
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Akhirnya Lesta dan Rey telah sampai di sebuah restoran mewah.
Mereka memilih menu makanan favorit mereka masing-masing, dan bercerita sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Tadinya mau makan siang sama Tedy ? Kok bisa ?" tanya Rey tiba-tiba.
Lesta kebingungan.
"Maksudnya Pak ?" tanya Lesta.
"Pak ?" ucap Rey yang balik nanya.
"Eh, iya sorry. Maksud gue Rey. Maksudnya kenapa saya bisa makan siang sama Tedy gitu ?" tanya Lesta kembali.
Rey mengangguk.
"Kantor kita dan kantor cabangkan posisinya lumayan jauh. Kenapa dia tiba-tiba ngajak kamu makan siang bareng ?" tanya Rey yang langsung to the point.
Waduh.. Enggak mungkin kan gue bilang karena Tedy yang maksa minta ditarktir sebagai sogokan tutup mulutnya untuk julukan 'preman pasar'.
Batin Lesta.
"Eh.. Itu... Karena ada tempat makan yang baru buka dan lagi viral di instagram jadinya kami pingin cobain makan disana" ucap Lesta.
"Kenapa tadi kamu enggak bilang. Kita bisa makan di sana saja seharusnya" ucap Rey.
Untung elo nanyanya sekarang, kalau enggak udah bingung gue cari tempat makan yang baru buka dimana.
Batin Lesta.
"Sepertinya memang lebih enak disini aja Rey. Kalau hari pertama pembukaan, biasanya yang antri makan ramai, karena pada mengincar diskon" ucap Lesta.
Mulut gue memang lancar kayaknya kalau udah perkara bohong.
Batin Lesta.
"Oh" ucap Rey singkat.
Pesanan makanan merekapun datang. Mereka mulai menyantap makanan mereka masing-masing.
Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri mereka.
"Rey..." ucap perempuan itu.
Rey dan Lesta reflek menoleh ke asal suara.
Perempuan itu berdiri dihadapan mereka. Rambutnya tergerai panjang sampai ke pinggang, Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dan bibirnya tipis. Tolak ukur yang sempurna untuk dapat digilai oleh banyak pria.
"Rey kebetulan ketemu kamu disini" ucap perempuan itu.
Rey mengernyit. Dia tampak kebingungan.
"Siapa ya ?" ucap Rey.
Lesta menahan tawa mendengar ucapan Rey. Raut wajah perempuan itu terlihat kecewa.
"Gue Chelly temannya Arini yang biasa nongkrong di Golden Club" ucap Chelly.
Rey diam saja. Tetap tidak mengenalinya meski wanita itu sudah menyebutkan namanya dan clue yang lainnya.
__ADS_1
"Bolehkan gue gabung duduk disini ?" ucap perempuan itu yang belum di jawab oleh Rey tetapi langsung menarik kursi di sebelah Lesta dan ikut gabung dengan mereka.
Rey terlihat kesal.
"Kenapa sekarang gue jarang lihat elo di golden club, Rey ?" tanya Chelly.
"Sibuk !" ucap Rey singkat.
Rey kembali melanjutkan menyantap makananya. Dia terlihat cuek pada gadis tersebut. Melihat sikap Rey yang biasa saja dan tetap menyantap makanannya. Lesta juga tidak mau kalah, dia tetap makan dengan lahap seperti biasanya.
Bodoh amatlah.. Toh, si Rey juga biasa aja makan di depan nih cewek.
Batin Lesta.
"Eh, kasihan deh lihat Arini, Rey. Dia nangis semaleman waktu kamu putusin kemarin" ucap Chelly.
Rey melirik tajam pada Chelly. Sorot matanya penuh dengan amarah.
"Sewaktu dia memutuskan untuk jadi pacar gue, dia sudah tahu bagaimana aturannya" ucap Rey.
Untuk beberapa saat Chelly terdiam. Lesta yang mendengar ucapan Rey juga sempat bengong.
"Rey, gue boleh minta nomor ponsel elo enggak ?" ucap Chelly.
Rey mengernyit.
"Buat apa?" tanya Rey.
"Buat ngobrol-ngobrol aja. Sudah lama sih gue pingin minta nomor ponsel elo. Tapi enggak enak sama Arini. Karena sekarang elo udah putus sama dia, enggak apa-apa kan gue minta nomor ponsel elo ?" ucap Chelly.
