Sekedar Menikahi

Sekedar Menikahi
Kekhawatiran pak Angga


__ADS_3

Semenjak pulang dari perkebunan pak Angga terlihat sedikit murung, perkataan pak Burhan mengenai putrinya begitu melekat di hati dan pikirannya.


Jelas ia tahu bagaimana putrinya Freya yang tidaklah mungkin melakukan hal serendah itu apalagi harus mengemis cinta yang memang tidak sepadan dengannya


Freya yang melihat sikap bapaknya aneh menjadi bertanya-tanya karena tidak biasanya pak Angga bersikap murung seperti itu


" Bapak kenapa, sakit? kok dari tadi Freya perhatiin murung terus, apa ada masalah di perkebunan?" tanya Freya yang merasa penasaran dengan sikap bapaknya yang tidak seperti biasa


Pak Angga memaksakan senyumnya " Bapak enggak kenapa-napa Freya, cuma sedikit lelah aja" jawab pak Angga yang tidak ingin membuat sang putri mengkhawatirkannya


" Kalau begitu Freya buatin teh herbal ya pak!"


Pak Angga tersenyum lalu mengangguk " Iya nak"


Freya pergi ke dapur untuk membuatkan teh herbal dan pak Angga menatap nanar punggung sang putri yang perlahan menghilangkan dibalik dinding


" Pak!" Ken menghampiri pak Angga yang tengah duduk di ruang tamu


" Iya nak Ken ada apa?" tanya pak Angga setelah Ken duduk tepat di kursi yang ada di sebelahnya


" Emmm... begini pak, saya mau izin sama bapak"


" Izin? izin apa nak Ken?" pak Angga mengerutkan alisnya


" Saya mau izin pamit pulang pak" jawab Ken dengan perasaan tidak enak karena bicara hal tersebut disaat hati pak Angga sedang tidak baik


" Oh begitu ya" Pak Angga manggut-manggut dan diam sesaat


" Baiklah saya izinkan nak Ken pulang, jika nak Ken memang sudah merasa sehat tidak merasa ada keluhan lainnya"


" Terima kasih pak"


" Sama-sama, emm... kira-kira kapan rencananya nak Ken akan pulang?"


" Lusa pak"


" Lusa?" Ken mengangguk membenarkan


" Baiklah, besok bapak akan bicara sama Iwan untuk mengantarkan nak Ken pulang ke kota, setidaknya bapak bisa tenang kalau nak Ken bisa selamat sampai tujuan nantinya, karena Iwan bisa menjaga nak Ken selama perjalanan"


Ken membulatkan matanya, pak Angga ternyata sebegitu perhatian terhadap dirinya sampai memikirkan keselamatannya.


" Tidak perlu repot-repot pak, nanti saya akan meminta supir di rumah saya pak untuk menjemput" Tolak Ken dengan halus

__ADS_1


" Oh begitu, baiklah nak Ken. Bapak cuma berpesan hati-hati saja di jalan terutama saat melewati jalanan yang sepi"


" Iya pak"


Pembicaraan mereka terhenti saat Freya datang membawa secangkir teh herbal untuk pak Angga


" Ini pak teh herbalnya di minum selagi hangat" ucap Freya seraya meletakkan cangkir di atas meja tepat di hadapan pak Angga


" Terima kasih nak" ucap pak Angga seraya meraih cangkir tersebut


" Sama-sama pak" ucap Freya seraya tersenyum


Ken yang melihat senyum Freya terpanah namun detik berikutnya ia tersadar kalau dia tidak boleh terpesona dengan gadis culun yang ada di hadapannya saat ini apalagi dia tiba-tiba teringat dengan kekasihnya yang pasti kelimpungan mencemaskan keadaannya yang menghilang begitu saja


" Emmm... Kak Ken mau dibuatkan teh herbal juga?" tanya Freya dengan seluas senyum yang kembali menghias wajah polosnya


" Tidak usah" jawab Ken datar


Freya yang merasakan perubahan sikap Ken yang menjadi dingin terhadapnya hanya menimpali dengan anggukan kepala saja setelah itu gadis itupun pamit masuk ke dalam


" Pak!" panggil Ken karena Melia raut wajah murung pak Angga


" Iya nak Ken" pak Angga menoleh


Pak Angga tersenyum getir lalu menatap lurus ke depan seraya menghela nafas kasar


" Setiap orang tua pasti akan selalu memikirkan nasib anak-anaknya, terutama nasib anak perempuannya" Sahut pak Angga


