
Tari memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan Tio. Matanya merah menyala menatap Calista.
"Di depan Elvan dan Calista sebagai saksi, aku talak kau dengan talak tiga hari ini juga. Pernikahan kita memang sudah tidak sah lagi dalam agama, kita hanya menunggu keputusan pengadilan. Jangan berharap kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku selama ini bertahan denganmu juga karena Elvan," teriak Tio.
"Kau memceraikan aku hanya karena wanita itu.Jangan kau jadikan Elvan alasan. Jika kamu memang sudah tak cinta, kenapa selama ini bertahan, tidak mencoba menikah lagi. Sejak ada wanita itu kamu menjadi berubah. Apa kamu lupa, jika dulu kamu yang mengejar aku?"
"Mungkin dulu aku memang mencintaimu, namun sejak kamu ketahuan membohongi aku, rasa cintaku telah hilang."
"Omong kosong apa ini. Setelah tau Elvan bukan anak kandungmu, kau tidak juga menceraikan aku. Apa namanya jika bukan karena kamu yang sangat mencintaiku? Tapi wanita ini masuk merusak segalanya. Aku nggak bisa terima perceraian ini!"
Calista yang duduk di samping ranjang Elvan, kaget mendengar ucapan Tari. Calista yang telah mengetahui semuanya, memandangi wajah Elvan, berharap pria itu tidak mendengar ucapan mama-nya. Tio juga tidak kalah kagetnya. Dia tidak pernah mengatakan siapa Elvan sebenarnya, untuk menjaga perasaan anak itu.
"Katakan sekali lagi, apa yang mama katakan tadi. Apa aku tidak salah mendengarnya?" tanya Elvan.
Tari yang menyadari ucapannya, menjadi terdiam dan menunduk.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi, apa benar aku bukan anak papa Tio," teriak Elvan.
Tio langsung mendekati Elvan dan mencoba menenangkan anaknya itu.
"Pa, katakan dengan jujur. Apakah benar aku bukan anak kandungmu?"
"Sudahlah Elvan, jangan kamu pikirkan ucapan mamamu itu."
"Jawab pertanyaanku,Pa. Iya apa tidak. Jangan bohong lagi. Aku telah dewasa, bukan anak-anak lagi. Aku harus tau kebenarannya."
"Elvan, jangan berteriak. Ini di rumah sakit. Nanti perawat dan orang-orang datang ke sini. Mereka pikir ada apa-apa!" ucap Tio.
"Jadi selama ini aku telah dibohongi. Kenapa kalian tidak pernah jujur. Apa bagi kalian aku ini tidak berarti apa-apa? Kenapa aku seolah tidak pernah ada. Aku juga berhak tahu siapa orang tuaku!" teriak Elvan.
Calista berdiri dari duduknya dan mengusap lengan Elvan agar pria yang pernah dekat dengannya itu bisa tenang.
__ADS_1
"Elvan, jangan teriak. Kamu bisa tanyakan dengan baik-baik. Tidak perlu emosi," ucap Calista.
"Jangan mengambil kesempatan dengan berpura-pura baik. Aku sudah tau niat busukmu. Kau ingin Elvan simpati padamu, biar dapat dukungan. Kau sekarang pasti puas karena Tio yang telah menceraikan aku. Aku bersumpah, hidupmu tidak akan pernah tenang dan bahagia karena telah merampas kebahagiaan wanita lain."
"Cukup,Ma! Aku minta kalian keluarlah. Mama yang jahat. Kenapa menuduh Calista. Apa mama tidak pernah menyadari kesalahan yang selama ini mama lakukan!"
"Selama ini aku bangga memiliki Papa seperti kamu. Namun, saat ini aku sangat kecewa denganmu, Pa. Kenapa kamu menyembunyikan hal sepenting ini. Aku juga ingin berhak tau asal usulku."
"Maafkan, Papa. Semua ini papa lakukan karena menyayangi kamu. Papa takut kamu kecewa dan sedih. Bagi papa kamu tetap anakku. Walau darah kita tidak sama tapi aku mencintaimu, kau memiliki tempat dihati ini."
Tio mengucapkan semua itu dengan mata berkaca. Sebenarnya dia ingin menyimpan kebenaran ini selamanya. Semua orang hanya tahu, Elvan itu darah dagingnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung
__ADS_1
(Dalam literatur Mazhab Syafi'i disebutkan, bahwa talak tiga dianggap sah dan proses penjatuhan talak terhitung sejak redaksi talak diucapkan meskipun di luar sidang pengadilan, ini merupakan titik kelemahan fikih yang cenderung memprioritaskan segala sudut pandang legal, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa fikih hanya memandang segala sesuatu dari luar yang bersifat objektif) sumber : google.