Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Permohonan Maaf


__ADS_3

Jatuh cintalah pada seseorang yang pernah patah hati. Karena mereka lebih tahu cara menghargai. (cz).


**********


Setelah kejadian melihat ponsel milik Tedy, hubungan Tedy dan Tiwi menjadi renggang. Tedy yang pagi tadi baru saja tiba di kantor, melewati meja Tiwi begitu saja tanpa bertegur sapa.


Tiwi yang merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf terlebih dahulu, maju mundur saat sudah berada di depan pintu ruangan Tedy yang tertutup. Dia sudah berdiri lama di depan pintu ruangan Tedy tersebut. Mungkin sudah ada 15 menit dia berdiri di sana.


Masuk enggak ya ? Tapi aku takut. Bagaimana kalau dia tidak menerima permohonan maafku dan meneriakiku kembali.


Batin Tiwi.


AkhirnyanTiwi memutuskan, kembali ke meja kerjanya.


Tiwi akhirnya mengerjakan pekerjaan rutinnya sehari-hari di meja kerjanya. Sampai pada saat Pak Sofyan, office boy di ruangan itu datang menghampirinya.


"Mbak Tiwi, ini ada paket atas nama mbak Tiwi. Tadi di anter oleh kurir" ucap Pak Sofyan.


"Yeah.. ! Paket kosmetik buat ke pesta sudah datang. Terima kasih, Pak Sofyan" ucap Tiwi.


Pak Sofyanpun beranjak pergi.


Tiwi yang merasa telah selesai mengerjakan pekerjaannya dan merasa belum ada lagi pekerjaan yang datang kepadanya, merasa bosan. Terbesit sebuah ide untuk mencoba bulu mata palsu yang dibelinya di situs belanja online yang dikirim lewat paket tadi.


Dia membuka channel youtube salah satu MUA terkenal untuk belajar cara memasang bulu mata palsu yang baru dibelinya.


Dia membuka kotam bulu mata tersebut, dan memberi lem bulu mata pada bulu mata palsu tersebut.


Pada saat akan menempelkannya, tiba-tiba pintu ruangan Tedy terbuka. Tedy keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa dokumen.


Tiwi kaget bukan main. Saking kagetnya, bulu mata yang seharusnya menempel di relung matanya, kini menempel melenceng ke tempat yang tidak semestinya.


"Awww.. Sakit !" ucap Tiwi.


Tedy yang melihat dan mendengar Tiwi kesakitan, segera menghampiri Tiwi.


"Bisa tidak santai saja ? Jangan membuatku kaget beberapa kali dalam sehari. Kali ini apa lagi ?" tanya Tedy.


"Tolong bantu aku, Pak. Lem bulu mata masuk ke dalam mataku. Aw... Perih sekali rasanya" ucap Tiwi dengan mata memejam.


"Bagaimana caranya ?" ucap Tedy.


"Tolong basahi tissue kemudian tempelkan di mataku, Pak. Lalu tolong cabut bulu mata yang menempel pada pelipis mata saya" ucap Tiwi.


Tedy mengikuti apa yang di perintahkan oleh Tiwi. Perlahan-lahan dia menempelkan Tissue basah di kelopak mata Tiwi. Dia lalu mencabut bulu mata palsu yang menempel melenceng di pelipis mata Tiwi.


"Pelan-pelan ya Pak, mencabut bulu matanya. Lemnya pasti sudah menempel dan mengeras" ucap Tiwi.


Tedy tidak menjawab. Tetapi dia tetap mencabut bulu mata itu secara perlahan.


Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini.


Batin Tedy.


Setelah semuanya selesai, Tiwi mengambil tissue kering dan mengelap wajahnya yang penuh air.


"Terima kasih ya Pak" ucap Tiwi.


Tedy menatap Tiwi.


"Itu sebabnya, saya melarang kamu bermake up pada jam kerja. Kamu enggak akan bisa fokus sama salah satunya. Baik itu bermake up maupun bekerja" ucap Tedy.


"Lagipula kenapa harus bermake up terus sih. Apalagi berdandan berlebihan. Bukankah tampil natural dan sederhana itu lebih baik" ucap Tedy.


Tiwi hanya menunduk.


"Nanti kalau matamu sudah membaik. Ini ada dokumen yang baru masuk. Tolong kamu buat surat kontraknya" ucap Tedy.


"Iya, Pak" ucap Tiwi.


Tedy lalu masuk ke dalam ruangannya kembali.


