Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Bucin


__ADS_3

Tak perlu berjanji untuk sehidup semati. Cukup berjanji untuk bertahan, sesusah apapun nanti. (cz).


*************


Hari ini, hari terakhir Lesta masuk kerja. Karena besok dia sudah cuti bekerja untuk menyiapkan pernikahannya. Pagi ini, dia sudah menyerahkan dokumen-dokumen beserta file-file yang harus di urus oleh Tiwi nanti. Bisa dikatakan mereka berdua sedang serah terima tugas untuk posisi sekretaris Presdir.


Sebenarnya Lesta tidak banyak memberi arahan pada Tiwi untuk bekerja sebagai sekretaris Presdir. Karena Tiwi yang memang lebih dulu bekerja di MD Group sebagai sekretaris administrasi umum daripada Lesta sudah terbiasa dengan pekerjaan sebagai sekretaris. Setidaknya semua tugas sebagai sekretaris sudah hafal di luar kepala bagi Tiwi.


Hanya saja yang membedakannya untuk posisi sekretaris Presdir ini terletak pada poin-poin yang menjadikan Presdir sebagai pemimpin rapat dan kunjungannya ke berbagai kantor cabang dan perusahaan kolega lainnya, sehingga perlu pengaturan jadwal kegiatan Presdir yang tepat dan materi-materi yang harus disiapkan sebelum meeting.


Saat Lesta sedang asyik-asyiknya mengajari Tiwi, sebuah sapaan membuat mereka menoleh berbarengan.


"Pagi, Lesta" ucap Aldo.


"Ada Tiwi juga ?" ucap Aldo.


"Pagi, Do. Iya, Tiwi yang bakal gantiin posisi aku disini Do" ucap Lesta.


"Oh ya ? Mulai kapan Wi ?" tanya Aldo.


"Mulai besok Do. Besok Lesta sudah mulai cuti" ucap Tiwi.


Tiwi memang pernah menyukai Aldo. Bahkan dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Aldo. Tetapi karena sikap Aldo yang menolak dengan sopan, dan sikap legowo Tiwi yang mau menerima keputusan orang lain dengan bijak, maka sekarang hubungan mereka terkesan baik-baik saja dan jauh dari kata tidak akur. Mereka masih berbicara layaknya seorang sahabat.


"Tumben nih Do kemari. Pasti ada alasannya kan kenapa kamu kemari ?" tanya Lesta.


Aldo nyengir.


"Ke lobby bentar yuk Les. Ada yang mau aku tanyain tentang Anis" ucap Aldo.



foto : Aldo.


"Oke" ucap Lesta yang sudah beranjak dari duduknya.


"Wi, pilah-pilih dulu dokumennya tadi ya. Aku mau ke lobby dulu sama Aldo" ucap Lesta.


"Oke, Les" ucap Tiwi.


Kalau dulu aku pasti sedih, dengar cerita Aldo tentang pacarnya. Sekarang sepertinya perasaan itu sudah benar-benar hilang. Apalagi semenjak kehadiran Tedy, aku bisa melupakan semua itu dengan mudahnya. Tapi Tedy lagi ngapain ya sekarang. Kangen juga melihatnya. Tapi sepertinya aku enggak bisa ketemu dia dalam waktu dekat ini. Aku kan sudah bilang padanya buat memberi jawaban dua minggu lagi. Huft..


Batin Tiwi.


*********


Sementara di lobby, Lesta dan Aldo sudah duduk besebrangan.


"Les, Anis kenapa sih ?" tanya Aldo.


"Loh ? Anis kenapa memangnya ?" tanya balik Lesta.


"Jangan bohong deh, Les. Enggak mungkin kamu enggak tahu. Anis pasti cerita ke kamu kalau ada masalah" ucap Aldo.


Lesta hanya diam tidak menjawab.


"Mamanya Anis sudah datang ke jakarta belum ?" tanya Aldo.


"Loh, kok kamu tahu sih Do ? Mama Anis mau ke sini ?" tanya Lesta.


"Iya, Anis yang bilang. Dia bilang aku tidak perlu menjemputnya saat datang ke pernikahanmu nanti. Soalnya dia mau pergi bareng papa dan mamanya ke pesta pernikahanmu" ucap Aldo.


"Iya, aku mengundang papa dan mama Anis memang. Mamanya juga sudah seperti mamaku, karena memang kita temanan sudah lama banget" ucap Lesta.


