
Jika seseorang benar-benar menyukai kita, dia akan berlari menjemput. Bukan membiarkan kita menunggu. (cz)
**********
Rey tersenyum tipis saat mendengar Tedy bilang sedang menjemput 'hadiahnya".
Jadi, dia benar-benar serius pada Tiwi ? Aish, terserah dia mau serius apa enggak. Yang jelas dia enggak bakal menganggu hubungan aku dan Tari lagi.
Batin Rey.
"Tampaknya kamu harus berterima kasih padaku karena mengirimi hadiah yang sudah berkenan di hatimu. Jadi kapan kalian akan menyusul untuk segera menikah ?" tembak Rey langsung.
"Mereka ini baru mau pendekatan dan mengenal satu sama lain, sayang. Menikah itu kan bukan perkara seperti membeli pisang goreng" ucap Lesta.
Seingat Lesta, Tiwi bercerita kalau dia cukup nyaman sewaktu bekerja di kantor cabang, karena Tedy membimbingnya dengan baik sebagai atasan maupun sebagai teman. Pernyataan itu cukup membuat Lesta untuk menarik kesimpulan bahwa mereka baru tahap berteman untuk sekarang.
"Jangan terlalu lambat bergerak. Kamu mau 'Hadiahmu' di salip oleh orang lain ! Bukannya belajar dari pengalaman ! Atau kamu perlu bantuanku untuk menyampaikan isi hatimu pada Tiwi" ucap Rey.
Lesta mencubit pinggang Rey.
"Apalagi sih ?" ucap Rey pada Lesta, yang meringis saat pinggangnya dicubit oleh Lesta.
"Sorry, Ted. Ini ucapan kakakmu enggak usah di ambil hati. Mungkin, karena sudah kelamaan enggak di pakai berpikir gara-gara cuti lamaran kemarin, jadi otaknya kaget" ucap Lesta.
Rey tambah melotot mendengarnya.
Tedy hanya tertawa sebagai respon ucapan Lesta padanya.
Sedangkan Rey masih ngedumel tidak jelas karena merasa tidak ada yang salah dengan kata-katanya.
Sebaiknya aku segera mengajak Rey pergi dari sini sebelum Tiwi keluar dari ruangan Pak Marta. Aku sangat mengenal sifat calon suamiku ini. Semua ucapannya tidak ada yang omong kosong. Gawat kalau yang dia sebutkan 'bantuan' itu benar-benar di sampaikannya pada Tiwi. Bisa-bisa Tedy dan Tiwi kehilangan momen romantis dan bahkan membuat Tedy seperti pecundang nantinya.
Batin Lesta.
"Sayang, ayo kita pulang. Aku sudah selesai beres-beres ini. Aku mau membeli thai tea yang di jalan Anggrek" ucap Lesta merengek dengan manjanya.
Rey menatap Lesta. Lesta yakin sekali rayuan cabe-cabean versi ulat nangka ini, bakal berhasil buat membujuk Rey pergi dari sini.
Rey menatap wajah Lesta sesaat.
"Oke, Ayo kita pulang !" ucap Rey.
Lesta langsung berdiri, beranjak dari duduknya.
"Ted, kita duluan ya !" ucap Lesta.
Sedangkan Rey tetap seperti biasa dengan gaya 'selonong boy' tanpa berpamitan pada adik semata wayangnya.
"Rey... !" ucap Tedy.
Rey dan Lesta yang telah melangkah beberapa langkah terpaksa berbalik menoleh ke arah Tedy.
"Terima kasih karena telah membantu memberi saran untukku !" ucap Tedy yang merasa ini pertama kalinya, Rey peduli padanya.
Tedy tersenyum tulus saat mengucapkannya.
Rey sempat tertegun mendengar ucapan Tedy. Tapi bukan Rey namanya kalau tidak mempunyai gengsi setinggi menara sutet.
"Siapa yang membantumu ? Aku hanya asal bicara tadi !" ucap Rey yang lalu kembali berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.
