
Freya yang merasa khawatir sejak kedatangan Guntur kini bisa bernapas lega karena ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan pak Angga justru menyambut hangat kedatangan Guntur bahkan ia sendiri yang mempersilahkannya masuk
Walaupun sedikit kesal dengan sikap pak Burhan tapi pak Angga tidak mencampur adukkan sikapnya kepada putranya Guntur, apalagi pemuda itu datang untuk bertamu sebagai tuan rumah yang baik tentu saja ia menyambutnya dengan hangat selama tujuannya baik dan tidak membuat masalah
Pak Angga memperkenalkan Guntur pada Ken yang memang sedari tadi merasa penasaran dengan anak pak Burhan yang digadang-gadang salah satu pria terbaik di desa tersebut
" Guntur" ucap Guntur memperkenalkan diri pada Ken
" Ken" ucap Ken menyambut uluran tangan Guntur
ketiganya kini duduk di ruang tamu sedangkan Freya pergi ke dapur untuk membuatkan minuman
" Apa kabar nak Guntur?" tanya pak Angga membuka obrolan
" Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri bagaimana keadaannya?"
" Ya yang seperti nak Guntur lihat, Alhamdulillah kabar bapak juga baik nak Guntur"
" Syukur Alhamdulillah kalau begitu" ucap seraya Guntur tersenyum
Ken hanya menyimak obrolan dua pria berbeda generasi tersebut tanpa berniat untuk berbaur
" Ada gerangan apa nak Guntur datang ke rumah bapak? rasanya sudah lama sekali nak Guntur tidak pernah datang, sibuk?" tanya pak Angga
Guntur terkekeh kecil" Iya pak, belakangan ini saya memang sedikit sibuk apalagi semenjak mengelola usaha pabrik bapak ditambah lagi dengan usaha saya kecil-kecilan membuka toko sembako di pasar" sahut Guntur
" Wahh... sudah menjadi orang hebat dong ya nak Guntur sekarang, bapak turut bangga mendengarnya" puji pak Angga
" Ah bapak bisa saja, itu belum bisa dibanggakan pak karena apa yang saya peroleh itu bukan dari hasil kerja keras saya dari nol tapi hanya melanjutkan apa yang sudah orang tua saya miliki" jawab Guntur
Ada perasaan bangga dengan sikap Guntur yang bertolak belakang dengan sikap orang tuanya yang arogan dan sombong, pria itu justru selalu rendah hati dan tidak sombong dengan apa yang ia miliki saat ini
" Tetap saja bapak bangga dengan nak Guntur yang bisa mengelola pabrik dan juga toko sembako di pasar"
" Terima kasih pak, saya juga masih tahap belajar" tutur Guntur
" Iya nak Guntur, belajar dengan baik dan sungguh-sungguh semoga kelak usaha nak Guntur membuahkan hasil yang maksimal"
" Amin terimakasih pak atas doanya"
" Iya sama-sama nak Guntur"
Obrolan mereka terjeda saat Freya datang membawa nampan, Freya meletakkan secangkir teh di hadapan Guntur dan juga Ken.
__ADS_1
" Terima kasih Frey, jadi merepotkan" ucap Guntur dengan ramah
" Tidak merepotkan kok mas" ucap Freya yang terdengar sangat indah dan lembut di telinga Guntur
" Silahkan diminum mas!" ucap Freya mempersilahkan Guntur untuk minum
" Di minum ya Frey, pak" izin Guntur dengan sopan
" Ah iya silahkan nak Guntur" ucap pak Angga mempersilahkan Guntur untuk meminum minuman yang sudah Freya buatkan
" Nak Ken silahkan di minum juga tehnya, teh ini buatan putri bapak rasanya berbeda loh dengan teh pada umumnya" ucap pak Angga menyuruh Ken minum
" Ah, Iya pak saya akan meminumnya. jadi penasaran saya pak dengan apa yang bapak bilang" ucap Ken lalu meraih cangkir miliknya
" Iya silahkan nak Ken" ucap pak Angga
" Teh ini sungguh luar biasa, rasanya masih sama seperti yang dulu, selalu saja membuat ketagihan, rasanya yang berbeda dengan teh pada umumnya, selalu membuat orang yang meminumnya merasa rileks dan teringat terus pastinya sama pembuatnya" ucap Guntur yang seketika membuat Freya bersemu merah
" Mas Guntur bisa saja, ini teh herbal yang memang dipilih dari teh pilihan dicampur dengan bahan lainnya" ucap Freya
Ken yang baru menyeruput teh miliknya pun seketika membulatkan matanya sempurna setelah merasakan air teh yang melewati kerongkongannya memiliki cita rasa yang sungguh luar biasa, ia sempat mengira kalau Guntur hanya membual saja tapi yang terjadi dia pun merasakan hal yang sama
" Bagaimana nak Ken?" tanya pak Angga
" Iya pak rasa tehnya sungguh luar biasa, kamu hebat Freya bisa meracik teh seenak ini" puji Ken pada Freya membuat gadis itu justru mengerutkan keningnya dengan sikap Ken yang tidak seperti biasanya dingin dan datar