"Mama dan papa Anis belum datang kok. Kabarnya bakal datang sehari sebelum pernikahanku" ucap Lesta.

__ADS_1


"Ada apa sih Do sebenarnya ?" ucap Lesta.


"Semenjak pulang dari acara pesta pertunanganmu, sikap Anis langsung berubah. Dia enggak mau aku mengantarnya dan menjemputnya pulang bekerja. Selalu saja ada alasannya. Dia sudah pergi duluan lah kalau aku mau mengantarnya pergi ke kantor, lalu sewaktu memjemputnya ke kantor dia beralasan sudah pulang lebih awal" ucap Aldo.


"Bila aku telepon juga, dia selalu menjawab teleponku seadanya. Bahkan bersikap acuh tak acuh. Aku merasa dia menjauhiku" ucap Aldo.


Aduh, kasihan Aldo. Anis juga sih, kejam amat sama Aldo. Jelasin kek alasan kamu kayak gitu kenapa. Kasihan nih si Aldo jadi menerka-nerka.


Batin Lesta.


"Dia lagi enggak dekat dengan cowok lain kan, Les ?" tanya Aldo


"Ya, enggak lah. Anis bukan tipe cewek kayak gitu Do. Yang punya cowok lain sampai tega ninggalin pacarnya. Sebenarnya..." ucap Lesta terputus.


Duh, cerita enggak ya ? Tapi, Anis kan sudah bilang jangan cerita sama Aldo mengenai masalah kemarin. Tapi, kalau begini kasihan Aldonya di gantung kayak tali jemuran. Duh, jadi inget jemuran baju di rumah. Sudah diangkat belum ya sama tetangga ? langit mendung kayak gini. Kalau belum di angkat, sia-sia dong tadi pagi aku gelut sama mesin cuci.


Batin Lesta.


"Les.. Sebenarnya apa ?" tanya Aldo yang menunggu Lesta dari tadi meneruskan ceritanya.


"Sebenarnya, dia sempat mendengarkan obrolan kamu dan mama kamu di pesta pertunanganku kemarin" ucap Lesta.


Aldo Kaget mendengarnya.


"Anis bilang, dia dalam posisi serba salah sekarang. Di satu sisi dia menyayangimu. Tapi disisi yang lain, dia tidak ingin mempunyai suatu hubungan yang terganjal restu orang tua" ucap Lesta.


"Oh, jadi karena itu dia menghindariku. Bilang sama Anis. Aku bakal menentang perjodohanku. Aku enggak bakal menikah, kalo enggak sama dia" ucap Aldo yang sudah beranjak dari duduknya dan melangkah ke luar lobby.


"Entah kemana dia sekarang ? Enggak bilang terima kasih dulu lagi, sudah diberitahu alasannya" ucap Lesta yang melihat punggung Aldo dari kejauhan.


Tak lama Rey datang.


"Ngapain duduk di lobby ? Tumben" ucap Rey yang langsung duduk bersebrangan dengan Lesta.


"Tadi habis mengobrol dengan Aldo sayang" ucap Lesta.


"Biasa, ada masalah sama Anis. Aku heran deh sayang. Enggak pernah mulus kisah cinta mereka. Selalu aja ada kerikil-kerikil kecil gitu" ucap Lesta.


Rey hanya diam, menatap Lesta.


"Kok, enggak komen sih yang ?" ucap Lesta.


"Ngapain ? Aku tidak tertarik dengan kisah cinta orang lain" ucap Rey.


Dih, jahat banget ! Padahal Aldo itu teman sekaligus sepupunya kan. Benar-benar teman luknut sejati.


Batin Lesta.


"Jadi, kamu ngapain ke sini yang ?" tanya Lesta.


"Kamu ambil tema warna pink ya sayang untuk pesta pernikahan kita nanti ?" tanya Rey.


"Iya !" ucap Lesta.


"Sampai pakaian mempelai laki-lakinya juga warna pink ? Kenapa kamu enggak bilang sebelumnya sayang ? Aku kaget sewaktu ada kiriman jas bewarna pink dari Wedding Organizer yang akan aku pakai buat nikahan nanti" ucap Rey.


"Loh ? Kan kamu sendiri yang bilang sayang. Semua terserah aku. Aku kan memang penggemar warna pink" ucap Lesta.