*******


Jam makan siangpun telah tiba, setelah kejadian tadi Tiwi memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Tedy sambil membawa dua buah kotak makanan.



foto : Tedy.


"Ada apa ?" tanya Tedy.


"Pak Tedy belum makan siang ?" tanya Tiwi.


"Belum. Pak Sofyan belum kemari menanyakan pesanan saya" ucap Tedy.


"Sebenarnya, saya membawa dua buah kotak bekal yang berisi makan siang buatan saya, Pak. Saya memang sudah berniat memberi bekal makan siang pada Pak Tedy sebagai permintaan maaf saya atas kejadian kemarin Pak" ucap Tiwi.


Tedy menghentikan kegiatannya dia menatap Tiwi dan bekal yang di pegang Tiwi.


Duh, dia mau enggak ya.


Batin Tiwi.


Tiba-tiba, terdengar suara pintu ruangan Tedy diketuk. Pak Sofyan datang ke ruangan itu.


"Maaf Pak Tedy, hari ini mau pesan apa ? Mie ayam lagikah ?" tanya Pak Sofyan.


Tedy tampak berpikir.


"Hari ini saya enggak nitip dulu deh Pak. Tiwi sudah membawa makan siang saya" ucap Tedy.


"Baiklah kalau begitu saya keluar dulu, Pak" ucap Pak Sofyan.


Tedy lalu melangkah menuju sofa di ruangannya.


"Ayo, duduk. Katanya mau makan siang" ucap Tedy.


Tiwi tersenyum. Tanpa pikir panjang dia segera duduk di sebelah Tedy dan membuka kotak makan siangnya. Akhirnya mereka berdua menyantap menu makan siang mereka dengan lahap.

__ADS_1


"Ini beneran kamu yang masak ?" tanya Tedy tidak yakin.


Tiwi mengangguk.


"Ya iyalah Pak. Bapak enggak yakin banget. Selain jago dandan, saya juga jago masak. Saya juga hobi melihat channel youtube tentang kuliner" ucap Tiwi.


Ternyata banyak hal yang mengejutkan darinya yang saya tidak tahu. Tadinya aku pikir, dia hanya seorang anak manja yang hanya pintar berdandan dan bertindak semaunya.


Batin Tedy.


"Masakan saya enak enggak Pak ?" tanya Tiwi.


"Not bad lah" ucap Tedy.


Tiwi tersenyum puas.


"Pak, sekali lagi terima kasih ya atas bantuannya tadi. Dan saya benar-benar meminta maaf atas kejadian kemarin. Awalnya hal itu terjadi karena ketidak sengajaan. Waktu itu dokumen yang saya bawa mengenai layar ponsel Pak Tedy. Karena merasa kenal dengan wajah yang ada di layar ponsel Pak Tedy, membuat saya penasaran. Sehingga membuat saya ingin mencari tahu lebih banyak. Saya tahu perbuatan saya itu salah dan tidak dapat dibenarkan. Tapi saya tulus meminta maaf pada Pak Tedy" ucap Tiwi.


Tedy terdiam sebentar.


"Asal kamu janji enggak bakal memgulanginya lagi, saya memaafkanmu" ucap Tedy.


"Saya janji kok Pak enggak bakal kayak gitu lagi" ucap Tiwi.


Tedy tersenyum.


Akhirnya suasana kembali mencair. Mereka sudah tidak kaku lagi satu sama lain. Mereka menyantap makan siang mereka sambil mengobrol ringan.


"Kenapa sih Pak, Bapak selalu memesan mie ayam, bakso, siomay sejenis makanan seperti itu buat makan siang ?" tanya Tiwi.


"Bapak enggak lagi diet kan ?" sambung Tiwi.


Tedy tertawa.


"Saya hanya ambil yang praktis saja" ucap Tedy.


"Tapi kan itu enggak sehat Pak. Bapak harus memakan nasi setidaknya, agar punya cukup tenaga buat kerja sampai sore" ucap Tiwi.


"Iya juga sih" ucap Tedy.


"Kalau begitu mulai besok, saya akan membawa makan siang untuk kita berdua ya Pak. Saya bakal masak yang enak-enak sebagai menu makan siang kita nanti" ucap Tiwi.


"Ya, boleh juga" ucap Tedy.


"Tapi, Pak..." ucap Tiwi malu-malu.


Tedy mengernyit.


"Bapak yang beli semua bahannya ya. Saya tinggal masaknya doang" ucap Tiwi.


Tedy tertawa.


"Kamu memang suka bercanda ya" ucap Tedy yang masih tertawa.


