Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Tukang Kebun


__ADS_3

Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mengendarai kendaraannya dengan perasaan kesal.


Rey lalu melewati jalan di tempat kejadian sewaktu dia di keroyok kemarin. Dia ingat betul saat kejadian. Kalau saja Lesta tidak menolongnya, mungkin lukanya akan lebih parah dari pada saat itu dan berakhir pada rawat inap rumah sakit.


Rey lalu melajukan mobilnya kembali secara perlahan. Dia berhenti tepat di depan rumah Lesta. Rey melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 12:00 malam. Ukuran yang terlalu malam untuk seseorang yang bertamu di malam hari. Rey akhirnya melajukan mobilnya kembali menuju rumahnya.


**********


Weekend kali ini, Lesta sudah membuat deretan daftar kegiatan yang harus dilakukannya. Mulai dari membereskan rumah, jalan ke mall berdua Anis, memasak, membikin kue, sampai berleha-leha.


Tapi semua rencana yang telah di susun rapi olehnya, harus pupus begitu saja. Sebuah panggilan telepon, masuk ke dalam ponselnya.


Lesta menatap nama yang tertera di layar ponselnya.


Pak Marta ? Kenapa ya pagi-pagi begini sudah menelepon ?


Batin Lesta.


Lesta lalu mengangkat teleponnya.


"Halo, Selamat Pagi Pak Marta" ucap Lesta.


"Pagi, Lesta" ucap suara di seberang sana.


"Sorry ya mengganggu waktu weekend kamu. Flashdisk yang berisikan data laporan bulanan terbawa di kamu ya ?" ucap Pak Marta.


Flashdisk ?


Batin Lesta.


"Tunggu sebentar ya Pak saya cek dulu" ucap Lesta.


Dengan ponsel yang masih nangkring di telinga sebelah kanan, tangan kiri Lesta sibuk merogoh tasnya, mencari flashdisk yang dimaksud Pak Marta.


Aishh.. ada beneran. Kok bisa kebawa sama aku ya ? Oh, iya.. aku lupa kembaliin lagi flashdisknya ke ruangan Pak Marta.


Batin Lesta.


"Halo, Pak Marta. Sorry ya Pak, flashdisknya memang ada di saya. Memangnya flashdisknya mau dipakai sekarang ya Pak ?" tanya Lesta.


"Iya nih. Saya perlu Data di dalamnya sekarang. Ada proyek yang baru masuk melalui email saya, tapi sebelum saya acc, saya perlu lihat progressnya dulu di laporan sebelumnya" ucap Pak Marta.


"Saya bisa minta tolong enggak ? Diantarkan ke sini aja flashdisknya" sambung Pak Marta.


"Oh, iya Pak. Akan saya antarkan" ucap Lesta.


"Oke, terima kasih Lesta. Maaf merepotkanmu" ucap Pak Marta.


"Iya, tidak merepotkan kok Pak" ucap Lesta.


Lesta lalu melirik jam di dinding rumahnya yang telah menunjukkan pukul 10:00 pagi.


Cepat-cepat dia berlari ke kamar mandi. Karena di akhir pekan seperti ini, dia dan Anis terbiasa bangun siang. Hal yang tidak bisa dilakukan saat hari kerja.


Anis yang baru keluar dari kamar, bingung melihat Lesta yang sudah berdandan dan berpakaian rapi.



"Elo mau kemana Les ? Rapi amat !" tanya Anis.


"Duh, shedulue kita hari ini cancel dulu ya Nis. Gue mau nganterin flashdisk ini dulu ke rumah Bos gue" ucap Lesta sambil menunjukkan flashdisk tersebut.


"Lah, ini kan weekend. Masak kamu masih disuruh bekerja ?" ucap Anis.


"Bukan kerja, Anis. Cuma nganterin flashdisk doang !" ucap Lesta.


"Ooh... Cepet pulang ya. Biar bisa bantuin gue masak kue terus kita nge-mall deh !" ucap Anis.

__ADS_1


"Oke deh, Anis. Udah gue berangkat ya" ucap Lesta.


"Iya, hati-hati" ucap Anis.


Lesta lalu melangkahkan kaki keluar rumah menaiki ojek online yang telah dipesannya tadi.


**************


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, Lesta sampai di sebuah rumah yang sangat megah. Bisa di bilang lebih mirip istana daripada rumah. Halamannya sangat luas, mobil-mobil mewah berjejer rapi di garasi.



Semenjak menurunkan kakinya di gerbang depan rumah Pak Marta, Satpam yang bertugas menjaga rumah Pak Marta telah menginterogasinya terlebih dahulu. Setelah menyebutkan namanya, barulah Lesta di persilahkan masuk.


Lesta berjalan dari gerbang rumah Pak Marta menuju ke dalam. Dia merasa menyesal memberhentikan ojeknya di gerbang rumah tadi. Karena jarak antara dari pagar gerbang depan ke dalam rumah Pak Marta lumayan jauh. Semua itu dikarenakan halaman rumah Pak Marta yang sangat luas.


Dengan keringat yang bercucuran Lesta berjalan melewati halaman yang yang terdiri dari air mancur dan kebun bunga yang sangat cantik. Tiba-tiba, Lesta melihat seorang lelaki yang sedang duduk jongkok, menggali tanah untuk menanam tanaman hias.


Dia pasti tukang kebun disini. Sebaiknya aku bertanya padanya.


Batin Lesta.


"Maaf, Boleh aku bertanya ?" ucap Lesta menepuk bahu lelaki tersebut.


Lelaki itu refleks menoleh ke belakang menghadap Lesta.



