Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Saingan


__ADS_3

Seperti biasa, Pagi ini Rey sudah menjemput Lesta di rumahnya untuk mengajak Lesta berangkat ke kantor secara bersama.


Dan lagi-lagi mereka harus berpisah kembali, ketika mobil telah memasuki parkiran basement.


"Sayang, aku turun duluan ya" ucap Lesta.


"Tunggu dulu !" ucap Rey.


"Kenapa ?" tanya Lesta.


Rey mengusap puncak kepala Lesta dan mencium keningnya Lesta.


"Sudah, turun sana !" ucap Rey.


"Dasar genit ! Sampai ketemu diruang rapat, sayang" ucap Lesta.


Rey tidak menjawab. Hanya tersenyum mendengar ucapan lesta.


**********


Lesta yang baru saja sampai di meja kerjanya, segera menghidupkan komputernya dan mulai membuka tablet untuk melihat jadwal meeting Pak Marta.


Hari ini memang ada meeting di lantai atas mengenai proyek pembangunan pusat perbelanjaan senilai 150 M. Dan kali ini yang menjadi relasi bisnis MD Group adalah Perusahaan Karya Group.


Lesta yang sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk meeting segera menjemput Pak Marta ke ruangannya.


"Dengan Perusahaan Karya Group ya Les, Kita bakal meeting pagi ini ?" tanya Pak Marta sambil berjalan menuju lift. Diikuti oleh Pak Yudi dan juga Lesta.


"Iya, Pak" ucap Lesta yang berjalan di sebelahnya.


Merekapun memasuki lift. Selama di lift, Pak Marta memang suka mengajak ngobrol. Mungkin untuk menghilangkan kecanggungan saat berada di dalam lift.


"Karya Group itu, yang punya sahabat dekat saya. Kita berteman dari dulu, berjuang dari nol banget. Dan sekarang, dia ngebet mau jodohin anaknya sama anak saya. Dia bilang, biar persahabatan tidak putus dan tetap terjalin begitu" ucap Pak Marta.


Deg !


"Anak Pak Marta ? Anak Yang mana ya Pak yang mau di jodohin. Bapak kan punya dua anak" ucap Lesta yang awalnya kaget mendengar ucapan Pak Marta.


Semoga bukan Rey.


Batin Lesta.


"Anaknya bilang dia pernah bertemu dengan kedua anak saya di Golden Club. Tapi, dia sukanya sama Rey katanya" ucap Pak Marta.


Jleb !


Kenapa enggak suka sama Tedy aja sih. Kalau begini kan, aku jadinya minder mesti saingan sama anak konglomerat.


Batin Lesta.


"Entah kenapa dia memilih Rey, padahal dia sendiri, juga sudah pernah melihat Tedy yang tabiatnya jauh lebih baik dari Rey. Tetapi, mungkin Rey punya pesonanya sendiri" ucap Pak Marta sambil tertawa.


Sedangkan Lesta hanya tersenyum terpaksa dan dibuat-buat menanggapi ucapan Pak Marta. Pikirannya masih melayang-layang tentang anak pemilik perusahaan yang akan dijodohkan dengan Rey.


Positif thingking aja. Semoga yang dijodohkan sama Rey nanti, anaknya jelek, enggak ada ahlak, genit dan enggak pinter-pinter amat. Jadi aku bisa tenang. Ya, ampun doa aku jahat banget.


Batin Lesta.


"Jadi bapak menyetujui usulan dari teman Pak Marta ?" tanya Lesta penasaran.


Pak Marta tertawa.


Lesta mengernyit kebingungan.


"Siapa yang bisa memaksa Rey ? Anak itu... Apa yang dia inginkan, pasti dia kejar sampai mendapatkannya. Begitu juga kalau dia sudah tidak menyukai sesuatu. Walaupun berbagai cara saya lakukan, tetap tidak mengubah keyakinannya, untuk tidak menyukai hal tersebut" ucap Pak Marta.


Pak Marta menghela nafas.


"Semua sih saya serahkan ke Rey saja. Bagaimana keputusannya tentang perjodohan ini. Toh, kalau saya bersikeras juga tidak akan mengubah apapun kan ?" ucap Pak Marta.


Lesta mengangguk.