Giliran Tiwi yang mengernyit sekarang.


Tedy yang tadinya tertawa berhenti seketika.


Sebenarnya dia niat enggak sih !


Batin Tedy.


*************


Malamnya, Hari pertunangan Rey dan Lestapun tiba. Pertunangan yang di adakan di sebuah hotel mewah di jakarta tersebut, hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat, teman dekat dan teman kantor mereka.


Pesta pertunangan yang berakhir pada pertukaran cincin yang disematkan pada masing-masing jari mereka berlangsung sukses dan meriah. Para tamu undangan ada yang sibuk menyantap hidangan yang sudah disediakan, ada juga yang mengobrol ringan sesama mereka, dan ada juga yang bersalaman memberi ucapan selamat pada Lesta dan Rey.


"Selamat ya Rey. Aku turut bahagia" ucap Tedy yang menghampiri Lesta dan Rey.


"Hmm.." jawab Rey.



foto : Rey.


Tedy mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Rey. Tapi sikap Rey acuh tak acuh.


Lesta yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Kayaknya anak ini perlu di didik !


Batin Lesta.


Lesta mencubit pinggang Rey.


"Aw.. !" ucap Rey.


"Kamu kenapa sih ?" tanya Rey pada Lesta.


"Itu sih Tedy mau salaman. Kamu enggak lihat ya sayang ?" ucap Lesta.


"Maaf ya Tedy, mata Rey memang suka keseleo" ucap Lesta.


Rey melotot mendengar ucapan Lesta. Tapi Lesta tidak kalah melototnya pada Rey.


Rey menghela nafas panjang. Dia menyambut uluran tangan Tedy. Mereka bersalaman.


Lesta tersenyum melihatnya.


"Selamat juga untukmu Lesta. Semoga kamu bahagia" ucap Tedy.


Entah mengapa Lesta merasa ada ketulusan dari ucapan Tedy barusan. Dia merasa lega.


Sepertinya dia sudah bisa menerimanya.


Batin Lesta.


"Terima kasih, Ted" ucap Lesta yang juga bersalaman pada Tedy.

__ADS_1


Rey yang tidak suka calon istrinya bersentuhan dengan laki-laki lain, menaruh cemburu. Apalagi itu Tedy, orang yang pernah menaruh hati pada Lesta.


"Sudah salamannya ! Tedy kamu harus membiasakan diri memanggil Lesta kakak ipar, mulai sekarang. Jangan hanya memanggil namanya" ucap Rey.


"Kenapa sih sayang ? Kan kita baru tunangan. Nanti kalau kita sudah menikah, Tedy pasti memanggilku seperti itu kok" ucap Lesta menengahi.


"Tidak masalah kok" ucap Tedy.


"Bagus kalau kamu mengerti" ucap Rey.


"Oh iya, bagaimana dengan 'hadiah' yang aku kirim untukmu di kantor cabang ?" ucap Rey menahan tawa.


Tedy terdiam. Dia berpikir lama.


"Awalnya aku kira itu 'hadiah' yang buruk. Tetapi lama kelamaan tidak juga. Banyak hal mengejutkan yang baru aku ketahui dari 'hadiahmu'. Dan sekarang, sepertinya aku mulai terbiasa dengan hadiahmu itu" ucap Tedy.


Rey menyeringai.


Hadiah ? Rey memberi hadiah ? Pada Tedy ? Tumben banget !


Batin Lesta.


"Aku masih harus menghampiri tamu undangan yang lain. Kalau begitu aku pergi dulu ya Rey dan kakak ipar" ucap Tedy seraya tersenyum.


Lesta membalas senyuman Tedy. Dan kini mata Lesta beralih pada Rey.


"Hadiah ? Memang hadiah apa yang kau berikan pada Tedy, sayang ?" ucap Lesta dengan tatapan penuh curiga.


"Jangan melihatku seperti serigala kelas berat. Aku memberikan hadiah kepada adikku memangnya itu salah ?" ucap Rey.


"Entahlah sayang. Pikiranku bercabang. Kenapa sih ? Apa besok matahari akan terbit dari sebelah barat ?" ucap Lesta.


Tiba-tiba. Cletakkk !


Rey menyentil kening Lesta. Lesta meringis.


"Aku tidak tahu bagaimana kamu menilaiku sayang. Tetapi aku ini, lebih bermoral dari kelihatannya tau" ucap Rey sambil mengelus kening Lesta yang disentilnya tadi.


Lesta manyun mendengarnya.


