Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Apa Maumu ?


__ADS_3

Aku mencintaimu sederas hujan, namun kau memilih berteduh untuk menghindar.


**********


Jam telah menunjukkan pukul 16:30 sore, masih tersisa 30 menit lagi untuk menunggu jam pulang kantor.


Tetapi Aldo, sudah bersiap melangkahkan kakinya menuju lift untuk segera pulang.


Kali ini dia memang pulang lebih awal. Bukan karena ingin segera sampai ke rumah, dan berleha-leha menonton televisi atau beristirahat. Tetapi, dia berencana pergi ke suatu tempat.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, Aldo tiba di parkiran sebuah perusahaan. Yaitu Perusahaan CT Group, tempat dimana sahabatnya Rifa dan mantan kekasihnya bekerja.


Dia langsung masuk ke dalam, dan naik lift menuju ruangan tempat temannya bekerja. Untungnya, temannya yang menjabat sebagai general manager mempunyai ruangan tersendiri, sama seperti dirinya di kantor.


Aldo masuk ke dalam ruangan Rifa setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Gue enggak ganggu kan ?" ucap Aldo yang langsung duduk di sofa ruangan Rifa.


Rifa langsung melirik ke asal suara.


"Eh, elo Do. Gue pikir siapa ! Tumben banget main ke kantor gue. Kangen ya sama gue ?" ucap Rifa yang sudah berdiri dari duduknya dan melangkah berjalan menuju sofa.


"Ngapain kangen sama elo, emangnya otak gue kegeser" ucal Aldo.


"Gue mau minta tolong nih sama elo. Tolong teleponi Anis dong, dan suruh ke ruangan elo. Dia pasti enggak mau nemuin gue kalau di luar. Cuma ini satu-satunya cara agar dia mau nemuin gue. Gue perlu ngobrol panjang lebar nih sama dia" ucap Aldo.


"Hadeh.. Elo yang pacarannya, gue yang di bikin susah. Makanya gue enggak suka pacaran pakai hati kayak elo. Ribet urusannya kalau sudah pakai hati. Banyak makan waktu dan perasaan !" ucap Rifa.


Aldo tertawa mendengarnya.


"Playboy bisa ngomong perasaan juga ya ternyata" ucap Aldo.


"Sialan elo ! Mau ditolongin kagak ?" ucap Rifa mengancam.


"Hahaha, Iya !" ucap Aldo yang masih tertawa.


Rifa lalu mengangkat gagang teleponnya. Dia menelepon Anis untuk segera datang ke ruangannya tanpa memberitahu Anis kalau ada Aldo di ruangannya.


Selang beberapa menit kemudian, Anis mengetuk pintu ruangan Rifa dan masuk ke dalam.


Aldo terkejut melihat penampilan Anis yang sangat berbeda sekarang. Anis terlihat cantik mengenakan pakaian kerja. Terakhir kali yang dia ingat, Anis masih mengenakan seragam putih abu-abunya.



Begitu juga dengan Anis yang tak kalah terkejutnya melihat keberadaan Aldo di ruangan itu. Anis berusaha tenang dan tidak menggubris kehadiran Aldo


"Maaf, Pak Rifa memanggil saya tadi. Ada apa ya Pak ?" tanya Anis.


"Aldo teman saya. Dia minta tolong untuk bertemu dengan kamu disini. Dia ingin mengobrol sesuatu denganmu" ucap Rifa.


Anis melirik Aldo yang duduk di sofa.


"Do, gue tinggal ya. Kalian silahkan mengobrol. Tapi inget jangan baku hantam di ruangan gue !" ucap Rifa seraya tertawa. Rifa lalu bergegas pergi keluar, dari ruangannya.


"Ngapain cari gue ke sini segala ?" ucap Anis yang langsung ngegas saat Rifa sudah keluar.


