
Lesta memapah Rey yang kondisinya babak belur habis dikeroyok oleh empat pria bermotor tadi.
Semua warga yang sudah terlanjur keluar mendengar teriakan Lesta tadi, menghampiri mereka berdua.
Ada juga yang membantu membetulkan posisi motor Rey yang sudah terbalik ke posisi semula.
"Kalian enggak apa-apa ?" tanya Pak Salim yang rumahnya di pinggir jalan.
"Tidak apa-apa Pak. Paling luka memar saja" jawab Rey.
"Sepertinya Kamu kena begal ya nak" ucap bapak yang satunya lagi.
Rey hanya diam.
"Tapi kalau di begal, kenapa mereka tadi tidak langsung mengambil motormu ya sewaktu kamu jatuh tadi. Malah memilih memukulimu. Apa kau kenal mereka ?" tanya bapak-bapak yang sarungan.
Rey kembali diam.
Melihat Rey yang terdiam, Lesta memberikan jawaban.
"Kayaknya dia enggak kenal Pak sama orang-orang itu. Mungkin murni di begal, tetapi belum sempat aja motornya di ambil. Kalau begitu bisa minta tolong motornya titip di rumah Pak Salim dulu ya. Soalnya dengan kondisi kakinya seperti ini, dia enggak mungkin bisa membawanya. Besok motornya kami ambil" ucap Lesta.
"Oh, iya enggak apa-apa neng Lesta" ucap Pak Salim yang rumahnya tepat di depan tempat kejadian.
"Terima kasih, Pak Kalau begitu" ucap Lesta.
Akhirnya merekapun bubar.
Lesta yang terus memapah Rey berjalan, mengajak Rey ke rumah kontrakannya yang sangat dekat dengan tempat kejadian tadi.
Lesta memapah Rey hingga duduk di sofa ruang tamu, yang merangkap ruang menonton televisi itu.
"Whoaa.. Berat banget badanmu Pak Rey" ucap Lesta yang telah duduk di sofa samping Rey.
"Ngapain kita ke sini ? Saya mau pulang !" ucap Rey.
"Iya, memang entar Pak Rey saya suruh pulang. Ngapain saya nyuruh Pak Rey lama-lama disini ? Entar kita digerebek orang lagi. Dikira kumpul kebo. Tapi sebelum pulang, luka Pak Rey harus di obati. Nanti Pak Marta khawatir melihat kondisi tubuh Pak Rey yang babak belur begini" ucap Lesta.
Rey hanya diam mendengar penjelasan Lesta.
Lesta mengambil kotak obat di dalam kamarnya. Dia mulai mengobati luka Rey, mulai dari lututnya, lengan hingga wajahnya.
Selama mengobati Rey, Lesta tidak berhenti beebicara. Itu dia lakukan agar tidak terlihat canggung saat mengobati luka Rey.
Melihatnya dari dekat begini, benar-benar menguji iman.
Batin Lesta.
"Kenapa sih Pak mereka memukuli bapak sampai babak belur kayak gini ? Mereka mengambil motor bapak juga enggak ? Apa ada yang dendam dengan bapak ?" ucap Lesta yang tidak berhenti berceloteh.
Tetapi gue enggak heran kalau ada yang dendam dengan preman pasar, kelakuannya memang ngeselin.
Batin Lesta.
Mendengar ucapan Lesta, Rey langsung teringat pada Adit yang kalah tanding balap motor dengannya. Apalagi ceweknya langsung nemplok dengannya saat Rey memenangkan balapan.
__ADS_1
Ya, Pasti dia. Tunggu pembalasan gue nanti Dit.
Batin Rey.
"Makanya Pak kalau kata Orang Tua jangan balapan ya jangan balapan. Akhirnya kualat kan ? Untung ketemu sama saya yang kebetulan baru pulang dari beli nasi goreng tadi. Kalau enggak, mungkin bapak udah jadi perkedel sama orang-orang yang mukuli bapak tadi" ucap Lesta yang masih saja nyerocos panjang lebar.
"Bawel !" ucap Rey.
Lesta yang kesal mendengar ucapan Rey, langsung menekan dengan kuat kapas yang menempel di lutut kaki Rey.
"Aw ! Kamu sengaja ya !" teriak Rey.
Matanya melotot.
"Maaf, enggak sengaja Pak" ucap Lesta berbohong.
Rasain elo !
Batin Lesta.
"Kamu tinggal sendirian disini ?" ucap Rey sambil melihat sekeliling.
"Orang tua kamu mana ?" tanya Rey.
"Saya ngontrak disini. Berdua sama teman. Tapi sekarang dia lagi pulang ke palembang karena ada acara keluarga. Orang tua saya ada di Palembang juga. Saya anak rantau disini" ucap Lesta.
Rey cuma mangguk-mangguk.
"Kejadian hari ini jangan kamu bilangin dengan Papa saya ya. Saya enggak mau dia enggak memperbolehkan saya balapan lagi nantinya !" ucap Rey.
