Sekretaris Papaku

Sekretaris Papaku
Hari Pernikahan


__ADS_3

Suasana malam ini, sungguh meriah. Pesta pernikahan yang diadakan outdoor dan berkonsep pesta taman tersebut dipenuhi oleh banyak tamu undangan. Pesta yang bertemakan nuansa putih tersebut, dipenuhi oleh berbagai ornamen dan bunga bewarna putih. Tampaknya, Rey berhasil membujuk Lesta untuk mengubah konsep pesta pernikahan mereka yang tadinya memilih nuansa pink sekarang berubah haluan menjadi putih.


Karena yang menikahkan anak adalah pebisnis handal yang terkenal dengan kemampuan bisnisnya yang kompeten. Tentu saja banyak kolega perusahaan, sosialita kalangan atas, dan para pebisnis dan pengusaha muda yang datang ke acara pernikahan tersebut.


Tidak terkecuali, para pegawai MD Group yang merupakan sahabat terdekat Lesta. Yaitu, Sindi dan Nana.


"Lestaaaaa ! Kamu cantik banget !" ucap Sindi sambil memeluk Lesta yang mengenakan gaun pengantin bewarna putih.



foto : Lesta.


"Iya, nih. Pangling kita Les. Hampir enggak mengenalimu tadi !" ucap Nana.


"Kalian enggak kalah cantik kok !" ucap Lesta sambil melirik pakaian yang dikenakan Nana.


"Pakaian Nana aneh ya Les. Padahal aku sudah mengajaknya menjahit bahan baju yang kamu kasih itu dengan model pakaian terbaru yang gambarnya aku colong dari mbah google. Tapi dia tetap ngotot mau pakai model lama gitu. Lihat aja sekarang, enggak ada lagi yang musim pakai baju jaring-jaring kayak gini. Orang sudah mau bubar, kamu baru mau mulai memakainya. Enggak uptodate loh !" ucap Sindi.


"Ye, Biarin !" ucap Nana.


Sindi lalu melirik Rey yang berdiri di sebelah Lesta.


"Pak Rey juga ganteng banget. Auranya semakin terpancar dan semakin tampan" ucap Sindi yang tanpa sadar dan lancar memuji ketampanan Rey yang sekarang sudah berstatuskan sebagai suami Lesta.


"Sadar woi, itu suami orang !" ucap Nana.


Lesta hanya bisa tersenyum melihat kelakuan temannya itu. Sedangkan Rey masih seperti biasanya, berwajah datar dan sok cool. Padahal sebelum berdiri di pelataran, Lesta sudah wanti-wanti meminta Rey, untuk senyum pepsodent dan berwajah friendly untuk memyambut tamu undangan yang datang.


Yah, namanya juga preman pasar. Mau diubah gimanapun juga tabiatnya, kayaknya tetap enggak bisa deh !


Batin Lesta.


"Kalian sudah makan belum ?" tanya Lesta pada kedua sahabatnya itu.


"Sudah, Les. Menu hidangannya enak-enak banget Les. Kita aja sampai nambah tiga kali loh !" ucap Nana dengan bangganya.


"Ya, ampun. Tiga kali Na? Awas loh, kebanyakan makan entar gumoh lagi" ucap Lesta.


"Hahahaha, Ya enggaklah Les. Emang kita bayi pakai gumoh segala. Ini sudah di setting kok, enggak makan dari rumah. Jadi muatannya masih banyak" ucap Sindi.


Lesta hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku kedua temannya ini.


**************


Sedangakan di tempat terpisah Aldo terlihat kesal karena mamanya tidak berhenti mengajaknya berkenalan dengan anak temannya.


"Aldo sudah bilang enggak mau ! Mama ini kenapa maksa sih !" ucap Aldo.


"Ayo temeni mama, nemuin anaknya. Sepertinya kalian jodoh loh. Tadinya, mama bakal mempertemukan kalian besok. Ternyata teman mama itu juga diundang oleh Pak Marta di pesta pernikahan ini. Kebetulan banget kan ?" ucap Mama Aldo.


Aldo hanya diam saja. Matanya sibuk mencari keberadaan Anis di pesta tersebut.


