
Brakkkk !
Rey menggebrak meja dan melempar dokumen ke atas meja.
"Siapa yang bertanggung jawab atas kendala yang kita alami ini ?" tanya Rey pada seluruh peserta meeting.
Semua terdiam. Suasana menjadi hening seketika.
Pagi ini Rey mengadakan rapat internal di ruangannya. Membahas kendala dalam proyek pembangunan Mall yang dikelola Perusahaan Marta Dinata.
"Jawab !" bentak Rey.
"Saya, Pak !" ucap Pak Alex, selaku kepala proyek.
Rey reflek menoleh padanya.
"Sekarang kamu jelaskan pada saya, mengapa estimasi perhitungan waktu pembangunannya bisa meleset ?" ucap Rey dengan sorot mata yang tajam.
"Maaf Pak Rey, semua itu terjadi karena faktor alam dan keterlambatan bahan bangunan dari supplier" ucap Pak Alex yang usianya terpaut jauh diatas Rey.
"Lalu apa solusinya sekarang ?" tanya Rey pada semua peserta meeting.
Semua orang terdiam dan hanya menunduk.
"Cepat jawab apa solusinya ? Kalau harus saya juga yang mikirin solusinya, jadi buat apa kalian di gaji !" bentak Rey kembali.
Semua peserta rapat mulai kasak-kusuk mencari solusi. Mereka mulai menyumbangkan ide-ide dadakan mereka.
Setelah satu setengah jam berlangsung, akhirnya rapat dalam suasana mencekam tersebut berakhir.
Rey keluar dari ruangan dengan mimik wajah yang masih kesal di ikuti sekretarisnya.
Lesta yang sedang berdiri di depan meja sekretaris Yani, tampak terkejut melihat wajah Rey yang terlihat kesal.
"Lesta, sudah lama berdiri di sana ? Ada dokumen yang mau dititip ya ?" tanya Yani, sekretaris Rey.
Rey reflek menoleh pada Lesta begitu mendengar Yani menyapanya.
"Baru datang kok, Yan. Iya mau nitip dokumen nih. Pak Marta menyurukhku meminta tanda tangan Pak Rey untuk dokumen proyek ini" ucap Lesta sambil melirik Rey.
"Oh, ini Pak Reynya sudah ada. Baru saja keluar meeting. Kamu minta langsung saja pada Pak Rey. Soalnya kalau Pak Marta minta, biasanya sifatnya urgent dan minta didahulukan " ucap Yani.
"Pak, Lesta boleh kan masuk ke ruangan anda sekarang,meminta tanda tangan Pak Rey ?" tanya Yani pada Rey yang berdiri di sebelahnya.
Rey mengangguk.
Yani terpaksa bertanya terlebih dahulu kepada Rey. Karena mood Rey yang sedari tadi sangat jelek. Semenjak keluar dari ruangan meeting.
Dan tampaknya Yani juga belum mengetahui hubungan asmara Rey dan Lesta. Hubungan asmara mereka memang hanya terdengar di ruangan Lesta saja. Tanpa ada yang berani membawa berita itu keluar. Kalau sampai ada yang menyebarkan cerita mengenai Pak Rey, bagi mereka itu sama saja seperti menggali kuburannya sendiri.
Rey memasuki ruangannya, diikuti oleh Lesta yang berjalan di belakangnya sambil membawa dokumen.
Sekarang mereka sudah duduk di sofa, dengan posisi bersebelahan.
Rey tampak mengendurkan dasinya dan memijit dahinya seperti orang kepusingan.
foto : Rey.
Lesta yang melihat kondisi Rey dalam keadaan yang tidak baik, ikut memegang dahi Rey.
"Kamu sakit, sayang ? Perasaan tadi pagi masih sehat-sehat saja" tanya Lesta.
"Aku enggak sakit. Cuma ada masalah aja di proyek pembangunan mall" ucap Rey.
"Jadi bagaimana sudah ada solusinya ?" tanya Lesta.
"Sudah selesai kok. Tadi ada beberapa ide yang bisa dijadikan solusi yang tepat, untuk masalah ini" ucap Rey.
"Ya, sudah. Kalau begitu kenapa mesti badmood lagi. Ayo, pasang wajah yang friendly dan tersenyum sekarang. Kamu menakuti para pegawaimu dengan wajah jutekmu itu" ucap Lesta sambil menarik ke dua sudut bibir Rey menggunakan kedua tangannya. Sehingga bibir Rey membentuk sebuah senyuman.
"Nah, kan. Sekarang pacarku terlihat lebih ganteng" ucap Lesta yang sedang membujuk Rey.
Rey tersenyum.
"Memang kamu itu paling bisa ya buat aku kalah. Ya, sudah mana sini dokumen yang mau di tanda tangani" ucap Rey sambil mengelus puncak kepala Lesta.
