
Adegan kali ini mengandung gula yang berlebihan. Enggak bagus buat para jomblo🤭
**********
Lesta dan Tedy terkejut mendengar ucapan Rey barusan.
"Kenapa Rey ? Hanya sebuah panggilan. Ada masalah kah ?" tanya Tedy yang juga mulai emosi.
"Tentu saja masalah. Dan mengapa itu jadi masalah, kamu pasti sudah tau apa penyebabnya" ucap Rey.
Sontak Tedy terkejut mendengar.
Enggak mungkin kan Rey menyukai Lesta. Selama ini gue enggak pernah lihat Rey benar-benar peduli dan fokus pada satu wanita.
Batin Tedy.
Lesta yang melihat suasana mulai tidak kondusif. Apalagi mereka berada di sebuah rumah makan yang ruangannya kecil. Akan terlalu mencolok kalau membuat keributan.
"Rey, sepertinya kita perlu ngomong sebentar" ucap Lesta.
"Ted, kamu tunggu disini saja ya. Aku ada perlu sama Rey" ucap Lesta.
Melihat Rey yang masih duduk tidak bergeming, membuat Lesta meradang. Lesta menarik tangan Rey agar segera beranjak dari sana. Dengan terpaksa Rey mengikuti Lesta.
Mereka memilih berbicara di dalam mobil. Bagi Lesta ini tempat teraman untuk mengajak Rey berbicara. Jadi, seandainya Rey berteriak seperti banteng gila, Lesta tidak perlu takut orang akan mendengarnya dari luar.
"Mau bicara apa ?" tanya Rey pada Lesta.
Lesta menghela nafas.
"Saya enggak tahu Rey, ini kamu niatnya bercanda saja atau aku yang kepedean. Aku sampai enggak bisa bedain, yang mana bercanda, yang mana harus aku pahami" ucap Lesta.
"Aku bukan orang yang bodoh yang harus pura-pura enggak tahu dengan kelakuan kamu yang semakin hari semakin aneh kepadaku. Bisa kamu jelasin, apa maksud semua ini ?" ucap Lesta.
Rey menyeringai.
"Harus ku akui kamu orang yang cukup peka Tari. Aku enggak ada niat buat bercanda" ucap Rey.
"Pertemuan kita saat itu. Saat kamu menolongku di jalan, awalnya memang kebetulan. Tetapi sesudah itu, aku punya maksud lain. Kita masuk ke intinya sajalah. Aku memang menaruh hati padamu" ucap Rey.
Deg !
Jadi dugaanku selama ini benar. Aduh bagaimana ini. Gue benar-benar enggak siap dengan pernyataan cinta preman pasar. Tiba-tiba pikiranku sekarang langsung blank. Gue sendiri juga enggak tahu harus jawab apa. Mana jantung enggak berhenti berdebar lagi.
Batin Lesta.
"Kamu sedang enggak bicara omong kosong kan sekarang ?" tanya Lesta.
"Apa menurutmu, aku terlihat punya waktu untuk bicara omong kosong ?" tanya balik Rey.
Lesta terlihat gugup. Mulutnya tiba-tiba kaku. Ada kesungguhan yang Lesta tangkap dari sorot mata Rey.
"Aku... Aku.." ucap Lesta terbata.
"Kamu enggak perlu jawab sekarang. Kamu bisa memikirkannya pelan-pelan. Aku tahu, kamu bukan orang yang mudah dipaksa dan terburu-buru dalam mengambil keputusan" ucap Rey.
"Kamu bisa mejawabnya nanti. Kalau kamu sudah benar-benar siap" sambung Rey.
Lesta terdiam.
"Dan untuk kejadian kemarin, aku minta maaf karena telah membentakmu" ucap Rey.
Lesta menatap Rey.
__ADS_1
Eh, kok dia bisa jadi sesabar ini dan mau minta maaf lagi secara terang-terangan.
Batin Lesta.
Untuk sesaat Lesta bernafas lega, karena Rey tidak memaksa dirinya untuk memberikan jawabannya sekarang.
"Ayo, kita balik ke kantor. Jam istirahat sepertinya sudah berakhir" ucap Rey.
