
Lesta lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu pembantu rumah tangga di sana menghampiri Lesta.
"Non Lesta ya ?" tanya Pelayan itu.
"Iya Bik" jawab Lesta
"Pak Marta sudah nungguin di ruang kerjanya. Ada Nyonya juga kok disana" ucap pelayan itu.
Lesta lalu mengikuti pelayan itu melangkah menuju ruang kerja Pak Marta.
"Lesta, sudah sampai ?" ucap Pak Marta saat melihat Lesta yang baru saja sampai.
"Iya, Pak" ucap Lesta.
Lesta melirik seorang perempuan paruh baya yang duduk di sebelah Pak Marta. Walaupun perempuan itu sudah berusia paruh baya, tetapi masih terlihat garis cantik wajah yang dimilikinya.
"Selamat Siang Bu" ucap Lesta menyapa Nyonya Marta.
"Siang" Jawab Bu Marta.
"Ma, ini sekretaris papa yang baru. Namanya Lesta. Dia termasuk pegawai yang rajin dan langsung paham dengan materi yang kita berikan" ucap Pak Marta.
"Oh, jadi nama kamu Lesta. Suami saya sering cerita tentang kamu. Semoga betah ya Les, kerja di sana" ucap Bu Marta.
"Iya, Bu" ucap Lesta.
Bu Marta baik banget, enggak sombong seperti Nyonya-nyonya besar pada umumnya.
Batin Lesta.
Lesta lalu mengerluarkan flashdisk dari tasnya dan mulai membuka file tersebut di laptop Pak Marta.
Pak Marta yang berada di samping Marta, mulai memperhatikan angka-angka yang tertera di laporan tersebut.
Sesekali, terlihat mereka beberapa kali berdiskusi mengenai laporan tersebut.
Sampai pada akhirnya, jam menunjukkan pukul 12:00 Siang. Pekerjaan merekapun akhirnya selesai.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam ruang kerja.
"Bu, makanan sudah siap" ucap pelayan tersebut.
Bu Marta mengangguk.
"Kalau begitu saya izin pulang ya, Pak. Karena semua kerjaan sudah selesai tadi" ucap Lesta.
"Jangan pulang dulu Lesta. Ayo ikut makan siang bersama kami. Ini sudah waktunya jam makan siang loh" ucap Bu Marta.
"Eh.. Enggak usah, Bu. Biar saya makan dirumah aja" ucap Lesta.
"Jangan begitu Lesta. Makanlah dulu di sini. Kamu sudah capek-capek mengantarkan flashdisk ini, masa' iya enggak di kasih makan juga" ucap Pak Marta.
"Beneran Pak, enggak usah. Saya juga enggak merasa di repotin kok" ucap Lesta.
"Sudah, Pokoknya kamu makan dulu disini. Baru boleh pulang" ucap Bu Marta menggandeng tangan Lesta.
Mau tak mau Lesta mengikuti perintah Bu Marta dan Pak Marta.
Sekarang Lesta, Bu Marta dan Pak Marta telah duduk manis di meja makan.
"Bik, tolong kamu panggilin Rey dan Tedy ya kemari. Bilang di suruh Bapak turu, untuk makan siang" ucap Bu Lesta.
"Baik, Bu" ucap pelayan itu.
Tedy ? Seperti nama tukang kebun tadi. Atau saking baiknya keluarga ini, tukan kebun juga di ajak makan bersama. Atau hanya kebetulan saja namanya sama. Bingung.
Batin Lesta.
Tiba-tiba Tedy masuk ke dalam ruang makan dan duduk bersebrangan dengan Lesta. Tedy duduk tepat berhadapan dengan Mamanya.
Tedy dan Lesta sama-sama terkejut saat saling melihat. Mereka tidak menyangka akan berada dalam satu meja makan yang sama.
Eh, benar Tedy yang ini.
Batin Lesta.
Terlihat Tedy sudah mandi dan berganti pakaian dari berkebun tadi. Wajah Tedy terlihat makin menawan dan bau harum dari tubuhnya tercium saking wanginya.
"Sudah berkebunnya tadi sayang ?" tanya Bu Marta pada Tedy.
"Sudah Ma" jawab Tedy.
Wait ! Mama ? Jadi ini anak Pak Marta yang satunya lagi. Yang pernah di ceritakan Sindi padaku dulu. Matilah aku.. Kenapa aku menganggapnya tukang kebun tadi. Kira-kira dia marah dan bakal mengadu sama Pak Marta engaak ya.
Batin Lesta.
"Loh, kita kedatangan tamu nih Ma ?" tanya Tedy melirik Lesta di hadapannya. Seolah-olah baru berjumpa saat itu juga.
Deg !
__ADS_1
Tolong jangan di bahas hal yang memalukan tadi.
Batin Lesta.
"Iya, ini Sekretaris Papa kamu yang baru. Lesta Namanya" ucap Bu Marta.
"Les, kenalin. Ini Anak bungsu Ibu dan Bapak" ucap Bu Marta.
"Salam kenal Pak Tedy" ucap Lesta.