"Iya, tapi kenapa aku juga harus memakai jas bewarna pink. Aku enggak mau !" ucap Rey.


"Sayang, kamu ingkar janji ! Kan kamu sendiri yang bilang kemarin kalau semua terserah aku" ucap Lesta.


"Kamu enggak bilang, kalau pakaian Pengantin lelakinya juga harus pink !" ucap Rey.


"Pokoknya aku enggak mau !" ucap Rey.

__ADS_1


Lesta memasang tampang memelas.


"Tuh, kan. Belum jadi suami istri aja kamu sudah ingkar janji. Gimana kalau kita sudah menikah nanti. Ucapanmu enggak bisa di pegang, sayang" ucap Lesta dengan wajah manyunnya.


Melihat raut wajah Lesta yang sedih. Seketika racun bucin pada tubuh Rey mulai menyebar. Rey yang sudah masuk ke dalam daftar bucin dunia akhirat, alias bucin kronis tingkat alam barzah, mulai tak enak hati melihat orang disayanginya bersedih.


"Ya, sudah. Jangan manyun lagi ! Aku setuju. Tapi entar kita lihat-lihat lagi ya ke Wedding Organizernya. Siapa tahu kamu berubah pikiran ingin warna yang lain" ucap Rey.


Lesta mengangguk. Kini dia tersenyum senang.


Ya, penting sekarang bilang iya saja dulu untuk menyenangkan hatinya. Besok aku harus membujuknya ke Wedding Organizer itu lagi, supaya mengubah warna tema pesta pernikahan yang sudah dipilihnya. Ya, aku harus mengubahnya, kalau tidak ingin ditertawakan oleh teman-temanku dan di ejek 'bencong' oleh Johan yang bermulut lemes karena memakai jas bewarna pink itu !


Batin Rey.


***********


Jam telah menunjukkan pukul 17:00 Sore. Semua pegawai satu-persatu telah keluar dari ruangan kerjanya dikarenakan sudah saatnya jam pulang bekerja.


Tiwi dan Lestapun sudah selesai merapikan dokumen bersama dan bersiap pulang. Tetapi Tedy yang baru tiba di ruangan itu membuat Lesta mengerti bagaimana harus mengambil sikap terhadap kedua insan yang sedang melakukan PDKT tersebut.


"Wi, aku duluan ya. Mau ke ruangan Rey buat pulang bareng. Kamu juga kayaknya sudah ada yang jemput tuh !" ucap Lesta sambil melirik Tedy yang ada di hadapan mereka.


"Duluan ya Ted !" ucap Lesta.


Tedy mengangguk.


Lesta lalu beranjak pergi menuju lift.


Tiwi menatap lekat pria yang ada di hadapannya sekarang. Ada perasaan bingung sekaligus senang saat melihat Tedy ada di kantornya.


"Ted, ada apa ke sini ?" tanya Tiwi.


"Menjemputmu !" ucap Tedy.


"Hmm.. Tapi kan aku sudah bilang, akan memberi jawabannya dua minggu lagi" ucap Tiwi.


Tedy tertawa.


"Lalu kenapa ? Kalau kamu baru mau memberikan jawabannya dua minggu lagi ?" tanya Tedy.


Tiwi mengernyit.


"Aku belum menagih jawabanmu. Aku sudah bilang kan, kalau aku akan sabar menunggu" sambung Tedy.


"Jadi kenapa kamu ke sini ?" tanya Tiwi lagi.


"Aku sedang menunjukkan usahaku untuk mengambil hatimu. Bukankah kamu bilang, kamu butuh bukti untuk keseriusanku" ucap Tedy.


Tiwi tersenyum mendengarnya.


Kalau orang lain akan bilang 'karena aku mengkhawatirkanmu' atau 'karena aku mencintaimu' tetapi tidak dengan lelaki ini. Dia langsung berbicara pada intinya. Benar-benar jawaban seorang Tedy.


Batin Tiwi.


"Mulai sekarang, setiap hari aku akan menjemputmu pulang bekerja. Kamu tidak keberatan kan ?" tanya Tedy.


Tiwi mengangguk. Perasaannya kembali berdebar-debar.


#Jempolnya dongggg.. Tinggalin Like, komen dan vote ya 🙏


Jangan lupa baca novel sahabatku juga ya 😘



__ADS_1




__ADS_2