
Rey menatap sinis sosok pria di hadapannya. Tidak butuh waktu lama bagi Rey mengetahui apa yang sedang terjadi dan mendengar penjelasan Adiputra, karena selama rapat berlangsung dia sudah melihat gelagat Adiputra yang terus memperhatikan Lesta. Ditambah rumor yang telah menyebar luas tentang Adiputra yang seorang FakBoi.
Tanpa aba-aba, Rey langsung menarik kerah baju Adiputra untuk mendekat kepadanya.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kau meminta nomor telepon calon istriku ?" ucap Rey dengan kilatan matanya yang tajam.
Tuh benerkan kata aku ! Apa seharusnya aku membuka praktek perdukunan saja ya.
Batin Sindi.
Semua menatap Rey dan Adiputra yang bersitegang. Tapi tidak ada satupun yang berani melerai. Bukan karena tidak ada niatan menolong tetapi karena mereka tahu, ikut campur urusan Rey berarti sama dengan menggali lobang kuburan sendiri.
Kalau tontonannya begini, harus ada popcorn nih !
Batin Nana.
Pak Yudi, asisten Pak Marta yang kebetulan keluar dari ruangan Pak Marta sangat terkejut melihat pemandangan yang ada dihadapanya. Dia melihat Rey mencengkram kerah baju Direktur dari Perusahaan Adiputra tersebut.
Karena tidak berani melerai, Pak Yudi masuk kembali ke dalam untuk memberitahu Pak Marta tentang keributan ini.
Pak Marta datang di saat yang tepat, saat tangan Rey sudah mengepal geram untuk memberi bogem mentah pada Adiputra, Pak Marta datang melerai.
"Rey ! Lepaskan tanganmu !" Bentak Pak Marta.
Tapi tangan kiri Rey masih bertengger di kerah baju Adiputra. Mata Rey tidak lepas memandang Adiputra. Begitu juga dengan Adiputra yang berani menatap balik Rey.
"Jaga kelakuanmu ! Ini kantor, bukan jalanan untuk tempat berkelahi ! Selesaikan semuanya baik-baik" Bentak Pak Marta kembali.
Dengan berat hati Rey, melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Adiputra.
"Cih !" ucap Rey.
Dia melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Adiputra masuk ke dalam ruangan Pak Marta karena ajakan Pak Marta.
Lesta yang melihat Rey pergi dengan emosi, pergi menyusul Rey ke ruangannya.
"Sayang, kamu kenapa sih ?" tanya Lesta pada Rey, saat mereka sudah berada di ruangan Rey.
"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran karena sudah berani menggoda calon istri orang !" ucap Rey.
"Iya, tapi kan benar kata Pak Marta. Semua bisa di selesaikan baik-baik. Mungkin saja Pak Adiputra tidak mengetahui kalau kita sebentar lagi akan menikah" ucap Lesta.
"Jadi kamu membelanya, sayang ? Atau jangan-jangan kamu suka lagi di dekatib sama dia !" ucap Rey.
"Jangan ngarang deh ! Mana mungkin aku ada pikiran kayak gitu" ucap Lesta.
"Bagus kalau kamu berpikir begitu ! Asal kamu tahu, aku sama dia itu sudah kenal lama. Aku sering lihat dia di golden club. dia itu FakBoi sejati. Kerjanya cuma gonta-ganti pasangan terus kalau bosan ditinggal begitu saja. Dia enggak pernah serius menganggap suatu hubungan. Setiap cewek yang terkena rayuannya, pasti diajak tidur sama dia !" ucap Rey.
Lesta terdiam. Dia menatap Rey dengan serius.
"Sayang, kamu enggak lagi ngomongin diri kamu sendiri kan ini ? Kamu lagi enggak menceritakan masa lalu kamu dulu kan ?" ucap Lesta.
Tiba-tiba, cletak !
Rey menyentil kening Lesta.
foto : Rey.
"Aku enggak pernah sekalipun tidur dengan wanita manapun, sayang. Kan sudah aku bilang, aku tidak tahu bagaimana kamu menilaiku. Tapi aku ini lebih bermoral daripada kelihatannya tau !" ucap Rey sambil mengusap kening Lesta akibat sentilannya tadi.
Lesta cuma manyun mendengar penjelasan Rey. Tetapi sekaligus lega mendengar penuturan Rey yang tidak pernah tidur dengan wanita manapun.
Syukurlah.. tadinya aku sempat takut terkena AIDS kalau menikah dengannya.