*************


Setelah pintu lift terbuka, Pak Marta, Lesta dan Pak Yudi memasuki ruangan rapat.


Seperti biasa, semua sudah duduk manis di kursi mereka masing-masing. Rey juga sudah duduk di kursi kebesarannya. Dia tersenyum sekilas, saat mata Lesta dan matanya bertemu. Dan sekarang mereka tinggal menunggu staff dan perwakilan dari Karya Group untuk dapat memulai meeting.


Hanya selang 5 menit, dari Pak Marta memasuki ruangan rapat. Perwakilan dari Karya Group pun tiba.


Lesta yang sangat penasaran dengan anak dari Presdir Karya Group yang akan di jodohkan dengan Rey, berdiri sambil mencondongkan badannya agar dapat melihat dengan jelas wajah perempuan itu.


Seorang perempuan yang berjalan di depan, di ikuti dengan staff yang lainnya mulai melangkah mendekati Pak Marta.


Dia langsung menyalami Pak Marta, sebelum duduk di kursinya.


Oke, anggap saja ahlaknya bagus. Begitu datang langsung salaman sama Pak Marta. Mari kita lihat wajahnya.


Batin Lesta.


Lesta memandangi wajah perempuan itu lekat. Rambut yang terurai panjang, hidung yang mancung dan muka yang tirus persis seperti artis yang sering muncul di televisi. Di tambah lagi pakaian kerja yang di kenakannya terkean elegan. Dan tambahan nilai plus yang membuatnya semakin terlihat menawan yaitu ukuran dadanya yang termasuk besar.


Lesta yang memandangi pakaian dan dadanya sendiri, merasa minder membandingkan dirinya dengan perempuan itu.

__ADS_1


Ini sih kalah telak namanya.


Batin Lesta.


Lesta yang melihat ekspresi Rey yang terlihat biasa saja dan acuh tak acuh saat memandang perempuan itu membuat Lesta merasa lega untuk sementara waktu.


Rey mulai memimpin rapat, dia menjelaskan secara rinci apa yang terpampang di layar proyektor. Selama rapat, perempuan yang di daulat sebagai perwakilan dari Karya Group tak henti-hentinya tersenyum sambil menatap Rey dengan terpesona.


Rapat yang berlangsung selama satu jam tiga puluh menit tersebut, akhirnya berakhir.


Setelah selesai rapat, para staff baik dari MD Group dan Karya Group bubar. Ruangan yang sudah sepi dari para pegawai membuat perempuan tadi mendekat.


"Om Marta, sudah lama tidak bertemu ?" ucap perempuan itu yang sudah berdiri di sebelah Pak Marta.


"Betul. Kalau tidak salah sebelum kamu berangkat kuliah ke luar negeri ya Nia, kita bertemu terakhir kali ?" ucap Pak marta.


Nia mengangguk.


"Ini pasti Rey, anak Pak Marta yang sering di ceritakan oleh papa" ucap Nia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rey.


Rey menerima uluran tangan Nia untuk berjabat tangan dan segera melepasnya.


"Kita pernah berpapasan beberapa kali di golden club Rey. Dan terakhir kali aku menyapamu. Apa kamu masih ingat Rey ?" tanya Nia.


Rey tampak berpikir mencoba mengingat sesuatu.


"Maaf, aku tidak ingat" ucap Rey.


Raut wajah Nia tampak kecewa.


"Kalau begitu apa boleh kita mengobrol di ruanganmu ? Ada beberapa hal yang belum aku mengerti mengenai kontrak kerja sama kita tadi" ucap Nia.


Rey mengernyit.


"Belum ada yang di mengerti ? Kenapa tidak bertanya di ruang meeting tadi ?" ucap Rey.


Nia hanya tersenyum.


"Sudah, ajak ke ruanganmu saja Nia sekarang. Mungkin dia malu kalau bertanya disini" ucap Pak Marta.


Rey melirik Lesta sekilas.


"Baiklah. Ayo, ke ruanganku sekarang" ucap Rey pada Nia.


Sedangkan Lesta dan Pak Marta kembali ke ruangan mereka.


***********


Di dalam ruangan Rey.


"Hmm.." ucap Rey.


"Bagian mana yang belum anda pahami mengenai kontrak, Nona Nia ?" ucap Rey to the point.


