Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Mulai Mencair


__ADS_3

Adegan ini mengandung gula yang berlebihan. Enggak bagus buat para jomblo.. Takutnya membuat jiwa jomblo kalian bergejolak.. Eakk 🤣


***************


Rey berusaha mengontrol dirinya untuk berhenti tertawa.


"Tari kamu dengar. Kalau memang dia mantan tercinta, enggak mungkin tetap aku jadiin mantan !" ucap Rey.


"Lalu soal makan siang, aku enggak makan siang sama dia kok. Aku memang mengajaknya ke restoran. Karena aku tidak mau dia membawa masalah pribadi ke dalam kantor dan terdengar oleh pegawai yang lain. Tetapi, begitu aku menjelaskan dan memperingatkannya untuk tidak menggangguku lagi. Aku langsung pergi ninggalin dia disana sendirian" ucap Rey.


Lesta terperanga mendengar penjelasan Rey.


"Sekarang gantian. Jelaskan padaku, mengapa kamu marah padaku ? Apa alasannya ?" ucap Rey.


"Aku..." ucap Lesta terbata.


Astaga, ini benar-benar memalukan. Aku terciduk nih. Enggak bisa mengelak lagi.


Batin Lesta.


"Aduh, enggak tahu ah ! Enggak ada yang marah kok. Ngapain aku marah sama kamu !" ucap Lesta dengan nada yang sedikit berteriak dan masih mempertahankan gengsinya yang setinggi menara sutet.


Tiba-tiba..


Brakkkk !


Pintu ruangan Pak Marta terbuka. Pak Marta keluar dari ruangannya dengan wajah yang terlihat kesal.


"Rey ! Berhenti mengganggu sekretaris papa. Maafkan dia Lesta. Dia memang kurang puas, kalau yang menjadi sekretarisku belum berhenti dari sini !" ucap Pak Marta.


Nah, Loh ! Pak Marta salah paham kayaknya.


Batin Lesta.


"Dan kamu Rey, masuk ke ruangan papa ! Jelaskan mengenai proyek tadi, mengapa kamu memutuskan proyek secara sepihak !" ucap Pak Marta.


Rey lalu mengikuti perintah papanya, dan melangkah masuk ke dalam ruangan Pak Marta.


Pemutusan secara sepihak ? Apa ya maksudnya. Kasihan juga melihat Rey yang di sembur sama Pak Marta, karena dikira menjahilin aku. Tapi disisi lain, aku harus bersyukur Rey dipanggil masuk ke dalam ruangan. Kalau tidak, aku bakal bingung mau menjawab pertanyaan Rey barusan. Terima kasih Pak Marta, Kau Dewa Penolongku !


Batin Lesta.


Mungkin ada sekitar 20 menit, Rey berada di ruangan itu. Setelah itu, dia keluar dengan wajah kusut. Dia melirik ke meja Tari. Sebenarnya, dia ingin menghampirinya kembali. Tetapi, di meja Tari sudah banyak pegawai lain yang berkumpul, sehabis pulang makan siang. Karena memang jam istirahat sebentar lagi berakhir. Akhirnya Rey memilih naik ke ruangannya, setelah sebelumnya dia dan Lesta sempat tidak sengaja bersitatap ketika Rey keluar dari ruangan.


Nana dan Sindi yang sudah berdiri di depan meja Lesta, sambil membawa pesanan roti dan teh kotak pesanan Lesta akhirnya betah berdiri di depan meja Lesta sambil mengorek informasi tentang idolanya itu.


"Lesta, Ayang beib kenapa?" tanya Nana yang baru berani bertanya saat orangnya sudah enggak ada.


"Aku enggak tahu Nana. Aku kan enggak ikut masuk. Jadi enggak tahu apa-apa" ucap Lesta.


"Wajah Pak Rey tadi kusut banget keluar dari ruangan Pak Presdir. Sepertinya mereka bertengkar lagi. Duh, kapan ademnya sih hubungan calon mertua dan calon suamiku itu" ucap Sindi.


"Dih, ikut-ikut lagi kamu Sin. Bukannya kamu mengidolakan Pak Tedy" ucap Nana.


"Pak Tedy kejauhan di kantor cabang sana. Kalau ada yang dekat kenapa harus memilih yang jauh" ucap Sindi.


"Dasar wanita labil ! Bentar bilang a, Sebentar lagi bilang B !" ucap Nana.


Sindi cuma cengar-cengir doang mendengar ucapan sahabatnya itu.