Lesta tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
*************
Lesta kembali ke ruangannya setelah mendapatkan dokumennya telah ditanda tangani oleh Rey.
Dia terkejut melihat pegawai di ruangan itu berkerumun di satu meja.
"Ada apa nih ramai-ramai ?" sapa Lesta mengagetkan kumpulan orang yang sedang berkerumun itu.
"Eh, Lesta. Kemari Les ! Tadi Pak Tito mengenalkan Lisa sama kita semua. Tapi, kamu lagi enggak ada di ruangan tadi. Dia bakal magang di perusahaan ini selama sebulan" ucap Nana.
"Iya, ini dia bawa banyak makanan ke kantor sebagai perkenalan. Ayo kita makan" ucap Sindi yang suaranya terdengar hampir kurang jelas karena mulutnya dipenuhi oleh makanan.
Lesta melirik ke atas meja. Meja kosong yang selama ini tidak ditempati dan berada di dekat Lesta, sekarang sudah di duduki oleh Lisa.
Di atas meja tersebut banyak terdapat makanan yang Lisa bawa. Ada 2 kotak pizza ukuran jumbo dan dua kotak donat ukuran besar. Alhasil, semua makanan tersebut tak luput dari incaran para pegawai di ruangan itu.
Lisa berhasil membuat kesan awal yang menyenangkan kepada semua pegawai di ruangan ini.
********
Hari-hari berikutnya Lisa tampak sudah terbiasa dengan pekerjaan yang di berikan kepadanya. Dia mengerjakan semuanya dengan cekatan. Dengan nilai IPK yang menakjubkan, tidak heran dia cepat menguasai pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Hampir setiap hari dia membawa makanan agar di sukai semua orang. Terkadang dia mentraktir makan siang para pegawai di ruangan itu.
Selama beberapa hari ini sikap Lisa aman-aman saja, dan bisa dibilang tidak menganggu sama sekali.
Tetapi tidak sampai dengan hari ini. Lisa mulai menunjukkan taringnya.
"Tadi saya beneran letakkin laporannya di atas meja kamu kok, Les !" ucap Pak Boy selaku manager Produksi.
"Iya. Tapi saya benar-benar tidak melihat ada dokumen bapak disini. Bapak yakin sudah menyerahkannya pada saya ?" tanya Lesta.
"Saya meletakkannya di atas meja kamu saat kamu lagi enggak ada di ruangan. Ayo, cari yang benar Les. Itu laporan penting tentang pengendalian biaya kontruksi. Saya bisa dimarahi Pak Marta kalau begini !" ucap Pak Boy.
Semua mata tertuju kepada Lesta.
"Sini Les, kita bantuin cari !" ucap Sindi.
Sindi dan Nana akhirnya berdiri dari duduknya dan ikut membantu Lesta mencari dokumen di mejanya. Sedangkan Pak Boy masih berdiri di depan meja Lesta, menunggu sampai dokumen itu di ketemukan dengan raut wajah yang kesal.
"Tumben banget deh ! Selama ini kan kamu enggak pernah Les, kehilangan dokumen" ucap Nana.
Benar juga ucapan Nana. Baru kali ini ada kejadian kayak gini. Itu semenjak Lisa masuk ke dalam ruangan ini.
Batin Lesta.
Lesta melirik ke arah Lisa, Dia melihat Lisa menyeringai.
Aku yakin dia menyeringai barusan. Dan aku yakin laporan yang hilang ini pasti ada hubungannya dengan cabe-cabean itu.
Batin Lesta.
Mereka terus mencari laporan tersebut diatas meja Lesta, sampai pada saat Rey datang ingin menemui Pak Marta, akhirnya berbelok ke meja Lesta karena melihat keramaian yang terjadi di mejanya.
"Ada apa ini ?" tanya Rey.
"Lesta ini loh Pak Rey. Dia ceroboh sekali menghilangkan laporan pengendalian biaya produksi. Hal sepenting ini bisa-bisanya dia menghilangkannya" ucap pak Boy.
"Kamu bisa kerja enggak sih Les ?" ucap Pak Boy yang mulai meninggikan nada suaranya.
Tiba-tiba Rey menarik kerah baju Pak Boy.
"Berani berbicara seperti itu lagi, kamu dalam masalah !" ancam Rey dengan sorot mata yang penuh amarah.
"Rey, sudah. Lepasin Pak Boy" ucap Lesta panik.
Tiba-tiba Pak Marta yang keluar dari dalam ruangan dan di ikuti oleh Pak Yudi di sampingnya, terkejut melihat Rey yang sedang mencengkram kerah baju Pak Boy.
"Rey, lepaskan tanganmu !" bentak Pak Marta.
Rey langsung menuruti perintah papanya.
"Jelaskan ada apa ini ?" ucap Pak Marta.
