
Harapan indra untuk hans bisa berdinas di kantor pusat terkabulkan,kegembiraan itu terpancar dari senyumnya yang mengembang dengan mata berbinar bahagia.
Indra sudah sering sakit-sakit belakangan ini memang karena faktor usia,dia sangat berhadap kebahagiaan generasi penerusnya terjamin dengan baik dan telah menyiapkan pengaturan aset miliknya sesuai kemampuan dalam berbisnis.
Indra dengan sangat meminta pada hans untuk tetap jadi pelindung aset keluarga besarnya, beban tanggungjawab ini sangat berat menurut hans yang dengan tegas dan sopan menolak sebab ini semua milik keluarga besar indra bukan milik keluarganya.
Indra sebenarnya sangat kecewa tapi ceisya dengan lembut bisa menyakinkan kakeknya bukan hans tidak ingin mengabulkan keinginan kakeknya tapi hans memiliki tugas yang lebih berat di luar sana yang setiap ada panggilan tugas sewaktu-waktu harus selalu siap tanpa penolakan.
Dan menurut ceisya biarlah hans membantu sewajarnya saja dan akan siap membantu bila di perlukan sewaktu-waktu,ceisya pun memberikan jaminan bahwa hans akan tetap dengan suka rela ada untuk keluarga besar kakeknya.
Indra cukup tenang setelah ceisya memberikan penjelasan dengan caranya yang tahu betul bagaimana keinginan kakeknya,sebenarnya ceisya tidak berpihak pada siapapun dia hanya memahami keadaan hans yang tidak ingin ada salah paham di kemudian hari oleh pewaris indra sebab hans hanya seorang menantu dari cucunya yang takut suatu saat akan di curigai mempunyai keinginan memiliki aset indra.
Begitupun ceisya ingin hidup damai tidak ingin tanpa ada batasan berinteraksi dengan banyak orang karena status yang disandangnya yang sebenarnya berat dan cukup menakutkan bila ceisya mengingat kebelakang.
Ceisya ingin orang mengenal dirinya istri dari hans yang banyak orang mengenal dirinya baik dan dekat dengan semua kalangan karena kinerjanya dan kepribadian hans yang baik tidak lebih,ini lebih nyaman untuk ceisya kedepannya bersama keluarga kecilnya.
Sudah beberapa hari ini ceisya enggan menikmati makanan yang rima siapkan yang selalu saja dia menolaknya dengan alasan tidak berselera dan lebih memilih menghabiskan buah yang cukup asam rasanya.
Hans yang mengetahui hal itu sedikit khawatir karena takut ceisya sakit dan membuat hans tidak tenang dalam tugas dinasnya.
"Sayang rima bilang siang tadi ga mau makan kenapa?" tanya hans yang duduk disamping ceisya yang terlihat lesu.
"Ga..selera" ceisya menjawab singkat tanpa ada penjelasan lain.
"Besok mau di masakin apa?" tanya hans yang ingin ceisya berselera makan.
"Em..apa yah,ga usah sya ga mau apa-apa" ucap ceisya yang membuat hans sedikit khawatir dengan keadaan ceisya.
"Mas yang masak mau?" bujuk hans berharap ceisya berubah pikiran.
"Ga" biasanya ceisya paling cerewet pikir hans tapi saat ini sangat irit bicara.
Hans mengusap lembut punggung ceisya terasa lemah yang rasakan,tapi ceisya tidak merasa dirinya sakit hanya tidak nafsu makannya turun drastis yang hans perhatikan.
"Sekarang ada mas mau apa?" hans kembali membujuk ceisya.
"Mau duduk di ruang tengah" pinta ceisya dimana ruang tengah saat seperti ini biasanya ramai dengan asisten bersantai nonton tv atau sekedar ngobrol bersama dengan menikmati makanan cemilan jajanan pasar buatan rumah,sebab ada asisten ceisya yang pandai membuat kue-kue itu.
Kehadiran ceisya dan hans membuat semua asisten berniat beranjak meninggal tempat favorit mereka untuk berkumpul dan ceisya terlebih dahulu melarang mereka beranjak dari tempat itu.
"Kenapa harus pindah kita bisa bersama-sama disini" ceisya meminta mereka kembali dan mereka pun menurut.
Hans merasa senang semua penghuni kediamannya tidak ada jarak dengan dirinya juga ceisya,mereka pun merasakan hal yang sama tuan dan nyonya mereka sangat baik tanpa melihat status asistennya.
Semua asisten ceisya tahu kalau nyonyanya sedang tidak berselera makan dalam beberapa hari ini walaupun menu yang disuguhkan semua makanan kegemarannya tapi semua ditolaknya dengan alasan tidak berselera.