Batin Lesta.
"Tetapi kalau kamu mau, aku tidak keberatan melakukannya denganmu sebelum pernikahan. Dua minggu rasanya lama banget, sayang" ucap Rey menggoda Lesta.
__ADS_1
Wajah Lesta langsung memerah.
"Dasar Preman Mesum !" ucap Lesta sambil mencubit pinggang Rey.
Rey tertawa. Dia menarik tangan Lesta, dan mendekapnya ke dalam pelukannya.
"Aku sabar menanti kok. Tinggal dua minggu lagi kan ? Dan aku akan menghalalkanmu" ucap Rey mengecup kening Lesta.
Lesta membalas pelukan Rey. Hatinya makin berbunga-bunga sekarang.
********
Sedangkan di anak cabang Perusahaan MD Group.
Tedy membaca email yang telah dikirim Lesta barusan. Email yang mengumumkan masa tugas Tiwi sebagai sekretaris yang diperbantukan di sana telah berakhir.
Ada perasaan aneh yang dia rasakan saat membaca email tersebut. Sebuah rasa kesal yang sangat menyebalkan baginya. Dia terlihat kurang senang saat mengetahui bahwa Tiwi besok, sudah harus bekerja di kantor pusat kembali dan bertugas menjadi sekretaris papanya. Tetapi nampaknya dia belum yakin dan menyadari perasaan tersebut. Hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Tedy, ayo makan siang" ucap Tiwi yang sudah membawa kotak bekal makan siangnya. Sekarang, kalau tidak ada orang lain Tiwi memanggil Tedy tanpa embel-embel Pak. Toh, itu Tedy sendiri yang suruh.
Dia membuka kotak bekal miliknya dan milik Tedy.
"Hari ini saya memasak agak spesial, Ted. Karena ini hari terakhir saya bekerja" ucap Tiwi.
Tedy hanya mengangguk sebagai respon ucapan Tiwi.
Mereka mulai menyantap makanan tersebut, sambil mengobrol seperti biasanya. Tentu saja dengan Tiwi yang mendominasi saat bercerita. Tedy yang awalnya kaku sekarang sudah biasa tersenyum dan tertawa saat mendengar cerita Tiwi yang dianggapnya lucu.
"Masakan hari ini berapa nilainya Ted ?" tanya Tiwi seperti biasanya.
"Tetap 100 lah seperti biasa" ucap Tedy.
"Tapi sepertinya, ini hari terakhir ya aku menikmati masakanmu" ucap Tedy.
"Iya nih, Ted. Besok aku sudah harus ada di kantor pusat. Lesta akan mengajariku tentang tugas-tugas yang dilakukan sekretaris Presdir sebelum dia cuti" ucap Tiwi.
"Nanti kalau kamu rindu dengan masakanku, kamu boleh kok sesekali main ke rumahku. Akan aku buatkan masakan favoritmu. Sop dan ayam panggang kan ?" ucap Tiwi.
foto : Tedy.
"Ted, kamu janji ya. Walaupun aku sudah di kantor pusat besok. Setiap harinya kamu harus memesan masakan yang sehat dan bergizi untuk makan siangmu. Jangan sering-sering makan mie lagi !" ucap Tiwi yang mengomel ngalahin emak-emak dasteran.
Tedy hanya diam. Dadanya tiba-tiba berdebar mendengar ucapan Tiwi barusan. Dia merasa senang ada orang yang memperhatikannya sedemikian.
"Ted, kamu kok enggak jawab ? Dari tadi juga perasaan di ajak ngomong kebanyakan diemnya. Kamu sakit ?" tanya Tiwi sambil meraba kening Tedy.
Tedy kaget dan reflek menepis tangan Tiwi.
Tiwi terkejut dengan respon yang diberikan Tedy barusan. Ada sedikit kekecewaan di hati Tiwi sekarang. Dia merasa Tedy tidak ingin disentuh olehnya.
Tedy yang melihat ekspresi kekecewaan pada wajah Tiwi, merasa menyesal dengan gerakan reflek yang dilakukannya tadi.
"Sorry, Wi. Sepertinya aku kurang enak badan" ucap Tedy berkilah.
"Iya, aku mengerti. Sorry, kalau aku juga terlalu berani menyentuhmu tadi. Jam makan siang sudah berakhir juga. Aku keluar ya" ucap Tiwi yang merapikan semua kotak bekal yang sudah selesai mereka santap tadi.