"Aku sudah enggak tahu lagi gimana cara ngajak kamu ngobrol baik-baik, Kalau enggak dengan cara begini. Kamu sendiri enggak bolehin aku datang ke rumah. Padahal banyak hal yang harus aku jelasin ke kamu" ucap Aldo.


"Iya, tapi ini kantor tempatku bekerja. Bukan tempat untuk menceritakan hal pribadi" ucap Anis.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu aku tunggu kamu di lobby bawah. Sebentar lagi jam pulang kantor kan ? Kita mengobrol di luar" ucap Aldo.


Mau tak mau Anis menyetujui perintah Aldo. Daripada nanti Aldo nekat ke ruangannya, karena tidak mau mendengarkannya.


Selang beberapa menit kemudian, jam kerjapun telah berakhir. Anis yang turun dari lift bersama teman-temannya mendapati Aldo yang sedang duduk di lobby sedang mengobrol bersama Rifa.


"Eh, siapa itu yang ngobrol sama Pak Rifa ? Bening amat !" ucap Mia teman kerja Anis.


"Kalau bisa leluasa mengobrol dengan Pak Rifa, seharusnya bukan orang biasa kan ? Paling tidak selevel lah dengan Pak Rifa" ucap valen teman Anis yang satunya lagi.


Anis mulai memperhatikan Aldo. Aldo yang mengenakan setelan jas bewarna gelap memang terlihat menawan. Dia tampak lebih berwibawa sekarang.



Aldo yang melihat Anis dan teman-temannya yang sedang berjalan mendekat, langsung menghampiri Anis.


"Sudah pulang kan ? Ayo kita pergi !" ucap Aldo.


Teman-teman Anis terkejut begitu mengetahui pria yang jadi bahan obrolan mereka kenal dengan Anis.


"Elo bilang enggak punya pacar Nis ? Jadi ini siapa ? Elo bohongin kita ya selama ini" ucap Mia.


"Gue enggak bohong, kita cuma teman kok" ucap Anis.


Temannya tersenyum meledek, seakan tidak percaya.


"Saya Aldo, teman dekatnya Anis" ucap Aldo yang angkat bicara dan menegaskan.


"Ohhh.." mulut Mia dan Valen langsung membentuk lingkaran.


"Rifa gue pulang dulu ya kalau begitu !" ucap Aldo.


Aldo mengajak Anis untuk naik ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan keduanya hanya terdiam satu sama lain. Akhirnya Aldo membuka obrolan untuk menghentikan kecanggungan diantara mereka.


"Kita ke coffee shop ya, ngobrol bentar di sana" ucap Aldo.


"Kalau mau mengobrol ngapain harus ke coffee shop segala ? kita mengobrol disini aja langsung. Lagian enggak ada lagi yang mesti di obrolin kan ?" ucap Anis.


Aldo lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan. di sebuah taman.


"Kalau begitu ayo turun, kita duduk di bangku taman itu saja. Kamu bilang enggak mau mengobrol di coffee shop" ucap Aldo.


"Enggak perlu repot, kita mengobrol di mobil saja !" ucap Anis.


Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Anis yang keras kepala.


"Anis, elo masih marah ya sama gue ? Karena gue menghilang tanpa kasih kabar ke elo ?" ucap Aldo.


Anis hanya diam.


"Harus gue akui, memang gue yang salah. Tapi kepergian gue saat itu sangat mendadak. Gue sempet kehilangan ponsel saat papa buru-buru mengajak gue berkemas. Papa ditempatkan di kantor cabang di Singapore saat itu. Tapi bukan berarti gue enggak mencari elo selama ini. Kembalinya gue dari sana, gue sempat mencari elo di palembang. Tapi ternyata elo pindah rumah. Tetangga kiri kanan juga pada enggak tahu kalau kalian pindah kemana" ucap Aldo.


"Tolong kamu mengerti aku Nis" ucap Aldo.


"Kamu minta di mengerti ? Sementara kamu ga mau peduli dengan perasaan yang aku alami selama ini ?" ucap Anis.


