
Setelah kepergian Lesta dan Aldo, kedua kakak beradik tersebut masih berdiri disana dan saling berhadapan.
"Kenapa elo selalu menghalangi jalan gue buat ngedeketin Lesta. Jangan bilang elo sengaja melakukannya karena memang enggak suka sama gue" ucap Tedy.
"Diam !" bentak Rey.
"Kalau kau bukan adikku, mungkin dari tadi aku sudah menghajarmu !" sambung Rey.
Tiba-tiba, Pak Marta dan Pak Yudi, asisten pribadinya keluar dari dalam ruangannya.
"Kenapa kalian berdua bertengkar ? Apa kalian sudah tidak memiliki rasa malu ? Seperti anak kecil belasan tahun saja ! Ini kantor bukan rumah !" ucap Pak Marta dengan nada suara yang tinggi.
"Maaf, Pa" ucap Tedy.
Sedangkan Rey hanya diam saja.
"Kalau begitu sekarang kalian pulang bareng papa. Kita bahas permasalahan kalian di dalam mobil saja. Mobil kalian ditinggal disini saja. Nanti Papa suruh supir yang antar" ucap Pak Marta.
"Baik, Pa" ucap Tedy menurut.
"Aku tetap naik mobilku saja, biar anak kesayangan Papa ini saja yang bersama dengan Papa !" ucap Rey.
"Aku juga mungkin agak malam pulang ke rumah. Aku mau kumpul dengan teman-teman di Golden Club ! " ucap Rey.
Pak Marta dan Tedy hanya diam melihat tingkah Rey.
"Aku duluan Pa !" ucap Rey.
Rey lalu beranjak pergi meninggalkan Pak Marta dan juga Tedy.
Pak Marta hanya bisa memandangi punggung anaknya yang terlihat semakin menjauh.
"Dasar anak keras kepala ! Papa menyesal telah mengaktifkan kartu keanggotaanmu kembali di club itu !" gumam Pak Marta.
**********
Sedangkan, di dalam mobil Aldo.
"Heran gue sama mereka berdua. Sudah besar tapi seperti anak kecil rebutan permen aja !" ucap Lesta.
"Iya, permennya elo !" ucap Aldo yang pandangannya tetap fokus ke depan karena mengemudi
Lesta reflek menoleh pada Aldo.
"Jangan ngomong sembarangan elo Do. Entar gue pecat dari kandidat calon pacar sahabat gue, Lo !" ucap Lesta.
Aldo tertawa.
Belum sadar dan belum yakin sama dirinya sendiri nih Lesta, kalau dia yang jadi objek rebutan disini.
Batin Aldo.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, mobil yang dikendarai oleh Aldo tiba di rumah Lesta.
Lesta mengetuk pintu beberapa kali, dan memanggil nama Anis agar membukakannya pintu.
Terdengar suara jawaban Anis dari dalam rumah.
"Iya, tunggu sebentar !" ucap Anis.
Anis lalu membukakan pintu untuk Lesta.
Tetapi, betapa terkejutnya Anis mendapati Aldo yang berdiri di samping Lesta.
"Aldo ?" ucap Anis yang reflek menyebut nama Aldo ketika melihatnya.
Aldo tersenyum seperti biasanya, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Ya, udah. Gue masuk ke dalam ya. Gerah mau mandi habis pulang kerja" ucap Lesta.
"Elo masuk aja ke dalam Do, ngobrol sama Anis" ucap Lesta.
__ADS_1
Anis mendelik.
Lesta lalu tersenyum simpul, sambil beranjak pergi meninggalkan Aldo dan Anis di ruang tamu.
"Duduk" ucap Anis menyuruh Aldo duduk di kursi ruang tamu.
Aldo lalu menurutinya. Karena ruang tamu mereka merangkap sekaligus ruang nonton televisi, mereka hanya memiliki satu buah sofa panjang dan satu buah meja yang menghadap ke televisi. Sehingga sekarang posisi mereka duduk bersebelahan.
"Bagaimana dengan lukanya ? Sudah mendingan ?" tanya Aldo sambil melihat luka di lutut Anis.