Tiwi lalu melangkah keluar ruangan.
Tedy merasa sedih mendengar ucapan Tiwi barusan.
Aku tidak bermaksud seperti itu.
Batin Tedy.
**********
Keesokan harinya, Tiwi yang sudah masuk kembali di kantor pusat. Menghampiri meja kerja Lesta.
__ADS_1
"Lestaaaaaaaa..." sapa tiwi.
"Panjang amat nyapanya" ucap Lesta.
"Biar semangat gitu !" ucap Tiwi.
"Ayo, yang mana mau dipelajari. Aku sudah siap tempur nih" ucap Tiwi.
"Emang kamu pikir ini medan perang apa ! Tuh masuk dulu ke ruangan Pak Marta. Kamu di suruh ngadep dia dulu sebelum ke sini" ucap Lesta.
"Oke deh ! Aku masuk dulu ya !" ucap Tiwi.
Tiwi masuk ke dalam ruangan Pak Marta. Pak Marta mulai menjelaskan alasannya menunjuk Tiwi menjadi sekretarisnya. Apalagi kalau bukan karena pekerjaannya yang cekatan di tambah dia fasih berbicara dengan kolega bisnis. 11 12 lah sama si Lesta.
Setelah selesai menghadap Pak Marta, Tiwi menemui Lesta kembali. Lesta mulai mengajarkan tugas-tugas sekretaris Presdir dan penyusunan dokumen. Banyak hal yang telah dipelajari oleh Tiwi dari Lesta. Hingga jam makan siang tiba, dia teringat akan sosok Tedy.
Huft, kira-kira dia makan dengan benar enggak ya disana ? Huft.. Tidak aku sangka aku bisa merindukan kantor itu. Tidak.. tidak lebih tepatnya, aku merindukan Direkturnya. Tapi sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan lagi. Yang disukai Tedy kan Lesta.
Batin Tiwi.
Tiwi lalu menatap Lesta yang sibuk merapikan dokumen.
Lesta cantik banget. Wajar Tedy suka padanya.
Batin Tiwi.
********
Jam telah menunjukkan pukul 16:50 Sore. Lesta yang sedang beres-beres merapikan mejanya untuk bersiap pulang, terkejut dengan kehadiran Tedy yang sudah berdiri di hadapannya.
"Tedy ? Ngapain disini ? Mau ketemu Pak Marta ?" tanya Lesta.
Tedy tersenyum, memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Tiwi ada Les ?" tanya Tedy tanpa basa-basi.
"Oh, mencari Tiwi. Tiwi lagi di dalam di ruangan Pak Marta. Tunggu aja paling bentar lagi keluar" ucap Lesta.
Ngapain Tedy nyari Tiwi ? Apa ada kerjaan dikantor cabang yang belum selesai ya ?
Batin Lesta.
Tak lama kemudian Rey datang untuk mengajak Lesta pulang bareng. Rey yang melihat Tedy yang sudah berdiri di depan meja Lesta tidak bisa menahan amarahnya. Raut wajahnya mulai kesal.
"Kenapa kamu disini ? Ada perlu apa sampai kamu datang ke sini nemuin Tari ?" tanya Rey.
"Rey, dia kesini bukan mau menemuiku" ucap Lesta.
"Oh ya ? Jadi dia mau bertemu siapa ? Enggak mungkin kan mau bertemu papa ?" tanya Rey yang menatap curiga pada Tedy.
Tedy tersenyum. Dia melangkah mendekat pada Rey.
"Aku ke sini bukan menemui calon istrimu. Aku kesini untuk menjemput 'hadiahku' !" ucap Tedy.
Rey terkejut mendengar ucapan Tedy. Dia menatap wajah Tedy intens. Tak lama sebuah senyuman tipis mengembang disudut bibirnya.
Lesta yang juga berdiri di sana, kaget mendengar ucapan Tedy barusan.
Ternyata 'hadiah' yang di obrolin mereka berdua selama ini adalah Tiwi ?
Rey.. Rey.. Tampaknya baru kali ini kamu berguna sebagai kakaknya Tedy. Dan sepertinya, Tedy tidak bisa lagi berpaling dari hadiah pemberianmu.
Batin Lesta.
Jempolnya dongggggg... Like, komen dan Vote ya 🙏 untuk semua yg sudah doain buat kesembuhan saya, saya ucapkan thankiss 😘🤗 kalian terbaekkkk 😍
Jangan lupa juga baca novel sahabatku ya 🤗
__ADS_1