Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Perjuangan cinta yang tidak mudah


__ADS_3

Dinginnya pagi tidak menyurutkan semangat Ayres untuk berolahraga pagi selepas menjalankan ibadah rutinnya.


"Kapt..bener masih mau lanjut ?" goda salah satu teman dinasnya.


"Hmmm.." Ayres masih melanjutkan larinya hanya menjawab sekenanya saja.


"Bapaknya..panutan kita loh" ujar yang lain menambahkan.


"Memangnya kenapa..gitu ?" Ayres seperti menyakinkan dirinya,dia pantas bersanding dengan putri seorang panutan.


"Ga..Kapt hanya mengingatkan saja" dengan sedikit malu kawan dinas menyampaikannya.


"Kalau berminat sama anaknya kenapa harus takut sama ayahnya..berani menghadapnya" terdengar tegas ucapan Ayres di telinga kawan dinasnya.


"Kirain bakalan mundur..Kapt" goda yang lain dengan senyuman menggoda.


"Wajar seorang ayah mencarikan pendamping yang terbaik untuk putrinya" balas Ayres yang memang selalu bijak.


Bincang ala kadarnya harus diakhiri karena panggilan tugas sudah menanti.


Kabar begitu cepat menyebar tentang Ayres yang menyukai Qiandra terutama di telinga siswa didik Qiandra yang tidak ingin hanya untuk keisengan Ayres.


"Tuh..dia orangnya !" terdengar jelas di telinga siswa lainnya yang mendribble bola basket.


Entah suatu kebetulan atau memang ada keperluan seorang Ayres terlihat sosoknya berada di lingkungan sekolah saat ini.


"Siang gues !" sapa Ayres ramah pada siswa yang masih bermain basket di lapangan.


"Siang pak..!" jawab mereka bersama dengan tatapan menerkam siaga merasa tidak suka.


Dengan tanpa basa basi salah satu dari mereka menghampiri Ayres dan langsung to the poin.


"Bapak apakah benar menyukai Mrs.Mettasha,kesayangan kami !" ucapnya dengan tegas menandakan tidak suka.


"Tidak mudah untuk menyukai apalagi untuk mendapatkan Mrs.Mettasha,bapak harus berhadapan dulu dengan kami..dan mampu mengalahkan kami !" siswa lain menambahkan dengan tatapan tidak kalah garang.


"Mengapa harus mengalahkan kalian ?" tanya Ayres masih dengan ramah.


"Karena kami semua sangat menyayangi Mrs.Mettasha..dan bapak hanya ingin dekat untuk mempermainkan saja..iyakan !" masih dengan tatapan tidak suka ditunjukkan olehnya.


"Kalian memperoleh informasi darimana kalau saya mempunyai niat untuk mempermainkan Mrs.Mettasha yang kalian sayangi.." Ayres seperti orang yang menyelidik.


"Karena dari tampang bapak yang terlihat suka tebar pesona" ujar salah satu siswa yang lain.


"Ha..ha,memang tampang saya terlihat suka tebar pesona ?" tanya Ayres dengan tatapan tajam walaupun dengan tawanya.


"Sebaiknya bapak menjauh dari Mrs.Mettasha kalau hanya ingin mempermainkannya saja" tegur siswa yang lain masih dengan meminta tegas.


"Mempermainkan,tidak ada dalam kamus saya dan kalian tidak bisa melarang saya untuk dekat dengan Mrs.Mettasha "Ayres masih dengan ramah namun terdengar tegas di telinga siswa didik Qiandra.


"Sudah..lah,coba bapak lawan kami bila bapak serius dengan Mrs.Mettasha " ucap yang lain masih menantang.


Ayres hanya menatap intens semua siswa yang menantang dirinya yang kebetulan saat ini datang seorang sedangkan kawan dinasnya akan menyusul.


"Takut..pak, bagaimana tantangan dari kami ?" tegur siswa seperti meminta kepastian dari sikap tegas Ayres.


"Takut..ha,ha memang kalian siapa harus saya takuti " Ayres tidak percaya siswa didik Qiandra mengancam dirinya.


"Ayo..pak, kalau bapak bisa mengalahkan kami,restu kami untuk bapak untuk mendapatkan Mrs.Mettasha" ujar salah siswa mewakili.


"Apakah ucapan kalian bisa saya pegang ?!" senyum seringai Ayres tunjukkan.


"Lelaki ucapannya yang di pegang pak..bapak jangan takut kami akan pegang janji kami" dengan memberikan TOS siswa itu pada Ayres.


"Siap..siapa takut "Ayres langsung merebut bola dan mendribble menuju keranjang lawan untuk memasukkannya.