"Sudah kok. Ini sudah mulai mengering. Mungkin besok aku sama Lesta bakal ke taman kota yang di seberang buat melatih aku berjalan biar enggak kaku aja" ucap Anis.
"Ke taman kota ?" tanya Aldo.
"Iya, kami sering ke sana kalau weekend. Piknik membentang tikar di sana, sambil membawa makanan dari rumah. Di sana kan masih banyak lapangan yang ditumbuhi rumput-rumput hijau. Pohon-pohon yang asri. Jadi udaranya juga masih segar. Yang membentang tikar buat piknik di sana juga ramai. Jadi hitung-hitung refreshing setelah penat bekerja" ucap Anis.
Semenjak kejadian Anis keserempet motor, dan Aldo mengantarnya pulang. Sikap Anis kepada Aldo jauh lebih baik sekarang.
Aldo tersenyum melihat Anis yang beceloteh panjang lebar. Baginya ini seperti kembali pada masa mereka pacaran dulu. Saat mereka berdua masih mengenakan seragam putih abu-abu. Aldo memang menyukai cara bicara Anis yang luwes dan dianggapnya menggemaskan.
"Kamu enggak berubah ya masih sama seperti dulu" ucap Aldo.
"Maksudnya ?" tanya Anis bingung.
"Lucu dan menggemaskan" ucap Aldo.
Seketika wajah Anis memerah.
"Gue boleh ikut juga enggak, besok ?" tanya Aldo pada Anis.
Anis hanya terdiam. Dia terlihat bingung mau menjawab apa.
"Boleh kok ! jam sembilan pagi sudah disini ya Do !" ucap Lesta yang tiba-tiba nongol. Sepertinya dia baru keluar dari kamar mandi. Karena sekarang Lesta telah berganti pakaian tidur dengan memakai piyama tidur dan handuk yang membungkus rambutnya.
Anis langsung melotot pada Lesta.
"Oke ! Jam sembilan kan ?" ucap Aldo.
Lesta mengangguk. Sedangkan Anis hanya bisa terdiam mendengar obrolan Aldo dan Lesta barusan.
"Oke !" ucap Lesta.
"Sampai ketemu besok Anis" ucap Aldo dengan senyuman mautnya.
Deg !
Hati Anis kembali berdebar.
**********
Aldo mengendari mobilnya kembali menuju pulang ke rumah, tapi di tengah perjalanan ponselnya berdering.
Dia melirik nama di layar ponselnya dan mengangkat teleponnya.
"Kenapa Gi ?" tanya Aldo pada Yogi.
"Cepet sini ke Golden, kita ngumpul. Semua sudah pada disini. Elo doang yang belum gabung" ucap Yogi.
"Padahal gue sudah separuh mau jalan pulang ke rumah nih. Ya udah, gue puter balik ke sana kalau begitu !" ucap Aldo yang membanting setir memutar arah ke golden club.
**********
Aldo yang baru saja tiba di golden club terkejut saat memasuki ruangan. Dia mendapati Rey yang yang sudah duluan duduk manis di sana.
"Rey elo disini juga ? Kartu elo udah diaktifin lagi sekarang ?" ucap Aldo yang duduk di kursi yang berhadapan dengan Rey.
Rey mengangguk.
"Darimana elo Do ?" tanya Johan.
"Dari nganterin teman tadi" ucap Aldo.
Mata Rey refleks menatap Aldo. Sebuah kilatan seperti terpancar di bola matanya.
__ADS_1
"Elo dengan Tedy aman-aman aja kan tadi ? Enggak terjadi baku hantam kan waktu gue tinggal pergi sama Lesta ?" ucap Aldo.
Rey bertambah kesal.
"Diem elo ! Ngapain elo pakai pegang tangan Tari segala tadi ? Kalau elo bukan temen gue, udah gue patahin tangan elo dari tadi" ucap Rey.
Mendengar ucapan Rey barusan, Aldo semakin yakin sekarang kalau Rey benar-benar memiliki perasaan terhadap Lesta.
"Gue juga enggak sengaja narik tangannya. Yang gue pikirin saat itu, cuma gimana caranya melerai kalian dan mengambil jalan tengah buat kalian berdua" ucap Aldo.