Rey lalu melajukan mobilnya yang tinggal melaju begitu saja, karena memang posisi mesin mobil yang sudah hidup dari tadi karena Rey menggunakan AC mobil sewaktu mereka mengobrol.
"Rey, bagaimana dengan Tedy ? Kita meninggalkannya sendirian di dalam. Dia juga enggak bawa mobil karena kamu yang minta tadi" ucap Lesta.
Rey melirik Lesta.
"Tedy bukan anak SD lagi. Untuk apa mengkhawatirkannya. Dia bisa menelepon sopir perusahaannya untuk menjemputnya nanti" ucap Rey.
Lesta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rey pada adiknya.
Lesta lalu mengirim pesan pada Tedy.
Tedy, Sorry. Tiba-tiba Rey melajukan mobilnya ke kantor tanpa pemberitahuan dulu. Aku jadi enggak enak sudah ninggalin kamu sendirian di dalam. Maaf karena makan siang ini jadi berantakan.
#Isi pesan whatsapp yang Lesta kirim ke Tedy.
Tedy menerima pesan tersebut. Dia membaca pesan tersebut, lalu tersenyum miris dengan sorot mata yang sendu.
*************
Sesampai di kantor Lesta melihat ruangannya begitu sepi. Tetapi ada suara keributan dari dalam ruangan shalat. Karena penasaran, Lesta segera melangkah masuk ke dalam ruangan shalat tersebut.
Ternyata semua pegawai perempuan di ruangannya sedang berada di ruang shalat ini. Mereka sedang sibuk berganti pakaian mengenakan seragam baru.
"Eh, Lesta. Kirain siapa. Cepat masuk sini. Kunci lagi pintunya" ucap Nana yang telah menggunakan seragam senada bewarna biru sama seperti yang lainnya.
Lesta memang ingat, seminggu yang lalu dia pernah diminta oleh bagian HRD untuk mengisi ukuran baju untuk seragam baru menyambut ulang tahun perusahaan besok.
"Iya nih Les. Coba lihat seragam yang kami kenakan. Pas banget kan ?" ucap Sindi yang bergaya bak model melenggang ke kiri dan ke kanan mengenakan seragam baru.
"Bukannya agak kekecilan ya Sin kalau aku melihatnya ?" ucap Lesta.
"Yang Nana juga sepertinya ngepas banget deh di badannya. Enggak ada ruang lagi buat bajunya bernapas" sambung Lesta yang sekarang lirikan matanya beralih ke Nana.
"Iya kami sengaja Lesta pesan ukuran S biar rada seksi gitu dilihat" ucap Nana.
Astaga ! Gue lupa. Mereka ini kan memang pencinta pakaian ketat. Apalagi yang kurang bahan gitu. Lihat saja pakaiannya kalau sudah hari jum'at. Sudah kayak instrukstur senam pakaiannya. Gue sendiri kadang heran. Mereka yang pakai bajunya, Eh gue yang malunya.
Batin Lesta.
"Oh, iya Les. Ini seragam bagianmu. Yang Sekretaris warnanya beda. Kamu bajunya warna putih Les tapi Roknya coklat muda" ucap Sindi sambil menyerahkan seragam yang masih terbungkus plastik kepada Lesta.
"Terima kasih, Sin" ucap Lesta yang menyambut seragam dari Sindi. Lesta lalu mencoba memakai pakaiannya.
"Astaga ! Sempit banget. Sampai engep aku pakainya" ucap Lesta.
"Coba lihat dong Les. Oh, iya kekecilan di kamu Les" ucap Nana.
"Coba Na lihat ukuran bajunya ukuran apa ?" ucap Lesta yang melonggarkan kerah bajunya agar Nana bisa melihat ukurannya. Nana lalu melihat ukuran baju Lesta.
"Ukuran M kok Les. Kamu kemarin minta sama HRD ukurannya apa ?" tanya Nana.
"Bener sih aku minta ukuran M kemarin. Aku juga biasanya pakai ukuran M. Tapi ini kayaknya ukuran size kecil. Aku kirain bakal ukuran size besar" ucap Lesta.
