
Hari sudah hampir petang. Karena sebentar lagi memasuki waktu magrib, maka para tamu undangan sudah banyak yang pulang.
Lesta yang takut pulang kemalaman akhirnya meminta izin untuk pulang pada Bu Marta dan Pak Marta.
"Bu, saya pulang dulu ya. Takut kemalaman nanti" ucap Lesta sambil menyalami tangan bu Marta.
"Loh, sudah mau pulang Les ? Naik apa ?" tanya Bu Marta.
"Naik taksi online saja, Bu" ucap Lesta.
Tiba-tiba, Tedy menengahi.
"Biar Aku yang antar Lesta, Ma. Kebetulan Tedy mau ke rumah teman malam ini" ucap Tedy.
Lesta terkejut mendengarnya.
Ini Tedy memang mau ke rumah teman atau sengaja mau mengantar aku pulang ya. Sepertinya dia melakukan ini agar tidak ada kecanggungan di antara kami setelah masalah tadi. Kalau memang iya, berarti dia tipe orang yang dewasa dalam menanggapi masalah dan tidak mengambil hati dengan keputusan orang lain.
Batin Lesta.
"Enggak usah, Ted. Beneran kok ! Aku pulang naik taksi online saja. Kamu pasti capek karena selaku tuan rumah yang punya acara" ucap Lesta berbicara pada Tedy.
"Sudah, enggak apa-apa Lesta bareng Tedy saja. Tedy kan sudah bilang tadi, dia juga mau ke rumah temannya. Sekalian aja ! Enggak aman kalau naik taksi online malam-malam" ucap Bu Marta.
Lesta sebenarnya masih tidak enak dan kaku kalau harus satu mobil dengan Tedy setelah masalah penolakan tadi. Tapi karena paksaan dari Bu Marta dan Pak Marta, maka Lesta menurutinya.
Lagian preman pasar kemana sih ! Dari tadi di cariin enggak ketemu. Katanya mau angkat telepon doang. Tapi masa sih selama itu menerima telepon.
Batin Lesta.
Akhirnya, Tedy dan Lesta berjalan ke teras depan.
"Les, tunggu di sini sebentar ya. Aku ambil mobil dulu ke dalam" ucap Tedy.
Lesta mengangguk.
Selama Lesta menunggu Tedy mengambil mobil. Lesta masih celingak-celinguk mencari keberadaan Rey.
Huft, padahal mau izin pulang sama dia. Enggak enak kalau tiba-tiba langsung pulang, enggak ngomong sama dia. Ya, sudah aku kirimi pesan saja.
Batin Lesta.
Lesta lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Namun, belum sempat dia mengirim pesan tersebut, sebuah mobil sport mewah berhenti melintas tepat di hadapannya.
Siapa nih. Tedy kah ?
Batin Lesta.
Lesta sangat terkejut saat kaca mobil diturunkan, sehingga dia mengetahui bahwa yang mengendarai mobil itu adalah Rey.
"Cepat Naik !" ucap Rey dengan nada bicaranya yang enggak nyantai sama sekali.
Lesta mengernyit.
"Tapi, aku lagi menunggu Tedy sekarang. Dia lagi mengambil mobil sebentar" ucap Lesta.
"Naik atau aku gendong kamu ke sini ?" ucap Rey.
__ADS_1
Sontak Lesta terkejut mendengarnya.
Rey kok maksa banget ya dan ngomongnya juga pake ngegas lagi. Kenapa dia sering kumat-kumatan gini sih !
Batin Lesta.
"Iya, aku yang ke sana. Tapi, setidaknya kita tunggu Tedy dulu. Aku bilang dulu sama Tedy, kalau aku akan naik mobilmu" ucap Lesta.
"Beneran minta digendong ya ?" ucap Rey yang raut wajahnya sudah berubah kesal.
Lesta tahu, seorang Rey tidak pernah main-main dengan ucapannya. Apalagi banyak tamu undangan yang juga mulai pulang satu persatu di teras depan. Membuat Lesta lebih memilih naik ke dalam mobil Rey dengan segera.
Lesta lalu mengirimi Tedy pesan, bahwa dia telah pulang lebih dulu dengan alasan diminta pulang lebih cepat oleh teman satu kontrakannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Lesta, Rey hanya diam membisu. Tidak bicara sepatah katapun. Hal itu Membuat Lesta berinisiatif untuk memulai obrolan agar dapat memecahkan keheningan.
Foto : Lesta.
"Rey, kamu dari tadi kemana ?" Aku cari-cari di taman tapi enggak ada" ucap Lesta.
Rey tidak menjawab. Dia fokus menyetir.
Dia ini kenapa sih ? Perasaan tadi datang, masih baik-baik saja sambutannya. Kalau dia cewek kan, aku bisa maklum mungkin aja lagi PMS. Lah, ini cowok.. Enggak mungkin kan dia sakit. Tapi, Sakit apa ya ? Astaga ! Jangan-jangan ini penyakit gejala gila.
Batin Lesta.
Lesta kembali melirik Rey yang sedang menyetir.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mobil yang mereka kendarai tiba di rumah Lesta.
Lesta yang kegirangan karena menganggap penderitaanya telah berakhir jikalau dirinya telah sampai dirumah, nyatanya masih harus berhadapan dengan Rey.
Langkahnya terhenti saat Rey memanggilnya dan tidak membiarkannya turun dari mobil.
"Tari..." ucap Rey.
"Jadi itu alasanmu belum bisa menerimaku ?" sambung Rey.