Rey hanya diam tidak menggubris ucapan Aldo.
"Sudah, ngapain sih pada ribut. Tari siapa sih ? Lesta juga siapa ? Kita yang denger dari tadi bingung nih !" ucap Rifa.
"Tari sama Lesta itu satu orang, Bro. Dia itu cewek yang..." belum sempat Aldo meneruskan kata-katanya mata elang Rey langsung memelototinya. Seakan memberi kode kalau 'kau akan habis bila bercerita lebih lanjut'.
"Pokoknya dia teman kantor gue" ucap Aldo yang langsung membelokkan ucapannya.
"Enggak jelas elo Do !" ucap Johan yang sudah fokus dengan serius mendengar ucapan Aldo.
Sebenarnya Johan, Rifa dan Yogi sangat penasaran tentang cerita Aldo barusan. Karena selama ini mereka tidak pernah melihat Rey yang seantusias itu berbicara tentang seorang wanita. Tetapi, karena dia sudah memberi kode pada Aldo untuk tidak membahasnya, maka mereka bertiga mengambil jalan aman saja. Pura-pura tidak tertarik pada cerita tersebut.
Si Rey ini memang moodnya turun naik. Dia memang tipe orang yang jarang benci sama teman sendiri. Tetapi sekalinya benci, Orang nafas aja salah di matanya.
Akhirnya mereka lebih memilih membahas obrolan tentang pekerjaan dibanding membahas tentang gadis bernama Lestari tadi.
"Gue baru buka kantor cabang nih di daerah. Ada yang mau investasti saham enggak kalian ? Mumpung masih hangat nih baru buka" ucap Johan.
"Ogah ! Lagian ngapain sih Jo, elo buka kantor cabang di pelosok sana. Mana itu lahan suka sengketa sama warga disana. Terus posisinya itu loh pelosok banget. Cocok buat tempat jin buang anak !" ucap Rifa.
"Lagian elo enggak takut Jo ? Disana kan daerahnya mistis" ucap Yogi.
"Enggak takut gue. Emangnya gue elo ?" ucap Johan.
"Oh iya gue lupa. Jin-nya yang takut sama elu ya" ucap Yogi seraya tertawa.
Akhirnya selama beberapa jam mereka menghabiskan waktu disana dengan obrolan kosong tak berfaedah ala mereka.
Aldo melirik jam ditangannya. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Dengan sigap dia berkemas mengambil kunci mobil dan ponsel yang ada di hadapannya.
"Gue balik duluan ya" ucap Aldo.
"Cepat amat ? Belum juga jam 12 malam" ucap Rifa.
"Gue takut kesiangan. Gue mau temani calon pacar gue dan sahabatnya piknik ke taman. Jadi gue enggak boleh telat" ucap Aldo.
"Dasar bucin ! Pasti mau temani Anis dan temannya kan maksud elo ?" ucap Rifa yang satu kantor sama Anis.
Rey reflek menoleh.
Aldo cuma nyengir mendengar ucapan Rifa.
"Sudah ah ! Gue pulang dulu ya Bye !" ucap Aldo.
"Oke, Bro.." jawab mereka kompak. Kecuali Rey yang memang sedari tadi tidak berbicara sama sekali.
"Aldo gue ikut !" ucap Rey.
Aldo yang baru saja melangkahkan kakinya, akhirnya berhenti melangkah menanggapi ucapan Rey.
"Ikut kemana ? Pulang ?" tanya Aldo.
"Bukan. Gue mau ikut piknik besok" ucap Rey.
Sontak teman-teman Rey terkejut mendengar ucapan Rey barusan.
Rey lagi enggak mabok lem aibon kan ? Bisa-bisanya bilang mau ikut piknik. Setahu gue dia kagak minat dengan model begituan...
Batin Johan.
# Jempolnya donggggg... Like, vote yang banyak dan tinggalkan komentar kalian ya.. komentar kalian semangatkuuuu.. 😘
Jangan lupa juga baca novel sahabat aku Rizky Rahm ya..
__ADS_1