Tiba-tiba, dua orang perempuan menghampiri mamanya Aldo. Satu orang perempuan paruh baya yang seusia dengan mamanya Aldo. Dan satu lagi wanita muda yang berusia tidak jauh dari Aldo. Sosok wanita yang sangat di kenal Aldo.


"Anis ?" ucap Aldo yang berdiri di sebelah mamanya.


"Aldo ?" ucap Anis tak kalah terkejutnya.


Mama Aldo mengernyit.


"Jadi kamu anaknya jeng Novi ?" ucap mama Aldo.


Anis mengangguk.


"Loh, kok jeng Ratna kenal sama anak saya ?" tanya mamanya Anis.


"Ceritanya panjang. Nanti saya ceritain, jeng" ucap mama Aldo.


"Anis, tante enggak nyangka kalau kamu ini anaknya jeng Novi. Teman tante dulu sewaktu, papa Aldo pindah tugas di Palembang. Sekarang tante enggak perlu nanya Aldo deh. Tante tinggal tanya kamu. Mau enggak di ajak nikah sama Aldo ?" tanya mama Aldo.


Anis menatap Aldo, lalu beralih kembali menatap mamanya Aldo.


"Memang tante ngizinin ?" tanya Anis.


"Tentu saja. Kamu kan anak sahabatnya tante. Tante sudah lama sahabatan sama mama kamu. Sudah kenal luar dalam. Jadi, gimana mau kan nikah sama Aldo ? Kasihan dia sudah kebelet minta dinikahin sama kamu !" ucap Mama Aldo.


"Mama apa-apan sih. Bikin Aldo malu aja. Kalau urusan ngajak nikah, Aldo kan bisa sendiri !" ucap Aldo.


Aldo lalu menarik tangan Anis.


"Ma, Tante. Aldo izin ngobrol sebentar ya sama Anis !" ucap Aldo memegang tangan Anis dan membawanya pergi dari situ.


"Dasar, anak muda !" ucap mamanya Aldo.


Aldo membawa Anis tidak jauh dari situ, untuk mengobrol.


"Jadi bagaimana, Nis ? Kamu mau kan menikah sama aku ? Jangan kabur-kaburan lagi ! Sekarang, enggak ada lagi halangan buat hubungan kita" ucap Aldo sambil memegang tangan Anis.


Anis menatap Aldo cukup lama. Sebuah senyuman mengembang dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Iya, aku mau !" ucap Anis sambil memeluk Aldo.


***********


Sementara, Tedy yang dari tadi ikut sibuk melayani tamu dari kolega perusahaan, datang menghampiri Lesta dan Rey.


"Lesta selamat ya !" ucap Tedy menyalami Lesta.



foto : Tedy.


Lesta membalas jabat tangan Tedy.


"Terima kasih, Ted" ucap Lesta.


"Rey, selamat ya buat pernikahan kalian. Aku turut bahagia !" ucap Tedy.


Rey melirik pada tangan Tedy yang terulur. Dia menatap Tedy dengan intens. Dan pada akhirnya dia membalas menjabat tangan Tedy dan mengucapkan kalimat yang tak di duga-duga.


"Lain kali panggil aku kakak ! Tidak sopan kalau di dengar tamu undangan yang lain !" ucap Rey yang berbicara sambil memalingkan wajahnya.


Tedy dan Lesta saling menoleh. Sebuah kejutan bagi Tedy, bahwa Rey ingin dirinya dipanggil kakak oleh Tedy.


Dasar preman pasar pakai malu-malu segala minta di panggil kakak !


Batin Lesta.


"Oh, iya Ted. Tiwi mana ?" tanya Lesta.


"Belum datang sepertinya. Tadinya mau aku jemput. Tapi dia bilang enggak perlu !" ucap Tedy.


Dari tadi, Tedy mencari keberadaan Tiwi yang belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Padahal Tedy sudah tidak sabar mendengarkan jawaban yang akan diberikan Tiwi.


Tiba-tiba, dari kejauhan dia mendapati sosok Tiwi yang baru saja datang. Namun, sepertinya dia tidak datang sendiri. Melainkan bersama seorang lelaki yang usianya tidak jauh dari Tiwi.


Dia datang bersama laki-laki lain ? Apa ini maksud dari jawabannya itu.


Batin Tedy.


