
Setelah sampai dikantor, Lesta dan Rey kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Lesta mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Banyak pekerjaan tertinggal karena membantu Rey tadi. Sekarang Lesta sedang Membuat jadwal meeting Pak Marta untuk seminggu ke depan. Dia juga mulai memeriksa dokumen yang masuk ke mejanya untuk meminta tanda tangan dari Presdir.
Jam telah menunjukkan pukul 15:00 sore, Aldo datang menghampiri Lesta.
"Sore Lesta" ucap Aldo dengan wajah secerah sinar mentari.
Aldo langsung menarik kursi dan beranjak duduk dihadapan Lesta. Di depan meja Lesta ada satu buah kursi yang memang disediakan untuk orang yang akan menitipkan dokumen.
"Sore Aldo yang ke sini pasti ada maunya" tembak Lesta.
"Wuizz.. cakep ! Kamu langsung tahu kenapa tujuan aku ke sini" ucap Aldo.
"Paling mau nanyain teman satu rumah dengan gue kan ? Dasar Bucin !" ucap Lesta.
Aldo ngakak.
"Gimana nih luka di kaki Anis ? Sudah sembuh belum ?" tanya Aldo.
"Lah kok elo tahu Do, kalau kaki Anis luka ? Jangan-jangan elo tahu juga penyebabnya gara-gara apa ?" tanya Lesta.
"Ya, taulah. Orang yang nganternya pulang kemarin gue" ucap Aldo.
"Emang dia enggak cerita ke elo ?" tanya Aldo.
Lesta menggeleng.
"Dia cuma bilang dia keserempet motor. Udah itu aja" ucap Lesta.
Aldo hanya diam mendengar ucapan Lesta barusan.
"Tapi gue lihat dari kemarin sampai pagi ini dia suka senyum-senyum sendiri. Sepertinya suasana hatinya sedang baik" ucap Lesta.
Aldo ikut tersenyum mendengar cerita Lesta.
"Serius kamu Les ?" tanya Aldo.
Lesta mengangguk.
"Kalau gue jemput dia ke kantornya dia bakalan mau enggak ya pulang bareng gue ?" tanya Aldo.
"Elo mau jemput siapa dikantornya ? Orangnya ada dirumah, izin enggak masuk kantor dia" ucap Lesta.
"Oh ya ?" tanya Aldo.
"Iya. Lagi pemulihan buat luka di kakinya. Tapi tadi pagi sudah bisa jalan kok seperti biasanya, cuma masih perih aja katanya" ucap Lesta.
Aldo mangguk-mangguk mendengar penjelasan Lesta.
Tiba-tiba suara sapaan seorang pria menghentikan obrolan mereka.
"Akrab banget kalian berdua ya !" ucap Tedy yang baru saja tiba di ruangan itu.
Lesta dan Aldo kompak noleh berbarengan.
Tedy tiba-tiba datang dengan senyum yang mengembang. Tedy ini tipe cowok yang suka berpakaian rapi. Walaupun hari ini semua orang boleh berpakaian kasual bebas pantas, tetapi dia tetap memakai pakaian kerjanya yang semakin membuat ketampanannya terpancar.
Habis makan gula berapa kilo sih, kok manis banget.
__ADS_1
Batin Lesta.
"Eh, elo Ted. Ngapain ke sini, tumben ? Lagian hari jum'at pakaian rapi bener" ucap Aldo.
"Habis memimpin meeting dikantor tadi. Enggak enak kalau pakai baju asal" ucap Tedy.
"Gue masuk dulu ya. Ada laporan yang mesti di sampaikan ke Pak Presdir. Sekalian mau atur jadwal buat meeting di kantor cabang senin nanti. Pak Presdir ada jadwal kosong enggak Les senin nanti ?" tanya Tedy.
"Bentar ya, aku cek dulu" ucap Lesta.
Lesta membuka file jadwal Presdir untuk seminggu ke depan.
"Pak Presdir jam 09:00 pagi, ada meeting pagi dilantai 7. Tapi jam 11 ke atas jadwalnya kosong kok. Nanti coba tanya lagi ke Pak Martanya" ucap Lesta.
"Oke, gue masuk dulu ya Les" ucap Tedy.
"Do, gue masuk ya" ucap Tedy.
Aldo mengangguk.
Tedy lalu masuk ke dalam ruangan Pak Marta.
"Les, gue juga balik ke ruangan gue ya. Entar dibilang gabut lagi disini" ucap Aldo.
"Oke, Do" ucap Lesta.
Selang 30 menit kemudian, Tedy kembali keluar dari dalam ruangan. Dia langsung menghampiri meja Lesta. Duduk di kursi, berhadapan dengan Lesta.
"Kerjaan tadi gimana Les ? Udah kelar ?" tanya Tedy.
"Udah selesai Ted" ucap Lesta.
"Ted, Sorry ya. Saya tadi batalin makan siang secara mendadak. Saya jadi enggak enak nih sama kamu" ucap Lesta.
