
Nih, aku double up ya.. sebagai ganti rugi enggak up kemarin. Tapi jempolnya double juga dong 😁 Happy reading gaes.. 😘
***********
"Apa maksud ucapan 'tidak sedekat itu' Ted ?" tanya Lesta.
"Iya, seperti yang sudah banyak orang ketahui. Aku dan kak Rey bukan saudara kandung. Dia sepertinya berpikir kalau aku dan ibuku merebut kasih sayang Papa darinya. Padahal itu sama sekali tidak benar. Aku dan Mama sangat menyayangi kak Rey" ucap Tedy.
"Aku sudah berusaha mendekat, tetapi Kak Rey selalu menjauh dariku" ucap Tedy.
Lesta terdiam. Dia bisa ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Tedy.
"Aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada beberapa pekerjaan yang perlu ku handle. Besok jangan lupa dengan janjimu ya !" ucap Tedy.
"Iya" ucap Lesta seraya tersenyum.
Lesta lalu kembali ke ruangannya.
"Udah selesai rapatnya Les ? Pak Tedy datang enggak sih ?" tanya Sindi.
"Iya, tadi ada. Sekarang sudah balik lagi ke kantornya" ucap Lesta.
"Yaahhhh..Enggak mampir dulu ke atas apa ? Biasanya naik dulu ke sini. Masuk ke ruangan Presdir" ucap Sindi
"Ngapain dia mau naik oon ! Orang Pak Martanya di ruang rapat" ucap Nana.
"Ya, kali aja ada moodbooster gratis gitu" ucap Sindi.
"Kalau gue ngapain susah-susah. Kan ada Pak Rey sebagai moodbooster gue" ucap Nana.
"Pak Rey ganteng sih. Tapi jarang senyum. Mana orangnya cuek dan jutek lagi. Beda sama Pak Tedy udah ganteng, baik hati, dan ramah lagi" ucap Sindi.
"Aduh, kurang menarik kalau menurut gue. Tetap Pak Rey lah yang paling oke. Bikin penasaran sama sikapnya itu !" ucap Nana.
"Aduh, kalian berdua bisa diam enggak sih ! Mau Pak Tedy kek mau Pak Rey kek, dua-duanya juga enggak bakal ada yang mau sama kalian !" ucap Bu Christine yang dari tadi pusing mendengar perdebatan antara Sindi dan Nana. Bu Christine memang terkenal killer di ruangan ini.
Sindi dan Nana langsung manyun mendengar ucapan Bu Christine.
Kejam !
Batin Sindi dan Nana.
Lesta menahan tawa melihat kejadian barusan.
********
Jam telah menunjukkan pukul 15:00 sore. Telepon di meja Lesta berdering. Lesta mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Halo, MD Group ada yang bisa saya bantu !" ucap Lesta.
"Lesta ke ruangan saya sekarang !" ucap Pak Marta.
"Baik, Pak !" ucap Lesta yang segera menutup gagang teleponnya.
Lesta lalu bergegas menuju ruangan Pak Marta.
"Sore Pak. Bapak memanggil saya tadi ? tanya Lesta.
"Iya, Les. Ini ada revisi dari hasil rapat direksi tadi. Tolong kamu ketik ulang laporan hasil rapat tadi dan kalau sudah diketik jangan lupa minta tanda tangan Rey sebagai persetujuannya" ucap Pak Marta.
Apa ke ruangan Rey ? Tidakkkk ! Itu sama saja masuk ke dalam sarang macan. Mana macan yang dituju kali ini ganas banget lagi. Seperti sudah berbulan-bulan enggak makan hasil buruan.
Batin Lesta.
Lesta lalu mengambil dokumen yang diberikan oleh Pak Marta.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya keluar dulu Pak merevisi laporan ini" ucap Lesta.
Lesta lalu kembali ke meja kerjanya dan mulai mengetik laporan yang diberikan Pak Marta tadi.
Selesai mengetik Lesta langsung masuk ke dalam lift menuju ruangan Rey.
Dengan gontai dia berjalan menuju ruangan Rey. Dan sekarang dia sudah berada di depan pintu ruangan Rey.