Nia terlihat agak kecewa dengan respon yang diberikan Rey.


Drttttt...


Tiba-tiba ponsel Rey berdering. Sebuah pesan whatsapp masuk ke dalam ponselnya.


Nia melirik layar ponsel Rey yang menyala. wallpaper ponsel Rey yang memajang foto Rey dan Lesta sedang foto bersama membuat Nia tampak terkejut. Belum lagi Rey yang membuka pesan whatsapp tersebut, tersenyum sendiri saat membaca pesan tersebut.


Jangan genit, berudaan aja di dalam sama cewek seksi !


#Pesan yang dikirim Lesta.


Rey tersenyum membacanya. Dia membalas pesan yang dikirim Lesta.


Cemburu ya sayang ?


#Pesan balasan Rey.


Rey kembali menaruh ponselnya di atas meja.


"Jadi yang mana yang belum anda pahami mengenai kontrak kerja sama kita, Nona Nia ?" ucap Rey.


"Apa, Papamu tidak memberitahumu sebelumnya ?" tanya Nia pada Rey.


Rey mengernyit. Menaikkan salah satu alisnya. Sebagai respon untuk meminta penjelasan lebih lanjut.


"Orang tua kita berencana menjodohkan kita berdua" ucap Nia.


Rey terkejut mendengarnya.


"Aku sudah punya pacar" ucap Rey.


"Siapa ? Sekretaris Papamu tadi maksudmu ?" tanya Nia.


Rey kaget mendengar ucapan Nia yang mengetahui kalau Lesta adalah kekasihnya.


"Pasti kamu kaget aku mengetahuinya dari mana. Aku melihat sekilas layar ponselmu tadi. Kamu memasang wallpaper foto kalian berdua. Aku sudah mencari tahu tentangmu Rey sebelumnya. Aku tahu kamu tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang wanita. Di saat kamu memutuskan sekretaris itu karena sudah bosan, aku ingin kamu mencoba menjalin hubungan denganku. Sebisa mungkin aku akan mencoba menjadi kekasih yang pengertian bagimu. Apalagi orang tua kita, sangat mendukung hubungan kita apabila kita menjadi kekasih" ucap Nia.


"Cih !" Rey mendengus.

__ADS_1


"Darimana kamu tahu kalau aku tidak serius dengan Tari !" ucap Rey.


Oh, jadi nama sekretaris itu Tari.


Batin Nia.


"Selamanya Tari akan menjadi kekasihku. Aku tidak berniat menggantinya dengan yang lain. Apalagi dengan dirimu !" ucap Rey.


Nia merasa harga dirinya terinjak. Dia berdiri dari duduknya sekarang.


"Aku penasaran apa Pak Marta tahu hubungan asmara kalian di kantor ini !" ucap Nia.


"Itu bukan urusanmu !" ucap Rey.


Nia lalu beranjak pergi dari ruangan Rey. Dia bergegas turun ke lantai bawah, menuju ruangan Pak Marta.


Sebelum masuk ke ruangan Pak Marta, Nia melihat Lesta yang sedang sibuk mengetik laporan. Nia mendatangi meja Lesta.


"Jadi kamu sekretaris yang berpacaran dengan Rey ?" ucap Nia.


Jleb !


Lesta kaget mendengarnya. Bahkan Nana, Sindi dan Bu Christine yang mejanya tidak jauh dari meja Lesta juga ikut terkejut mendengarnya.


Kenapa Nona Nia bisa tahu ? Memangnya apa yang sudah dikatakan Rey ?


Batin Lesta.


"Maaf, saya enggak mengerti apa maksud ucapan Bu Nia" ucap Lesta mengelak.


"Sudah, jangan bohong deh kamu sama saya. Hebat banget ya kamu. Sekretaris sekaligus penggoda seorang Direktur" ucap Nia.


"Mungkin anda salah orang" ucap Lesta enggak mau ribet.


"Enggak ! Aku enggak salah orang. Jelas-jelas Rey sendiri bilang kalau kamu itu keaksihnya dia" ucap Nia.


"Jangan bangga dulu kamu. Kamu itu cuma mainan bagi Rey. Dia enggak pernah serius sama yang namanya cewek. Rey itu sudah di jodohin sama saya" ucap Nia.