Pertandingan spontan tanpa ada persiapan tapi secara fisik Ayres selalu siap siaga kapanpun, seperti saat ini Ayres harus melawan lima orang siswa yang merupakan tim inti basket sekolah sangat dikenal dengan macan lapangan yang sering membawa tropi penghargaan dengan membawa nama baik sekolah tentunya.


"Up...yes !!" bersorak dengan mengepalkan tangannya yang bisa diartikan dirinya menang telak dari lawan mainnya.


"Busyet.. staminanya ga bisa kita lawan" dengan napas yang masih belum teratur salah satu siswa mengakui kemampuan Ayres.


"Iya..gila bener gila,gue acung jempol salut sama dia" siswa lain menambahkan masih dengan napas yang berlarian.


"Kita mengakui kalah pak..tapi bapak juga harus pegang janji tidak untuk mempermainkan Mrs.Mettasha karena beliau kebanggaan dan kesayangan kami " pinta siswa yang masih memeluk bola basket.


"Saya janji dan untuk mewujudkan keinginan saya mohon bantuannya, please " Ayres memohon dengan tanpa gengsi.


"Ok..!!" jawaban tegas dari semua siswa yang berada di lapangan basket.

__ADS_1


Bersamaan langkah kaki gadis pujaan melewati lorong sekolah yang secara otomatis dapat melihat lapangan basket yang letaknya di tengah gedung sekolah.


"Saya tunggu kerja samanya" pinta Ayres yang bersiap meninggalkan siswa dan menyapa Qiandra yang tidak menyadari kehadiran Ayres di lapangan.


"Hai..Mrs cantik" goda Ayres yang membuat Qiandra mencari sumber suara.


"Assalamualaikum..pak handsome" ucap Qiandra dengan sedikit canda.


"Waalaikum salam.. terimakasih,memang saya tanpa dari lahir" dengan senyuman manis ayres tunjukkan.


"Bapak memang pantas disebut lelaki terlalu percaya diri.." Qiandra menggelengkan kepalanya.


"Harus dong daripada minder... bukankah percaya diri menahan keyakinan dalam berpenampilan seseorang " Ayres kembali membuat Qiandra menggelengkan kepalanya.


"Ada angin apa yang membuat anda datang kesini..?" tanya Qiandra dengan sedikit rasa ingin tahu.


"Ih..Mrs.Mettasha baik tahu atau mau tahu banget ?" goda Ayres mengimbangi langkah kaki Qiandra.


"Maaf saya ralat,ga mau tahu banget"ucap Qiandra seperti kecewa dengan jawaban Ayres.


"Apa tahu anget..oh jadi Mrs pengemar gorengan" canda Ayres yang bermaksud menggoda.


"Ih..pasang telinga anda tidak mau tahu banget !" sedikit penekanan ucap Qiandra.


"Oh...sama saya juga kangen banget sama Mrs yang semakin hari semakin bermain dalam ingatan saya.." dengan tertawa yang Ayres tahan kartu With menutup kedua telinganya.


"Ih..semakin lama semakin bikin kesel ya..anda" tegur Qiandra dengan mencubit lengan Ayres.


"Auw..tatit Mrs..tuh jadi merah,nanti saya bilang ibu saya Mrs sudah berani cubit-cubit.."Qiandra sedikit terkejut dengan ucapan Ayres sehingga membuat bola mata Qiandra membulat.


"Tahu..ah,bapak reseh"Qiandra berniat melarikan diri tapi tangannya di tahan oleh Ayres.


"Maaf..temani saya menemui kepala sekolah,bisa ?" terdengar memohon pinta Ayres pada Qiandra.


Qiandra seperti tak sanggup menolak permintaan Ayres yabg tidak biasa dia lakukan dan anggukkan kepala Qiandra tunjukkan pada Ayres.


"Terimakasih Sha..sudah berkenan menemani" ucap Ayres yang tersenyum ramah kembali pada mode biasanya tanpa ada canda.


Setelah menghadap kepada sekolah dan menyampaikan maksud kedatangannya Ayres undur diri dari lingkungan sekolah yang berpamitan terlebih dahulu pada Qiandra.


"Sebagai ucapan terimakasih,sudihkan Mrs Mettasha saya traktir sekedar minum kopi" pinta Ayres yang membuat Qiandra sedikit berpikir.


"Ya..sudah apa pun yang penting sebagai ucapan terimakasih saya" Ayres memohon.


"Ok..tapi saya punya waktu hanya sore nanti setelah pulang sekolah, bagaimana?" Qiandra masih dengan sikap datarnya.