Ini sih udah seperti masuk ruangan tes swab corona aja. Deg-degan plus takut. Takut kena sembur enggak jelas gue oleh Pak Rey !
Batin Lesta.
Lesta mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Rey menghentikan pekerjaannya. Dia melirik siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
Mata mereka bersitatap.
Rey hanya memakai dalaman rompi jas di ruangannya. Sedangkan jasnya dia letakkan di belakang senderan kursinya. Sepertinya ini sudah jadi kebiasaannya jika berada di dalam ruangan. Yah.. Yang mau marah juga enggak ada, secara anaknya pemilik perusahaan.
Tapi, walaupun memegang embel-embel anak sang pemilik perusahaan. Rey tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Dia sangat serius dan fokus dalam menekuni pekerjaannya. Itulah mengapa semua pegawai mengatakan kalau Rey adalah seorang workaholic. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya sering terganggu.
"Maaf, Pak Rey ini ada laporan hasil rapat direksi tadi. Ada yang di revisi ulang. Mohon Pak Rey membaca ulang dan memberikan tanda tangan di dokumen rangkap empat ini" ucap Lesta.
Rey mengambil laporan dari tangan Lesta.
Eh, kali ini narik laporannya enggak kasar seperti waktu itu.
Batin Lesta.
__ADS_1
Rey membaca dokumen itu lembar per lembar. Rey lebih banyak diam sekarang.
Kira-kira gue bakal di suruh ngapain ya sama Pak Rey buat dapat tanda tangan dia di laporan ini. Mengingat susahnya kemarin gue buat minta tanda tangannya. Gue bakal disuruh bikin kopi ? ngepel ruangan ? naik turun lift lagi ? Enggak apa-apa gue jabanin, biar cepat kelar ini kerjaan. Asal jangan suruh gue nguras air laut aja. Enggak sanggup gue !
Batin Lesta.
Dan ajaibnya, selesai mengecek dokumen satu persatu. Semua dokumen yang dibawa Lesta langsung ditanda tangani oleh Rey tanpa perlawanan. Bicara sepatah katapun tidak sewaktu menanda tangan.
Amazing, apa dia kehabisan obat ? kenapa hari ini perilakunya baik banget bukan seperti preman pasar yang gue kenal.
Batin Lesta.
Selesai menandatangani dokumen Rey langsung memberikan laporan tersebut pada Lesta tanpa melihat wajah Lesta sama sekali. Hanya tangannya saja yang terulur memberikan laporan.
"Terima kasih, Pak Rey" ucap Lesta dengan penuh kegirangan karena tidak menyangka akan semudah itu mendapatkan tanda tangan Rey.
Lesta sudah berbalik, bersiap melangkah menuju pintu untuk keluar.
Namun tiba-tiba suara Rey menghentikan langkahnya.
"Lesta..." ucap Rey datar.
Lesta reflek berbalik dan menoleh. Ini pertama kalinya Rey memanggil namanya dengan sebutan 'Lesta'.
Lesta ? Tumben dia manggil gue Lesta. Biasa juga Tari.
Batin Lesta.
"Lesta.. Saya minta maaf" ucap Rey.
Lesta terkejut mendengarnya. Matanya terbelalak tidak percaya. Bahwa seorang Rey memohon maaf padanya.
"Apa ?" ucap Lesta memastikan pendengarannya barusan.
Rey lalu beranjak dari kursinya dan berjalan mendekat menghampiri Lesta. Sekarang posisi mereka saling berhadapan.
"Lesta, saya minta maaf karena telah menuduh kamu.." ucap Rey.
"Saya baru mengetahui kebenarannya sekarang. Ternyata bukan kamu yang bilang kejadian pengeroyokan kemarin" sambung Rey.
"Saya harap kamu memaafkan saya dan mau berteman dengan saya kembali" ucap Rey.
Deg !
Perasaan Lesta campur aduk sekarang. Matanya lekat menatap Rey yang ada dihadapannya. Entah mengapa dia merasakan ucapan itu keluar tulus dari mulut Rey.
#Minta jempolnya dongggg ! like, vote dan komentar syantik kalian ya... Kalau kata boboiboy.. "Kalian.. Terbaekkk !" 😘
__ADS_1