"Aku tinggal dulu ya !" ucap Tedy pada Lesta dan Rey.


Tedy lalu menghampiri Tiwi dan lelaki itu.


"Wi !" ucap Tedy.


Tiwi dan lelaki itu reflek menoleh pada Tedy.


"Baru datang ?" tanya Tedy.


Tiwi mengangguk.


Tedy melirik tajam pada laki-laki di samping Tiwi. Sorot matanya tajam seolah mau membunuh.


Tiwi yang sadar akan sorot mata itu, segera memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya.


"Ted, kenalin ini adik sepupuku ! Namanya Tio. Aku minta anter dia tadi" ucap Tiwi.


Untuk sesaat Tedy merasa lega, mendengar pria yang datang bersama Tiwi hanyalah adik sepupunya.


"Tedy" ucap Tedy sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Tio.


Tio menyambut uluran tangan Tedy.


"Hai, Ted !" ucap Tio.


Tiwi menepuk bahu Tio.


"Jangan panggil dia Tedy ! Panggil dia kakak ipar !" ucap Tiwi.


Tedy dan Tio terkejut bukan main. Tampaknya tanpa perlu Tedy menanyakan jawaban apa yang akan diberikan oleh Tiwi, Tedy dapat menarik kesimpulan dari pernyataan Tiwi barusan.


Tiwi dan Tedy berpandangan cukup lama. Sampai sebuah senyuman mengembang dari bibir tipis keduanya.


****************


Kemeriahan pesta semakin bertambah riuh, dengan semakin banyaknya tamu undangan yang berdatangan. Tak ketinggalan teman-teman akrab Rey yang tergabung dalam geng Akhlakless, yaitu Johan, Rifa, dan Yogi.


"Akhirnya dari kita berlima, Rey duluan yang memilih untuk menikah. Enggak menyangka banget playboy tobat akhirnya naik pelaminan !" ucap Johan.


Semua orang disekitar itu tertawa, kecuali Rey yang tetap eksis mempertahankan wajah juteknya itu.



foto : Rey.


"Sudah ini siapa yang bakal menyusul Rey ?" tanya Yogi.


"Itu.. Kalian enggak lihat si Aldo sudah bawa gandengan kemana-mana. Enggak meleset lagi ini ! Pasti Aldo bakal sebar undangan setelah Rey !" ucap Rifa.

__ADS_1


"Kalian pada sibuk ngurusin hidup orang ! Kalian sendiri kapan mau menikah ? Belum saja kalian kenal yang namanya jatuh cinta. Kalau sudah jatuh cinta, enggak ada jalan keluar lagi bagi kalian !" ucap Rey.


Semua orang saling berpandangan.


"Rey sepertinya lagi menceritakan proses bagaimana dirinya otw menjadi bucin kayaknya !" ucap Yogi.


Semua kembali tertawa.


Hanya Rey yang melotot tidak senang.


"Sudah siap Rey dengan adegan serang-menyerang malam ini ?" ucap Rifa seraya tertawa.


"Jangan lupa minum vitamin dulu !" ucap Yogi menimpali.


Semua teman-teman Rey puas menggoda Rey saat itu. Menurut mereka, kapan lagi bisa menggoda Rey yang pemarah kalau tidak di hari pernikahan ini. Sedangkan Lesta yang mendengar obrolan teman-teman Rey yang menggodanya, hanya bisa tersenyum.


Mendengar obrolan teman-teman Rey ini, otakku serasa masuk jurang.


Batin Lesta.


Sesi foto-fotopun berlangsung. Tiba saatnya foto keluarga. Tetapi Pak Marta sangat kaget saat melihat Aldo menggandeng tangan Tiwi.


"Tedy ? Tiwi ?" ucap Pak Marta memandangi mereka satu-persatu.


"Jangan bilang kamu mau mengikuti jejak kakakmu. Pacaran dengan sekretaris papa" ucap Pak Marta.


Tedy tersenyum dengan masih menggenggam tangan Tiwi.


"Pa, sepertinya sebentar lagi papa harus mencari sekretaris baru lagi. Soalnya sekretaris yang sekarang ada yang mau mengambilnya" ucap Tedy sambil melirik Tiwi. Sedangkan wajah Tiwi memerah mendengar ucapan Tedy barusan.