" Freya adalah putri bapak satu-satunya, harta yang paling berharga yang bapak miliki nak Ken"


" Bapak hanya ingin Freya mendapatkan yang terbaik dan juga bisa menemukan kebahagiaannya sendiri, bapak tidak pernah mau memaksakan kehendak bapak kepada Freya karena bagi bapak kebahagiaan Freya adalah yang paling penting"


Ken terdiam hanya menyimak dan mendengarkan dengan baik apa yang pak Angga ucapkan


" Memang banyak pemuda desa yang datang meminta putri bapak untuk dijadikan isteri, tapi kebanyakan dari mereka hanyalah pemuda pengangguran yang kesehariannya hanya berfoya-foya dan suka bermain perempuan" Pak Angga membuang napasnya berat


" Mana mungkin bapak memberikan putri bapak kepada orang-orang seperti mereka"


Ken mengerti kekhawatiran dan kecemasan yang pak Angga rasakan terhadap putri satu-satunya itu


" Pemuda yang terbaik di sini ya memang terbilang sedikit dan salah satunya yaitu nak Guntur putra pak Burhan"


" Apa Freya menyukai laki-laki yang bernama Guntur itu pak?" tanya Ken sedikit hati-hati takut pak Angga tersinggung

__ADS_1


Pak Angga menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Ken


" Dulu mereka memang sering bersama, setiap pulang pergi ke sekolah berangkat sama-sama"


" Bapak tidak tahu bagaimana perasaan keduanya tapi yang bapak lihat nak Guntur memang sangat perhatian sama Freya, dia dulu sering datang ke sini tapi semenjak ia lulus kuliah dan meneruskan usaha orang tuanya nak Guntur memang sudah tidak lagi datang, dan bapak pun tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang" tutur pak Angga


" Makanya bapak sangat terkejut saat pak Burhan bilang, Freya sering menghampiri putranya di pasar apalagi mengatakan Freya datang untuk menggodanya"


Ken melihat pak Angga menahan amarahnya terlihat dengan tangan pak Angga yang mengepal di atas meja


" Kenapa pak Angga tidak mencarikan Freya jodoh saja pak, biar pak Burhan tidak menghina bapak dan Freya lagi" ucap Ken


Pak Angga terkekeh " Mencari dimana nak Ken? pemuda di desa ini tidak dapat diharapkan" sahut pak Angga yang sangat tahu karakter pemuda di desa tersebut


" Kenapa tidak dengan Iwan, saya rasa dia itu pemuda yang baik dan juga perhatian kepada Freya" usul Ken


Pak Angga kembali terkekeh " Nak Ken tidak mengenal Iwan, meskipun dia memang anak yang baik dan juga sering membantu bapak tapi anak itu playboy, kerjaannya itu suka godain cewek dan hampir semua gadis di desa ini dia pacari dan cuma Freya yang menolaknya walaupun berkali-kali Iwan menyatakan perasaannya"


Ken tidak lagi banyak komentar karena yang tahu hal terbaik putrinya ya pak Angga sendiri


Saat keduanya tengah asik mengobrol tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk dari luar


" Assalamualaikum" ucap seseorang dari balik pintu


" Wa'alaikum salam" jawab Pak Angga dan Ken bersamaan seraya menoleh ke arah pintu


" Biar Freya saja yang membukakan pintu pak" ucap gadis itu yang tiba-tiba muncul menahan pergerakan pak Angga yang hendak beranjak dari kursinya


Ceklek


Freya berdiri mematung saat melihat tamu yang berada di hadapannya


" Mas Guntur" Freya membeliakkan matanya menatap pria yang ada di hadapannya saat ini, sungguh gadis itu tidak percaya sudah lama pria itu absen datang ke rumahnya namun tiba-tiba saja pria itu muncul kembali


Pak Angga yang mendengar nama Guntur langsung beranjak dari tempat duduknya sedangkan Ken menatap pak Angga dengan tatapan sulit diartikan


" Nak Guntur"


Freya langsung menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Freya melihat bapaknya sudah berada tepat dibelakangnya


Freya yang sempat diam-diam mendengar pembicaraan bapaknya dan Ken sedikit merasa takut dengan reaksi bapaknya yang melihat kehadiran Guntur di rumahnya


Sementara Ken yang berada di ruang tamu sedikit penasaran dengan laki-laki yang bernama Guntur tersebut.

__ADS_1


__ADS_2