
Perihal mencintaimu aku memang berlebihan, Apalagi perihal merindukanmu.
*************
Sinar mentari pagi menembus masuk ke dalam kamar Lesta, melalui celah-celah jendela kamarnya.
Gadis yang masih terlelap tidur itu terbangun saat seberkas sinar mentari itu mengenai wajahnya.
"Bangun, calon manten ! Tidur melulu kamu ya ! Aku heran deh, kenapa si Rey mau aja buat kamu jadi calon bininya" ucap Anis.
Lesta melirik jam dinding yang ada di kamarnya.
"Yaelah, masih ada satu jam lagi buat masuk ke kantor, Anis !" ucap Lesta.
"Iya, tapi kan kamu belum mandi dan sarapan Lesta" ucap Anis.
"Duh, yang ngomelnya ngalahin emak-emak ! Aku bakal kangen omelan kamu, Nis. Kalau aku sudah menikah nanti" ucap Lesta yang sudah beranjak duduk di kasurnya.
Setelah pesta pertunangan, Orang tua Lesta kembali pulang ke kotanya untuk menyiapkan acara pernikahan di sana nanti. Pernikahan Lesta yang yang akan diadakan dua minggu lagi akan di adakan sebanyak dua kali. Pertama akan di adakan di Jakarta dan yang ke dua akan diadakan kota asal Lesta, yaitu Palembang.
Selama dua minggu ini, Lesta ingin memanfaatkan masa-masa lajangnya sebelum dipersunting menjadi istri orang. Dia sangat menikmati kebiasaan hari-harinya bersama Anis dan teman-teman kantornya.
"Aku juga bakal kangen ngomelin kamu, Les. Gelut sama kamu. Dari kuliah kita sama-sama tinggal disini dan sekarang kamu bakal jadi istri orang, ninggalin aku sendiri" ucap Anis.
"Loh ? Kok ninggalin kamu sendiri Nis ? Kamu juga enggak bakal sendiri lama-lama kan ? Modelan Aldo ngelihat Rey yang mau nikah, pasti bentaran lagi juga nyusul ngajakin kamu nikah" ucap Lesta.
Anis hanya diam. Tak lama kemudian, dia tersenyum miris.
"Kamu kenapa Nis ? Jangan bilang kamu ada masalah lagi sama Aldo. Kemarin juga kamu enggak pergi ngantor dan pulang bareng Aldo kan ?" tanya Lesta.
"Kata kamu, Kamu mau berubah jadi orang yang enggak mudah ngambek lagi, Nis" ucap Lesta.
Anis menarik nafas panjang. Dia mulai bercerita.
"Aku memang sudah memperbaiki sifat burukku yang mudah marah, Les. Tapi kali ini masalahnya beda. Sewaktu, di pesta pertunanganmu. Aldo mengenalkanku pada mamanya yang juga hadir di pesta pertunangan kalian. Itu pertama kalinya, aku bertemu dengan mamanya Aldo" ucap Anis.
***********
Flashback On
"Sayang, aku kenalkan pada mamaku ya" ucap Aldo.
"Loh ? Memangnya mamamu datang ke pesta pertunangan ini juga ya ?" tanya Anis.
"Ya, iyalah. Aku dan Rey kan sepupu" ucap Aldo.
"Ayo, kita hampiri mamaku yang lagi duduk di meja itu" ucap Aldo.
Aldo dan Anis akhirnya menghampiri mamanya Aldo.
"Ma.." ucap Aldo.
Mama Aldo menoleh pada mereka.
"Ma, ini Anis yang Aldo sering ceritaiin ke mama" ucap Aldo.
Anis lalu tersenyum sembari menyalami tangan mama Aldo.
"Jadi nama kamu Anis ya ? Cantik ya namanya. Secantik orangnya" ucap mama Aldo.
"Terima kasih, Bu. Ibu terlalu berlebihan. Saya tidak secantik itu kok, Bu" ucap Anis seraya tersenyum.
Anis dan mama Aldo mulai mengobrol dengan akrab. Mama Aldo mulai bertanya, bagaimana Aldo dan Anis bisa saling mengenal, bertanya tentang pekerjaan Anis dan semua perihal obrolan ringan yang wajar sebagai perkenalan. Sepanjang obrolan mama Aldo terlihat banyak tersenyum. Dan sepertinya pribadi yang ramah. Sesekali terdengar tawa dari ketiganya. Pokoknya bayangan ketakutan Anis sebelumnya tentang mama Aldo sungguh jauh berbeda dengan kepribadiannya yang ramah.
__ADS_1
Tetapi ucapan memang tidak sejalan dengan perbuatan. Semua ucapan yang di dengar Anis diam-diam, tanpa sengaja saat Kembali dari mengambil minuman membuatnya terkejut.
"Ibu belum minum ? Saya akan mengambil minuman, Sekalian mengambilkan untuk Ibu juga. Ibu mau minum apa ?" tanya Anis.
"Ibu minta jus jeruk saja" ucap Mama Aldo.