Ada yang membuat ceisya sedih saat ini dan hans tahu tapi apa yang membuat istri tercintanya memilih terisak di balik punggungnya tanpa mengatakan penyebabnya.
"Kenapa..?"tanya hans pelan sebab tidak ingin asisten rumahnya tahu.
"Kenapa pak diman ga menawarkan makanan pada sya mas" ucap ceisya yang ingin asisten yang bernama pak diman menawarinya makan.
"Oh..sayangnya mas mau di tawari makan"ceisya mengangguk dengan menghapus air mata yang mulai menetes.
"Ehm..ehm mohon perhatiannya mulai besok siapapun yang akan makan dan kebetulan nyonya melihat tolong tawari sebab nyonya ingin kalian menawarkan padanya" permintaan hans membuat asisten rumah yang sedang menikmati langsung berhenti dan menawarkannya pada ceisya.
Ceisya dengan malu merasa senang dengan tawaran yang di berikan padanya terutama dari pak diman yang terlihat begitu menikmati kue yang sebenarnya hanya kue buatan rumah tidak terlalu istimewa.
"Maaf..nyonya saya tidak menawarkan pada nyonya" pak diman memberikan kue yang tersaji dalam piring.
Dan ceisya begitu menikmati kue-kue yang di berikan pak diman dan membuat hans senang sebab sudah beberapa hari ini ceisya hanya ingin makan buah saja tidak lebih.
"Mau dibawakan yang lain?" tanya hans pada ceisya yang masih menikmati kue dalam mutunya.
__ADS_1
Hanya gelengan kepala yang ceisya tunjukkan pada hans tapi tidak lama ceisya merasakan perutnya tidak nyaman dan berlari kedalam toilet dan terdengar suara ceisya mengeluarkan semua isi perutnya yang membuat hans berlari kearah ceisya berada.
"Kenapa sayang?"tanya hans yang mengusap lembut punggung ceisya.
"Ga..tahu ga enak rasanya pahit" rengek ceisya dengan suara seperti ingin menangis.
"Mba..bisa minta tolong ambilkan handuk" pinta hans pada asistennya yang tidak lama membawanya permintaannya.
"Mba bisa bikinkan teh manis hangat" pinta hans yang di setujui oleh asistennya.
Rima membawakan permintaan hans yang sudah berada di kamar dengan ceisya yang duduk di kursi masih lemas.
"Tuan apa tidak sebaiknya dipanggilkan dokter kasihan nyonya" rima seperti khawatir dengan kondisi ceisya yang lemah.
"Mas hubungi dokter yah sayang"hans bertanya pada ceisya yang sudah menghabiskan setengah minumannya yang menurut dirinya menyegarkan.
"Sya baik-baik saja mas" tolak ceisya yang menurut dirinya dia baik-baik saja.
"Bolehkan sekali ini mas tidak menuruti permintaan sya" hans langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya terdengar pembicaraan serius yang hanya hans dan seseorang itu yang tahu.
"Rim..tolong bilang pada penjaga akan ada tamu yang datang"hans memerintahkan rima memberikan pada penjaga rumah.
"Baik tuan" dengan setengah berlari rima menuju gerbang utama kediaman tuan dan nyonyanya.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya tamunya g ditunggu datang juga dia seseorang yang sangat hans kenal dan dia adalah seorang dokter yang masih dalam lingkungan militer.
Hans yang tidak mau menunggu lama memintanya untuk langsung memeriksa keadaan ceisya yang saat ini terbaring dikamar yang sebenarnya dirinya sudah merasa nyaman hanya hans yang melarangnya untuk tetap beristirahat.
"Ini hadiah terindah bro untuk memastikan datang ke rumah sakit" ucap lelaki yang memeriksa kondisi ceisya pada hans yang masih bingung mendengar ucapan rekan dinasnya.
"Sekali lagi selamat bro" lelaki itu sedikit menyadarkan hans lewat tepukan di pundak hans.
"Maksudnya..istri saya hamil?"tanya hans masih belum bisa percaya dengan kabar baik yang didengarnya.
Hans memeluk lelaki yang berdiri didepannya dengan bercampur rasa yang tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini selain memeluk lelaki didepannya.
"Gue ngerti bro dengan apa yang loe rasakan saat ini tapi temui dulu istri loe beri dia selamat dan perhatian khusus selama melewati masa-masa rawan di fase awal kehamilannya itu pesan gue..selamat sekali lagi gue langsung pamit ya" ucap lelaki itu panjang lebar pada hans yang tidak bisa lagi berkata-kata dan hanya bisa mengantarkan didepan pintu kamarnya yang di gantikan oleh asisten rumah mengantar lelaki rekan dinasnya untuk pamit pulang.