"Soal waktu tidak masalah,siap saya jemput setelah jam pulang sekolah " Ayres menunjukkan senyum bahagianya.


"Ok..saya tunggu" Qiandra langsung meninggalkan Ayres yang mengepalkan tangannya dengan ucap pelan"yes" dengan sedikit melompat karena bahagia.


Waktu bergerak berasa lama yang Ayres rasakan saat ini,dia telah bersiap diri dengan penampilan santai tidak lagi menggunakan seragam resmi seperti pagi tadi.


"Mrs..." sedikit teriak dengan menunjukkan tangannya keatas berharap dirinya di lihat oleh Qiandra.


"Assalamualaikum pak" ucap salam Qiandra seperti biasanya bila baru bertemu.


"Waalaikum salam" balas Ayres malu dengan kebiasaan Qiandra yang belum bisa di ingat olehnya.


Qiandra yang tahu etika tidak ingin mendahului Ayres dengan diam ditempat dan tanpa bicara.


"Kita jadi pergi kan?" pada akhirnya Ayres meminta kepastian pada Qiandra.


"Terserah bapak..yang meminta, dibatalkan juga tidak masalah buat saya" seperti biasanya Qiandra menunjukkan sikap tegasnya mendominasi yang menunjukkan siapa dirinya.


"Oh..tidak harus jadi dong,kita harus kemana nih ?"pinta Ayres seperti berharap Qiandra yang menentukan tempatnya.


"Bapak meminta saya menemukan tempatnya, serius nih !" Ayres semakin di tunjukkan sisi tegas Qiandra yang tidak seperti ada umumnya perempuan yang sering berucap 'terserah' bila bersama seorang lelaki.


"Ya,tentu saya akan setuju sama pilihan kamu, asalkan kamu tunjukkan tempatnya" Ayres menunjukkan sikap tidak mendominasi yang sedikit banyak membuat Qiandra santai.


"Ok..ke cafe xxx disana banyak buku dan saya butuh buku untuk referensi tugas siswa" Qiandra sedikit menjelaskan tujuannya ke tempat itu yang membuat Ayres geleng kepala yang bisa diartikan 'sekali dayung satu dua pulau terlampaui ' tapi itulah Qiandra tidak bisa menyia-nyiakan waktunya.


"Siap tuan putri.. silahkan"Ayres membukakan pintu mobil untuk Qiandra dan di balas dengan ucapan dari Qiandra.


"Terimakasih" senyum tulus Qiandra tunjukkan.


'sudah nona senyumnya jangan terlalu manis, membuat saya lemas' Ayres memegang dada sebelah kirinya yang berdebar lebih cepat daripada saat berlatih fisik.


Disalah satu sudut cafe saat ini keduanya berada bukan kencan tapi sebagai balasan atas kebaikan Qiandra,sebab kalau kencan keduanya akan terlihat suka cita disini sangat terlihat hanya Ayres yang bahagia lebih pantas disebut menemani Qiandra memilah-milah buku yang cocok untuk bahan referensi.

__ADS_1


"Hanya ini saja Sha..pesanan yang kamu mau ?"tanya Ayres yang merapikan meja karena pesanan yang di bawakan pramusaji.


"Hmm"balas Qiandra yang masih fokus pada salah satu buku.


'Sabar,Ayres...saat ini saingan mu hanya buku' gumam Ayres yang mengaduk minuman miliknya.


"Hai..Sha" sapa seorang lelaki yang tidak sendirian melainkan bersama beberapa lelaki lainnya yang terlihat akrab dengan Qiandra.


"Hai..baru pulang,tumben jalan bareng ?" balas Qiandra yang bertanya.


"Ada yang mau traktir kita-kita masalahnya.." ujar yang lain dengan menunjukkan seseorang.


"Memperingati hari jadi" ucap pelan yang lain dengan tertawa kecil.


"Oh.. selamat ya..semoga berkah menyertai kamu " ucap Qiandra dengan tersenyum pada seseorang yang berulang tahun.


"Terimakasih atas ucapan serta doanya" balasnya dengan malu.


"Sha..some one" tanya salah satu dari mereka memberikan kode.


"Not only friends" ucap tegas Qiandra yang membuat Ayres sedikit sedih.


'Sekarang teman besok lebih dari teman tidur' dalam diam Ayres penuh harapan dengan doa.


"Oh.."tapi dengan tatapan mencari tahu.


Meja rekan beladiri Qiandra tidak jauh dari keduanya secara otomatis masih bisa terlihat interaksi Ayres dengan Qiandra.