Lesta dan Tedy hanya tersenyum melihat kelakuan Rey.
Apa hanya perasaanku saja, sekarang aku melihat Rey sudah ada perasaan peduli terhadap adiknya.
Batin Lesta.
********
__ADS_1
Akhirnya Tedy duduk di kursi di depan meja Lesta setelah Lesta dan Rey pergi.
Selang beberapa menit kemudian, Tiwi keluar dari dalam ruangan Pak Marta.
Dia kaget mendapati Tedy yang sudah duduk manis di kursi.
foto : Tedy.
"Loh, Tedy ? Ngapain disini ? Mencari Pak Marta ?" tanya Tiwi.
"Aku ke sini mau.." belum selesai Tedy meneruskan ucapannya, Tiwi memotongnya.
"Lah, Lesta mana ?" tanya Tiwi.
"Lesta sudah pulang dengan Rey" ucap Tedy.
"Yaelah.. Lesta kok bisa-bisanya ninggalin aku. Mana orang-orang di ruangan ini juga sudah pada pulang. Memang sih ini jam pulang. Tapi setidaknya tungguin kek !" ucap Tiwi yang masih mengoceh panjang lebar sambil mengambil tasnya.
Tedy hanya tersenyum menatap Tiwi yang tidak berhenti mengoceh. Tiwi yang baru sadar dengan keberadaan Tedy yang masih ada disana merasa heran.
"Lah ? Kok kamu masih di sini sih Ted ? Itu ruangan Pak Marta sudah enggak ada tamu lagi kok. Cuma ada Pak Marta dan Pak Yudi di dalam" ucap Tiwi.
"Aku ke sini bukan mau menemuiku papaku" ucap Tedy.
"Terus ? Mau menemui siapa ?" tanya Tiwi.
"Kalau mau ketemu Lesta, tadi kan kamu sendiri yang bilang kalau Lesta barusan pulang bareng Rey" sambung Tiwi.
"Aku bukan mau menemui Lesta. Aku ke sini karena ingin menemui" ucap Tedy.
"Aku ?" ucap Tiwi menunjuk dirinya sendiri.
Tedy mengangguk.
"Ayo bicara di mobil saja, sekalian aku antar pulang" ucap Tedy.
*************
Tedy mengendarai mobilnya keluar dari halaman perusahaan MD Group bersama Tiwi.
Sepanjang perjalanan Tedy dan Tiwi hanya terdiam satu sama lain. Tiwi yang masih berpikir kenapa Tedy ingin menemuinya, mencoba menerka-nerka alasannya.
Kenapa ya dia kira-kira ingin menemuiku ? Apa ada urusan kantor yang belum selesai atau... Oh, iya aku ingat. Aku pernah bilang, kalau dia rindu masakanku dia boleh main ke rumahku dan aku akan memasakannya. Apa karena itu ya ? Ah, sebaiknya aku tanyakan saja.
Batin Tiwi.
foto : Tiwi.
"Ted, apa kamu mencariku karena ada pekerjaan kantor yang masih belum aku selesaikan ?" tanya Tiwi.
"Bukan" ucap Tedy.
Tedy lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Dia menatap Tiwi dengan lekat. Mata mereka bertemu saling bersitatap.
"Tiwi, aku..." Tapi lagi-lagi Tiwi memotong ucapan Tedy.
"Ah.. Aku tahu ! Apa karena kau ingin memakan masakanku ?" tanya Tiwi.
Tedy sempat tersentak sesaat.
Oh, jadi benar. Dia ingin makan masakanku.
__ADS_1
Batin Tiwi.
"Nah, kan benar dugaanku. Kamu rindu memakan masakanku ya ? Memang sih masakanku itu enak dan bikin nagih. Tapi kalau kamu datang sekarang aku tidak bisa memasakanmu apa-apa. Soalnya.."
"Tiwi, aku bukan.." ucap Tedy memotong ucapan Tiwi.
"Nanti dulu Ted. Bukannya enggak sopan kalau memotong pembicaraan orang lain" ucap Tiwi.