"Salam kenal Lesta. Jangan panggil Pak dong. Aku kan masih muda" ucap Tedy seraya tersenyum.
"Iya, Lesta. Lagian ini bukan jam kerja. Santai aja !" ucap Pak marta.
"Eh, iya Pak Marta" ucap Lesta.
"Mana Rey kenapa belum turun ?" tanya Pak Marta pada pelayan.
"Tadi sudah dipanggil Pak, Tuan Rey bilang sebentar lagi dia bakal turun" ucap pelayan tersebut.
Satu meja dengan Rey lagi ? Oh, tidak.. Terakhir aku makan satu meja dengannya, aku hampir mati keselek dibuatnya.
Batin Lesta.
Tiba-tiba yang di omongin panjang umur. Rey yang baru turun dari atas segera masuk ke dalam ruang makan.
Rey yang biasanya berbaju formal kantoran yang biasa di lihat Lesta sehari-hari dikantor, sekarang terlihat berbeda dengan baju casualnya sekarang.
Dia terlihat jauh lebih tampan. Astaga, apa-apaan aku ini. Aku memang lemah kalau sudah berhadapan dengan wajah-wajah tampan.
Batin Lesta.
Rey yang baru menyadari ada sosok Lesta di meja makan merasa terkejut. Begitu juga dengan Lesta yang merasa kaget dengan kemunculan Rey secara tiba-tiba.
Rey lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Lesta. Mereka duduk bersebrangan.
Mata mereka bersitatap, tapi Lesta buru-buru menghindar. Dia memalingkan wajahnya.
Jangan cari perkara. Maka kamu aman Lesta.
Batin Lesta.
"Rey, kenapa baru turun sayang ? Kami sudah nungguin dari tadi. Kebetulan ada lesta juga nih yang ikut makan sama kita" ucap Bu Marta.
"Lagi mandi tadi" jawab Rey singkat.
Lesta langsung gemetar mendengar ucapan Rey barusan.
Tuh kan, emang dasar preman pasar. Ngomongnya halus bener. halus nyindirnya maksudnya !
Batin Lesta.
"Papa minta dianterin flashdisk sama Lesta. Ada email masuk mengenai proyek. Papa mau lihat progres perusahaannya di laporan dalam flashdisk tersebut" ucap Pak Marta.
"Oh !" ucap Rey.
Mereka mulai menyantap makanan mereka masing-masing.
Suasana berlangsung hening, sampai pada akhirnya Bu Marta membuka obrolan.
"Rey kenal kan sama Lesta. Kalian kan satu kantor. Paling tidak sering bertemu kan sewaktu rapat" ucap Bu Marta.
Rey lalu melirik Lesta.
"Iya !" jawabnya singkat.
Duh, nih anak kalau ngomong bayar kali ya. Irit banget ngomongnya !
Batin Lesta.
"Kak Rey enggak gangguin kamu kan Les kalau di kantor ?" ucap Tedy menggoda Lesta. Dia teringat cerita Lesta mengenai Rey yang membuatnya kesal.
Lesta melotot mendengarnya. Dia sadar, dia telah bercerita panjang lebar sewaktu di taman tadi. Mengenai kekesalannya pada Rey.
Rey lalu memandang Lesta. Mata mereka bersitatap kembali. Tapi kali ini sorot mata Rey tajam. Bukan hanya seperti menunggu sebuah jawaban dari Lesta. Tetapi Lesta menganggapnya juga seperti sebuah ancaman baginya agar tidak berbicara yang tidak-tidak mengenai Rey.
"Eh, enggak kok. Pak Rey memperlakukan karyawannya dengan baik" ucap Lesta.
Baik dalam urusan membuat orang naik darah !
Batin Lesta.
Rey tersenyum mendengarnya.
Seneng kan elo mendengar dusta yang paling durjana ini !
Batin Lesta.
__ADS_1
Akhirnya makan siangpun selesai. Lesta merasa lega karena makan siang tadi berjalan mulus tanpa ada tragedi keselek lagi.
Bu Marta mengajak Lesta berkeliling rumah. Berjalan sekaligus bercerita. Sedangkan Rey dan Pak Marta duduk di ruang tamu membahas masalah pekerjaan.
"Pasti berat ya menjadi Sekretaris Pak Marta ?" ucap Bu Marta.
"Enggak kok, Bu. Pak Marta Bos yang baik. Enggak pernah marah, ngomongnya juga sopan kalau memberikan pekerjaan" ucap Lesta.
Bu Marta tersenyum mendengar ucapan Lesta.
"Maksud Ibu, Pasti berat menjadi sekretaris Pak Marta karena sering di gangguin oleh Rey ya ?" ucap Bu Marta.
Lesta terdiam.
Kok Bu Marta bisa tahu ya ?
Batin Lesta.
Lesta mengerenyit.
"Jangan heran. Ibu tahu semuanya. Papa Rey sering cerita kejadian di kantor sama Ibu" ucap Bu Marta.
