Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Makan bersama


__ADS_3

Tiwi menatap lekat pria yang ada di hadapannya sekarang.


Bisa-bisanya dia bilang calon suami ghaib ! Enggak takut kena azab nih Pak Tedy. Bukannya menurut rumor yang beredar, Tedy ini orangnya sopan, lemah lembut, ramah dan pembawaannya kalem. Eh, tidak itu bukan rumor. Beberapa kali aku melihatnya sewaktu berkunjung ke kantor dan pesta ulang tahun perusahaan dia memang pribadi yang seperti itu. Tapi, Kenapa kalau sama aku sifatnya jadi ketus kayak gini ya ?


Batin Tiwi.


Tedy mengernyit saat melihat Tiwi yang menatapnya intens.


Sedang apa dia menatapku seperti itu ? Apa dia kerasukan ?


Batin Tedy.


Sebenarnya Tedy sudah pernah melihat sendiri, bagaimana si Aldo kewalahan meladeni sifat Tiwi yang selalu ngintilin Aldo kemana-mana saat dia menyukai Aldo.


Dari situ Tedy beranggapan bahwa dia juga harus bersikap tegas pada Tiwi. Dia tidak ingin bila dia bersikap baik, Tiwi salah mengartikan sifat baiknya itu. Dia sebisa mungkin menghindar agar Tiwi tidak menyukainya. Karena dari yang sudah pernah dia lihat, bila disukai oleh tiwi itu bukanlah sebuah keberuntungan melainkan sebuah musibah.


"Baiklah, karena job desk kamu memang sekretaris. Berarti kamu sudah paham semua pekerjaan yang harus dikerjakan oleh sekretaris. Sekarang kamu atur ulang jadwal meeting saya buat seminggu ke depan, dan buat buat surat kontrak untuk pembangunan hotel Sanjaya" ucap Tedy.


"Baik, Pak" ucap Tiwi.


********


Keesokan harinya, Tiwi mulai kembali bekerja di kantor cabang. Kali ini dandanannya lebih cetar membahana dari sebelumnya. Karena ini hari jum'at, dia mengacu kepada aturan berpakaian bebas pantas yang biasa dia pakai di kantor pusat. Dia memakai dress bunga-bunga selutut bewarna kuning yang sangat jreng kelihatan di mata.


Tedy yang baru tiba di kantor terkejut melihat penampilan Tiwi. Dia menghentikan langkahnya untuk sesaat.



foto : Tedy.


"Selamat Pagi, Pak !" ucap Tiwi yang berdiri dari duduknya.


Tedy mengangguk.


"Kenapa kamu memakai daster hari ini ?" tanya Tedy.


What ? Daster ? Matanya keseleo ya ? Baju segini bagus di bilang Daster !


Batin Tiwi.


Saking kagetnya Tiwi tidak bisa berkata-kata.


"Apa kamu selalu berpakaian seperti ini setiap hari jum'at ?" tanya Tedy.


"Iya, Pak. Tapi bajunya ganti-gantilah. Enggak mungkin baju ini terus" ucap Tiwi.


Jadi tidak ada yang menegurnya di kantor pusat, bila dia memakai baju yang terlalu pendek seperti ini.


Batin Tedy.


"Lain kali jangan pakai baju terlalu pendek seperti ini lagi. Di kantor cabang ini mayoritas pegawainya banyak laki-laki. Apalagi di bagian proyek ini" ucap Tedy.


"Baik, Pak" ucap Tiwi yang menjawab dengan nada malas.


Tedy lalu beranjak masuk ke dalam ruangannya.


*********


Jam telah menunjukkan pukul 12:00 Siang, Tiwi yang sudah merasa lapar segera beranjak ke ruangan Tedy.



foto : Tiwi.


Dia masuk ke dalam ruangan Tedy setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Pak Tedy enggak makan siang ?" tanya Tiwi.

__ADS_1


"Nanti saja. Sekarang lagi nanggung sama kerjaan" ucap Tedy yang matanya masih fokus di depan layar komputernya.


"Biasanya makan di mana ?" tanya Tiwi.


Tiwi bertanya seperti itu bukan untuk sekedar bertanya biasa. Dia berharap Tedy mau mengajaknya makan siang bersama di luar.


