
Freya dan Iyut kini tengah duduk di sebuah kedai bakso bersama seorang pria yang ternyata mengenal baik Freya Kanaya
" Kamu kenapa bisa berada di desa ini Frey?" tanya pria itu merasa heran dengan keberadaan Freya yang sungguh diluar dugaannya berada di desa terpencil yang akses jalan untuk menuju desa tersebut pun terbilang cukup sulit
" Ceritanya panjang mas" sahut Freya
"Aku pasti akan setia kok Frey untuk mendengar ceritamu" Sahutnya
Akhirnya Freya menceritakan semuanya, tidak ada sedikitpun yang dia tutup-tutupi, sampai bagaimana dirinya bisa berada di desa tersebut
" Sungguh keji wanita itu, sangat licik dan tidak berprikemanusiaan" marah pria tersebut setelah mendengar cerita dari Freya
Pria tersebut tiba-tiba teringat dengan ucapan Iyut yang tadi sangat marah sekali saat ia tidak sengaja menubruk Freya sampai membuat wanita itu hampir terjatuh
"Frey tadi aku dengar kata Iyut kamu sedang hamil apa itu benar?" tanya pria tersebut dengan hati yang bergemuruh hebat menahan perasaannya yang terasa begitu nyeri
Freya tersenyum lalu mengusap perutnya yang memang sudah sedikit kentara jika diperhatikan secara seksama
" Iya mas, Alhamdulillah berkat pertolongan yang Allah berikan aku masih bisa mempertahankannya mas" sahut Freya membenarkan
" Ja... jadi beneran kamu sedang hamil?" Pria tersebut sedikit syok namun berusaha mengendalikan dirinya
" Iya mas" jawab Freya dengan mengulas senyum di wajahnya
" Lalu siapa yang sudah menghamilimu Frey?" tanya pria itu sedikit menggebu
" Ya siapa lagi kalau bukan suamiku mas, ya enggak mungkinlah aku hamil dengan laki-laki lain mas, kamu ini ada-ada saja" sahut Freya dengan sedikit kesal karena pertanyaan pria tersebut seakan menyudutkannya dan seolah dia wanita gampangan
" Maaf Freya bukan maksudku menuduhmu yang tidak-tidak, tapi karena setahuku kau dan suami mu itu kan sudah lama pisah dan bagaimana ceritanya tiba-tiba kau hamil anaknya" ucap pria tersebut yang sebenarnya masih memiliki hati pada wanita yang ada di hadapannya saat ini namun selalu ia tepis karena tidak ingin hubungan mereka menjadi renggang
Freya pun menceritakan bagaimana hubungannya dengan sang suami sampai memutuskan untuk bersama kembali
" Oiya maaf mas...mba.. memotong pembicaraan kalian, bukannya tadi mas nya lagi buru-buru ya katanya tadi adiknya sedang dilarikan ke rumah sakit?" ucap Iyut yang dari tadi diam saja menyimak obrolan keduanya tanpa minat ikut menimpali
" Astaghfirullah, iya aku hampir saja lupa jika tidak kamu ingatkan Yut, aku harus segera ke rumah sakit sekarang Frey" ucapnya merasa kaget karena bisa-bisanya lupa dengan keadaan kondisi adiknya
" Adik mas sakit? itu berarti Nina ada di desa sekarang mas?" tanya Freya yang cukup terkejut mendengar tentang keadaan Nina sahabatnya
" Iya, setelah kamu menghilang tanpa kabar Nina jatuh sakit lalu aku membujuknya untuk pulang saja ke desa, setidaknya kalau berada di rumah sendiri kan ada ibu yang menjaganya dan merawatnya" sahut pria yang tidak lain adalah Iwan
__ADS_1
" Sebaiknya kamu ikutlah aku pulang Frey, kasihan Nina dia sangat mengkhawatirkanmu!" ucap Iwan
" Tapi mas aku harus pamit dulu pada ibu" ucap Freya
" Tentu saja, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu setelah itu kau ikut dengan ku"
" Bagaimana dengan wanita itu? aku takut dia nekat dan menyakiti Nina mas" ucap Freya yang tiba-tiba teringat dengan ancaman wanita
" Kau tenang saja aku pasti akan menjaga kalian berdua" ucapnya
Freya tidak yakin, wanita itu yang dia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya dan ada hubungan apa dengan suaminya mau melepaskannya begitu saja, tapi dia pun tidak mungkin menghindar terus walaupun sebenarnya cukup was-was dengan keadaannya yang tengah berbadan dua, andai saja ia tidak sedang hamil pasti dia sudah menghadapi wanita itu terang-terangan
" Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi, jika pun wanita itu berbuat nekat lagi kita hadapi sama-sama jangan biarkan kejahatan itu menang, hadapi secara elegan" tutur Iwan
" Maksudnya?" Freya menautkan kedua alisnya