********


Tedy yang baru saja selesai menyapa tamu undangan, mengambil minuman di sudut meja. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gadis yang membuat kehebohan dengan suara tawanya. Suara yang terdengar tidak asing di telinganya.


Dia melihat Tiwi yang tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya di kantor pusat. Ternyata Tiwi juga diundang di acara Pertunangan Lesta dan Rey.


Tanpa sadar, Tedy tersenyum melihat Tiwi yang begitu riangnya tertawa bersama teman-temannya.


Tapi, tiba-tiba ekspresi Tiwi berubah drastis. Tat kala Aldo datang dengan menggandeng tangan Anis disebelahnya. Wajahnya berubah muram.


"Aku mengambil minuman dulu ya teman-teman" ucap Tiwi meninggalkan teman-temannya dan melangkah menuju meja minuman. Dia mengambil salah satu cangkir yang berisi cola dan meneguknya beberapa kali.


"Kenapa tidak bergabung dengan temanmu kembali ?" tanya Tedy yang tiba-tiba menghampirinya.


"Pak Tedy ?" ucap Tiwi kaget.


"Di luar jam kerja juga masih memanggil saya bapak ?" ucap Tedy.


"Lalu ? Berarti boleh saya panggil Tedy saja ya Pak ?" ucap Tiwi.


Tedy mengangguk.


"Kamu kenapa disini ? Kenapa tidak bergabung dengan teman-temanmu kembali ?" tanya Tedy kembali.


"Saya sedang ingin sendiri dulu Pak. Lagi mau minum menenangkan diri" ucap Tiwi.


Tedy tersenyum.


"Menenangkan diri dari Aldo maksudnya ?" ucap Tedy.


Tiwi tersentak.


"Saya sebenarnya sudah move on dan sudah rela Ted, Aldo tidak memilih saya. Tetapi sepertinya tadi saya agak kaget saja, karena untuk pertama kalinya melihat Aldo datang ke pesta bergandengan dengan kekasihnya. Cewek Aldo cantik ya Ted. Pantas dia lebih memilih kekasihnya itu" ucap Tiwi dengan raut wajah yang sedih.


"Cantik atau tidak kan tergantung sudut pandang orang yang melihatnya. Pandangan orang beda-beda. Yang saya dengar itu kekasihnya sewaktu SMA. Sepertinya Aldo tipe orang yang enggak bisa move on dari cinta pertamanya" ucap Tedy.


"Jadi bukan karena saya jelek ?" ucap Tiwi.


Tedy menggeleng.


"Siapa yang bilang kamu jelek. Kan kamu sudah berdandan setiap 3 jam sekali" ucap Tedy yang mengingat ucapan Tiwi saat pertama kali menginjakkan kakinya di kantor cabang.


Tiwi tertawa.


"Tetapi dandananmu agak berbeda ya hari ini ?" ucap Tedy.


"Iya. Aku mengubahnya. Kan Pak Tedy bilang kalau laki-laki itu suka wanita yang berdandan natural dan sederhana. Jadi aku menerapkan itu" ucap Tiwi.


Tiba-tiba pipi Tedy dan Tiwi memerah. Keadaan menjadi canggung setelah Tiwi mengatakan hal tersebut.


"Miris banget ya Ted, nasib kita berdua. Melihat orang yang kita sukai dulu bahagia sama pasangannya. Ayo kita kabur dari sini Ted. Entar kita sesak nafas lagi kalau lama-lama di sini !" ucap Tiwi memecah keheningan.


"Mau kemana memangnya ?" tanya Tedy.


"Kita keliling jakarta sambil cari kuliner di pinggir jalan. Kalau perlu kita cari angkringan" ucap Tiwi.


"Kamu belum makan kan ?" sambung Tiwi.


"Belum" ucap Tedy.


"Ayo, tunggu apa lagi. Kita kabur dari sini !" ucap Tiwi yang refleks menarik tangan Tedy melangkah keluar.


Tedy yang melihat pergelangan tangannya dipegang oleh Tiwi terkejut bukan main. Sebuah senyuman tipis terukir dari bibirnya.


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🙏


# Maaf enggak up selama 3 hari dikarenakan kondisi badan saya yang drop. Kemarin sudah sempat nulis 2 bab dan mau postting. Tapi tiba-tiba enggak sengaja kepencet delete. Rasanya jleb banget. Jadi ini saya ketik ulang. Sedih banget rasanya, hiks.. ini siapa sih yang letakkin bawang disini 😢😢


Jangan lupa likenya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2