"Biasanya ya makan di sini" ucap Tedy.


"Di sini ? Diruangan ini maksudnya, Pak ?" tanya Tiwi kaget.


Tedy mengangguk.


Pupus sudah harapan Tiwi untuk dapat tumpangan makan siang diluar.


Tak lama kemudian, Pak Sofyan selaku Office Boy di ruangan itu bertanya kepada Tedy.


"Pak Tedy mau dibelikan apa makan siang hari ini ?" tanya Pak Sofyan.


"Saya nitip mie ayam saja deh" ucap Tedy.


"Kalau begitu saya juga nitip mie ayamnya ya Pak" ucap Tiwi.


"Baik, Mbak Tiwi" ucap Pak Sofyan.


Selang beberapa menit kemudian, Pak Sofyan telah kembali dengan membawa bungkusan mie ayam.


Dia meletakkan bungkusan mie ayam tersebut diatas piring beserta sendoknya, di atas meja Tiwi.


"Terima kasih ya Pak" ucap Tiwi.


"Iya, sama-sama Neng" ucap Pak Sofyan.


"Pak Sofyan, memang Pak Tedy jarang makan siang di luar ya ?" tanya Tiwi.


"Iya, jarang-jarang sih Neng kalau makan diluar. Tapi lebih seringnya makan diruangannya terus sih. Dia memang begitu. Kalau kerjaan belum selesai, dia belum mau makan" ucap Pak Sofyan.


"Saya tinggal dulu ya, Neng. Mau anter mie ayamnya Pak Tedy ke ruangannya" ucap Pak Sofyan.


"Ya, Silahkan Pak Sofyan" ucap Tiwi.


Tiwi lalu membuka bungkusan mie ayamnya dan memakannya. Baru dua sendok dia mengunyah mie ayamnya, tiba-tiba dia menghentikan suapannya.


Sepi banget disini. sebelas dua belas sama hatiku, hiks. Makan sendirian kayak gini ternyata enggak enak banget.


batin Tiwi.


Tiwi lalu terbayang wajah-wajah temannya di kantor pusat. Biasanya mereka makan siang bersama di luar kantor.


Sebenarnya di luar ruangan Tiwi sekarang, banyak juga pegawai cewek yang lainnya. Cuma karena meja kerja Tiwi yang bersekat di dalam ruangan membuatnya malas untuk keluar dari ruangannya.


Tiwi lalu masuk ke dalam ruangan Tedy setelah mengetuk pintu terlebih dahhulu. Sambil memabawa mangkuk mie ayamnya.


"Ada apa ?" tanya Tedy.


"Pak, saya numpang makan siang disini ya sama bapak. Enggak enak makan sendirian di luar" ucap Tiwi.


Tedy tampak berpikir lama walaupun pada akhirnya dia menyetujuinya juga.


"Terima kasih Pak" ucap Tiwi setelah mendapat persetujuan Tedy.


Tiwi dan Tedy duduk di sofa tengah di dalam ruangan Tedy. Mereka duduk bersebrangan dan mulai menyuap makanan mereka.


"Pak Tedy, kenapa pesan mie ayam buat makan siang ? Kenapa enggak pesan nasi saja ?" tanya Tiwi.


"Lah kamu sendiri kenapa pesan mie ayam juga ? Enggak pesan nasi aja ?" ucap Tedy balik bertanya.


"Saya sih maunya pesan nasi. Soalnya kalau makan beginian saya enggak kenyang. Tapi karena bapak pesannya mie ayam terpaksa ngikut aja. Soalnya kasihan Pak Sofyan kalau mesti kesana kemari beliin pesanan yang berbeda" ucap Tiwi.

__ADS_1


Tedy tersenyum mendengar ucapan Tiwi barusan.


Eh, dia senyum kan ? Ini pertama kalinya dia senyum sama aku, dari pertama aku menginjakkan kakiku disini.


Batin Tiwi.


Tedy yang tidak banyak bicara pada awalnya, jadi bercerita panjang lebar pada Tiwi. Bukan Tiwi namanya kalau tidak pandai memancing orang untuk bercerita. Dia bertanya terus-menerus sampai akhirnya orang terpaksa meladeni ucapannya.


