SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA

SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA
Bab Tiga Puluh Delapan. SDCM.


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuh Calista, Tio kembali menggendongnya dan memasangkan baju istrinya itu. Tio memesan sup ayam kampung buat sarapan Calista.


Tio menyuapi Calista dengan penuh kasih sayang. Mata Calista berkaca menahan air mata yang akan tumpah di pipinya.


Dirinya yang kehilangan kedua orang tua sejak usia sembilan tahun, sangat merindukan kasih sayang merasa terharu mendapatkan perhatian yang begitu besarnya dari suaminya Tio.


Tio yang melihat Calista menangis menghentikan suapannya. Tio takut Calista merasakan sesuatu yang sakit.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Ada yang terasa sakit?" tanya Tio mengusap tangan Calista.


"Nggak ada yang sakit, Om."


"Terus, kenapa kamu menangis?" tanya Tio lagi.


"Aku rindu ayahku. Dari kecil aku sudah ditinggalkan ayah. Seandainya kecelakaan nggak merenggut nyawa kedua orang tuaku, pastilah saat ini aku masih bisa merasakan pelukan dan kasih sayangnya," ucap Calista terbata.


"Semua ini karena supir itu. Aku nggak akan memaafkan siapapun orang itu."


"Ada aku yang akan menggantikan posisi ayahmu. Aku akan menjadi ayah, abang dan suami yang terbaik untukmu."


"Dulu di kala aku merasa sedih dan diperlakukan tidak baik oleh orang lain, aku selalu bisa mengadu. Ayah adalah sosok yang akan lebih sedih dan terluka dariku saat dia tahu aku sedang bersedih. Seandainya waktu dapat diulang, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ayah."


Tio lebih mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat Calista,mencoba menenangkan istri kecilnya itu.


"Waktu terasa makin cepat berlalu, walau ayah telah lama pergi, Namun, semua kenangan darinya senantiasa abadi di hatiku. Kepergian ayah membuatku mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergia ayah pun mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan. Saat aku kehilangan sosok ayah, Dia menggantikan dengan kehadiran, Om."


"Mulai sekarang, jika kamu ada masalah jangan pendam sendiri. Membagi masalah dengan orang, akan membuat hatimu lega."


Setelah makan Tio mengajak Calista untuk berjemur di balkon kamar hotel. Calista tampak sangat cantik dan cerah dengan tanktop berwarna merah muda.



Tio meminta Calista duduk dipangkuannya. Tio memeluk erat pinggang Calista.


"Sayang, aku telah meminta bawahanku untuk mengurus kepindahan kuliahmu. Aku memilih tempat kuliah yang paling dekat dengan perusahaan, biar aku bisa mengawasi kamu."

__ADS_1


"Aku terserah Om aja." Calista memiringkan duduknya dan mengalungkan tangannya dileherbTio dengan kepala bersandar dibahu pria itu.


"Pulang kuliah kamu langsung ke kantor. Baru kita pulang bareng."


"Aku malu Om kalau harus ke kantor. Apa kata karyawan Om nanti kalau melihat aku setiap hari ke kantor. Apa lagi saat ini Om belum cerai dengan Tante Tari."


"Semua karyawan juga tau jika aku dan Tari nggak akur. Lagi pula perpisahan kami hanya tinggal ketok palu."


"Berarti cap pelakor akan terus melekat di tubuhku,"gumam Calista, namun masih dapat didengar Tio.


Tio memeluk pinggang Calista erat, mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.


"Pelakor yang dirindukan," ucap Tio kembali mengecup bibir gadis itu.


Ciuman yang awalnya lembut mulai menuntut, Tio me*lu*mat bibir Calista dengan tangan yang kini telah berada di dalam bajunya sedang mempermainkan gunung kembar wanita itu.


Setelah melihat Calista yang mulai kesulitan bernapas, Tio melepaskan pagutannya. Tio menggendong Calista kembali ke kamar.


"Kita tiduran aja. Dari kemarin aku belum tidur." Tio membuka pakaian bagian atasnya, bertelan*jang dada.



"Aku ingin benihku ada di rahimmu, Sayang," ucap Tio sambil mengusap perut Calista.


"Aku masih kuliah."


"Kuliah masih bisa walau kamu hamil. Kalaupun kamu nggak sanggup, bisa ambil cuti. Usiamu masih muda. Kalau aku menunda memiliki anak, bisa-bisa anakku masih kecil Daddy-nya udah nggak bisa apa-apa." Tio mengecup dahi Calista.


Tio sudah lama ingin memiliki anak lagi. Namun Tari istrinya tidak mau hamil. Alasan Tari, kehamilan akan membuat dia sulit melakukan apa-apa. Kehamilan juga membuat dirinya tidak bisa kemana-mana.


"Apa aku bisa menjaga bayi, Om?" tanya Calista sambil membayangkan dirinya menggendong bayi.


"Jika kamu belum pintar menjaga bayi, ada aku yang akan membantu. Aku juga akan mempekerjakan seorang pengasuh. Rasanya udah lama banget aku nggak menggendong bayi. Nggak sabar ingin mendengar suara tangisan bayi."


Calista hanya tersenyum menanggapi keinginan Tio. Calista mengakui apa yang dikatakan Om Tio ada benarnya. Saat ini usia Om Tio udah menginjak 43 tahun. Jika ditunda lagi kehamilannya, usia berapa Tio akan memiliki anak darinya.

__ADS_1


Jika usia Tio 50 tahun baru dirinya hamil, saat anak masih duduk di Sekolah Dasar, Daddy-nya telah tua.


Calista memeluk erat tubuh Tio dan membenamkan kepalanya di dada suaminya itu. Tidak berapa lama baik Tio maupun Calista telah terlelap.


Di tempat lain, Tari mengajak Elvan anaknya bertemu di salah satu kafe. Elvan datang sendirian kali ini. Dia tidak membawa Meidi, karena yakin mamanya akan bicara sesuatu yang pribadi. Mama Elvan tidak akan ada waktu jika itu hanya sekadar mengajak dirinya makan.


Elvan memilih duduk dihadapan mama-nya. Di meja telah terhidang makanan kesukaan anaknya.


"Makanlah, mama sengaja pesan semua makanan yang kamu suka," ucap Tari.


"Mama masih ingat dengan semua ini. Aku pikir udah lupa!"


"Mana mungkin mama lupa dengan makanan yang disukai anak mama."


"Itu mungkin saja. Jangankan makanan, melupakan anaknya saja bisa."


"Elvan, maafkan mama. Mama mengaku salah karena selama ini mengabaikan kamu. Mama mengajak kamu bicara, agar kita dapat bekerja sama."


"Bekerja sama untuk apa?" tanya Elvan heran.


"Kita akan membujuk papa untuk menceraikan kekasih kamu itu. Mama janji akan memulai dari awal lagi rumah tangga ini. Kita akan mengulang saat kebahagiaan kita dulu. Bertiga pergi kemana-mana."


"Aku bukan anak kecil lagi. Mana mungkin aku pergi dengan mama dan papa. Semua waktu yang mama siakan dan buang itu, tak akan bisa terulang lagi. Bagaimana mungkin bisa memulai dari awal jika kita telah ampai finish. Semua telah berakhir," ucap Elvan.


"Kenapa nggak mungkin, Elvan. Jika kamu nggak bisa ikut pergi dengan kami, setidaknya kamu masih bisa tinggal seatap dengan mama dan papa."


"Sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Suka nggak suka, mama harus menerima semua ini. Papa telah menikah lagi. Nggak mungkin bisa dipisahkan lagi."


"Ini semua juga karena kamu, Elvan. Jika saja kamu nggak kenal dan dekat dengan pelakor itu, pasti tidak akan ada orang ketiga dalam rumah tangga kami. Dari awal mama udah nggak setuju kamu dengan Calista. Ternyata firasat mama benar. Wanita itu benalu!" ucap mama sedikit berteriak.


Elvan hanya menatap mama-nya yang bicara dengan emosi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2