Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Cemburu


__ADS_3

Lesta tertegun mendengar ucapan Rey. Dia tidak percaya playboy seperti Rey bisa berbicara puitis seperti itu. Atau karena dia playboy lah maka dia bisa berbicara semanis itu. Hal itu membuat Lesta tampak bimbang.


Melihat Lesta yang terdiam, Rey akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka


"Ya, sudah. Jangan terlalu dipikirkan ucapanku. Tampaknya kamu belum bisa memutuskannya sekarang. Lebih baik sekarang kita pergi dulu dari sini ya ?" ucap Rey.


Lesta mengangguk.


************


Sementara di dalam mobil.


"Sudah ini kita mau kemana lagi Tari ?" tanya Rey.


"Aku mau pulang saja Rey" ucap Lesta.


"Enggak makan dulu nih ?" tanya Rey.


"Temeni aku makan dulu ya" ucap Rey yang langsung mengemudikan mobilnya menuju restoran mewah tanpa persetujuan Lesta lagi.


"Rey, jangan makan disini. Pakaianku tidak sesuai. Kita makan sate di pinggir jalan aja yuk" ajak Lesta.


"Memang harus ada dresscode-nya gitu ya kalau mau makan disini. Ini kan rumah makan bukan kondangan" ucap Rey.


Lesta tertawa mendengar ucapan Rey.


"Ih, keren-keren bahasanya kondangan !" ucap Lesta.


Rey ikut tertawa mendengar ucapan Lesta.


"Jadi aku keren nih ?" ucap Rey menggoda Lesta.


"Dih, kepedean ah kamu" ucap Lesta.


Rey tertawa kembali.


"Sudah, ayo kita masuk. Aku belum makan malam nih" ucap Rey yang menarik tangan Lesta untuk masuk.


Deg !


Tiap Rey pegang tangan aku. Kok jantungku selalu berdebar ya.


Batin Lesta.


Mereka lalu masuk ke dalam restoran tersebut. Memesan menu favorit mereka dan menyantapnya.


***************


Pagi ini Lesta kembali bekerja seperti biasanya. Dengan rentetan pekerjaan yang sudah mengantri di daftar list.


Mari kita lihat jadwal pagi ini.


Batin Lesta.


Lesta menyalakan komputernya dan membuka file jadwal Pak Marta pada hari Senin.


Oh.. Pagi ini Pak Marta ada meeting untuk proyek pembangunan Rumah Sakit di lantai 15. Lah itu kan ruangan Rey ? Ketemu Rey terus rasanya enggak baik buat kesehatan jantungku.


Batin Lesta.


Lesta lalu menyiapkan semua persiapan yang diperlukan selama meeting. Tak lama kemudian, setelah melihat jam ditangannya, Lesta beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan Pak Marta.


"Pagi Pak Marta, sekarang sudah waktunya kita meeting ke lantai 15 dengan anak Kepala Rumah sakit Medical" ucap Lesta.


Pak Marta mengangguk.


Pak Marta, asistennya dan Lesta akhirnya berjalan menuju lift menuju ruangan Rey.


Ruangan meeting sudah dipersiapkan dengan rapi. Pak Marta yang memasuki ruangan langsung duduk di kursi kebesarannya. bersebelahan dengan kursi Rey.


Lesta melirik Rey yang terlihat cool dengan gaya arogannya seperti biasa.



Sepertinya dia sengaja memasang tampang judes biar disegani oleh bawahannya untuk menjaga wibawanya.


Batin Lesta.

__ADS_1


Rey yang sadar Lesta sedang meliriknya, hanya bisa tersenyum. Rey menaikkan kedua alisnya menghadap Lesta sebagai respon bahwa dirinya sadar telah diperhatikan oleh Lesta.


Lesta langsung gelagapan melihat respon Rey tersebut. Dia segera memalingkan wajahnya agar Rey tidak melihat wajah meronanya.


Tiba-tiba rombongan meeting dari Rumah Sakit Medical datang. Ada sekitar 7 orang yang datang. Satu orang perempuan dan sisanya lelaki semua. Wanita tersebut berhasil mengundang decak kagum pegawai MD Group yang berada di ruang meeting. Rambutnya yang tergerai panjang, wajahnya yang tirus, serta kaki jenjangnya mampu menyedot perhatian kaum adam diruangan ini. Pokoknya wanita ini lebih cocok menjadi model atau pemain sinetron dari pada menjadi perwakilan dari Rumah Sakit tersebut.