Akhirnya jam istirahat siang itu, mereka habiskan dengan makan siang bersama yang diselingi oleh obrolan seputar kebiasaan mereka sehari-hari. Mereka berbincang tanpa beban seolah seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali. Terkadang terdengar tawa dari salah satu mereka yang asyik bercerita.


Jam istirahat makan siangpun berakhir. Tiwi akhirnya kembali ke ruangannya untuk bekerja kembali. Begitu juga dengan Tedy yang sudah duduk di layar komputer dan melanjutkan pekerjaannya kembali.


Drttttt..Drttt...


Sebuah pesan whatssapp masuk ke dalam ponsel Tedy. Tedy membaca isi pesan tersebut.


Pesan yang dikirim oleh mamanya membuat Tedy terhenyak. Mamanya bilang bahwa Tedy harus mempersiapkan jasnya untuk pertunangan Rey dan Lesta lusa nanti.


Dia ingat, Rey sudah dua hari ini, tidak ikut makan di meja makan. Dia sedang mengambil cuti selama dua hari untuk berangkat ke Palembang menemui calon mertuanya. Dia ingin meminta izin untuk melamar Lesta.


Tiba-tiba hati Tedy terasa perih. Dia terbayang pada wajah Lesta. Dia membuka ponselnya dan membuka galeri tempat penyimpanan fotonya.


Tedy membuka file foto Lesta di ponselnya. Foto yang dia ambil menggunakan kamera DSLRnya saat pertama kali dia dan Lesta bertemu. Ada 3 foto yang berbeda pose disana. Dia mengamati foto tersebut satu-persatu sambil tersenyum miris.


Tiba-tiba, Azmi asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Cepat-cepat Tedy meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ada apa Azmi ?" tanya Tedy.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda Pak di lobi. Katanya dari Perusahaan Global Grup" ucap Pak Azmi.


"Baiklah ayo segera kita temui mereka" ucap Tedy yang segera beranjak dari kursinya.


Tedy dan Pak Azmi akhirnya melangkah menuju lobi.


Selang beberapa menit kemudian, Tiwi yang membawa tumpukkan dokumen yang harus segera di tandatangani Tedy, masuk ke dalam ruangan Tedy untuk meletakkan dokumen tersebut.


Dokumen tersebut tidak sengaja mengenai layar ponsel Tedy yang tergeletak di atas meja. Sehingga posisi ponsel yang masih membuka menu galeri yang berisi foto Lesta tersebut terpampang jelas.


Lesta ?


Batin Tiwi.


Tiwi yang penasaran langsung mengambil ponsel tersebut dan mengamati foto tersebut dengan seksama.


Iya, benar Lesta ini mah ! Tapi untuk apa Pak Tedy menyimpan foto pacar kakaknya ? Ada tiga foto lagi. Enggak mungkin kan ini kebetulan.


Batin Tiwi.


Tiwi terus megusap layar ponsel tersebut sehingga mendapatkan 3 foto Lesta disana.


Tiba-tiba suara seorang pria mengagetkan Tiwi.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini ?" ucap Tedy.


Tedy melirik pada tangan Tiwi yang sedang memegang ponsel miliknya dengan layar ponsel yang masih menyala dan memajang wajah Lesta.


Raut wajah Tedy langsung berubah kesal. Sorot matanya penuh dengan amarah.


Tiwi ketakutan melihat ekspresi wajah Tedy. Tangannya gemetar karena gugup.


"Maafkan aku Pak. Aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membuka ponsel bapak. Aku...." belum selesai Tiwi meneruskan ucapannya, sebuah bentakkan membuatnya terdiam.


"Keluar sekarang juga !" Teriak Tedy.


Tiwi benar-benar merasa ketakutan sekarang. Belum pernah dia melihat Tedy semarah ini. Terlebih lagi belum ada yang membentaknya seperti itu selama dia bekerja.


Tidak terasa buliran air mata menggenang di sudut matanya. Tiwi berlari meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang membasahi pipinya.

__ADS_1


# Jangan lupa like, komen dan vote ya... Makasih buat yang sudah vote ya, kalian terbaekkkk 😘 Jangan lupa vote lagi 🤭 Yang komen juga makasih.. Aku selalu menantikan komen kaliann eakkk 🤗


__ADS_2