" Pancing dia keluar tapi ingat kau pun harus berhati-hati, aku yakin dia pasti akan muncul jika tau kau dalam keadaan baik-baik saja" ucap Iwan
Freya pun setuju dengan Iwan walaupun itu berisiko cukup besar untuknya
Iwan pun akhirnya mengantarkan Freya pulang terlebih dahulu, setelah sampai di rumah gubuk milik bu Kokom Freya langsung mencari keberadaan wanita paruh baya tersebut
Freya pun berjanji kepada bu Kokom jika ada waktu dan kesempatan ia akan datang berkunjung ke rumah mereka lagi
Perpisahan mereka cukup membuat siapapun yang melihatnya ikut menangis, Freya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya merasa begitu berat saat harus berpisah dengan bu Kokom yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri
" Jaga diri mu baik-baik ndo, kabari ibu jika nanti sudah melahirkan" ucap bu Kokom setelah mereka berpelukan
" Mba jangan lupain Iyut ya" ucap Iyut sambil sesenggukan, pemuda itu tidak malu untuk menangis beberapa hari tinggal bersama mereka dia sudah menganggap Freya seperti kakak kandungnya sendiri
" Tentu saja, mana mungkin mba bisa melupakan kalian" ucap Freya disela isak tangisnya
" Kalian adalah keluarga mba, suatu hari nanti mba pasti akan datang kesini untuk menjemput kalian untuk tinggal bersama mba di kota" ucap Freya
" Benar ya mba" Iyut nampak senang
" Iya, doakan mbak ya semoga mba dalam keadaan baik-baik saja"
" Itu pasti mba, Iyut akan selalu mendoakan mba dan juga dedek bayi, semoga kalian selalu sehat"
__ADS_1
" Amin"
Setelah berpamitan pada bu Kokom dan Iyut, Freya juga tidak lupa berpamitan pada para tetangga yang selama ini sudah berbuat baik kepadanya
Freya lalu naik ke dalam mobil Iwan tepatnya sih mobil milik pak Angga yang sekarang dimanfaatkan oleh Iwan untuk melanjutkan usahanya pak Angga yang sudah dipercayakan kepadanya
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, mereka pun kini sudah sampai di kediaman rumah Iwan
Tidak sedikit para tetangga yang dibuat terkejut dengan kedatangan Freya bersama Iwan, desas desus pun kembali mencuat tanpa harus di beri aba-aba
" Kenapa kita enggak langsung ke rumah sakit aja mas?" tanya Freya yang merasa tidak enak dengan para tetangga, takut kejadian yang tidak mengenakkan muncul lagi dengan melihat keberadaannya di rumah Iwan
" Kamu itu sedang hamil, perjalanan kita pun cukup melelahkan jika kita langsung ke rumah sakit yang ada kamu itu tidak akan punya waktu untuk sekedar beristirahat, jadi sebaiknya kamu mandilah dulu setelah itu istirahat, aku akan ke depan dulu buat beli makan " tutur Iwan
" Kamu mau makan apa, biar nanti sekalian aku belikan?" tanya Iwan
" Apa saja mas, terserah!" sahut Freya
Iwan pun kembali keluar rumah untuk membeli makanan, karena ibunya berada di rumah sakit jadi tidak ada makanan apa-apa di rumah
" Nak Iwan!" panggil salah satu tetangga Iwan saat melihat Iwan akan kembali pergi kali ini ia pergi dengan kuda besinya biar lebih cepat
" Iya ada apa pak Manto?" tanya Iwan
" Itu tadi yang datang sama kamu neng Freya bukan?" tanyanya ragu-ragu
" Iya benar, memangnya ada apa pak?" tanya Iwan mengernyitkan alisnya
" Enggak ada apa-apa, tapi kenapa neng Freya balik lagi ke desa ini?"
Iwan dibuat terkejut dengan pertanyaan pak Manto
" Maksud pak Manto apa ya bicara seperti itu?" Iwan mulai geram dengan pertanyaan pria paruh baya tersebut..
" Ini kampung halaman Freya, rumahnya pun disini jadi apa salahnya jika dia kembali lagi ke desa ini, jangan pernah menilai seseorang sebelum kita tahu tentang orang itu pak, Freya itu anak yatim-piatu jadi sudah sepantasnya kita berbuat baik terhadapnya bukan justru menzholimi nya!" tegas Iwan
Pak Manto pun diam seketika, tak berani lagi berucap. Iwan sekarang sudah pandai berbicara dia tidak lagi sepolos dulu.
Kehilangan pak Angga dan juga sepeninggalan Freya yang memutuskan untuk pergi ke kota membuat pria itu lebih banyak meluangkan waktunya untuk bekerja dan memajukan kembali usaha perkebunannya yang dulu ia jalani bersama pak Angga
__ADS_1
Karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas Iwan pun langsung melajukan kuda besinya untuk pergi mencari makan di kedai makan yang tidak jauh dari pemukiman penduduk setempat