
Calista kembali tertidur setelah cukup lama menangis. Tio menghubungi salah seorang bawahannya. Meminta menyelidiki siapa yang mengganggu Calista di kampus.
Tio juga menghubungi pemilik rumah sakit dan memintanya menyelidiki siapa yang baru masuk di ruang rumah sakit, kenapa Calista bisa pingsan. Pasti ada yang mengganggu pikirannya lagi.
Tio juga meminta bawahannya menyiapkan satu kamar di hotel berbintang untuk perawatan Calista, tanpa ada satu orangpun tau.
Tengah malam Calista akan dipindahkan ke kamar hotel dan di minta salah satu Dokter yang akan datang ke hotel untuk mengecek perkembangan kesehatannya.
Tio tidur sambil duduk di kursi dengan tangan terus menggenggam tangan Calista. Wanita itu terbangun dan melihat Tio yang tampak kelelahan.
Saat keadaan mulai resah, amarah sudah diambang batas, kesabaran diuji oleh sebuah masalah ingin rasanya cepat-cepat mengakhiri itu semua dengan menyerah. Namun, apa kau ingat bagaimana perjuanganmu dengan dia hingga sampai saat ini? Apa kau lupa pengorbanan yang sudah dia berikan?
Lantas apa kau ingin langsung menyerah karena datangnya cobaan dan masalah? Bukankah ada pepatah yang mengatakan "semakin tinggi seseorang semakin kencang angin menerpanya". Anggap sebuah cobaan ini adalah ujian untuk memperkokoh hubunganmu dengan pasangan.
Calista mengulurkan tangan dan mengusap tangan Tio, membuat pria itu terbangun.
"Sayang, kamu udah bangun."
"Om, tampak sangat lelah. Apa Om udah makan?" tanya Calista pelan.
"Apa kamu pikir, aku bisa makan melihat keadaanmu seperti ini?" tanya Tio sambil mencium tangan Calista.
"Jika Om nggak makan nanti ikutan sakit. Siapa yang akan menjagaku?" Mendengar ucapan Calista, Tio langsung mengecup pipi wanita yang sangat ia cintai itu.
"Sebentar lagi kita pindah ke hotel, biar bisa istirahat tanpa ada yang mengganggu."
"Emang ada yang mengganggu?"
"Jangan berpura-pura. Aku tau Tari tadi datang, pasti dia melalukan sesuatu hong kamu pingsan."
"Siapa yang mengatakan tante Sari datang?" tanya Calista lagi.
"Bukti yang mengatakan itu."
__ADS_1
Calista hanya diam. Tanpa ingin membantah. Baru Tio akan bicara lagi, pintu kamar rawat inap yang ditempati Calista di ketuk. Tio mempersilakan masuk.
Ternyata Dokter, perawat dan orang suruhan Tio. Mereka mempersiapkan kepindahan Calista ke hotel.
Di dalam mobil menuju hotel, Calista dipeluk Tio dan didampingi oleh seorang perawat. Calista sebenarnya malu dengan perawat disampingnya, tapi dia tidak bisa menolak saat Tio memeluk eratnya. Tubuhnya sangat lemah.
Sampai di hotel, mereka melalui lift khusus untuk pimpinan dan manajer hotel.
Setelah Calista berbaring serta infus telah terpasang perawat itu keluar. Perawat itu tidur di salah satu kamar terdekat agar saat dibutuhkan, tidak sulit memanggilnya.
Tio naik ke ranjang dan tidur miring menghadap istrinya.
"Sekarang kamu bisa istirahat tanpa ada yang mengganggu. Maafkan aku karena nggak bisa melindungi kamu dari Tari dan Elvan. Mulai saat ini aku pastikan Tari. dan Elvan tidak akan mengganggu kamu."
Tio memeluk Calista dan mengusap rambutnya hingga istrinya itu tertidur.
...----------------...
Jam telah menunjukkan pukul lima pagi saat Tio sampai di rumah. Dia langsung menuju kamar istrinya Tari.
Tio menarik selimut dengan paksa sehingga Tari terbangun. Tari membuka mata dan saat menyadari Tio yang berdiri dihadapannya, Tari langsung duduk.