Tadi bela-belain temennya yang mewek, sekarang minta nomor ponselnya Rey buat dideketin. Teman makan temen lo !
Batin Lesta.
"Coba minta sama Tari, Dia yang pegang ponsel gue" ucap Rey.
Lesta yang sedang lahap-lahapnya memakan makanannya tersedak mendengar ucapan Rey barusan. Matanya melotot.
"Tari ?" ucap Chelly.
Chelly lalu menoleh pada Lesta. Dia melihat Lesta dari atas ke bawah.
Baru sadar kayaknya kalau gue dari tadi ada disini. Dari tadi gue dianggap pigura kayaknya.
Batin Lesta.
"Ini sepertinya sekretaris elo ya Rey ?" tanya Chelly yang melihat penampilan Lesta memakai baju kerja bernuansa casual.
Rey memandang tajam ke arah chelly.
"Kalau dia gue izinin buat megang ponsel gue sekarang, menurut kamu dia siapa ?" tanya balik Rey.
Chelly terkejut mendengarnya. Raut wajahnya terlihat syok.
Apa ? jadi gue dijadiin tameng ? Pinter banget ngedorong gue.
Batin Lesta.
Rey melirik sekilas ke arah Lesta, dia melihat piring makan Lesta yang sudah bersih. Yang mungkin saja kalau semut nemplok di sana, bisa ngesot saking licinnya.
__ADS_1
"Tari, Makannya sudah kan ? Kalau sudah, ayo balik lagi ke kantor. Kerjaan kita masih banyak" ucap Rey.
Lesta hanya mengangguk. Sudah biasa dipanggil Tari pikirnya.
"Chell, Sorry.. kita tinggal dulu ya" ucap Rey.
"Oke" ucap Chelly dengan nada suara yang hampir tidak terdengar.
***********
Sedangkan di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju balik ke kantor. Terdengar obrolan Lesta dan Rey di dalamnya.
"Kenapa dikacangin cewek tadi ? Padahal 'Grade A' loh" ucap Lesta menyindir Rey.
Rey tertawa.
"Masih inget aja saya pernah bilang begitu. Dendam kayaknya sama saya !" ucap Rey.
Lesta cuma nyengir doang.
"Saya aja enggak inget siapa dia. Arini yang disebut-sebut sama dia tadi, juga enggak berkesan selama jadi pacar saya. Jadi ngapain saya harus meladeninya ?" ucap Rey.
Mulut Playboy tu emang begini, waktu merayu manisnya enggak ketulungan kayak biang gula, tapi kalau udah mulai bosan mulai deh segala alasan disebut-sebut ! Dih, pingin gue cubit nih ginjalnya.
Batin Lesta.
"Oh, jadi belum ada yang berkesan ya Rey selama ini. Makanya kamu kumpulin satu-satu ceweknya, jadi entar tinggal dipilih gitu ?" ucap Lesta seraya tertawa.
Rey hanya diam.
"Sebenarnya ada satu.." ucap Rey.
Lesta berhenti tertawa melihat raut wajah Rey yang tiba-tiba berubah serius.
"Ada satu yang berkesan.. Tapi, saya belum yakin" Sambung Rey kembali.
Lesta terperanga mendegar ucapan Rey. Wajah Rey terlihat serius saat mengucapkannya.
"Ooh.. Maksudnya kamu masih belum yakin sama perasaanmu ?" ucap Lesta.
"Bukan. Saya belum yakin dia mau menerima saya begitu saja. Tampaknya saya yang harus membuat dirinya terkesan lebih dulu pada saya, agar dia mau menerima saya. Memang terdengar sulit, tetapi sepertinya menarik untuk dijalani" ucap Rey sambil melirik sekilas ke arah Lesta.
Deg !
Kok gue yang deg-degan ya ? Emang nih jantung gue, bener-bener enggak ada ahlak. Berdebar di saat yang enggak tepat. Woii, dia enggak bilang nama elo kali. Ngapain pakai deg-degan segala..
Batin Lesta.
Keadaan menjadi hening sekarang. Diam-diam Lesta melirik Rey yang tengah fokus mengemudi. Memandangi wajah Rey dengan seksama.
Duh, Cepetan nyampe dong ke kantor. Dada gue sesak nih lama-lama di sini.
Batin Lesta.
#Minta jempolnya ya... jangan lupa like, vote dan komentar cetar kalian 😘
Jangan lupa juga mampir ke karya sahabat aku 😊
__ADS_1