Tedy mengernyit.
Bukankah dari tadi dia yang selalu memotong ucapanku sehingga dari tadi aku tidak punya kesempatan untuk menjelaskan tujuanku menemuinya.
Batin Tedy.
"Sampai mana tadi ? Oh iya, kalau kamu mau memakan masakanku sekarang sepertinya tidak bisa. Soalnya di kulkasku tidak ada stok bahan mentahnya. Kalau enggak ada bahan buat di masak, aku mau masak apa coba ? Nah, kalau hari sabtu ataupun minggu mungkin bisa. Setidaknya aku bisa belanja dulu pagi-paginya ke pasar sesudah itu aku baru bisa mema.."
"Tiwi bisakah kamu berhenti bicara sebentar !" Bentak Tedy yang sudah menahan emosinya sedari tadi.
Tiwi terdiam. Dia ketakutan karena Tedy membentaknya.
Tedy melirik sekilas pada Tiwi. Dia melihat tangan Tiwi yang gemetar. Tedy lalu mengambil tangan Tiwi dan menggenggamnya.
Sontak Tiwi kaget.
"Maaf, kamu jadi takut seperti ini. Tapi kalau aku tidak menaikkan nada suaraku, mungkin kamu masih terus berbicara tanpa memberikanku kesempatan untuk bicara" ucap Tedy yang masih menggenggam tangan Tiwi.
"Aku memang merindukan masakanmu. Tapi mungkin kosakata yang lebih tepatnya, aku merindukan orang yang memasak makanan itu" ucap Tedy.
"Tiwi aku menyukaimu" sambung Tedy.
Deg !
Tiwi menatap Tedy. Tapi setelah itu, dia memalingkan wajahnya.
"Aku tidak percaya. Kau pasti bohong ! Bukannya kamu menyukai Lesta. Buktinya kau masih menyimpan fotonya di ponselmu" ucap Tiwi.
"Foto itu sudah aku delete saat itu juga. Sewaktu kamu mendapati foto itu di atas meja kerjaku. Saat itu aku memang sudah berniat untuk menghapusnya. Karena aku sadar Lesta tidak mungkin lagi untuk aku kejar. Dia sudah jauh berbahagia bersama Rey. Namun, karena ada tamu dari kolega perusahaan di lobby. Aku jadi buru-buru menemuinya dan tanpa sadar meletakkan ponsel yang sedang kupegang. Dan selanjutnya kau tau apa yang terjadi kan ?" ucap Tedy.
"Maaf saat itu aku membentakmu. Aku hanya menutupi rasa maluku saat ketahuan menyimpan foto calon kakak iparku sendiri. Aku menyesal saat itu juga setelah melihatmu berlarian keluar ruangan, dengan penuh air mata" ucap Tedy.
Tiwi menunduk.
"Setelah kamu pindah kembali ke kantor pusat, aku merasa kehilangan. Awalnya aku pikir, tadinya aku hanya terbiasa denganmu karena kita sering makan siang bersama dan banyak menghabiskan waktu bersama. Tetapi sekarang aku sadar, aku tidak mau melewatkanmu" ucap Tedy.
"Tiwi aku benar-benar menyukaimu. Jadilah kekasihku !" ucap Tedy.
Deg !
Jantung Tiwi berdebar seakan mau melompat dari tempatnya.
Tiwi menghela nafas.
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang" ucap Tiwi.
"Kenapa ? Apa karena ada orang lain yang kamu sukai ?" tanya Tedy.
"Bukan. Bukan karena itu. Aku akan memberikan jawabanku dua minggu lagi. Saat aku datang ke pesta pernikahan kakakmu" ucap Tiwi.
"Aku ingin melihat kesungguhanmu. Apakah selama itu kau akan lelah menunggu atau kau bisa membuktikan kata-katamu" ucap Tiwi yang menatap lekat pria di hadapannya tersebut.
Jempolnya dongggg... Like, komen dan vote ya 🙏
Jangan lupa membaca novel sahabatku ya 😘
__ADS_1