Ayres yang terlihat memperhatikan Qiandra dengan bahasa tubuhnya dia tunjukkan begitu romantis dan penuh perhatian,sudah bisa diartikan Ayres mempunyai rasa pada Qiandra yang di baca oleh rekan beladiri Qiandra.


"Menurut loe..apa dia pantas kita uji dulu sebelum masuk terlalu jauh pada Sha..?" tanya salah satu rekan pada yang lain yang tahu apa maksud tujuan dari pertanyaan rekannya.


"Tidak masalah tapi sebaiknya tanpa sepengetahuan Sha.. karena bagaimanapun dia sudah bagian dari kita yang harus kita lindungi" ujar yang lain.


"Sebagai jaga-jaga kalau saja dia hanya berniat mempermainkan sha saja.." dengan mengepalkan tangannya lelaki itu berucap.


"Awas aja kalau sampai itu terjadi..gue bikin babak belur !" tambah yang lain tidak kalah geram dan semangat.


Kesempatan yang dinanti itu datang juga tanpa harus menunggu lama salah satu dari lelaki itu menghampiri Ayres yang kebetulan ke masuk kedalam toilet.


Di pintu keluar toilet salah salah satu lelaki itu langsung memegang tangan Ayres yang langsung menangkisnya dengan sigap.


"Santai bro..saya secara pribadi hanya ingin damai dan berteman baik..tapi dengan berat hati bila anda hanya ingin mempermainkan saudari kami lebih baik mundur teratur mulai dari sekarang" ucap lelaki itu tegas walaupun datar yang Ayres dengar.


"Saya paham maksud anda..saya mau to the poin saja apa..?" Ayres tidak ingin Qiandra sendiri di mejanya saat ini.


"Kami menantang anda untuk menunjukan kelayakan anda, seberapa pantas untuk bersama saudari kami..!" ucap tegas terdengar di pendengaran Ayres yang mengerutkan dahinya.


"Tentukan saja tempatnya saya akan datang sendiri" ucap Ayres santai.


"Ok..besok di gelora merah putih jam delapan malam..jangan terlambat bro..!" ucapnya dengan senyuman menantang.


"Siap saya akan datang.. tunggu saja " balas Ayres dengan meninggalkan lelaki itu yang masih menatapnya intens.


'Hu..pengawalnya melebihi presiden..tapi aku suka sebab ini membuktikan dirinya pantas diperlukan seperti putri yang terjaga kehormatannya' senyum Ayres membayangkan seorang Qiandra di kelilingi beberapa pengawal yang selalu mengiringi setiap langkahnya.


"Boleh saya pamit pulang pak..?" tanya Qiandra yang sudah merapikan buku-buku serta barang miliknya.


"Ok..kita pulang,biar saya antar sampai rumah" Ayres menunjukkan sikap sebagai lelaki yang bertanggungjawab.


"Terimakasih pak,tapi sayang saya sudah di jemput mas Joko yang menunggu di depan" Qiandra menjelaskan yang sebenarnya membuat Ayres kecewa.


"Kapan-kapan saya boleh main ke rumah?" dengan penuh harapan Ayres menunggu jawaban dari Qiandra.


"Main ke rumah dalam rangka apa ya pak?" bukan jawaban yang Ayres terima melainkan pertanyaan dari Qiandra.


"Kamu mau jawaban jujur atau hanya sekedar jawaban biasa ?" Ayres kembali memberikan pertanyaan.


"Pak..pak semua orang juga pasti memilih jawaban yang jujur lah..aneh" Qiandra berucap datar.


"Melamar kamu untuk jadi istri saya" jawab Ayres dengan tegas dan tidak ada keraguan.


"Bapak ga takut di tolak...ayah saya galak loh" kini Qiandra sedikit gemetar membalas.


"Pastinya ga akan di bunuh kan..?,soal di tolak coba lagi..kali aja yang ini saya beruntung,jadi ga usah putus asa..tenang saya bukan tipe yang mudah menyerah" dengan tersenyum Ayres membalas pada Qiandra yang terlihat bingung.


Ayres lelaki dewasa yang bisa membaca sikap yang Qiandra tunjukkan saat ini bukan menolak tapi rasa keterkejutan atas ucapan yang Ayres sampaikan dengan spontan tapi serius.


'Ya..Rabb kalau aku bisa berharap jangan biarkan hati ini salah dalam memilih yang terbaik sesuai ketentuan takdir-Mu' sepenggal doa yang Qiandra pinta dalam diam menuju rumah didalam mobil yang dikendarai mas Joko.

__ADS_1


Akankah semuanya berjalan mulus, sesuai harapan pembaca ?


__ADS_2