Anis lalu beranjak menuju meja minuman.
"Bagaimana Ma, pendapat mama soal Anis ? Anaknya baik kan ?" ucap Aldo.
"Iya, anaknya baik. Cantik lagi. Wajar kalau kamu suka sama dia. Tetapi Aldo, kamu tahu kan kalau mama lebih mementingkan bibit dari aspek yang lainnnya. Masalah bebet dan bobot mama tidak begitu peduli. Tapi untuk latar belakang keluarganya, mama sangat peduli. Dari mana dia berasal, bagaimana garis keturunannya dan dan bagaimana cara orang tuanya mendidiknya. Maka dari itu, mama lebih suka menjodohkanmu dengan anak teman mama, yang jelas untuk semua itu" ucap Mama Aldo.
"Tapi, mama bisa kan mengenal kedua orang tua Anis terlebih dahulu. Anis berasal dari keluarga baik-baik kok. Mama belum kenal saja dengan mereka. Kalau mama sudah kenal dan dekat dengan mereka, mama pasti akan merasa, mereka juga orang tua yang baik dalam mendidik anak" ucap Aldo.
"Justru itu.. Mama tidak mau menghabiskan waktu untuk mengenal seseorang dari awal. Mama banyak pekerjaan yang lainnya untuk diurus. Tinggalkan Anis. Cukup kali itu saja kamu membatalkan pertemuan dengan anak teman mama kemarin. Mama sudah berencana mengenalkanmu pada anak teman mama yang lainnya sekarang. Dia akan tiba ke jakarta sebentar lagi" ucap Mama Aldo.
"Aku tidak mau, Ma. Aku hanya akan menikah dengan Anis !" ucap Aldo.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku izin pergi mengantar Anis pulang, Ma" sambung Aldo yang terlihat sudah malas membahas tentang hal perjodohan.
Aldo lalu pergi meninggalkan meja tersebut dan mencari keberadaan Anis di tempat pesta.
Sedangkan Anis yang berdiri membelakangi meja tempat mengobrol tadi, berdiri kaku di sana. Kakinya tiba-tiba lemas mendengar ucapan mama Aldo barusan.
*********
"Itulah sebabnya Les, aku memilih menghindari Aldo beberapa hari ini. Bagiku terganjal restu orang tua itu masalah yang besar dalam sebuah hubungan. Dan aku benar-benar lagi dilema sekarang" ucap Anis.
"Aduh ribet juga ya hubungan kamu dengan Aldo. Enggak pernah mulus kayaknya. Kalau menurutku sih, kamu bicarain ini semua sama Aldo. Kasih tahu masalah sebenarnya. Bilang kalau kamu mengetahui obrolan dia dan mamanya. Biar bisa kasih solusi sama-sama. Jangan diam aja kayak gini. Kasihan Aldo. Dia pasti bertanya-tanya apa salah dia" ucap Lesta.
Anis hanya terdiam. Mencoba mencerna ucapan Lesta barusan.
**********
Jam menunjukkan pukul 08:00 Pagi. Lesta sudah duduk di meja kerjanya, mengerjakan pekerjaan rutin seperti biasanya. Kebetulan hari ini ada rapat proyek yang juga akan di hadiri oleh Presdir. Mau tak mau Lesta harus mendampingi Pak Marta rapat.
foto : Lesta.
"Pagi, Pak. Ini ada beberapa dokumen yang perlu tanda tangan Pak Marta" ucap Lesta.
"Oh, iya. Taruh saja di situ Lesta" ucap Pak Marta menunjuk rak kecil khusus meletakkan dokumen di sudut mejanya.
Lesta lalu meletakkan dokumen tersebut di rak tersebut.
"Pak, dua hari lagi saya mungkin akan mengambil cuti untuk menyiapkan pernikahan. Dan surat cutinya juga sudah saya serahkan pada Pak Tito, manager personalia. Untuk posisi sekretaris yang akan kosong ini, telah di adakan rekrutmen oleh Pak Tito seminggu yang lalu. Dan seleksinya sudah pada tahap akhir. Hasil akhirnya, Pak Tito mendapatkan calon sekretaris yang akan menggantikan saya dengan lulusan terbaik di universitasnya. Namanya Ananda Qahira" ucap Lesta.
Pak Marta tersenyum.
"Kalau sampai mengadakan rekrutmen untuk sekretaris baru, berarti kamu akan berhenti bekerja ya ? Siapa yang suruh ? Rey ?" tanya Pak Marta.
"Rey tidak pernah memaksa saya untuk berhenti bekerja Pak. Dia tetap memberikan hak pada saya untuk memilih. Tetapi untuk sekarang saya sedang fokus mempersiapkan diri menjadi istri yang baik bagi Rey. Dan Rey sendiri bilang kalau saya jenuh di rumah nanti dan rindu untuk bekerja. Saya boleh bekerja kembali sebagai staffnya, Pak" ucap Lesta.
Pak Marta tertawa mendengarnya.