Hans yang masih tidak percaya dan bercampur rasa tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang langsung memeluk ceisya dan menangis penuh haru.
"Mas..kenapa,sya sakit apa?"tanya ceisya masih dalam pelukan hans yang masih ingin memeluk ceisya.
"Sayang sya ga sakit..tapi sayang akan ada yang menemani hari tua kita nanti"ucap hans yang tidak bisa di mengerti oleh ceisya.
"Siapa yang akan menemani kita mas?"tanya ceisya masih belum bisa mengerti dengan ucapan hans.
"Selamat dan terimakasih sudah dengan sabar menanti kehadiran dirinya" kali ini ucapan hans dibarengi dengan usapan tangan hans pada perut ceisya.
"Sya ha mil "ceisya merasa tidak percaya dengan terbata-bata berucap dan anggukan kepala dari hans membuat ceisya memeluk hans dan menangis bahagia.
"Terimakasih sayang sudah dengan sabar menanti hadirnya"ciuman hans berikan pada ceisya yang hanya bisa pasrah dengan air mata yang mengalir tanpa dia sadari.
"Mulai sekarang jangan terlalu cape mau apa bilang mas selama mas di rumah dan rima akan menemani selama mas pergi"ceisya dengan memberikan tanda hormat pada hans sebab ceisya tahu hans juga sama seperti dirinya ingin memiliki buah hati dari seseorang yang di cintanya yang sudah sekian lama di nantinya.
"Dan harus ada makanan yang masuk walaupun sedikit ingat ada buah hati didalam sini yang lapar sayang"hans mengusap lembut perut ceisya.
"Tapi sya ga selera mas"ceisya menyampaikan apa yang dirasakannya.
"Mas tahu tapi yang di dalam sini ga maukan sampai kekurangan gizi" ucapan hans membuat ceisya takut akan kesehatan buah hatinya bila terjadi sesuatu nanti.
"Ih..sya ga mau baby kenapa-napa mas" ceisya manja pada hans yang senang ceisya mengerti pentingnya makan untuk pertumbuhan buah hatinya.
"Mau makan apa sekarang?"pinta hans yang mengusap lembut kepala ceisya.
__ADS_1
"Sya mau makan tapi mas yang masak"permintaan ceisya bukan hal yang merepotkan bagi hans yang sudah terbiasa mandiri.
"Mau mas masakin apa sayang?"ceisya tahu ini bukan hal yang sulit bagi hans dan ceisya tahu apapun yang hans masak hasilnya selalu enak dinikmati bahkan masakan ceisya kalah jauh dengan apa yang di masak hans.
"Nasi goreng tapi telornya di pisah dan harus mata sapi dengan setengah matang bisakan mas"permintaan ceisya disanggupi oleh hans baginya itu sangatlah mudah.
"Siap nyonya hans akan segera dilaksanakan dan tunggu dalam beberapa menit pesanan akan diantar" hans mencium kepala ceisya dan melangkah keluar kamar membuat ceisya tersenyum.
Di dapur hans mulai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat nasi goreng sesuai permintaan ceisya dan membuat asisten rumah bingung sebab hans begitu cekatan dalam membuat menu nasi goreng dan terlihat begitu mengundang selera.
"Tuan ini ga kalah sama restoran"ujar asisten yang menemani hans memasak sebab hans melarangnya membantu hans hanya minta asisten rumahnya menemani tidak lebih.
Selesai memasak hans membuat dapur kembali bersih yang membuat asisten rumah malu sebab hans bekerja dengan rapi dan bersih tidak meninggalkan noda hampir seperti tidak terjadi sesuatu di dapur.
"Ih..tuan saya jadi malu" ucap asisten pada hans yang hanya di balas dengan tersenyum oleh hans tanpa banyak bicara.
"Mau coba?"hans memawarkan hasil masakan yang di buatnya dengan memberikan sepiring nasi plus telor yang sama persis dengan menu yang khusus untuk istrinya.
"Ya..tuhan ini enak banget tuan"ucap salah satu asisten yang sudah mengunyah makanannya dalam mulutnya.
"Iya tuan ini benar-benar enak banget buka restoran saja tuan"asisten yang lain memuji hasil karya hans.
"Ya nanti kalau saya pensiun"balas hans yang meninggalkan dapur dan membuat asisten rumah tertawa dan kembali menikmati makanan yang hans buat.
"Sayang maaf menunggu sedikit lama sebab ada yang ingin mencoba masakan mas"ceisya tersenyum dan percaya makanan yang hans akan membuat penikmatnya kembali ingin memakannya.
"Gimana ada yang kurang?"hans meminta ceisya memeriksa pesanannya.