Mereka akhirnya kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


Tiba-tiba, telepon meja Lesta berdering.


"Halo, MD Group disini. Ada yang bisa saya bantu ?" ucap Lesta.


"Lesta ke ruangan saya" ucap Pak Marta.


"Baik Pak !" ucap Lesta.


Lesta lalu masuk ke dalam ruangan Pak Marta setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Lesta, tolong kamu ralat jadwal meeting saya ya. Delete jadwal meeting untuk Rumah Sakit Medical, yang telah kamu buat" ucap Pak Marta.


"Di delete maksudnya ditiadakan kan Pak ?" ucap Lesta.


Pak Marta mengangguk.


"Ini kerjaan Rey. Yang membatalkan secara sepihak kerja sama dengan Rumah Sakit Medical. Padahal nilai kontraknya lumayan tinggi untuk perusahaan !" ucap Pak Marta.


"Anak itu ! Entah apa yang dipikirkannya. Selalu saja membuat masalah !" ucap Pak Marta.


Deg !


Rey membatalkan kerja sama itu ? Tapi, Kenapa ? Apa ada hubungannya denganku ?


Batin Lesta.


********


Jam telah menunjukkan pukul 17:00 sore. Saatnya jam pulang para pegawai MD Group. Lesta, Sindi dan Nana yang sudah keluar dari lift sengaja duduk di lobby terlebih dahulu sebelum pulang. Kebetulan cuaca di luar sedang hujan lebat.


"Aku duluan ya Lesta dan Nana. Aku sudah di jemput tu sama adikku" ucap Sindi yang baru saja di jemput adiknya yang masih kuliah menggunakan motor. Sindi langsung memakai jas hujan yang diberikan adiknya, dan segera pergi dari sana.


"Kamu dijemput juga Les ?" tanya Nana.


"Enggak Na. Paling kalau hujannya enggak berhenti, aku mau pesan taksi online" ucap Lesta.


"Kamu di jemput Na ?" tanya Lesta.


"Iya, papaku yang jemput. Sekalian dia pulang dari kantor juga" ucap Nana.


Tiba-tiba , sebuah mobil minibus membunyikan klaksonnya. Mereka berdua menoleh ke arah pintu keluar.


"Les, itu mobil papaku. Aku sudah dijemput. Aku dulan ya !" ucap Nana.


"Oke, Na" ucap Lesta.


Lesta yang merasa kesal karena telah berkali-kali memesan taksi online tetapi selalu tidak mendapatkan driver, merasa kesal. Untuk cuaca hujan lebat seperti ini, memang sangat sulit untuk memesan taksi online.


Barulah sebuah senyuman mengembang di bibirnya, saat mengetahui permintaannya memesan taksi online berhasil. Ternyata ada satu driver yang bisa di pesan melalui orderan aplikasi taksi onlinenya itu.


Tiba-tiba sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di pintu keluar.


Mobil siapa itu ? Enggak mungkin kan itu taksi online pesananku. Kalau mobilnya segitu mahal, apa enggak sayang di jadikan taksi online. Apalagi kalau sudah punya mobil mewah begitu ngapain masih jadi sopir taksi online.


Batin Lesta.


Tiba-tiba, seorang pria turun dari mobil tersebut.


Rey ? Jadi itu mobilnya. Ini nih kalau pakai mobil sering gonta-ganti. Aku sendiri sampai enggak hafal yang mana mobilnya. Enggak majikan, enggak mobilnya sama hobinya suka gonta-ganti. Sultan mah bebas !


Batin Lesta.


Rey yang turun dari mobil berjalan menghampiri Lesta yang duduk di lobi. Untung suasana sepi dan para pegawai sudah banyak yang pulang.


"Les, pulang sama aku yuk" ajak Rey.


Rambut dan jasnya sedikit basah karena terkena sedikit air hujan karena turun tadi.



"Enggak usah Rey. Aku sudah pesan taksi online tadi. Sebentar lagi mungkin datang. Sepertinya sedang terjebak macet sekarang karena hujan" ucap Lesta.


"Sudah ikut aku saja. Kelamaan nanti nunggunya" ucap Rey.


"Enggak usah. Beneran kok. Ini lihat sopir taksi onlinenya lagi on the way kesini kok" ucap Lesta sambil menunjukkan layar ponselnya pada Rey.


Tapi, tiba-tiba Rey langsung merebut ponsel Lesta dari tangannya. Dia kelihatan sedang menekan layar sentuh di ponsel Lesta.


