
"Lisa, berhenti memelukku. Ada pacarku disini" ucap Rey, sambil melepaskan tangan Lisa dari pinggangnya.
"Jadi kalau pacar kak Rey enggak ada di sini, aku boleh peluk gitu" ucap Lisa.
Dih !
Batin Lesta.
Lesta melotot mendengarnya.
"Tunggu dulu.. Apa ? Pacar ?" ucap Lisa tak percaya. Dia memandangi Lesta yang berdiri di samping Rey dari atas hingga bawah.
Dia mulai mengamati baju diskonan yang Lesta pakai, celana jeans yang Lesta beli di tanah abang dan sepatu slip on yang Lesta beli saat promo flash sale di salah satu akun jual beli online.
Dari semua mantan kak Rey dia yang penampilannya paling biasa-biasa aja.
Batin Lisa.
"Benar kata Rey, Lisa. Mulai sekarang jangan main peluk sama Rey. Nanti orang yang lihat jadi salah paham" ucap Pak Marta.
"Lesta, ini Lisa sepupunya Rey. Dia anak dari adik Ibunya Rey. Dia memang agak pecicilan anaknya" sambung Pak Marta.
Oooh... aman !
Batin Lesta.
Sepertinya Pak Marta dan Bu Marta tau, kalau tipe-tipe kayak Lisa ini suka bikin rusuh orangnya. Jadi mereka buru-buru menjelaskan sifat Lisa pada Lesta.
"Salam kenal Lisa !" ucap Lesta mengulurkan tangannya.
Lisa menatap Lesta yang sedang mengulurkan tangan dihadapannya. Entah apa yang dipikirkannya sampai lama menerima uluran tangan Lesta.
"Lisa, kenapa melamun. Kamu enggak melihat Lesta menyapamu" ucap Bu Marta menyindir Lisa secara halus.
Lisa yang tersadar dari lamunannya segera menjabat uluran tangan Lesta.
"Lisa" ucapnya.
"Mereka ini sangat dekat dari kecil. Sudah seperti kakak dan adik sendiri. Mungkin karena Rey sendiri tidak punya saudara perempuan di rumah ini. Lisa juga sudah biasa keluar masuk di rumah ini. Tapi inget Lisa, sekarang Rey sudah mempunyai kekasih. Jadi jangan lagi bersikap manja kepada Rey. Nanti Lesta bisa salah paham" ucap Pak Rey.
Lagi-lagi Lisa menoleh pada Lesta. Tapi kali ini tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. Ada kilatan di kedua matanya.
Apa sih maksudnya melihat aku kayak gitu. Pingin aku cocol nih matanya.
Batin Lesta.
"Oh, iya. Aku bawa oleh-oleh buat om dan tante" ucap Lisa.
"Oh, ya ? Makasih loh Lisa. Jadi bagaimana dengan kuliahmu ? Apa sudah selesai ?" tanya Bu Marta.
"Sudah tante. Makanya aku balik ke sini. Om, senin nanti aku boleh magang kan di kantor Oom. Papa ingin aku magang bekerja dulu sebelum aku bekerja di perusahaannya" ucap Lisa.
"Kenapa enggak magang di perusahaan papamu sendiri saja ?" tanya Pak Marta.
"Enggak mau, Om. Kalau magang di sana aku pasti bakal canggung. Jadi, aku magang di kantor oom aja ya" ucap Lisa.
Pak Marta mengangguk sebagai tanda menyetujuinya.
"Yeahhh ! Makasih Om. Kalau begitu aku mau memilih sendiri dimana aku akan magang nanti" ucap Lisa.
__ADS_1
"Aku ingin magang di divisi yang sama dengan kak Lesta" ucap Lisa.
Duarrr !
Apa yang sedang gadis ini rencanakan.
Batin Lesta.
************
Rey mengantar Lesta untuk pulang.
"Sayang, beneran itu sepupu kamu ?" tanya Lesta yang masih penasaran.
"Hmm.." jawab Rey yang foukus mengemudikan mobilnya.
"Kamu dan dia dekat banget ya kayaknya" ucap Lesta.
"Bawel banget sih dari tadi !" ucap Rey sambil mencubit hidungnya Lesta.
"Dengar ya sayang. Aku memang dekat dengan Lisa. Karena kita sepupuan dan rumahnya deketan dengan rumahku. Kita memang tumbuh dan besar bersama. Bahkan sebelum Tedy masuk ke dalam keluargaku. Tapi sekarang bagiku, orang yang paling dekat denganku adalah kamu" ucap Rey yang tangannya sekarang sudah beralih memegangi pipi Lesta. Kini satu kecupan sudah mendarat mulus di pipi cantiknya.
*****************
Senin.
Setelah selesai menghabiskan akhir pekan di hari libur. Sudah saatnya, Lesta dan para pejuang rupiah lainnya kembali ke runtinitas seperti biasanya.
Rey yang sudah menjemput Lesta di rumahnya untuk mengajak berangkat bareng ke kantor, akhirnya harus menunggu beberapa menit karena Lesta masih sibuk di dalam menyiapkan bekal makanan.
