
Elvan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan. Elvan masih tidak percaya akan apa yang dirinya lihat hari ini.
Keluarga menjadi tempat kembali yang paling dirindukan oleh seseorang. Keluarga menjadi pelipur lara dan obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa lelah dan mengembalikan suasana hati. Namun, tidak setiap orang bisa merasakan keharmonisan dari sebuah keluarga. Bahkan, muncul rasa kecewa dari seseorang terhadap keluarganya.
Anak kecewa dengan orang tua adalah contohnya. Meskipun orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun tak jarang keputusan mereka justru membuat anak kecewa dengan orang tua.
Papa, di banyak cerita yang kudengar, di banyak film yang kutonton, anak akan menyandarkan kepalanya pada bahu tegas milik Papanya, membiarkan air matanya membasahi bahu milik Papanya. Tapi Papa, kenapa bahumu itu terlalu jauh untukku bersandar? Papa, aku tak tahu mengapa aku bisa menjadi mengecewakan seperti ini ketika dewasa, yang aku tahu, itu adalah bentuk kekecewaanku di masa dewasaku saat ini.
Omong kosong dan kepalsuan orang-orang di sekitarku adalah alasan utama mengapa aku suka sendirian dan melampiaskan semuanya dengan cara yang salah.Sekiranya anak muda suka marah, itu karena orangtua sering sekali mengabaikannya.
Elvan mengambil ponsel dan menghubungi nomor papa-nya. Terdengar nada sambung, tidak lama suara sahutan dari papanya terdengar.
"Elvan, ada apa?" ucap Papa di seberang sana.
"Aku capek. Aku ingin istirahat."
"Kamu bicara apa? Kamu dimana? Papa menyusul ke sana. Jangan bawa kendaraan." Tio bertanya dengan cemas.
"Papa maafkan aku. Sampaikan juga maafku untuk Calista. Aku yang salah."
"Kamu kenapa? Bicara nanti saja. Papa akan ke tempat kamu. Berhentilah di pinggir jalan."
__ADS_1
Elvan tidak menjawab pertanyaan papanya karena dia melihat mobil truk dengan kecepatan tinggi sedang mengarah ke mobilnya. Sepertinya mobil itu kehilangan kendali akibat rem yang rusak.
Elvan berusaha menghindar, namun telah terlambat. Mobil truk itu menabrak Elvan. Terdengar suara dentuman mobil yang sangat keras. Sambungan ponsel yang bum dimatikan membuat Tio kaget.
"Elvan, Elvan. Apa yang terjadi. Jawab Papa!" teriak Tio dekat ponsel. Tidak begitu lama sambungan ponselpun mati.
Tio semakin cemas. Dicobanya menghubungi Elvan kembali. Namun, ponsel Elvan sudah tidak aktif.
Calista yang berada dipelukan Tio dapat mendengar semuanya. Calista melepaskan pelukan Tio dan memandang Tio dengan saksama.
"Kenapa Elvan, Om?" tanya Calista.
"Nomor HP Elvan tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Aku mendengar suara dentuman keras sebelum ponselnya mati."
"Aku hubungi Tari, apa dia tau keberadaan Elvan."
Tio mencari nomor Tari dan menghubunginya. Tidak lama terdengar sahutan.
"Apa kau tau keberadaan Elvan?" ucap Tio langsung tanpa basa basi.
"Emang kenapa? Tumben kamu menanyakan Elvan," ucap mama Tari.
__ADS_1
"Kamu tau apa tidak? Aku sedang tidak ingin berdebat."
"Tadi Elvan menghubungi aku, mengatakan akan bermain ke rumah temannya di dekat jalan R. Ada apa?"
"Baiklah, terima kasih," ucap Tio tanpa menjawab pertanyaan Tari.
Setelah sambungan ponselnya dimatikan, Tio menghubungi asistennya untuk mendatangi jalan yang disebut Tari.
Tio kembali duduk di dekat Calista setelah menghubungi bawahannya.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Elvan. Walau dia bukan darah dagingku, tapi aku menyayangi dirinya seperti anak kandungku, karena dari dalam kandungan dia telah bersamaku."
"Apa maksudnya, jika Elvan bukan anak kandungnya, Om?"
"Panjang ceritanya. Kita lanjut di episode berikut aja ya."
...****************...
Bersambung
Selamat Pagi semuanya. Bagaimana episode hari ini. Pasti mengagetkan mengetahui jika Elvan ternyata bukan anak kandungnya Tio.
__ADS_1
Nantikan terus kelanjutan novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar.
Terima kasih. Lope-lope sekebon jengkol 😘😘😘😘