Rey melotot.
"Konyol !" ucap Rey.
Lesta tidak berani berbicara lagi.
"Nah, sekarang lukanya sudah di bersihkan dan dikasih betadine semua. Sekarang Pak Rey boleh pulang. Jangan bawa motor dulu karena enggak akan bisa dengan kondisi Pak Rey sekarang. Saya pesani taksi online ya, secara Pak Rey pasti enggak punya aplikasi itu" ucap Lesta.
"Enggak usah ! Saya telepon sopir di rumah saja. Sebutin aja alamat rumah kamu entar saya kirim map ke dia !" ucap Rey.
Lesta akhirnya menyebutkan alamat rumahnya dan Rey mulai menghubungi sopir di rumahnya.
Selama menunggu sopirnya datang mereka mengobrol banyak. Layaknya kedua orang sahabat yang bercerita tentang kisah hidup mereka.
Terutama Lesta yang andil banyak, bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Karena Rey lebih banyak diam orangnya. Enggak bakal ngomong kalau enggak di pancing atau ditanya.
"Jangan panggil Pak ! Gue risih dari tadi elo panggil Pak. Kayak gue udah beneran tua aja ! Panggil nama aja kalau di luar kantor. Anggep aja kita temanan" ucap Rey.
"Oke" Lesta mengangguk.
"Karena kita temanan. Gue boleh tanya sesuatu enggak ?" ucap Lesta.
"Hmm.." ucap Rey.
"Kenapa elo benci banget sama gue di kantor ?" Elo sengaja kan mempersulit posisi gue di kantor ?" tanya Lesta.
__ADS_1
Rey terdiam untuk beberapa saat.
"Gue enggak benci sebenarnya sama elo. Yang gue benci itu Sekretaris Papa gue. Siapapun yang jadi sekretaris papaku pasti gue enggak bakal suka !" ucap Rey.
"Sorry kalau elo merasa kesulitan karena gue" ucap Rey.
Lah dia bisa bilang 'Sorry' juga ternyata.
Batin Lesta.
"Tapi gue lihat, elo orangnya tahan banting ya. Enggak kayak sekretaris-sekretaris yang dulu" ucap Rey seraya tertawa.
"Itu karena di paksa oleh keadaan. Kan tadi gue udah cerita sama elo. Gue butuh kerjaan ini buat biaya hidup sehari-hari dan membantu modal usaha pecel lele orang tua gue di Palembang" ucap Lesta.
Rey cuma mengangguk-angguk, merespon ucapan Lesta.
"Rey gue laper nih. Gue sambil makan nasi goreng enggak apa-apa kan ?" tanya Lesta sambil membuka bungkusan nasi goreng yang dibelinya tadi.
"Eh, iya. Elo sudah makan belum ?" tanya Lesta.
"Kalau gue bilang belum, emang cukup itu nasi goreng di bagi dua ?" tanya Rey.
Lesta tersenyum.
"Hehehe, Enggak sih !" ucap Lesta.
Rey tertawa.
"Saya sudah makan kok. Ini juga sudah terlalu malam untuk jam makan malam" ucap Rey.
Lesta terlihat lega mendengarnya.
"Ah, Syukurlah kalau elo sudah makan Rey. Gue udah takut nih nasi di bagi dua tadi. Soalnya gue kalau makan harus banyak. Porsi kuli bangunan" ucap Lesta.
Rey tertawa mendengarnya.
Lesta mulai menyuap nasi gorengnya dengan lahap. Sampai tidak ada yang tersisa. Ya, kecuali piringnya ya.
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar. Sopir yang diperintahkan Rey menjemputnya sudah datang.
Sang sopir langsung turun dari mobil dan memapah Rey.
"Besok pagi aja gue ambil motornya ya. Entar gue suruh orang buat ambilnya" ucap Rey.
"Iya, besok langsung aja ke rumah Pak Salim. Yang cat rumahnya warna abu-abu itu. Tahu kan ?" ucap Lesta.
Rey mengangguk.
"Udah, gue pulang ya. Terima kasih sudah bantuin gue !" ucap Rey yang sudah bersiap melangkah pergi di papah oleh sopirnya.
Lesta tersenyum mendengarnya.
Bisa bilang terima kasih juga nih preman pasar. Gue rasa dia enggak seburuk yang gue pikir selama ini.
Batin Lesta.
__ADS_1
#Jangan lupa like, vote dan komen cetar kalian ya... 🙏 Kalau ada yang bilang si Rey udah jatuh cintrong belum ? kayaknya belum ya. Soalnya gue kalau bikin proses jatuh cintrong agak lamaan kayak novel sebelumnya, biar hubungannya awet kayak formalin 😝 tapi bakal bunga-bunga cintanya udah adalah sedikit 🤭 Entar kalau sempat double up, gue double up ya agak sorean. Tapi kalau enggak sempat malam ya.. Saranghaeyo...😘