
Sepanjang perjalanan pulang dari restoran ke kantor, Lesta dan Aldo mengobrol di dalam mobil.
"Anis kerja dimana sih Les ?" tanya Aldo sambil mengemudi.
"Kerja di CT group. Sekretaris juga di sana. Karena kita kuliahnya kan memang jurusan Administrasi Perkantoran" ucap Lesta.
CT group ? Itu kan kantornya Rifa.
Batin Aldo.
"Entar pulang, elo bareng gue aja Les. Sekalian gue mau ketemu sama Anis. Mau jelasin masalah kita dulu" ucap Aldo.
"Do, sorry. Gue enggak bisa bantu elo lebih lanjut kayaknya. Anis belum mau ketemu sama elo lagi. Sampai-sampai dia bilang kalau gue bahas tentang elo lagi dia bakal marah sama gue. Kayaknya dia butuh waktu deh buat nerima kehadiran elo lagi. Mungkin bisa dibilang dia masih shock lah dengan kemunculan elo kemarin" ucap Lesta.
Aldo terdiam.
"Yang emang salah gue sih, gue menghilang begitu saja tanpa ngabarin dia. Tapi kalau dia enggak mau dengar penjelasan gue, gimana dia bisa tahu keadaan yang sebenarnya" ucap Aldo.
Lesta hanya diam menanggapi ucapan Aldo.
"Sekarang Anis sudah punya pacar belum Les ?" tanya Aldo.
"Belum. Kalau waktu kuliah sih ada tapi udah diputusin si Anis, karena cowoknya selingkuh. Kalau sekarang dia masih sama kayak gue. Ikut organisasi ijo tomat" ucap Lesta.
"Ijo tomat ? Apa itu ?" tanya Aldo.
"Ikatan Jomblo Terhormat" ucap Lesta dengan pedenya.
Aldo tertawa mendengarnya.
"Sekarang kamu pending dulu aja ya Do niat kamu buat ketemu Anis dalam waktu dekat. Dia masih dalam suasana hati yang emosional banget. Kalau sudah agak adem baru elo mulai pendekatan lagi sama dia" ucap Lesta
Aldo hanya diam mendengar ucapan Lesta. Pikirannya menerawang.
***************
Keesokan paginya, Aldo sudah nangkring di meja Lesta. Dia membawa sebuket bunga, sekotak coklat dan sebuah kantong plastik yang berisi makanan ringan.
"Pagi, Lesta" ucap Aldo.
"Eh, Pak Aldo. Pagi juga" ucap Lesta.
Gue mesti panggil Pak Aldo lah kalau dikantor. Enggak enak di dengar yang lain.
Batin Lesta.
"Les, titip buat Anis ya" ucap Aldo sambil nyerahin buket bunga dan kotak coklatnya.
"Do, gue kan udah bilang. Dia aja enggak bolehin gue bahas soal elo lagi di depannya. Ini elo malah nitip yang beginian. Gue enggak janji ya kalau ini semua dibuang sama Anis" ucap Lesta.
"Gue enggak peduli Les. Ini mau di buang atau diterima sama Anis. Malah gue bakal nyesel kalau enggak lakuin ini. Setidaknya gue sudah mencoba" ucap Aldo.
"Uluhh.. Gue jadi terharu melihat kisah cinta kalian" ucap Lesta menggoda Aldo.
Aldo tertawa.
__ADS_1
Lesta lalu mengambil buket bunga dan kotak coklat dari tangan Aldo.
"Ya, udah mana sogokkan buat gue ?" ucap Lesta.
"Ini udah beliin juga buat elo coklat sama snack yang lain" ucap Aldo memberikan satu kantong plastik yang berisi makanan ringan tersebut.
Sindi dan Nana yang melihat dari jauh sempat berbisik-bisik melihat Aldo meyerahkan buket bunga dan coklat tersebut.
Ya, siapapun pasti akan salah sangka saat melihat ada seorang pria memberikan sekotak coklat dan bunga kepada perempuan dihadapannya.
Sindi dan Nana mulai berspekulasi sendiri. Jiwa ghibah mereka mulai meronta-ronta.
Tiba-tiba sebuah derap langkah kaki terdengar. Rey datang membawa laporan untuk di laporkan kepada Pak Marta.
Tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat ingin memasuki ruangan Presdir. Dia berbelok menghampiri meja Lesta.
"Elo enggak kerja Do ?" ucap Rey yang cukup dengan pertanyaannya itu membuat suasana menjadi kaku dan tegang.
"Iya, ini mau kerja. Tadi ada urusan bentar sama Lesta" ucap Aldo.
Rey melirik Lesta. Dia melihat Lesta yang masih memegang buket bunga dan kotak coklat ditangannya.