"Apa ?" ucap Lesta.
"Apa maksud ucapanmu Rey ? Aku betul-betul tidak paham" ucap Lesta.
"Jadi kamu belum bisa menerimaku karena lebih memilih Tedy daripada aku ?" ucap Rey memperjelas ucapannya.
"Tedy ? Mengapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu ?" tanya Lesta.
"Kamu tinggal menjawabnya, Tari ! Apa menjawab pertanyaanku sesulit itu ?" ucap Rey.
Lesta mencoba mencerna ucapan Rey. Dia mencoba mengaitkan kejadian selama di pesta dengan ucapan Rey barusan.
Oh, Jangan-jangan dia salah paham melihat Tedy memegang tanganku di pesta tadi.
Batin Lesta.
"Kenapa enggak ngomong langsung ke intinya saja sih Rey ? Kenapa harus muter-muter ngomongnya" ucap Lesta yang balik nanya ke Rey.
__ADS_1
Rey mengernyit.
"Dengar ya Rey ! Yang kamu lihat di pesta tadi cuma kesalahpahaman. Tedy memang memegang tanganku untuk meyakinkanku tentang dirinya. Tetapi, aku menolaknya. Karena ada pria yang lebih menarik perhatianku di banding Tedy" ucap Lesta.
"Lebih menarik perhatianmu ? Siapa ?" tanya Rey ingin tahu.
"Tuh, yang lagi ngomel-ngomel enggak jelas. Yang orang enggak tahu masalahnya apa, tapi tiba-tiba dia ngamuk, minta orang lain ngerti sendiri apa penyebab dia marah" ucap Lesta.
Rey tertawa mendengarnya.
"Jadi, aku sekarang telah berhasil menarik perhatianmu nih ? Jadi, kapan akunya sah dijadiin pacar ?" ucap Rey.
"Mana ada anak gadis orang yang mau pacaran, setelah tadi orang yang yang mau dipilihnya marah-marah enggak jelas. Mana si cowok mantan playboy lagi" ucap Lesta yang sengaja berkata demikian. Dia ingin mendengar, bagaimana Rey akan menjelaskan perihal sikap playboynya selama ini.
"Aku sengaja gonta-ganti pacar agar membuat papaku kesal. Dia saja bisa mengganti posisi ibuku yang belum lama meninggal, dengan menikahi mamanya Tedy. Jadi, aku pikir kenapa aku enggak bisa. Dan tampaknya aku berhasil membuat papaku kesal. Setiap dia menyatakan keberatan dengan tingkah lakuku yang berganti pacar, aku hanya tinggal menjawab 'Bukannya ini menurun dari papa ?' Seketika, saat itu juga emosi papaku meluap-luap" ucap Rey.
Oh, jadi selama ini dia melakukannya hanya untuk menarik perhatian Pak Marta. Dasar kekanak-kanakan ! Ini sih kalau kata orang, Tingkah preman pasar tapi hati hello kitty.
Batin Lesta.
"Tapi tidak ada satupun dari mereka yang membekas di hatiku. Entah apa karena niatku yang memang hanya bermain-main dengan mereka. Jadi, aku enggak bisa merasakan kenyamanan dengan mereka. Dan sekarang semua terasa berbeda saat aku bertemu denganmu" ucap Rey.
"Kamu yang selalu masih bisa tersenyum setelah aku marahi habis-habisan, dan tidak pernah berniat buat mundur sekalipun setelah aku mengerjaimu dengan berbagai cara untuk mengusirmu dari perusahaan ini. Ternyata cukup membuatku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh lagi. Dan setelah mengenalmu, aku merasa nyaman saat berdua denganmu" ucap Rey.
Lesta menatap wajah Rey. Ada kesungguhan yang dia rasakan dari setiap ucapan yang terlontar dari bibir Rey.
"Jadi setelah aku menjelaskan panjang lebar seperti ini, Apa kamu masih ragu kenapa aku menyukaimu ?" ucap Rey.
Lesta hanya tersenyum menanggapi ucapan Rey.
"Jangan tersenyum seperti itu, ayo cepat jawab ! Kapan aku 'sah' dijadikan pacarmu ?" ucap Rey memaksa.
Lesta hanya diam. Dia tampak kelihatan berpikir.
"Hmm.. Asal kamu janji enggak bakal marah-marah enggak jelas seperti ini lagi. Dan langsung bilang apa penyebab kamu marah nanti. Aku mau !" ucap Lesta.
"Mau apa ? Yang jelas kalau ngomong !" ucap Rey.
"Iya, aku mau kalau kita pacaran" ucap Lesta dengan pipi bersemu merah.
Rey terkejut sekaligus senang mendengar pernyataan Lesta barusan. Dia menarik tangan Lesta dan membenamkan Lesta ke dalam pelukannya.
Cup !
Rey mencium kening Lesta.
"Hei ! Kenapa kamu menciumku ?" ucap Lesta kaget.
"Itu ciuman sebagai tanda kamu sudah jadi pacarku mulai sekarang !" ucap Rey.
Dasar preman pasar ! Eh, bukan. Lebih tepatnya.. 'Preman pasarku' mulai sekarang.
Batin Lesta.
Keduanya kini tersenyum, dengan hati yang masih terus berdebar karena perasaan bahagia mereka.
# Hati Author juga lagi berbunga-bunga ini, Apa ini yang dinamakan Riba ? 🤠jangan lupa likenya donggggg.. Vote dan komentarnya ya 😘 Komentar kalian semangatku 😘
__ADS_1