
Setelah sarapan dan Dokter memberikan obat untuk Calista, wanita itu tertidur. Mungkin efek dari obat yang diberikan.
Tio menghubungi orang kepercayaannya untuk mempersiapkan rumah yang baru di beli Tio sebagai hadiah karena kehamilan Calista.
Tio ingin di rumah itu nanti diadakan syukuran empat bulanan kehamilan Calista. Tio akan mengundang seluruh rekan kerjanya.
Tio sangat bersyukur di usia yang sudah matang, dia masih di beri kepercayaan untuk menimang bayi. Yang paling disyukuri masih bisa menikmati kebahagiaan berumah tangga dengan istri yang dicintai.
Calista terbangun sekitar pukul dua siang. Badannya sudah terasa enakan. Calista duduk dan melihat suaminya Tio sedang sibuk dengan laptopnya. Mungkin sedang bekerja.
Calista turun dari ranjang dengan perlahan. Di seretnya tiang infus menuju sofa tempat Tio sedang bekerja.
Tio yang melihat Calista berjalan dengan tiang infus langsung berdiir dan membantu istrinya duduk di sofa.
"Kenapa tidak minta tolong?"
"Aku lihat Daddy sedang serius dengan laptop, nggak tega mengganggu. Pasti pekerjaan udah menumpuk banget. Mulai dari Elvan sakit, aku juga sakit. Pasti banyak yang ketinggalan pekerjaan, Daddy."
"Nggak akan mengganggu jika hanya membantu kamu berjalan kesini, bahkan aku akan senang jika ditemani kamu."
"Daddy, aku rasa udah sembuh. Copot aja infusnya lagi. Boleh'kan?"
"Kamu yakin mau copotkan infus. Udah kuat?" tanya Tio.
"Udah. Aku juga mau mandi. Gerah banget."
__ADS_1
"Tunggu di panggil dulu perawatnya."
Tio mendekati ranjang dan memencet tombol untuk memanggil perawat. Belum lima menit, perawat sudah datang.
"Ada yang bisa saya bantu Bapak, Ibu?" tanya perawat itu.
"Istri saya minta infus-nya ditanggalkan aja. Apa bisa?" tanya Tio dengan ramah. Walau hanya dengan seorang perawat, Tio tetap akan bicara sopan.
Perawat itu pamit, mengambil peralatan. Setelah kembali, dia mulai bekerja mencpkan infus di tangan Calista.
"Sekarang udah copot. ibu bisa lebih leluasa bergerak."
"Terima kasih."
"Untuk saat ini nggak ada. Kamu bisa kembali. Sekali lagi terima kasih," ucap Calista.
Perawat itu pamit setelah Calista mempersilakan. Tio mendekati istrinya dan memintanya duduk di atas paha berpangku dengannya.
"Tambah ringan aja. Kamu harus banyak makan setelah kembali ke rumah nanti."
"Rumah? Bukannya kita tinggal di apartemen?"
"Itu juga rumah karena tempat kita tinggal. Rumah itu mempunyai makna yang lebih dalam. Orang-orang mengartikan rumah sebagai suatu hal yang bisa menciptakan kenyamanan, kehangatan, dan kebahagiaan dalam hati. Jika demikian, bangunan semegah dan semewah apapun tak bisa disebut dengan 'rumah' bila hati ini tidak merasa nyaman saat berada di sana. Begitu sebaliknya, walau kita tinggal di pondok, tapi merasa nyaman, bisa disebut rumah."
Tio sengaja mengalihkan ucapannya. Dia hampir saja keceplosan mengatakan pulang ke rumah. Padahal Tio ingin itu menjadi kejutan saat kembali dari rumah sakit.
__ADS_1
Tio telah meminta orang kepercayaannya mencari orang yang bisa dipercaya untuk bekerja di rumah. Mulai dari satpam, tukang kebun, supir, dan dua orang wanita yang membantu pekerjaan rumah.
Tio ingin semuanya orang yang terpercaya, karena mereka juga akan melindungi Calista dari orang-orang yang berniat menyakiti Calista.
Tio tidak mau saat dia bekerja di kantor, pikirannya bercabang karena memikirkan keselamatan Calista, terutama dari Tari.
Tio mengajak Calista pindah, karena Tari telah mengetahui apartemen tempat mereka tinggal selama ini.
"Daddy, aku boleh mandi."
"Tentu saja,Sayang."
"Kalau Gitu, aku mau mandi."
"Oke, mari aku bantu."
Tio dan Calista berjalan berpegangan tangan menuju kamar mandi.
...****************...
Bersambung
Selamat sore SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA lovers. Selamat menikmati akhir pekan.
Jangan pernah bosan menunggu kelanjutan novel ini ya. Lope-lope sekebon jeruk buat semuanya. 😘😘😘😘😘
__ADS_1