Foto : Tedy


Lesta terkejut.


Ganteng banget. Sultan memang beda ya. Tukang kebunnya aja ganteng.


Batin Lesta.


"Boleh aku duduk disini sebentar ?" ucap Lesta menunjuk kursi taman yang ada disebelah pria tersebut.


"Iya, tentu saja" jawab pria tersebut.


Lesta lalu duduk di bangku tersebut sambil mengipas-ngipaskan selembar kertas yang dia ambil dari tasnya.


"Panas sekali !" ucap Lesta.


"Kamu cari siapa ke sini ?" ucap Pria tersebut.


"Cari Pak Marta. Saya sekretarisnya. Pak Marta minta saya mengantarkan flashdisk yang berisi laporan pekerjaan kepadanya" ucap Lesta.


Eh, bahasa gue ketinggian enggak ya ? Kira-kira nih tukang kebun ngerti enggak dengan yang namanya Flashdisk.


Batin Lesta.


"Eh, kamu tau kan flashdisk itu apa ?" tanya Lesta pada pria tersebut.


pria itu mengerenyit.


Tuh kan dia enggak ngerti.


Batin Lesta.


"Flashdisk itu perangkat penyimpanan kecil yang digunakan untuk menyimpan file dari satu komputer ke komputer lain. Tau kan sekarang ?" tanya Lesta.


Pria itu tertawa.


"Kok kamu tertawa ? kamu ngerti enggak ?" ucap Lesta.


"Iya, iya. Sekarang saya ngerti" ucap pria tersebut masih menahan tawa.

__ADS_1


"Kamu tadi bilang mau mengantar flashdisk ke dalam. Kok malah duduk di sini ?" tanya Pria tersebut.


"Aku lagi istirahat nih disini. Kecapekan jalan dari gerbang depan. Kalau tau halamannya seluas ini, mending tadi tukang ojeknya aku suruh masuk" ucap Lesta.


Pria itu kembali tertawa.


"Kamu sendiri ngapain disini ?" tanya Lesta.


"Aku sedang berkebun disini. Aku menyukai tanaman hias" ucap pria tersebut.


"Wah, kau beruntung sekali. Bekerja sesuai dengan hobimu" ucap Lesta.


Pria itu tampak terkejut mendengar ucapan Lesta.


Bekerja ? Apa dia menganggapku tukang kebun ?


Batin Pria itu.


"Memangnya ada apa dengan pekerjaanmu ? Apa kau tidak menyukainya ? Apa Pak Marta tidak memperlakukanmu dengan baik ?" tanya pria tersebut yang sudah berdiri dari duduknya dan beranjak duduk di sebelah Lesta.


"Tidak kok. Aku menyukai pekerjaanku. Menjadi Sekretaris memang cita-citaku. Pak Marta juga memperlakukanku dengan baik. Tapi... Anaknya yang bernama Rey itu loh. Sumpah ngeselin banget. Selalu cari gara-gara orangnya. Ganteng sih, tapi kalau kerjaannya bikin orang naik darah terus siapa yang enggak kesel !" ucap Lesta berapi-api.


Dan lagi-lagi pria tersebut tertawa.


"Siapa Namamu ?" tanya pria itu tiba-tiba.


"Aku ? Lestari. Tapi panggilnya Lesta aja ya jangan kayak preman pasar noh panggil aku Tari" ucap Lesta.


"Preman pasar ? Siapa ?" tanya Pria tersebut.


Oops.. gawat kalau sampai dia menyampaikan julukan yang aku berikan pada majikannya itu.


Batin Lesta.


"Enggak ada kok. Bukan siapa-siapa !" Lesta berkilah.


"Kalau kamu siapa namamu ?" tanya Lesta.


"Nama aku Tedy" ucap Pria tersebut seraya tersenyum.


Pria ini termasuk murah senyum.


Batin Lesta.


"Bunga itu cantik sekali" ucap Lesta melihat bunga aster bewarna kuning yang berada di dalam pot.


"Kau suka ?" tanya Tedy.


Lesta mengangguk.


"Kau boleh mengambilnya" ucap Tedy.


Lesta tertawa.


"Jangan. Terlalu beresiko. Kau bisa di marahi oleh Pak Marta kalau memberikan tanamannya tanpa sepengetahuannya" ucap Lesta.


Lesta berdiri dari duduknya.


"Tedy, aku sudah selesai istirahatnya. Aku mau masuk ke dalam dulu. Enggak enak sudah ditunggu sama Pak Marta. Kamu semangat kerjanya ya !" ucap Lesta yang sudah melangkahkan kakinya sembari melambaikan tangan pada Tedy. Lesta lalu masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Tedy hanya bisa melihat punggung Lesta dari kejauhan.


Ternyata dia benar-benar menganggapku sebagai tukang kebun yang bekerja disini. Lucu juga.


Batin Tedy.


# Nah loh.. Ada yang tau enggak siapa Tedy ? Jangan bilang kenapa enggak visual Sehun aja yang jadi Rey ? Karena tokoh Rey kan usianya 28 tahun jadi harus visual yang pas sama dia. Disini aku ambil visual Kim Young Kwang karena pas sama usia Rey dan karakternya yang jutek. Sedangkan disini tokoh Tedy usianya 26 Tahun dan sifatnya friendly makanya aku pilih Sehun. Entar malem aku usahain up lagi ya tapi kalau enggak sempat jam 12 malam ya 🙏🏼 Jangan lupa minta jempolnya ya.. buat like, vote dan tinggalkan komentar kalian ya 😘 Saranghaeyo..

__ADS_1


__ADS_2