"Papa ... kenapa hanya berdiri aja? Kalau mau tidur bareng, sini!" ucap Tari.
"Aku nggak ada niat tidur denganmu."
"Jangan ngomong gitu,Pa. Aku ini masih istri sah kamu."
"Sebentar lagi akan menjadi mantan istri. Hanya tinggal keputusan," ucap Tio.
Tari berdiri mendengar ucapan Tio. Wanita itu mendekati Tio.
"Kamu nggak bisa menceraikan aku. Apa kamu lupa, jika semua rezekimu itu karena aku dan Elvan. Sejak menikah dan memiliki anak, rezekimu bertambah. Apa kamu lupa, aku yang ada saat kamu belum menjadi sekarang ini? Aku yang mendampingi kamu dari awal. Setelah kamu kaya dan maju, kamu tinggalkan aku!"
__ADS_1
"Semua itu hasil kerja kerasku. Sebagai seorang istri, seharusnya kamu sadar akan kewajiban kamu, bukan hanya taunya uang saja."
"Apa lagi yang harus aku lakukan? Bukankah semua telah dikerjakan pembantu."
"Kamu bukan hanya lupa kewajiban sebagai seorang istri tapi juga sebagai ibu bagi Elvan. Di saat anak itu sangat butuh perhatian dari orang tuanya kamu malah sibuk dengan teman-temanmu!" ucap Tio dengan suara mulai meninggi.
"Semua yang aku lakukan juga karena kamu. Aku selalu menunggu kedatangan kamu dari kantor. Hingga aku rela menahan lapar hanya untuk bisa makan bersamamu. Namun, kamu selalu saja sibuk. Pulang tengah malam. Apa aku salah jika akhirnya mencari hiburan dengan teman-temanku."
"Tidak salah jika kamu bisa membagi waktumu, tapi kamu kebablasan, diberi kebebasan malah menyalahkannya.Seandainya kamu bisa bagi waktu antara teman dan keluarga, tidak akan begini rumah tangga kita."
"Belum terlambat untuk kita memulai lagi. Aku janji nggak akan keluar rumah tanpa izin papa. Aku nggak akan mengabaikan kewajiban sebagai seorang istri."
"Sudah terlambat dan amat sangat terlambat. Aku telah menunggu perubahanmu sepuluh tahun lamanya. Hingga akhirnya aku mengambil keputusan bercerai."
"Kamu menceraikan aku bukan karena sifat dan kepribadianku yang berubah menurutmu, tapi karena hadirnya sang penggoda dalam rumah tangga kita. Aku ini satu-satunya wanita yang kau cintai, sebelum wanita penggoda dan ja*la*ng itu masuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kita."
"Siapa yang kamu katakan penggoda dan ja*la*ng?" teriak Tio.
"Tentu saja pelakor itu, wanita muda yang rela menjual dirinya hanya untuk mendapatkan harta darimu."
Tangan Tio langsung terangkat dan menampar pipi Tari. Wanita itu kaget. Selama pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun Tio menamparnya. Ini pertama kali.
"Kamu menamparku. Hanya karena wanita murahan dan ja*la*ng itu. Selama pernikahan, nggak pernah kamu kasar hingga menampar aku seperti ini. Hanya dalam dua bulan mengenalnya, kamu langsung berubah."
"Dengar Tari, wanita yang kamu katakan murahan itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Dia hanya menyerahkan kesuciannya padaku setelah kami menikah. Dia nggak pernah meminta materi padaku. Jadi jangan pernah menghinanya jika nggak ingin berhadapan denganku," ucap Tio dengan wajah merah menahan marah.
"Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendatangi apa lagi mengganggu Calista jika kamu nggak ingin berurusan denganku! Cukup sekali aku mengetahui kamu datang menemuinya, jangan sampai terulang lagi. Kamu akan menyesal nantinya. Jangan bangunkan singa yang tertidur, aku bisa memakanmu."
Tio meninggalkan kamar itu. Tari yang masih kaget dengan tamparan yang Tio berikan hanya bisa terdiam saat melihat kepergian Tio.
...***************...
Bersambung
__ADS_1