"Ini sudah aku cancel ! Ayo, naik ke mobilku !" ucap Rey.


"Apa ? Kok bisa-bisanya kamu menekan tombol cancel Rey ? Mana dapat drivernya susah lagi kalau hujan begini. Aku enggak nih sama sopir tadi" ucap Lesta yang marah-marah pada Rey.

__ADS_1


"Sudah, nanti saja ngamuknya. Sekarang masuk mobil dulu yuk. Enggak enak entar ada pegawai lain yang lihat" ucap Rey membujuk Lesta.


Lesta akhirnya menuruti kemauan Rey. Ya, mau bagaimana lagi. Pesanan taksi onlinenya juga, sudah di cancel oleh Rey.


Rey akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah Lesta.


********


Di dalam mobil Rey, Ponsel Lesta tidak berhenti berdering. Lesta takut untuk mengangkatnya karena tahu alamat bakal kena sembur sama si sopir taksi online tersebut.


"Gara-gara kamu sih Rey ! Sopir ini pasti ngamuk gara-gara kamu cancel orderannya begitu aja !" ucap Lesta.


"Sudah, sini aku yang angkat !" ucap Rey.


Lagi-lagi Rey merebut ponsel dari tangan Lesta. Dia menekan tombol panggilan masuk pada ponselnya.


"Ada apa Pak ?" tanya Rey.


"Ini kenapa tiba-tiba di cancel Pak. Saya sudah dekat padahal" ucap sopir taksi online tersebut.


"Kelamaan !" ucap Rey.


Astaga !


Batin Lesta.


"Saya kelamaan karena kejebak macet Pak ! Bapak enggak bisa begitu dong tiba-tiba membatalkan orderan begitu saja. Rating bintang saya bisa turun nih !" ucap sopir itu. Nada suara sopir itu sudah mulai meninggi sekarang. Sampai suaranya terdengar sampai keluar.


"Berisik !" ucap Rey yang suaranya tak kalah kuat dan mematikan ponsel tersebut.


Lesta cuma bisa mengelus dada mendengar percakapan Rey dan sopir taksi online tersebut.


Dah, tinggal pasrah doang kalau sudah begini mah !


Batin Lesta.


Rey lalu mengembalikan ponsel tersebut pada Lesta.


"Kalau dia nelpon lagi kasih sama aku ponselnya" ucap Rey.


Lesta cuma bisa menghela nafas melihat kelakuan Rey.


"Kalau begini aku bisa di block nih sama aplikasi taksi online karena membatalkan pesanan secara tiba-tiba. Aku bisa pusing nih harus pergi sama pulang ke kantor naik apa, kalau enggak naik taksi atau ojek online !" ucap Lesta yang tampak kesal.


"Nanti aku yang jemput sama nganter kamu pulang kerja" ucap Rey dengan santainya.


"Dih... Emang siapa yang mau dianter sama kamu !" ucap Lesta.


Rey tertawa.


Melihat Rey tertawa entah mengapa perasaan Lesta ikut bahagia. Karena Rey orang yang dianggapnya jarang sekali menunjukkan sisi bahagianya seperti sekarang ini.


Akhirnya mobil yang dikendarai Rey sampai di depan rumah Lesta. Rey membukakan pintu mobil Lesta dan menutupi kepala Lesta dengan jasnya ala-ala drama korea gitu, karena tidak mempunyai payung di dalam mobilnya.


"Sudah masuk ke dalam sana. Aku pulang ya !" ucap Rey.


Rey yang sudah mau melangkahkan kakinya tiba-tiba terhenti karena Lesta memanggilnya.


"Rey.." ucap Lesta.


"Kenapa ?" tanya Rey dengan dahi mengernyit.


Lesta lalu mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan mengelapi wajah Rey dengan tissue tersebut.


Rey kaget dengan tingkah laku Lesta barusan. Tapi disisi lain hatinya berdebar karena kegirangan.


"Nah, jangan sampai sakit ya. Besok kan kamu harus menjemputku sebelum berangkat ke kantor" ucap Lesta yang telah selesai mengelap wajah Rey yang basah karena air hujan.


"Jadi beneran, besok mau aku jemput ?" ucap Rey.


Lesta mengangguk. Pipinya kembali merona.

__ADS_1


Keduanya kini tersenyum lebar satu sama lain. Ada kebahagiaan di hati mereka masing-masing, yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


#Likenya dongggggg.... vote juga ya ! sama komentar cetar membahana kaliannn 🤭😘 Saranghaeyoo 😘


__ADS_2