"Urusan ? Urusan 'pribadi' maksud elo?" tanya Rey yang sengaja menekankan kata pribadi pada pengucapannya dengan sorot mata yang tajam.
Aldo yang tadinya mau menjawab yang sebenarnya akhirnya memilih untuk menggoda Rey. Dia tahu betul alasan Rey marah-marah tidak jelas kepadanya pagi ini.
Gue pingin lihat sejauh mana reaksi elo, Rey.
Batin Aldo.
"Ah, elo Rey. Kayak enggak tahu kelakuan anak muda aja. Dah, gue balik ke ruangan gue dulu ya" ucap Aldo.
Rey terkejut mendengar ucapan Aldo.
Belum selesai sampai disitu Aldo yang tadinya sudah melangkahkan kakinya, berbalik dan berteriak kecil pada Rey.
"Gue lupa, thanks ya buat traktiran kemarin !" ucap Aldo seraya tersenyum lebar. Aldo lalu kembali melangkah menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
Rey yang tahu kalo Aldo sedang mengoloknya merasa kesal.
"Shit !" Rey mengumpat.
Rey lalu memilih masuk ke dalam ruangan Presdir.
Sedangkan Lesta hanya bengong melihat kejadian barusan.
Dasar preman pasar. Gaje !
Batin Lesta.
*Gaje \= Enggak Jelas.
************
Jam telah menunjukkan pukul 17:30 Sore. Lesta turun dari ojek online dan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Sepertinya Anis sudah pulang.
Batin Lesta.
Lesta yang melihat pagar yang tidak digembok lagi, tahu betul kalau Anis sudah lebih dahulu pulang dari kantor.
"Baru sampai Nis ?" tanya Lesta yang langsung duduk di sebelah Anis di sofa. Anis tampak baru saja pulang karena masih mengenakan pakaian kerja dan belum menggantinya. Dia malah lebih memilih duduk sambil menonton televisi.
"Iya Les. Belum lama lah" ucap Anis.
Anis lalu melirik Pada buket bunga dan sekotak coklat yang dipegang oleh Lesta.
"Ceile.. Yang dapat bunga dan coklat. Dari siapa Les ? Pacar elo ? Kok elo enggak cerita-cerita kalau elo punya pacar" ucap Anis dengan wajah yang manyun.
"Dari siapa sih ?" tanya Anis lagi sambil tersenyum menggoda Lesta.
"Dari Aldo" ucap Lesta.
Anis langsung terdiam. Senyumnya yang mengembang tadi langsung pupus seketika. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak.
"Al.. Aldo ? Kalian Pacaran ?" ucap Anis dengan suara terbata.
Lesta tersenyum.
"Ya, enggaklah" ucap Lesta.
Seketika Anis bisa bernafas lega mendengar ucapan Lesta barusan.
"Ini semua buat elo. Dia yang kasih" ucap Lesta menyerahkan buket dan kotak coklat itu ke tangan Anis.
"Gue enggak mau !" ucap Anis sambil melemparkan buket bunga dan kotak coklat tersebut ke atas meja.
Lesta menggelengkan kepalanya.
"Dasar elo keras kepala banget sih. Tadinya gue juga sudah bilang sama Aldo, kalau percuma kasih ginian ke elo. Toh, bakal dibuang juga sama elo. Tapi, mau tahu dia bilang apa ?" tanya Lesta.
Anis diam saja tidak menjawab pertanyaan Lesta.
"Dia bilang terserah elo mau buang atau enggak bunga sama coklat itu, setidaknya dia sudah mencoba. Bakal lebih menyesal lagi kalau dia enggak melakukan ini" ucap Lesta.
"Udah ah, gue mau mandi. Yang jelas amanah udah gue sampein" ucap Lesta yang sudah beranjak dari duduknya. Dia sudah melangkah ke kamarnya.
Sedangkan Anis masih duduk di atas sofa mencerna setiap ucapan yang Lesta lontarkan.
Dia masih inget gue suka dengan mawar merah dan coklat putih. Duh, gue jadi galau nih sekarang. Tapi juga enggak mudah bagi gue buat maafin dia. Kalau inget hal pahit yang harus gue jalanin dulu. Susah payah gue lupain elo Do. Kenapa elo harus muncul lagi sekarang.
Batin Anis.
Anis merasa bimbang sekarang. Saat seperti ini ingin rasanya dia berada di dekat mamanya untuk berkeluh kesah.
Emakkkkk.. anakmu udah dewasa sekarang. Dulu lukanya di kaki, sekarang lukanya di hati. Hiks.
Batin Anis.
# Minta jempolnya dongggggg ! vote dan komennya juga ditunggu ya.. 🙏🏼 semangatin author ya, biar dapet vitamin cinta dari kalian.. *Eh 🤭
__ADS_1