"Dulu Ibu juga bekerja menjadi Sekretaris Pak Marta. Dari Ibu telah menikah sampai punya anak. Ibu sangat bersyukur saat Pak Marta tidak memecat Ibu menjadi sekretarisnya saat Ibu sudah menikah dan punya anak. Padahal syarat menjadi sekretaris di perusahaan itu, kamu tahu sendiri kan.. harus lajang. Di saat suami Ibu meninggal karena kecelakaan. Saat itu Tedy masih kecil. Ibu terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Selang beberapa bulan dari kejadian itu. Ibunya Rey juga meninggal. Tepat di hari ulang tahun Rey. Tak lama dari situ Pak Marta meminta Ibu menjadi istrinya. Karena dia kasihan melihat Rey yang masih kecil tumbuh tanpa kasih sayang Ibunya" ucap Bu Marta.
"Tapi Rey berpikir lain. Dia menganggap Papanya cepat sekali melupakan Ibunya. Sehingga tidak sabar untuk menikah. Belum lagi diusiannya saat itu, temannya mengolok-olok dirinya yang tidak mempunyai Ibu dan menghasutnya untuk berpikir jelek tentang status ibu tiri. Padahal Ibu sangat menyayangi Rey. Sama seperti sayang Ibu ke Tedy" ucap Bu Marta.
Lesta terperanga mendengar cerita Bu Marta.
Bu Marta baik banget. Ini sih bukan Ibu Tiri tapi Ibu Peri !
Batin Lesta.
"Jadi, Ibu harap kamu maklum terhadap sikap Rey. Dia sebenarnya anak yang baik kok. Cuma mungkin dia berbuat nakal untuk mencari perhatian Papanya saja" sambung Bu Marta.
Jadi kasihan sama juga nih sama si Rey. Sekarang gue tahu kenapa kelakuannya bisa begitu bar-bar.
Batin Lesta.
"Ibu dengar dari Papanya Rey, kamu sekretaris yang cukup stabil dalam menghadapi tingkah laku Rey. Ibu harap kamu bertahan dengan posisi sekretaris ini. Kasihan Pak Marta harus gonta-ganti lagi kalau kamu berhenti. Anggap saja semua kelakuan Rey itu angin lalu. Sebisa mungkin kamu bisa mengatasinya, walaupun Ibu juga berpikir itu tidak akan mudah" ucap Bu Marta.
Lesta tersenyum.
"Sebisa mungkin saya akan bertahan kok Bu. Saya butuh pekerjaan ini" ucap Lesta.
Bu Marta tersenyum mendengarnya.
Tiba-tiba seorang pelayang datang, menyampaikan ada yang teman Bu Marta yang menelepon Bu Marta melalui telepon rumah.
"Les, Ibu tinggal ya. Kamu keliling dulu aja. Entar Ibu suruh Pak Maman anter kamu pulang" ucap Bu Marta.
"Iya, Bu. Terima kasih" ucap Lesta.
Lesta berkeliling di dalam rumah tersebut. Dia mendapati foto Rey yang terpajang di dinding rumah. Itu fotonya Rey sewaktu kecil yang memakai baju adat jawa beserta blangkon.
Lesta tidak dapat menahan tawa melihat foto tersebut. Dia lalu mengeluarkan ponselnya mengambil gambar tersebut.
Gue simpen, buat pertahanan diri gue. Kalau aja sewaktu-waktu elo ngerjain gue lagi. Gue ancem elo pakai ini.
Batin Lesta.
Lesta kembali berjalan sampai ke taman belakang yang sangat luas. ada kolam berenang juga disana.
"Tedy" ucap Lesta yang melihat Tedy sedang mengambil gambar dengan kamera dslr-nya. Dia mengambil gambar tanaman hiasnya.
"Hai Les !" jawab Tedy.
"Lagi apa ?" tanya Lesta.
"Lagi mengambil gambar tanaman hias" jawab Tedy sambil tersenyum.
"Kenapa kamu enggak ngomong kalau kamu anaknya Pak Marta tadi. Aku sempat kaget loh" ucap Lesta.
"Aku mau ngomong. Tapi Aku enggak punya kesempatan tadi. Kamu ngomong terus" ucap Tedy.
Lesta senyum-senyum sendiri merasa malu.
Tiba-tiba Tedy mengambil gambar Lesta menggunakan kameranya.
"Hei ! Kamu ngapain Ted ? Hapus enggak !" perintah Lesta.
"Ngapain dihapus. Mau di pajang di papan pengumuman MD Group !" ucap Tedy mengolok-ngolok Lesta.
"Whoaaa..Jangan ! Kalau elo enggak hapus gue foto juga elo sekarang, terus gue masukin ke instagram dengan caption tukang kebon MD Group !" ucap Lesta.
"Oh ya ? Silahkan !" ucap Tedy seraya tertawa.
Dih.. Dua beradik sama ngeselinnya.
Batin Lesta.
__ADS_1
Sementara dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka lekat. Tangannya mengepal geram.
# Mata siapa tuh ???? Ada yang tau ? Yuk ramaikan... Jangan lupa minta jempolnya, Vote dan tinggalkan komentar cetar kalian ya.. Aku padamuu.. 😘