"Iya, ini memang size kecil kayaknya Les. Kita aja biasa pakai S agak lebih sedikit. Tapi kali ini ngepas banget. Tapi kalau kita sih suka-suka aja. Kita jadi kelihatan lebih bohay. Iya enggak Sin ?" ucap Nana.
__ADS_1
"Iya dong" ucap Sindi.
Lesta mencibir.
"Dih..!" ucap Lesta.
Lesta kembali memandangi seragamnya. Roknya terlihat sangat pendek di atas lutut. Bajunya juga sangat sempit, sampai kemeja putih tersebut hampir tidak bisa dikancing.
Sumpah ini baju parah banget. Ditarik ke depan, yang belakang kebuka. Ditarik ke belakang, yang depan nantangin.
Batin Lesta.
"Bu Christine, besok beneran harus dipakai ini baju ? Enggak boleh pakai baju lain ?" tanya Lesta.
"Setahu Ibu sih gitu Les. Wajib pakai karena ulang tahun perusahaan" ucap Bu Christine.
"Aduh, malu banget aku pakai baju ini. Sudah mirip penyanyi bar. Tinggal cari mic doang ini mah" ucap Lesta.
Sindi dan Nana tertawa mendengarnya.
Tiba-tiba telepon di meja Lesta berbunyi.
Aduh diangkat enggak ya. Pakaian lagi kayak gini. Enggak diangkat takutnya penting. Mana yang lain lagi pada ganti baju. Tapi jam segini ruangan masih sepi kan. Tidak masalah kalau aku angkat sebentar.
Batin Lesta.
Akhirnya dengan tergopoh-gopoh Lesta mengangkat telepon mejanya.
Ternyata benar saja, yang menelepon adalah sekretaris dari perusahaan Global Group. Sekretaris tersebut menelepon untuk merubah jadwal meeting untuk besok. Mereka meminta jadwal meeting di majukan 2 jam ke depan.
Untung tadi diangkat teleponnya. Informasi sepenting ini gawat kalau sampai terlewat.
Batin Lesta.
Tiba-tiba, Rey datang. Rey yang tadinya ingin ke ruangan Pak Marta untuk menyerahkan laporan, akhirnya berbelok menghampiri meja Lesta. Dia sengaja mendatangi meja Lesta karena meliha Lesta yang berpakaian super minim sehabis menerima telepon.
"Seragam baru ?" tembaknya langsung.
Lesta mengangguk sambil menutupi dadanya dengan map dokumen di atas mejanya.
"Sepertinya ukurannya kekecilan denganmu ?" ucap Rey yang melihat Lesta dengan risih.
"Iya, Ini ukuran sizenya kecil. Tadinya aku kira yang datang bakal size besar. Biasanya juga, aku pakai size M enggak sempit kayak gini. Tetapi mau enggak mau ini baju harus dipakai besok. Karena hari ulang tahun Perusahaan" ucap Lesta.
Rey mengernyit. Dia menaikkan salah satu alisnya.
Seolah paham apa yang dipikirkan Rey, Lesta langsung memberi penjelasan.
"Aku juga enggak nyaman pakai baju ini. Ini bikin aku risih. Tetapi karena ada telepon mendadak jadi aku cepat-cepat ke sini" ucap Lesta.
Rey menghela nafas.
"Ya, sudah. Nanti aku hubungi tempat konveksi baju ini. Aku bakal pesan ukuran seragam baru kamu, dua kali lebih besar dari size yang ini. Mungkin nanti malam aku suruh sopir anterin ke kamu bajunya" ucap Rey.
Lesta mengangguk.
"Cepat ganti pakaianmu sekarang. Untung belum ada pegawai laki-laki yang melihat. Aku enggak suka melihat calon pacarku memakai 'Baju Haram' ini" ucap Rey yang beranjak pergi memasuki ruangan Pak Marta.
Baju Haram ? Lah, memangnya ada ?
Batin Lesta.
# Jangan lupa like, vote dan komen syantiknya ya 😘 Saranghaeyooo😍
__ADS_1
nb : aku ubah jadi "aku" dan "kamu" aja ya dialognya. Biar lebih romantis. Enggak ganti lagi kok. Entar kalau ganti lagi, dapet payung cantik takutnya🤭