Tak lama kemudian, Lesta keluar dari dalam rumah sambil membawa kantong plastik yang berukuran sedang. Kemudian Lesta dan Rey naik ke dalam mobil bersiap berangkat menuju MD Group.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Akhirnya mereka tiba di kantor. Rey memarkirkan kendaraannya di parkiran basement. Walaupun sebenarnya di halaman depan sudah ada parkiran khusus untuk Direksi, tetapi karena tidak ingin terlalu mengumbar hubungan percintaan mereka di kantor, Rey lebih memilih memarkirkan kendaraannya di sana. Yang tidak begitu terlihat ramai oleh lalu lalang pegawai yang keluar masuk kantor.
"Sayang, gimana perutmu setelah ke dokter kemarin ?" tanya Lesta.
"Sudah agak mendingan setelah di kasih obat sama Dokter" ucap Rey.
"Maaf sayang, aku enggak tahu kalau kamu enggak kuat makan pedas. Aku malah memberimu seblak. Jadinya kamu harus ke dokter deh karena radang usus" ucap Lesta.
"Aku juga suka makan pedas. Tapi makanan yang kamu kasih kemarin tingkat pedasnya sudah enggak bisa di tolerir lagi sama ususku" ucap Rey.
foto : Rey.
"Jangan lagi kamu makan makanan itu, sayang. Bisa-bisa kamu kena radang juga" ucap Rey.
"Kalau perutku sudah kebal sayang. Iya deh, nanti akan aku kurangi aja mengkonsumsinya" ucap Lesta.
"Ini ada smoothie banana buat kamu. Aku baca di mbah google, katanya pisang baik buat nyembuhin radang usus" ucap Lesta.
Rey menerima botol minuman yang berisi smoothie banana tersebut.
"Makasih ya" ucap Rey sambil mengusel-usel puncak kepala Lesta.
"Ayo, turun !" sambung Rey.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba, Lesta menahan tangan Rey.
"Tunggu dulu sayang. Ponselku tadi kemana ya" ucap Lesta sambil meraba-raba kantong bajunya.
"Bukannya tadi masih ada, sewaktu kamu setelponan sama mama kamu di mobil ini tadi" ucap Rey.
"Iya, tapi sudah itu aku lupa letakkinnya dimana" ucap Lesta.
"Tolong telponin ponselku, yang. Biar kedengeran ada dimana" ucap Lesta.
Rey mengambil ponselnya dan mulai menelepon ponsel Lesta.
Drttttt... drttt..
Ternyata Lesta meletakkan ponselnya di bawah laci kecil yang berada double din monitor mobil Rey. Suara ponsel Lesta memang dalam mode getar doang tanpa nada dering.
Cepat-cepat Rey mengambilnya untuk memberikan ponsel tersebut kepada Lesta yang masih sibuk sedari tadi membongkar tasnya untuk mencari ponsel.
Rey melirik nama panggilan yang dibuat Lesta di ponselnya.
"Preman pasar ?" ucap Rey mengernyit.
Mata Rey menatap tajam pada Lesta. Raut wajahnya terlihat kesal.
Lesta yang mendengar Rey menyebut kata 'Preman Pasar' reflek menoleh ke asal suara.
Mata Rey sudah tidak bisa dikondisikan. Sepertinya dia marah besar.
Gawat aku lupa mengubah nama panggilannya di layar ponsel.
Batin Lesta.
"Sayang, kamu jangan marah ya. Aku bisa jelasin itu. Aku hanya belum sempat mengubahnya" ucap Lesta.
"Jadi kamu benar-benar memanggilku dengan sebutan itu ya ?" ucap Rey masih dengan raut wajah yang kesal. Bertambah kesal malah, saat Lesta bilang belum sempat mengubahnya.
"Aku ganti sekarang ya.. ya.." ucap Lesta membujuk Rey.
Lesta mulai mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Sudah !" ucap Lesta.
Rey masih saja kesal dan membuang muka.
"Sayang, kamu enggak penasaran namamu aku buat apa sekarang ?" ucap Lesta.
Rey diam saja. Dia masih ngambek sepertinya.
"Ya, sudah kalau begitu aku ganti lagi" ucap Lesta.
"Sini, aku lihat !" ucap Rey.
Rey langsung merebut ponsel tersebut dari tangan Lesta.
Dia menatap layar ponsel Lesta dan tersenyum membaca nama yang tertera disana.
*Oppa Kesayanganku*
# Jempolllllnya dong 🤗 Jangan lupa komen dan vote yang banyak ya 😁 Dari sinopsisnya kan aku sudah bilang kalau cerita ini agak ringan dan enggak ada pelakornya. Tapi memang sepupunya Rey ini agak resek nantinya. Tapi enggak bakal lama kok, bakal kita hempaskan dari sini. Tapi nanti ketika mau mendekati ending aku bakal kasih konflik dikit ya buat Lesta dan Anis. Enggak parah-parah amat kok pastinya. Baca terus kisahnya dan nantikan terus bab selanjutnya ya... Aku padamuuuu 😘
__ADS_1