"Kalian berdua memang jago ya bikin papa kehilangan sekretaris !" ucap Pak Marta.


"Terutama kamu Rey ! Yang dulunya sering mengusir sekretaris papa. Sekarang kamu kena batunya kan !" ucap Pak Marta yang membuat semua tamu undangan yang berada di sekitar itu tertawa.


********


Pesta pernikahanpun selesai. Lesta dan Rey sudah masuk ke dalam kamar pengantin yang ada di hotel tersebut.


Lesta mulai melepas perhiasan yang menempel di kepalanya, dibantu oleh tim Wedding Organizer. Setelah selesai membantu melepaskan perhiasan yang menempel pada kepala Lesta. Mereka pun keluar dari ruangan.


Lesta yang sekarang telah selesai mandi dan berganti pakaian, sekarang telah berdiri di depan meja rias untuk membersihkan sisa make-upnya. Dia berkaca sambil menunggu Rey yang masih belum selesai mandi.


Tidak pernah terbayangkan baginya yang sekarang sudah sah menyandang status sebagai istri dari Rey.


Awal berjumpa dengan Rey dia sempat terpesona dengan tampang Rey yang rupawan. Namun setelah mengetahui sifatnya yang sering mengerjai sekretaris papanya, dia merasa sangat jengkel pada Rey.


Rey itu ganteng-ganteng tapi jahat pemarah, angkuh dan bengis ! Yok, sini aku ruqyah... Sayang kan kalau tampang ganteng dan badan sebagus itu dibuang gitu aja. Pingin aku ruqyah dirinya saat itu juga, kalau ingat tingkahnya dulu.


Batin Lesta.


Tapi beda dengan sekarang. Perlahan, Lesta baru mengetahui kalau semua kelakuan kekanak-kanakannya itu hanya untuk mencari perhatian papanya.


Dasar preman nanggung !


Batin Lesta.


Karena keasyikan melamun mengingat masa lalunya dengan Rey, tanpa sadar Lesta tidak mengetahui keberadaan Rey yang sudah berdiri di belakanngnya. Rey yang telah selesai mandi dan sekarang mengenakan jubah hotel, memeluk pinggang Lesta dari belakang.


"Melamuni apa sih sayang ? Dari tadi kayaknya enggak sadar kalau aku berdiri di sini. Bagaimana kalau perhatianmu itu, kamu berikan setengah pada suamimu ini" ucap Rey.


Rey lalu menciumi bibir istrinya, yang kemudian beralih ke lehernya.


"Dih, geli sayang !" ucap Lesta yang berusaha mengelak.


"Sayang, aku mau tanya dulu. Kenapa kamu bisa suka sama aku ?" tanya Lesta.


"Karena apa ya ? Karena kamu itu cewek aneh. Di galakin kamu malah lebih galak ! Pokoknya kamu itu cewek dengan kepribadian anti mainstream !" ucap Rey.


Rey lalu melanjutkan aksinya kembali. Kali ini menciumi bibir Lesta cukup lama, sampai nafas Lesta tersengal.


Rey menghentikan ciumannya. Dia tersenyum melihat ekspresi Lesta yang malu-malu dengan wajah yang merona.


"Cintai aku sekali, maka aku akan mencintaimu berkali-kali !" bisik Rey pada telinga Lesta.


Sekarang giliran Lesta yang tersenyum.


"Aku mencintaimu Reyhan Martadinata !" balas Lesta berbisik di telinga Rey.


Tanpa pikir panjang, Rey langsung menggendong Lesta dan menurunkan Lesta di atas kasur. Sebuah senyuman mengembang dari sudut bibirnya. Wajahnya terlihat bahagia, secerah sinar matahari teletubbies.


Dari banyak hal yang menjanjikan kebahagiaan, aku memilih kamu.. Sebab, kamu tidak memberikan janji. Kamu membahagiakan dengan sikap dan hati... (Lesta)


*******************


T A M A T


********************


Jangan lupa like, komen dan minta Vote-nya ya 😘

__ADS_1


Jangan lupa baca juga karyaku yang lain ya, "Pacar Settingan Presdir" bagi yang enggak suka pelakor, langsung lompat baca season 2 ya di novel itu... ^di season 2 itu enggak ada pelakornya 😁



__ADS_2