"Dasar anak itu ! Bekerja juga dia yang pilihkan, harus sebagai staffnya pula. Sepertinya kamu tidak boleh jauh darinya" ucap Pak Marta.
Lesta hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Pak Marta.
"Untuk posisi sekretaris yang akan menggantikanmu. Sebaiknya calon sekretaris baru yang bernama Ananda tadi kita taruh di divisi administarsi umum. Dia akan menggantikan Tiwi disana. Sedangkan Tiwi akan saya tarik ke sini sebagai sekretaris saya" ucap Pak Marta.
"Bukannya Tiwi lagi bertugas di kantor cabang Pak ?" tanya Lesta.
__ADS_1
"Masa tugasnya kebetulan selesai 2 hari lagi. Rekrutmen untuk sekretaris di sana juga sudah selesai. Tolong kamu kirim email ke Tedy dan Cc juga ke Manager personalia disana dan juga Tiwi, untuk segera mengakhiri masa tugas Tiwi disana dan penetapan tugas baru sekretaris Tiwi di sini" ucap Pak Marta.
"Baik, Pak" ucap Lesta.
"Baiklah, ayo kita ke ruang rapat sekarang" ucap Pak Marta mengajak Lesta.
Rapat yang di pimpin oleh Rey berlangsung lancar tanpa kendala. Rapat tersebut menghasilkan keputusan kerja sama, dengan Perusahaan Adiputra dengan total proyek 20M.
foto : Rey.
Selama rapat berlangsung, Direktur dari perusahaan Adiputra tidak berhenti menatap Lesta. Dia memang terkenal haus akan wanita dan suka menggoda wanita.
Setelah selesai rapat, Lesta kembali ke meja kerjanya sedangkan Pak Presdir kembali ke ruangannya.
Tak lama kemudian Direktur dari Perusahaan Adiputra yang usianya sekitar 30 tahun itu datang menghampiri meja kerja Lesta.
Siapa yang tidak kenal dengan Pak Adiputra, Direktur perusahaan yang namanya seliweran di televisi dan akun gosip 'lambe ngelantur' gara-gara sepak terjang kelakuannya yang 11 12 sama casanova, istilah lain untuk pengembara cinta.
Dengan bermodalkan wajahnya yang tampan, uang dan kekuasaan, menjadikannya pandai dalam hal menjerat wanita dengan rayuan mautnya.
Sindi dan Nana yang melihat dari jauhpun terpesona pada sosok Direktur perusahaan Adiputra itu.
Namanya playboy, tentu penampilan menjadi fokus utama baginya. Seperti saat ini, minyak wangi yang dia pakai tercium sampai radius yang cukup jauh.
Kayaknya itu minyak wangi, tumpah deh sebotol ke bajunya. Wangi benar dah, udah kayak wangi bunga serah-serahan sesajen.
Batin Lesta.
Belum lagi belahan rambutnya yang tersusun rapi dan mengkilap, silau dan licin bagaikan piring yang habis dicuci dengan mama lemon. Cling-cling dan silau banget !
"Maaf, ada yang bisa saya bantu Pak ? Pak Adi mau bertemu Pak Presdir ?" tanya Lesta yang berbicara dengan Pak Adiputra yang sudah berdiri di depan mejanya.
"Tidak. Saya kemari, sengaja ingin menemuimu Nona Lesta" ucap Adiputra.
Duh, perasaan enggak enak-enak nih !
Batin Lesta.
"Menemui saya ? Ada apa ya Pak ?" tanya Lesta.
"Saya boleh meminta nomor ponselmu ?" tanya Adi.
"Nomor ponsel saya ? Untuk apa ya Pak ?" ucap Lesta terbata.
"Untuk mengenalmu lebih jauh ! Sejak di dalam ruangan rapat tadi aku terus memperhatikanmu" ucap Pak Adi dengan pedenya.
Jleb !
Lesta terdiam seketika. Bahkan bukan hanya Lesta. Sindi dan Nana yang mejanya tidak jauh dari meja Lesta juga kaget mendengar ucapan Pak Adi barusan.
Kenapa sih pak Adi malah melirik Lesta yang sudah sold out. Memangnya saya dan Sindi itu tembus pandang, enggak kelihatan ada disini juga. Ini kali yang dinamakan dengan sakit tak berdarah, hiks.
Batin Nana.
Tiba-tiba terdengar derap langkah mendekati meja Lesta. Rey datang dengan wajah masam. Dia menatap tajam pada Adi. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Loh, Pak Rey ? Ada disini juga ? Ada perlu juga dengan Nona Lesta ?" ucap Pak Adi dengan santainya.
Suasana semakin menegang. Semua orang sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kecuali Pak Adi yang masih cengar-cengir dengan wajah tanpa dosa.
Pak Adi ini sepertinya sedang mendaftarkan diri sebagai penerima tabokan ter-hot dari Pak Rey !
__ADS_1
Batin Sindi.
Minta likenya, komen dan vote ya 🙏