bawa kemana hubungan kalian" Ceisya menambahkan.
"Serius Q kamu mau langsung dilamar..?" tanya kak Ken yang curi dengar.
"Lah..iya lah,mana mau cuma jadi pacar doang" jawab tegar Qiandra yang semakin membuat Ken patah hati.
"Kalau ga jodoh gimana Q ?" tanya sepupu Qiandra dengan serius.
"Semua orang juga bisa ga berjodoh kalau pikirannya sempit,bukankah awal sebelum menikah diperjuangkan berusaha untuk disatukan kenapa setelah disatukan dalam janji suci pernikahan tidak di pertahankan" ucap Qiandra yang membuat Hans tidak percaya dengan pemikiran putrinya yang menurut dirinya masih anak kecil.
"Ih..makin gemes deh.." Ken ingin mencubit pipi Qiandra yang lebih dulu menghindar berlari dalam pelukan sang ayah.
"Ga,kena we..jangan jail makanya" Qiandra meledak dengan menjulurkan lidahnya dan bersembunyi di balik tubuh sang ayah.
__ADS_1
Sebenarnya di balik sikap jail Ken ingin memiliki Qiandra untuk dijadikan pasangan hidup,bukan sekedar hubungan kekerabatan semata dengan banyak pertimbangan salah satunya sikap dewasa dan mandiri yang di miliki Qiandra padahal dirinya anak semata wayangnya dari kedua orangtuanya.