Semua terdiam. Apalagi Pak Boy. Dia hanya bisa terdiam tak berkutik karena diancam oleh Rey tadi.
"Pak Boy bilang dia meletakkan laporan di atas meja saya untuk dititip ke dalam ruangan bapak. Tetapi sampai sekarang saya belum melihat bentuk laporan itu. Sudah saya cari bersama yang lainnya di meja kerja saya tetapi tetap tidak ketemu Pak" ucap Lesta.
Pak Marta mengernyit.
__ADS_1
"Laporan apa yang hilang itu Pak ?" tanya Pak Marta.
"Laporan pengendalian biaya kontruksi, Pak" ucap Pak Boy.
"Laporan sepenting itu bisa hilang ?" ucap Pak Marta kaget.
"Semuanya bantu Lesta mencari lagi laporan itu di atas mejanya. Kalau memang tidak ketemu juga, kita bongkar lewat cctv" ucap Pak Marta.
Bu Christine, Sindi, Nana dan semua pegawai di ruangan itu ikut membantu mencari laporan tersebut. Termasuk juga Lisa.
"Ini bukan dokumennya ?" ucap Lisa yang sudah memegang dokumen laporan di tangannya. Semua mata tertuju padanya sekarang.
Pak Boy menyambut laporan tersebut dan membacanya.
"Iya betul. Dimana anda menemukannya ?" tanya Pak Boy.
"Terkapar di lantai, di bawah meja Kak Lesta" ucap Lisa dengan memasang wajah yang lugu.
Sekarang semua mata tertuju pada Lesta.
Tapi hanya sesaat mereka berani menatap Lesta. Karena ada mata yang lebih tajam dan penuh amarah menatapi mereka satu-persatu karena memandangi kekasihnya dengan penuh selidik.
"Terima kasih kalau begitu" ucap Pak Boy.
"Sudah, kalau tidak ada masalah lagi kalian semua bubar !" ucap Pak Marta.
"Dan Pak Boy masuk ke ruangan saya untuk melaporkan laporan tersebut" ucap Pak Marta.
"Baik, Pak !" ucap Pak Boy.
Pak Boy dan Pak Marta masuk ke dalam ruangan Pak Marta.
Sedangkan semua pegawai sudah kembali ke meja kerjanya masing-masing.
Rey yang masih berdiri di depan meja Lesta segera menenangkan Lesta.
"Kamu enggak apa-apa kan ?" tanya Rey.
Lesta mengangguk.
foto : Lesta.
"Aku kembali ke ruanganku dulu ya sekarang. Sebentar lagi aku ada meeting di perusahaan kolega. Nanti sore kita pulang bareng" ucap Rey.
Rey lalu melangkah pergi kembali ke ruangannya.
Lesta kembali duduk di kursinya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Selang beberapa detik kemudian Lisa menghampiri mejanya.
"Kak Lesta, bisa minta tolong cara mengerjakan laporan yang ini. Kata Pak Marta laporan yang ini bisa minta tolong diajarkan sama kak Lesta. Contohnya ada di arsip dokumen bulan lalu kata Pak Marta" tanya Lisa.
"Oh, kalau begitu kita harus mengambil dokumen tersebut di ruang arsip" ucap Lesta.
Lesta lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang arsip di ikuti oleh Lisa.
Mereka memasuki ruang arsip.
"Yang mana dokumen bulan lalunya kak ?" ucap Lisa dengan wajah sok polosnya.
Lesta menyeringai.
"Jangan memasang tampang sok polos seperti itu 'adik' Lisa. Kamu memang bisa menipu semuanya. Tetapi tidak dengan saya" ucap Lesta yang sengaja menekankan kata 'adik' dalam pengucapannya.
"Saya pernah menemukan keindahan di wajah orang yang disebut buruk rupa. Dan saya pernah menemukan iblis di wajah orang yang seperti malaikat" ucap Lesta.
Lisa terkejut mendengar ucapan Lesta barusan. Dia tampak gugup.
"A..A... Apa maksud kak Lesta ? saya tidak mengerti" ucap Lisa berkilah.
"Oh iya satu lagi ! Jangan lagi kamu mengulangi perbuatan seperti tadi. Aku bisa menjadi siapapun sesuai dengan kondisi jika diperlukan. Aku bahkan bisa menjadi iblis jika harus berhadapan langsung dengan setan" ucap Lesta.
Lesta lalu meniggalkan Lisa di dalam ruangan tersebut tanpa mengambilkan dokumen yang seharusnya mereka cari.
Lisa.. Lisa.. Aku kok di kadalin ? Sebelum kamu ngadalin aku, aku sudah berubah duluan jadi komodo !
Batin Lesta.
#Like-nya donggggg ! Vote dan juga komennya ya.. makasih buat yang selalu komen dan vote ya.. Jangan lupa vote lagi ðŸ¤
__ADS_1