"Udah deh. Langsung ke intinya aja ya. Dalam kamus gue, enggak ada sejarahnya makan sayur diangetin lagi !" ucap Anis menegaskan.

__ADS_1


"Kamu memang masih keras kepala ya seperti dulu. Selalu enggak mau mendengar penjelasan orang lain. Kenapa sih kamu harus seribet ini ?" ucap Aldo.


"Gue ribet ?" ucap Anis dengan mata yang menantang.


"Gue mau pulang sendiri naik ojek. Elo jangan ganggu hidup gue lagi !" ucap Anis yang sudah turun dari mobil Aldo.


Aldo menghela nafas panjang melihat kelakuan Anis.


Namun tiba-tiba terdengar teriakan Anis dari luar.


"Ahhh... !" teriak Anis.


Aldo segera keluar dari mobil dan menghampiri Anis. Anis tergeletak di jalan dengan posisi memegangi lututnya.


Ada dua tiga orang yang juga datang menghampiri Anis.


"Ada apa ini ?" ucap Aldo yang emosi melihat keadaan Anis dengan lutut yang memar dan sedikit berdarah.


"Mbak ini tadi keserempet motor sewaktu mau menyebrang" ucap salah satu pria yang juga hendak menolong.


"Dimana motornya sekarang ?" ucap Aldo masih dengan nada yang tinggi.


"Sudah lari tadi !" ucap Pria yang satunya.


Tanpa aba-aba, Aldo langsung menggendong Anis ke mobil.


"Mau ke Rumah Sakit ?" tanya Aldo.


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Hanya luka memar saja" ucap Anis.


Aldo lalu melajukan mobilnya. Sepanjang jalan Aldo hanya diam tidak bicara sama sekali. Begitu juga dengan Anis yang terdiam menahan perih di lutut kakinya.


Tiba-tiba, Aldo menepikan mobilnya di parkiran sebuah mini market. Dia turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market tersebut. Tak lama kemudian, Aldo sudah keluar kembali dengan membawa kantong plastik ditangannya.


Dia membuka kapas dan membasahinya dengan air mineral yang dibelinya tadi. Dia membersihkan luka di lutut Anis. Kemudian Aldo kembali melumuri luka Anis dengan betadine lalu menempelkan hansaplast di lukanya tersebut.


Anis merasa merasa canggung saat Aldo menyentuh kakinya. Apalagi saat Aldo meniup-niup luka di kakinya yang terasa perih, saat Aldo mengoleskan betadine tadi. Wajah Anis memerah.


"Ehhmm.. Kakiku sudah tidak sakit lagi sekarang. Sebaiknya aku memesan taksi online saja untuk pulang. Aku akan turun dan menunggu di mini market ini saja. Kau boleh pergi sekarang dan terima kasih atas bantuanmu tadi" ucap Anis yang sudah bersiap turun dari mobil.


"Anis tunggu !" ucap Aldo.


Anis berhenti dan menoleh pada Aldo.


"Dengan kau menghindar dariku, bukan berarti kita berakhir" ucap Aldo.


Anis terdiam. Dia menghela nafas.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku ?" ucap Anis.


"Apa yang aku inginkan darimu ?" ucap Aldo mengerenyit, menaikkan salah satu alisnya.


"Bukankah sudah jelas ? Mulai detik ini, aku ingin kau berada disisiku" ucap Aldo.


Deg !


Jantung Anis kembali berdebar kencang. Matanya terbelalak mendengar ucapan Aldo barusan. Tampaknya kali ini ucapan dan tindakan Aldo, berhasil meluluhkan hatinya.


# Jempolnya dongggg ! Duh, yang pada nungguin babang Rey tapi enggak taunya enggak muncul di bab ini 🤭 Babang Rey lagi dikerem dulu, besok ya baru dikeluarin 🤭 Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya 🙏 Aku padamu 😘

__ADS_1


__ADS_2