Pengertian banget... Enggak kayak preman pasar yang semua-muanya dia, semua-maunya dia, semau-maunya dia. Lah..kok jadi mikirin dia ? Udah kegeser nih otak gue.
Batin Lesta.
"Jadi, tadi kamu kesiangan ya makan siangnya gara-gara nyelesain kerjaan. Jam berapa makan siang tadi ?" tanya Tedy.
"Ya, enggak siang-siang amat sih Ted. Jam 12:45 gue udah kelar kerjaannya dan langsung diajak Rey makan siang bareng" ucap Lesta.
"Makan siang bareng Kak Rey ?" ucap Tedy.
Lesta mengangguk.
"Mungkin dia ngajak gue sebagai kompensasi karena sudah nolongin kerjaan dia. Kan sekretaris Rey enggak masuk hari ini, Ted" ucap Lesta.
Tedy hanya diam. Dia sempat kaget mendengar Rey mengajak Lesta makan siang bareng.
Sejak kapan Kak Rey begitu peduli dengan hal semacam itu. Dia bukan tipe orang yang mau memberikan kompensasi dengan terjun langsung melibatkan dirinya.
Batin Tedy.
"Hmm.. Sore ini pulang bareng saya ya Les. Sekalian makan malam di luar kita. Sebagai ganti makan siang yang batal" ucap Tedy.
Deg !
Dia bukan ngajakin gue kencan kan ?
Batin Lesta.
Lesta bengong.
__ADS_1
"Les !" ucap Tedy yang melihat Lesta melamun.
"Oh, iya sorry Ted. Kenapa tadi ? ngajak pulang bareng ? Bukannya kamu mau pulang bareng Pak Marta ?" tanya Lesta.
Tedy tersenyum.
"Enggak kok. Papa pulangnya kan naik mobilnya sendiri Les. Ada yang nyupirin lagi" ucap Tedy.
"Mau kan pulang bareng gue ?" ajak Tedy.
"Hmm.. Bo.." belum selesai Lesta menjawab, suara bariton lelaki memotong ucapan Lesta.
"Ada Tedy di sini ?" ucap Rey yang baru saja tiba bersama Aldo.
Mereka sudah bersiap pulang sepertinya. Sudah memegang tas masing-masing dan memang ini sudah waktunya masuk jam pulang.
Pegawai di ruangan ini juga sudah banyak yang pulang, cuma meja Lesta yang masih ramai di kerubungi 3 cowok ganteng ini.
Sudah kayak orang mau nunggu goncang arisan aja mereka bertiga ini. Ganteng-ganteng lagi. Kalau gue khilaf gimana coba ?
Batin Lesta.
"Iya, ada kerjaan disini. Lagi nganter laporan sama nanyain jadwal Pak Presdir untuk rapat di kantor cabang Senin nanti, Rey" ucap Tedy.
Tedy sekarang mulai memanggil Rey dengan sebutan Rey tanpa embel-embel kakak. Karena dia teringat akan ucapan Rey yang pernah berkata padanya untuk tidak memanggilnya kakak di lingkungan kantor.
Rey hanya mengangguk merespon ucapan Tedy.
"Ayo, Les segera berkemas. Sudah jam pulang kan ?" ucap Tedy.
"Mau kemana kalian ?" ucap Rey.
"Gue ngajak Lesta pulang bareng sekalian makan malam sama Lesta" ucap Tedy.
Rey langsung terdiam. Matanya memandang Tedy lekat. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Bukannya Mama sudah memasak makan malam ? Sebaiknya kamu jangan mengecewakan Mama. Tari biar saya yang antar" ucap Rey.
Jleb !
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Ada ketegangan antara Tedy dan Rey sekarang. Pandangan mata mereka tajam seakan menghumus ke jantung masing-masing.
"Saya sudah duluan bilang sama Lesta untuk mengantarnya. Kamu enggak perlu repot Rey" ucap Tedy dengan sorot mata yang menantang.
Rey semakin terlihat kesal sekarang.
"Elo tahu gue kan ? Gue enggak suka dibantah orangnya !" ucap Rey dengan nada suara yang mulai tinggi.
Aduh, ribet banget ! Ini kenapa sih pada rebutan nganter gue ! Emangnya kalau nganter gue dapat doorprize gitu ?
Batin Lesta.
Aldo yang melihat Rey dan Tedy yang bersitegang, akhirnya angkat bicara.
"Udah, daripada bingung siapa yang anter Lesta. Elo ikut gue Les! Gue yang anter elo pulang. Lagian gue emang mau ke rumah elo, Mau lihat keadaan Anis" ucap Aldo menarik tangan Lesta.
Lesta buru-buru mengambil tasnya dan bergegas pergi bersama Aldo. Meninggalkan Rey dan Tedy yang masih bersitegang disana.
# Selamat malam minggu buat kalian yang selalu setia menunggu... 😘 Jangan lupa Like, vote dan tinggalkan komen kalian ya.. 😘 Kalau kata bang Ariel "Kalian Luar Biasaa"😘
Jangan lupa juga untuk membaca novel sahabat aku ya..
__ADS_1