Lesta melihat sekeliling. Terlihat sekali raut-raut wajah shock dari Sindi, Nana dan Bu Christine.


Aku cabut kata-kataku yang bilang ahlaknya bagus. Kalau modelan begini sih beneran enggak ada ahlak. Ngomongnya enggak pakai mikir lagi kayaknya. Kalau saja ukuran otaknya, setengah dari dadanya.


Batin Lesta.


"Maaf saya banyak kerjaan yang harus diselesaikan Bu Nia" ucap Lesta yang melanjutkan pekerjaannya membuat laporan.


Karena merasa tidak di hiraukan. Emosi Bu Nia semakin menjadi-jadi. Dia lalu menjambak rambut Lesta dengan kesalnya.


"Aw....!" Lesta berteriak kesakitan.


Oke, sudah main fisik ya sekarang. Awas, Aku bales kamu ! Memangnya ini Indosiar, kamu main jambak, akunya diam aja !


Batin Lesta.


Lesta lalu berdiri dari duduknya dan membalas menjambak rambut Nia. Mereka bertarung sengit. Jangan ditanya siapa yang menang. Sudah jelas Lesta yang sudah terbiasa dengan kehidupan keras sebagai anak rantau memenangkan duel maut ini.


Semua yang ada diruangan itu ikut melerai. Office Boy dan satpampun ikut turun tangan. Rey yang baru saja tiba karena di telepon oleh Nana juga ikut melerai perkelahian mereka.


Tiba-tiba pintu ruangan Pak Marta terbuka.


"Ada apa ini ribut-ribut ?" teriak Pak Marta.


Semua mata tertuju pada Pak Marta.


Nia yang merasa dekat dengan Pak Marta berlari ke arah Pak Marta seakan meminta pertolongan.


"Jelaskan ada apa ini ?" ucap Pak Marta.


Semua terdiam. Sampai selang beberapa detik, akhirnya Sindi memberanikan diri untuk berbicara.


"Bu Nia bilang kalau Pak Rey dan Lesta berpacaran Pak !" ucap Sindi yang terkenal sebagai Ratu Ghibah di kantor itu membuat pernyataan yang mengejutkan.


Pak Marta tampak terkejut mendengarnya.


Dasar Sindi ! Pakai acara di perjelas lagi. Bukannya bantuin, malah nambahin masalah. Dasar temen luknut !


Batin Lesta.


"Iya, Om. Rey sendiri kok yang bilang dia berpacaran dengan sekretaris Oom" ucap Nia.


Terlihat raut wajah penuh kemenangan di wajah Nia. Dia senang Pak Marta mengetahui hubungan asmara antara anaknya dan sekretarisnya di kantor itu. Matanya menatap tajam ke Lesta. Seolah menyindir Lesta.


Dih, bangga banget dia. Ngerasa Pak Marta memihaknya. Apalagi matanya itu, kayak mau maling ayam. Pingin gue tabok, sumpah !


Batin Lesta.


Keadaan tiba-tiba menjadi hening. Apalgi Lesta yang merasa sangat tegang karena takut Pak Marta akan marah padanya karena telah berpacaran dengan anaknya.


Namun, tiba-tiba tawa Pak Marta pecah. Dia tertawa sejadi-jadinya.


"Rey... Rey.. ! Papa sudah duga kalau kamu tidak menyetujui perjodohan ini. Tapi, kamu jangan pakai alasan yang tidak masuk akal juga dong. Masa' bilang kamu berpacaran dengan Lesta ? Siapa yang bakal percaya, kalau Lesta mau berpacaran dengan kamu ? Orang yang selalu membuatnya kesal dan merasa terganggu !" ucap Pak Marta yang masih saja tidak berhenti tertawa diikuti tawa pegawai yang lainnya.


Lesta merasa lega mendengar ucapan Pak Marta yang tidak percaya dengan ucapan Nia barusan.

__ADS_1


Keadaan semakin ramai oleh tawa riuh Pak Marta dan para pegawai yang berada di sana. Kecuali satu orang yang tidak ikut tertawa. Rey merasa kesal mendengar ucapan papanya barusan.


# Jempolnya dongggg ! Like, vote dan komentarnya ya... Terima kasih buat yang rajin komen dan rajin vote.. Kamu luar biasaaa.. 😘


__ADS_2