Ketika mereka tengah asik mengobrol membahas tentang pekerjaan Guntur dan juga perkebunan pak Angga tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan suara yang begitu mengganggu gendang telinga
" Pak Angga keluar kamu, mana putraku Guntur jangan coba-coba kamu merayu putraku!" teriak pak Burhan dengan tidak sopannya bertamu ke rumah orang dengan berteriak-teriak
" Kalau mau sukses itu kerja jangan coba-coba menjadi benalu di keluarga ku, jangan berharap ingin menjadikan anakmu sebagai menantuku" teriaknya lagi membuat tetangga pak Angga merasa penasaran hingga terpancing untuk keluar rumah melihat apa yang terjadi di luar
" Keluar kau Angga, jangan sembunyikan putraku Guntur" teriaknya lagi
" Pak Burhan ada apa pakai teriak-teriak seperti itu menggangu orang saja?" protes salah satu warga yang merasa terganggu dengan teriakan pak Burhan
" Aku tidak peduli dengan kalian, aku hanya ingin pak Angga dan putraku keluar dari rumah jelek ini" sahut pak Burhan dengan arogan
" Ada apa ini?" tanya pak Angga yang sudah berdiri di depan pintu dibelakangnya sudah ada Freya, Guntur dan juga Kendrick
" Guntur kesini kamu!" bentak pak Burhan pada sang putra
" Pah, papah ini apa-apaan sih bertamu ke rumah orang kok pakai teriak-teriak segala, malu pah dilihat orang" ucap Guntur yang merasa malu dengan keluarga Freya dan juga para tetangganya atas sikap arogan sang papah
__ADS_1
" Malu katamu? papah justru yang merasa malu, kenapa kamu malah datang ke sini sedangkan papa sejak tadi menunggu mu pulang di rumah, apa kamu lupa kalau pak Warsa datang ke rumah kita bersama putrinya" geram pak Burhan
" Kamu justru yang sudah membuat papa malu Guntur" bentaknya
" Sudahlah pah, sebaiknya kita pulang aja sekarang" ucap Guntur
" Pulang?" pak Burhan menyeringai
"Papah akan pulang setelah memperingatkan keluarga pak Angga terutama putrinya yang tidak tahu diri itu" ucap pak Burhan
" Cukup pah, jangan seperti ini Guntur mohon pah, sebaiknya kita pulang sekarang" Guntur menarik tangan pak Burhan namun dengan kasar di sentak olehnya
" Diam kamu!" Guntur yang mendapat tatapan tajam dan bentakan dari sang papah langsung terdiam
" Dengarkan aku baik-baik Anggara, aku peringatkan kamu sekali lagi untuk menjaga putrimu itu agar tidak menggoda dan merayu putraku lagi, jika memang tidak ada laki-laki yang baik untuknya nikahkan saja putramu dengan laki-laki yang mau dengannya jangan sok jual mahal, syukur-syukur masih ada laki-laki yang mau dengan cewek jelek, culun dan miskin sepertinya"
Pak Angga mengepalkan tangannya kuat menahan amarahnya mendengar hinaan demi hinaan yang pak Burhan lontarkan kepada putrinya
Sementara Freya hanya bisa menitikkan air matanya mendengar hinaan dan sikap pak Burhan yang selalu merendahkannya
" Pak Burhan jangan keterlaluan kamu!" marah pak Angga
" Kenapa kau marah Angga, memang itu kan kenyataannya, kau pasti menyuruh putrimu yang kampungan itu untuk merayu putraku, jangan harap putraku bisa berhasil kau hasut Angga" cerca nya lagi
" Kau benar-benar tidak punya hati Burhan"
Burhan tertawa meremehkan " Aku tidak punya hati dan kau tidak punya malu Angga, menjadikan putrimu untuk meraup kekayaan ku, sungguh munafik kau Angga"
" Cukup Burhan, putriku tidak menyukai putramu dan putramu sendiri yang datang ke rumah ini, jadi mana mungkin putriku dikatakan menggoda putramu" teriak Angga geram ada Burhan
" Yakin jika putrimu tidak menyukai putraku?" tanya Pak Burhan meremehkan
" Tanyakan pada putrimu sendiri Angga, apa benar dia tidak menyukai putraku Guntur?"
Pak Angga terdiam lalu dengan perlahan tatapannya sudah beralih pada Freya yang tengah menundukkan wajahnya
" Freya!" panggil pak Angga dengan suara pelan
Freya mendongak dan menatap pak Angga dengan degup jantung yang tidak beraturan
" Freya, apa kamu menyukai nak Guntur ?"
Deg
__ADS_1
Freya membola, degup jantungnya semakin tidak terkendali, dadanya terasa sesak saat dihadapkan dengan situasi yang tidak menguntungkan
Freya terdiam seraya meremas jari jemarinya membuat pak Angga dapat menyimpulkan jawaban putrinya sendiri.