
Tio pulang sambil membawa sekotak es krim pesanan Calista. Istri kecilnya itu tadi menghubunginya pengin dibelikan es krim brownies.
Tio masuk ke apartemen dan melihat Calista yang menonton sambil baring di sofa. Tio mengecup bibir Calista dan memberikan es krim peranannya.
"Ini es krimnya. Aku ambil piring dan pisau dulu," ucap Tio. Tio kembali dengan membawa piring kecil, sendok dan pisau. Tio memotong es krim brownies dan memberikan pada Calista
Calista bangun dari tidurnya dan mengambil es krim. Dengan lahapnya Calista menyantap es krim itu. Tio memandangi Calista dengan mata berkaca.
Tio membayangkan di usia Calista yang masih 8 tahun, harus kehilangan kedua orang tuanya karena kecerobohan Tari dan dirinya. Jika Calista marah, bagi Tio itu hal yang wajar.
Tio membayangkan saat-saat Calista harus hidup sebatang kara seperti yang pernah ia ceritakan. Tante-nya yang kurang peduli. Padahal Tio telah memberikan uang yang banyak saat damai.
Tio langsung memeluk istrinya itu,membuat Calista jadi heran.
"Daddy kenapa? Aku lagi enak makan es krim. Kena bajunya, Daddy," ucap Calista.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukan semua itu."
__ADS_1
"Daddy ngomong apa? Aku nggak ngerti. Melakukan apa?"
Tio melepaskan pelukannya. Menatap Calista dengan mata berair. Tio memegang kedua bahu wanita itu, agar menghadap dengannya.
"Seandainya kamu tau siapa yang menabrak kedua orang tuamu, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bisa memaafkan kesalahan mereka?" tanya Tio dengan pelan.
"Kenapa Daddy tanyakan itu?"
"Jawab dulu pertanyaan aku, Sayang."
"Aku akan jambak rambutnya. Aku akan pukul. Orang itu telah membuat aku yatim piatu. Kenapa orang itu tidak pernah menemui aku? Tidakkah mereka ingin tau perasaanku saat itu?"
"Mungkin mereka ada menemui keluargamu yang lain. Saat itu kamu masih kecil, jadi mungkin belum bisa diajak mengobrol."
Calista tidak bisa menahan air matanya, melihat istrinya menangis Tio memeluk erat tubuh Calista. Air matanya juga tumpah.
"Luas samudra, dalamnya lautan itu tak bisa menggambarkan akan kerinduanku terhadap ayah dan ibuku. Kepergian mereka membuatku mengerti bahwa rindu paling sedih adalah ketika seseorang yang telah tiada. Namun, kepergian mereka mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan. Setelah kepergian ayah dan ibu,hidupku rasanya begitu rumit. Aku sangat ingin menceritakan semua kesulitan hidup ini pada mereka, tapi aku sadar itu tidak ada gunanya. Aku harus kuat. Aku harus menjadi dewasa diusia yang seharusnya masih membutuhkan kasih sayang."
"Aku mengerti bagaimana kesedihan kamu, aku tau apa yang kamu rasakan,untuk itu aku mohon maaf. Kamu bisa melakukan apa saja padaku, namun satu pintaku, jangan pernah pergi dan lari dari sisiku," ucap Tio.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi Daddy minta maaf? Apakah Daddy tau siapa penabrak oarng tuaku?" tanya Calista pelan.
"Ya, baru mengetahuinya jika korban adalah kedua orang tuamu. Namun, percayalah Calista, semua itu murni kecelakaan."
"Siapa? Katakan siapa yang telah menabrak kedua orang tuaku!" ucap Calista dengan suara tinggi.
"Tari, saat itu dia belajar nyetir. Aku sudah berusaha membantu Tari untuk menghindari tabrakan itu. Namun, semua terasa begitu cepat. Kami tidak bisa menghindarinya."
"Tante Tari yang menabrak?" ucap Calista.
"Iya, Sayang. Maafkan aku dan Tari," ucap Tio. Tio ingin menggenggam tangan Calista. Namun ditepis wanita itu. Calista mundur untuk menjauh dari Tio.
"Daddy juga berada di dalam mobil bersama dengan Tante Tari," ucap Calista terbata.
"Iya, Sayang. Maafkan aku," ucap Tio. Tio berusaha mendekati Calista.
"Jangan dekati aku. Aku nggak mau di sentuh!" ucap Calista.
Calista berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar. Tangisnya pecah di kamar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung