Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Kepo


__ADS_3

Jum'at..


Pagi ini Lesta ke kantor dengan berpakaian santai tetapi sopan. Karena pada hari jum'at ini aturan berpakaian di perusahaan ini sedikit lebih longgar.



Semua lajang baik wanita maupun pria mulai memakai pakaian yang stylish yang bisa membuat diri mereka semakin menarik dan lebih bergaya.


Tidak terkecuali dengan Sindi dan Nana yang setiap hari jumat selalu memakai baju yang super ketat, yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Pokoknya itu baju sudah bukan mirip baju kerja maupun baju casual, tapi lebih mirip ke pakaian untuk senam saking ketatnya.


Lesta yang baru datang langsung buru-buru mengabsen handkey sebagai tanda kehadirannya. Dia lalu menghampiri meja Nana yang dipenuhi oleh banyak makanan yang dibawanya dari rumah. Secara, ibunya Nana memang membuka toko kue di rumahnya. Dan Nana seringkali membawa kue buatan Ibunya ke kantor untuk dimakan bersama dengan teman-teman kantor. Hitung-hitung sekaligus promosi dagangan Ibunya bila ada yang ingin memesannya.


"Wah, yang ini enak banget Na" ucap Lesta saat sedang memakan kue lapis surabaya yang di bawa Nana.


"Kalau itu satu loyangnya Rp. 130.000,- Les" ucap Nana.


"Ooh.." ucap Lesta yang masih sibuk mengunyah kue itu.


"Tapi ini gratis kan Na ?" ucap Lesta yang harap-harap cemas menantikan jawaban Nana.


"Iyalah. Sepuasan kalian boleh makan. Memang bawa untuk kalian kok" ucap Nana.


Untunglah !


Batin Lesta.


"Siang ini jangan lupa Les. Kita di traktir makan siang di luar oleh Bu Christine. Soalnya dia ulang tahun" ucap Sindi.


Makan siang di luar ? Gue baru ingat kalau gue ada janji mentraktir Tedy makan siang hari ini.


Batin Lesta.


"Gue enggak bisa ikut kayaknya. Soalnya sudah ada janji makan siang diluar juga, bareng teman" ucap Lesta.


Tiba-tiba Rey datang membawa dokumen dan masuk ke dalam ruangan Pak Marta. Sebelum masuk ke ruangan Pak Marta, Lesta sempat melirik Rey yang hari ini berpenampilan sangat trendy. Dia mengenakan kemeja biru bergaris kali ini.



"Ayang gue tu yang barusan masuk !" ucap Nana.


"Dih, ngaku-ngaku elo !" ucap Sindi.


"Ayo, Ikut sama kita aja Les makan siang kali ini. Biar ramai yang ikut. Jarang-jarang lo Bu Christine mau traktir makan kita. Biasanya susah banget itu uang keluar dari dompet" sambung Sindi.


"Duh, gimana ya. Enggak enak gue udah janji sama teman gue" ucap Lesta.


"Teman cewek apa cowok nih ?" tanya Nana.


"Teman cowok" ucap Lesta.


"Yaelah berarti bukan sekedar makan siang biasa dong" ucap Sindi.


"Cuma teman Sindi. Jadi memang murni cuma makan siang biasa" ucap Lesta.


Tiba-tiba Rey keluar dari ruangan Pak Marta. Semua yang ngumpul di meja Nana langsung bubar seketika kembali ke meja masing-masing.


Semua pegawai mulai mengerjakan pekerjaan mereka. Begitu juga dengan Lesta yang mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Selang satu jam kemudian, Pak Marta memanggil Lesta ke dalam ruangannya.


"Lesta ke sini sebentar ya" ucap Pak Marta yang menghubungi Lesta lewat telepon mejanya.


"Baik, Pak !" ucap Lesta yang menutup gagang teleponnya.


Lesta bergegas masuk ke dalam ruangan Pak Marta setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf, Pak Marta tadi memanggil saya. Ada apa Pak ?" ucap Lesta.


"Ini ada email masuk tentang proyek baru. Saya terusin ke email kamu ya. Nanti kamu buat surat masuknya ya. Dan laporannya seperti biasa minta tanda tangan Rey. Terus dokumen masuk dari Pak Bram manajer IT, kamu kasih tahu sama dia buat direvisi. Itu sudah saya tandai bagian mana yang harus direvisi sekalian kamu antarkan ke ruangannya bersama dokumen yang saya suruh kamu ketik kemarin" ucap Pak Marta.


"Baik, Pak !" ucap Lesta.


Lesta beranjak dari ruangan tersebut, dan mulai mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Pak Marta.


Setelah selesai mengerjakan semuanya. Lesta mulai menuju lantai tujuh, tempat ruangan IT. Dia menemui Manajer IT dan memberikan dokumen revisi pada Pak Bram.


Setelah selesai, dia lalu masuk lift kembali menuju ruangan Rey.


Lesta masuk ke ruangan Rey setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Rey refleks menoleh.


"Maaf ganggu, Pak Rey. Ini ada dokumen yang perlu di tanda tangani dari Pak Marta" ucap Lesta.


Rey mengambil dokumen tersebut, membaca sekilas dan menanda tanganinya.


"Tari, kamu bisa bantu saya kan ? Yani, Sekretaris saya enggak masuk hari ini. Padahal ada beberapa dokumen yang mesti selesai diketik hari ini juga. Kamu bantuin saya ya. Kamu tetap boleh mengerjakan dokumennya dari meja kerjamu kok" ucap Rey.


Tuh, kan.. Katanya udah minta maaf kemarin. Dan udah bener panggil gue Lesta. Dan sekarang Masih aja panggil gue Tari.


Batin Lesta.


"Iya, boleh. Tapi, coba Bapak minta izin dulu sama Pak Marta. Karena saya kan sekretaris di bawah pimpinannya. Takutnya Pak Marta bakal ngasih kerjaan baru lagi dan sebagai bawahannya langsung, saya pasti lebih mengutamakan pekerjaan yang diberikan oleh Pak Marta" ucap Lesta.


"Wait !" ucap Rey.


Rey langsung menekan tombol telepon mejanya dan menghubungi Pak Marta. Dia sengaja menekan tombol loudspeaker di teleponnya agar Lesta juga mendengar apa yang diucapkan Pak Marta nanti.


"Pa, Saya minta Lestari untuk membantu mengetik dokumen proyek yang deadline ya. Soalnya Yani, sekretaris saya enggak masuk hari ini. Papa masih ada kerjaan yang bakal dikasih ke Tari lagi enggak ?" ucap Rey.


Semoga ada.. semoga ada..


Batin Lesta.

__ADS_1


"Untuk saat ini belum ada. Silahkan kamu minta bantuan Lesta" ucap Pak Marta mengakhiri teleponnya.


Lesta langsung manyun mendengarnya.


"Kamu dengar sendiri kan ?" ucap Rey.


Lesta mengangguk.


"Mana dokumennya Pak ? Dokumen yang akan saya ketik" ucap Lesta.


Rey mengambil 3 buah dokumen di atas mejanya dan memberinya pada Lesta.


Lesta membuka dokumen tersebut satu-persatu.


Oh, ini.. Ini sih enggak begitu banyak. Kelar lah sebelum jam makan siang.


Batin Lesta.


"Cuma ini Pak ?" tanya Lesta.


"Masih kurang ?" tanya balik Rey.


Lesta tertawa.


"Maksud saya, Dokumen ini mungkin selesai saya kerjakan sebelum makan siang. Setelah ini apa Pak Rey tidak ada lagi pekerjaan yang membutuhkan bantuan saya ?" ucap Lesta.


"Buru-buru sekali memang ada pekerjaan lain yang sudah menunggu ?" tanya Rey yang masih melanjutkan menandatangani dokumen pemberian Lesta tadi.


"Bukan. Maksud saya, dokumen ini pasti selesai sebelum jam makan siang, Pak. Kalau memang misalnya ada pekerjaan tambahan lagi mungkin saya bisa menyelesaikannya sesudah jam makan siang. Soalnya jam makan siang nanti saya ada janji makan siang diluar dengan teman saya, Pak" ucap Lesta.


"Teman ?" ucap Rey yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya.


"Laki-laki ?" tanya Rey.


"Ehh.. Iya, Pak" jawab Lesta.


"Siapa ?" tanya Rey.


Dih, Kepo nih direktur !


Batin Lesta.


Lesta masih diam. Dia bingung mau menjawabnya.


"Aldo lagi ?" ucap Rey yang melihat Lesta hanya terdiam saat dia bertanya.


"Bukan" ucap Lesta.


"Bukan ?" Rey mengerenyit. Dia menaikkan salah satu alisnya, Menunggu jawaban lebih lanjut.


"Hmmm.. Tedy. Saya ada janji makan siang dengan Tedy pak" ucap Lesta.


Rey sempat kaget saat Lesta mengucapkan nama Tedy.


"Hmm.. Iya, Pak" ucap Lesta.


Sekarang giliran Rey yang terdiam.


"Kalau enggak ada lagi yang akan di kerjakan, saya izin keluar Pak. Mau menyelesaikan dokumen ini biar cepat selesai" ucap Lesta.


Rey mengangguk.


Lesta lalu kembali ke ruangannya untuk mengetik dokumen yang diberikan Rey. Dia mengerjakan semuanya dengan cepat dan rapi.


Lesta melirik jam di pergelangan tangannya.


Masih 15 menit lagi jam makan siang dan kerjaan gue sudah selesai.


Batin Lesta.


Lesta lalu masuk ke dalam lift, menuju ruangan Rey.


"Siang, Pak Rey. Ini pekerjaan yang Pak Rey berikan tadi sudah selesai" ucap Lesta.


Rey membuka dokumen tersebut dan mengeceknya sekilas.


"Oke ! Terima kasih, Ya" ucap Rey.


"Sama-sama, Pak" Ucap Lesta yang sudah berbalik ingin pergi.


"Lesta" ucap Rey.


"Ya, Ada apa Pak ?" tanya Lesta yang kembali berbalik melangkah ke meja Rey.


"Saya minta tolong lagi ya. Ada email yang baru masuk nih. Kamu buatin ya surat kontraknya. Kurang lebih ada 10 perusahaan. Entar emailnya saya kirim ke komputer kamu" ucap Rey.


"Sepuluh Pak ? Harus sekarang ya Pak ?" tanya Lesta.


"Hmm" Jawab Rey.


"Tapi, Pak.." ucap Lesta.


"Kenapa ? Keberatan ?" tanya Rey dengan matanya yang sudah melotot.


"Bukan begitu Pak. Tapi, saya sudah ada janji makan siang" ucap Lesta.


"Tinggal di batalin saja. Bilang saja kamu lagi ada kerjaan deadline. Entar ada kompensasi jam istirahat juga buat kamu, yang sudah terpakai selama 1 jam tadi." ucap Rey.


Lesta menghela nafas.

__ADS_1


Drttttt..


Tiba-tiba ponsel Lesta berdering. Lesta melirik nama di ponselnya. Dia hanya diam tidak menjawab teleponnya.


"Kenapa enggak di angkat ? Cepat angkat !" ucap Rey.


"Enggak usah Pak. Saya angkatnya nanti diluar aja" ucap Lesta.


"Kenapa diluar ? Diberi kebebasan mengangkat telepon disini kok tidak mau ?" ucap Rey.


Sekali lagi Lesta menghela nafas. Dia terpaksa mengangkat teleponnya di hadapan Rey.


"Iya, Halo Ted" ucap Lesta mengangkat teleponnya.


"Kita jadi makan siang bareng kan hari ini ? Gue jemput ke sana ya sekarang" ucap Tedy di telepon.


"Hmm.. Sorry Ted. Kita makan barengnya kapan-kapan aja ya. Soalnya gue lagi banyak kerjaan nih" ucap Lesta.


"Loh, bukannya kamu sudah janji. Siapa sih yang kasih kerjaan ? Papa ya ? Entar gue yang ngomong deh sama papa" ucap Tedy.


"Hmm.. Bukan. Bukan Pak Marta. Tapi kerjaan ini dari Pak Rey" ucap Lesta sambil melirik Rey. Rey fokus menatap dirinya yang sedang menelepon.


Tedy terdiam. Tidak ada suara di seberang sana.


"Halo Ted. Kamu masih disana ?"ucap Lesta.


"Oh, sorry Les. Iya enggak apa-apa. Lain kali aja kita makan siangnya. Besok-besok gue kabarin ya. Bye Lesta" ucap Tedy.


"Iya, Sorry ya Ted. Bye" ucap Lesta menutup teleponnya.


Rey menyeringai.