Rey tampak terkejut saat melihat perempuan itu datang dan duduk berseberangan dengannya. Dia sangat mengenali wanita itu.


Sedangkan Lesta yang melihat ekspresi wajah Rey, berpikir lain tentang Rey.


Dasar playboy ! Memang enggak bisa lihat yang bening-bening.


Batin Lesta.


"Perkenalkan, saya Arini Andriani. Anak pemilik Rumah Sakit Medical, yang akan bekerja sama dengan perusahaan MD Group" ucap Wanita itu.


Arini ? Kayak pernah denger tapi dimana ya.


Batin Lesta.


Meetingpun dimulai. Rey mulai menjelaskan kebijakan-kebijakan perusahaannya pada tim meeting dari Rumah Sakit Medical. Selama meeting berlangsung, Arini terus memandangi Rey tanpa berkedip. Arini terus tersenyum, memandang kagum pada Rey. Lesta yang memperhatikan tingkah laku Arini tersebut merasa kesal sendiri melihatnya.


Dih, pingin aku colok nih matanya. Kayak enggak pernah lihat cowok cakep aja. Dih, kok aku jadi marah-marah enggak jelas begini ya. Serasa kayak punyaku aja.


Batin Lesta.


Meeting berlangsung selama dua jam, dan berjalan lancar. Selesai meeting Pak Marta, Lesta, Rey dan Arini masih berada di dalam ruangan untuk menyelesaikan penandatanganan kontrak.


Rey yang selaku Direktur Proyek, sibuk menandatangani lembar demi lembar dokumen yang berisi surat perjanjian kontrak tersebut.


Tiba-tiba, Pak Yudi masuk ke dalam ruangan membawakn ponsel Pak Marta.


"Pak, ada telepon penting dari Pak Walikota. Beliau bilang, ingin membahas masalah pembangunan jalan layang dengan anda, Pak" ucap Pak Yudi.


"Saya tinggal sebentar ya. Lesta, kamu tungguin dokumen rangkap tiga yang akan ditanda tangani Direktur Rey. Nanti kalau sudah bawa ke ruangan saya" ucap Pak Marta.


Pak Marta lalu menyambut ponsel dari Pak Yudi, dan segera keluar untuk menjawab teleponnya.


Melihat keadaan ruangan yang telah sepi, Arini baru berani secara terang-terangan mendekati Rey.


Loh, kok ngomongnya nyantai banget. Apa mereka saling kenal sebelumnya.


Batin Lesta.


"Maaf, aku sudah ada janji makan siang" jawab Rey yang matanya masih sibuk menandatangani dokumen tanpa melirik sedikitpun pada Arini.


"Ini Dokumennya Tari. Sudah saya tanda tangani rangkap tiganya" ucap Rey memberikan dokumennya pada Lesta.


"Tari ?" ucap Arini yang reflek menoleh pada Lesta dan membaca tanda pengenal Lesta yang mengalung di lehernya.


"Jadi, kamu yang namanya Tari ? Ternyata kamu sekretaris Pak Presdir. Pantes tadi aku lihat tanda pengenal sekretaris Rey namanya Yani bukan Tari" ucap Arini.


Lesta bingung dengan ucapan Arini.


"Rey, temanku Chelly bilang, kalau kamu memutuskanku karena kamu sudah punya pacar baru. Dia bilang namanya Tari, yang tadinya dia kira sekretaris kamu. Jadi apa itu benar ?" tanya Arini.


"Hmm.." ucap Rey yang masih sibuk menandatangani dokumen, tanpa melihat wajah Arini sama sekali.


Apa dia membenarkan ucapanku ?


Batin Arini.


"Aku kira kau memutuskanku karena mendapat pacar yang standarnya lebih tinggi dariku, ternyata jauh dibawahku Rey" ucap Arini.


Wah, ngajak gelut nih cewek... mulutnya pedes juga ya.. kayak rem blong...


Namun, tiba-tiba..


Brakk !


Rey melempar penanya ke atas berkas dokumen dan berdiri dari duduknya.


"Yang menilai standar diri kita tinggi atau tidaknya itu orang lain. Bukan diri kita sendiri" ucap Rey dengan sorot mata yang tajam.


"Ayo, ikut aku keluar. Aku tidak suka membicarakan masalah pribadi dikantor. Bukankah kamu mengajakku makan siang tadi ?" ucap Rey masih dengan tatapan matanya yang menohok.


Arini tersenyum girang mendengar Rey menyetujui untuk makan siang dengannya. Dia sengaja menghadap Lesta dan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Tari kamu kembali dulu saja ke ruanganmu, ada hal yang harus aku urus" ucap Rey.


Lesta mengangguk.


Walaupun sebenarnya dia merasa kecewa saat Rey menyetujui ajakan Arini untuk makan siang bersama.


Kenapa aku merasa sakit ya.. Membayangkan mereka makan siang bersama.


Batin Lesta.


Lesta lalu mengambil dokumen rangkap tiga yang telah ditandatangani Rey tadi.


"Dokumennya jangan di ambil, Tari. Ditinggal saja dulu !" ucap Rey.


Loh ? Bukannya sudah selesai di tanda tangani tadi.


Batin Lesta.


Rey dan Arini lalu pergi keluar. Sedangkan Lesta, hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin lama semakin terlihat menjauh.


**********


Selang 20 menit kemudian Rey menelepon Lesta. Sudah lima kali dia menelepon Lesta tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


Rasain ! ngapain aku mesti ngangkat telepon darimu ! Emang enak di cuekin !


Batin Lesta.


Lesta hanya menatap layar ponselnya tanpa mengangkat telepon dari Rey.


Tak lama kemudian Rey datang menghampiri mejanya.


"Tari, sudah makan siang belum ? Kalau belum, yuk makan siang bareng" ajak Rey.


"Sudah makan tadi. Sudah kenyang !" ucap Lesta dengan nada suara yang ketus.


Rey bingung, dia berpikir Lesta berbicara agak berbeda dari biasanya.


"Kenapa tidak mengangkat teleponku tadi ?" tanya Rey.


"Habis baterai" ucap Lesta.


Tiba-tiba ponsel Lesta berdering. Lesta cepat-cepat mengambil ponselnya dan melihat sekilas nama panggilan yang ada di layar.


Rey ?


Batin Lesta.


Lesta reflek menoleh pada Rey yang berdiri di hadapannya. Dia melihat Rey sedang menaruh ponselnya di telinganya. Rey sedang melakukan panggilan pada ponsel Lesta.


Pipi Lesta merah padam menahan malu.


"Kenapa bohong ? Ponselmu tidak habis baterai" ucap Rey.


Lesta terdiam. Dia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Rey.


"Kamu juga berbohong kan kalau bilang kamu sudah makan ? Kamu marah sama aku ? Tapi karena apa ?" tanya Rey lagi.


Lesta sudah tidak tahan lagi. Akhirnya dia mengeluarkan unek-unek yang dia pendam dari tadi.


"Kenapa sih repot-repot masih mengajakku makan siang ? Padahal kamu sendiri sudah pergi makan siang dengan mantan tercintamu tadi. Kalau emang masih cinta sama mantan, ngapain lagi pakai bilang punya perasaan sama aku. Memang kalau sudah ada bakat playboy mah susah buat dihilangin !" ucap Lesta yang nyerocos panjang lebar tanpa jeda.


Seketika perasaannya plong setelah mengeluarkan unek-unek dihatinya. Dia juga merasa lega karena sekarang masih jam istirahat, jadi semua pegawai masih berada di luar untuk makan siang.


Rey yang tadinya terdiam, seketika tertawa terbahak-bahak.


"Tari, Kamu cemburu ?" ucap Rey yang menatap Lesta dengan tatapan yang tajam.


Jleb !


Seketika hati Lesta berdegup kencang. Pipinya mulai memerah karena malu.


Cemburu ? Apa benar aku sedang cemburu...


Batin Lesta.


# Minta jempolnya donggggg... Like, komen dan votenya kakak... komenmu selalu di nanti... Dan jangan lupa untuk selalu semangat ya 🤗 Semangat .. Semangka hangat-hangat 😁😘

__ADS_1


__ADS_2