"Kurang romantis pelayanannya"protes ceisya pada hans yang langsung mencium pipi ceisya.
"Masih ada yang kurang nyonya"hans kembali bertanya yang membuat ceisya tersenyum.
"Masih kurang manis pelayannya"ceisya menggoda hans yang membuat hans gemas pada ceisya yang terus menggodanya.
"Kalau terlalu manis nanti di semutin nyonya"hans menyuapi ceisya dengan tangannya langsung tanpa sendok yang membuat ceisya terharu sebab teringat almarhum ibunya yang selalu menyuapi dirinya bila susah makan.
"Sayang..mas ada disini" hans ingat pesan kawan dinasnya yang harus membuat ceisya dalam kondisi nyaman karena berpengaruh pada janin yang dikandungnya.
"Sya rindu ibu"ceisya memeluk hans dan hans menenangkan ceisya dengan mengusap punggungnya.
"Mas tahu sabar yah sayang mas ada disini yang akan menemani"ceisya kembali terlihat tenang dan menikmati makanannya walaupun tidak sebanyak biasanya.
Hans begitu memanjakan ceisya tapi masih batas wajar dimata asisten rumah,hans tahu dia bukan lelaki yang sempurna dan tidak selalu ada disamping ceisya full dalam sehari tapi dimana ada kesempatan hans akan berusaha menjadi seseorang yang akan ada untuk ceisya.
Begitupun ceisya bisa memahami kesibukan hans yang mempunyai tanggungjawab pada negerinya dalam tugasnya sebagai abdi negara tapi hans lelaki yang berusaha memahami apa yang di mau dirinya disela kesibukannya.
Dimata ceisya hans lelaki sempurna bahkan bisa di bilang sangat sempurna dia begitu melengkapi kehidupan ceisya,hans lelaki yang penuh pengertian menurut ceisya tidak pernah menuntut dirinya sesuai keinginannya.
Ceisya tetap ceisya dimata hans yang tidak harus merubah untuk jadi orang lain ini yang membuat ceisya mau membuka hati untuk hans yang terlihat tegas di luar tapi begitu lembut dalam memperlakukan ceisya tanpa harus orang di luar sana tahu.
Hans cukup tahu bagaimana kehidupan ceisya sebelum bersama dirinya dan bagaimana lingkungan yang membesarkan dirinya dengan memanjakannya beserta keadaan yang serba berlebih untuk memenuhi segala keinginannya,ini tidak mudah untuk ceisya bila harus mengikuti keinginan hans karena itu hans perlahan tapi pasti membuat ceisya nyaman terlebih dahulu bersamanya soal lain hans dengan perlahan mulai membuat ceisya bisa menyadari kalau di luar sana tidak seperti dirinya dan tanpa harus merubah pribadinya hans sudah membuat ceisya mulai berpenampilan sederhana dan tanpa malu mau bergaul dengan ibu-ibu yang bernaung di bawah ikatan dinas suaminya.
Perhatian yang hans berikan membuat ceisya nyaman terlebih saat ini yang sering kali perasaannya berubah-ubah,hans sedikit banyak memberikan pemahaman pada asisten rumahnya tentang kondisi ceisya saat ini dan semua asisten mengerti permintaan hans.
Kehadiran buah hati memang dambaan semua pasangan suami istri tapi bagi hans dan ceisya ini bonus sebab keduanya tahu bagaimana kondisi ceisya paskah keguguran diawal kehamilan buah hati pertamanya,tidak mudah untuk hans yang merahasiakan keadaan ceisya sebenarnya ditambah ceisya yang harus menjalani pengobatan yang tidak sebentar untuk memulihkan kondisi rahimnya.
Sepertinya keduanya begitu menikmati setiap perjalanan ujian tanpa ada penyesalan yang keduanya perlihatkan terutama hans yang dengan sepenuh hati berusaha ada disaat ceisya dalam keadaan terpuruk dan bahaya.
Buah kesabaran dari keduanya kini hadir untuk melengkapi kebahagian keduanya yang semakin membuat keluarga besar indra sangat senang sebab ceisya bahagia bersama dengan orang yang tepat dalam hidupnya.
Walaupun pelengkap kehidupan itu baru mengisi didalam kehidupan ceisya tapi sangat jelas terpancar raut kebahagiaan itu pada ceisya yang sangat di perhatikan oleh hans.
Bagi hans ini sesuatu yang baru dalam hidupnya yang selama ini belum pernah menikmati hidup dengan keluarga yang lengkap sebagai mana keluarga yang lain,rasa syukur tidak berhenti hans panjatkan pada pemilik hidup yang telah memberikan kebahagian pada keluarga kecilnya dengan hadirnya buah cinta dirinya dengan ceisya.
__ADS_1