Tedy aja langsung ciut begitu gue sebut kalau kakaknya yang kasih gue kerjaan, Apalagi gue yang cuma rakyat jelata ini. Udah gue kerjain aja perintahnya. Entar gue dipecat lagi karena dibilang enggak mau di**suruh-suruh.


Batin Lesta.


"Ya, udah deh Pak. Saya izin dulu keluar mau mengerjakan tugas yang bapak kirim" ucap Lesta.


"Hmm" jawab Rey.


Lesta lalu berjalan gontai menuju ruangannya. Dia sibuk mengetik pekerjaan tambahan yang diberikan oleh Pak Rey tadi.


Sudah satu jam Lesta berada di depan layar komputer dan akhirnya jam 12:45 siang, pekerjaannya selesai. Tapi, tiba-tiba matanya fokus pada tanggal dalam surat kontrak tersebut.


Lesta lalu kembali masuk ke dalam ruangan Rey untuk memberikan surat kontrak yang telah dia ketik.


"Ini Pak Rey. Semuanya sudah selesai. Tetapi saya mau tanya Pak. Kenapa tanggalnya di semua surat kontrak ini deadlinenya masih seminggu lagi ya Pak ? Bapak bilang hari ini deadlinenya. Saya juga baru sadar tadi, setelah mengecek ulang. Tapi bukannya bapak punya jadwal selama satu minggu ke depan kan ? Untuk perusahaan mana saja yang akan teken kontrak dengan perusahaan kita ?" ucap Lesta sambil menyodorkan laporan tersebut ke hadapan Rey.


Rey lalu mengambil laporan itu dan membacanya sekilas.


"Oh, Iya sorry. Saya lupa" ucap Rey dengan santainya.


Lupa ? Gitu doang ? Rasanya pingin gue tebas nih leher preman pasar ! Enggak tahu apa, Kalau gue empot-empotan ngetik ini sampai kelaperan.


Batin Lesta.


"Pak.. Pak Rey lagi enggak mengerjai saya lagi kan ? Bapak tahu kan, saya melewatkan jam makan siang dan kelaparan hanya karena mengetik laporan yang Pak Rey kasih !" ucap Lesta.


"Pak Rey kemarin bilang kalau kita sudah temenan. Kenapa masih mempersulit saya sekarang ?" ucap Lesta.


"Enggak ada niat saya mempersulit kamu ! Saya beneran lupa" ucap Rey berkilah.


"Sorry ya" ucap Rey.


Lesta menghela nafas.


"Ya, sudah. Ayo !" ajak Rey pada Lesta.


Rey lalu mengambil kunci mobil dan ponselnya yang terkapar di atas meja.


"Ayo kemana Pak ?" tanya Lesta.


"Kata kamu tadi, kamu kelaparan ? Ayo makan siang bareng. Saya juga belum makan dari tadi" ucap Rey.


Lesta melongo.


"Tapi Pak.. Anda kan atasan saya. Enggak enak dilihat orang nanti. Nanti orang mikirnya macem-macem lagi" ucap Lesta.


"Enggak akan ada yang berani ngomong macem-macem. Mereka cari masalah sendiri kalau berani ngomongin saya. Ayo Pergi !" ucap Rey.


"Tapi Pak.." ucap Lesta yang masih ragu.


"Tapi apa lagi ? Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita berteman" ucap Rey.


Akhirnya, mau tak mau Lesta menyetujuinya.


Kembali ke pasal 1, Bos selalu benar !


Batin Lesta.


Lesta lalu berjalan melangkah dibelakang Rey untuk bersiap keluar.


Tapi ketika Rey mau membuka pintu ruangannya, Rey berbalik. Lesta kaget, karena posisinya yang berada tepat di belakang Rey. Untung jarak mereka tidak begitu dekat.


"Oh, iya dan satu lagi. Saya kan pernah bilang sama kamu. Kalau cuma ada kita berdua, kamu jangan panggil saya Pak" ucap Rey.


"Panggil saya Rey ! Sama seperti kamu memanggil Tedy tadi" ucap Rey yang kemudian berbalik kembali, melangkah keluar ruangan.


Kok bawa-bawa Tedy segala ? Apa hubungannya ? Atau jangan-jangan Pak Rey...

__ADS_1


Batin Lesta.


# Minta jempolnya dong... vote dan komennya 🙏 Sorry up nya kesiangan ya🙏🏼 tapi kalau kalian kesayangan.. #Eh 🤭


__ADS_2