SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA

SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA
Bab Enam Puluh Enam. SDCM.


__ADS_3

Hari ini Calista telah diizinkan pulang dari rumah sakit. Tio telah meminta bawahannya untuk mempersiapkan kejutan.


Tio meminta Elvan juga hadir dengan sahabat Calista yang bernama Tanti. Elvan susah meyakinkan Tanti untuk ikut. Gadis itu heran melihat Elvan yang masih bisa menerima Calista, padahal telah menyakiti hatinya.


Dengan terpaksa, akhirnya Tanti mau mengikuti Elvan. Tanti sebenarnya juga sangat rindu dengan sahabatnya Calista.


Calista yang berada di dalam mobil merasa heran karena supir tidak melewati jalan menuju apartemen.


"Daddy, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju apartemen'kan?" tanya Calista yang duduk sambil memeluk lengan Tio.


Calista memang tambah lebih manja sejak kehamilannya. Beruntung Tio, sang suami memiliki sifat kebapakan yang selalu siap memanjakan Calista.


"Lihat aja nanti. Kemana supir membawa kita."


"Daddy pasti menyembunyikan sesuatu. Kenapa kita nggak langsung pulang ke apartemen aja?"


"Kamu ikuti aja kemana supir membawa kita."


"Daddy mah main rahasiaan," ucap Calista manja. Calista menyandarkan kepalanya dibahu suaminya. Tio langsung mengecup kepala Calista.


"Kehamilan kamu udah memasuki minggu ke sepuluh. Nanti saat udah masuk bulan keempat kita adakan syukuran."


"Aku malu jika syukuran harus mengundang orang."


"Yang namanya syukuran itu pasti mengundang orang, tujuannya untuk saling berbagi."


"Aku malu, Daddy," ucap Calista mengulangi.


"Kenapa malu?"


"Jika Daddy mengundang rekan kerja, otomatis mereka tau jika aku ini istri muda Daddy. Pasti nanti mereka akan memandang sinis dan merendahkan. Aku juga akan dikatakan pelakor."

__ADS_1


"Tujuan aku mengundang semua rekan kerja, sekaligus untuk mengumumkan penceraian aku dan Tari. Aku juga ingin mengenalkan kamu sebagai istri sah aku."


"Maksud Daddy, pernikahan kita telah didaftarkan di kantor KUA."


"Yuup. Saat ini kita telah menjadi suami istri yang sah secara agama dan negara. Jadi tidak ada yang perlu kamu takutkan."


"Itu pasti akan makin menguatkan aku di cap sebagai pelakor."


Tio memeluk pinggang Calista dan membawa ke dalam dekapan dadanya.


Mobil berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang sangat luas. Tio mengajak Calista turun dari mobilnya.


"Ini rumah siapa, Dad? Kenapa kita mampir ke rumah ini?" tanya Calista dengan wajah keheranan.


"Keluar aja dulu. Nanti kamu akan tau."


Calista keluar dari mobil. Berjalan memasuki teras rumah dengan tangan yang bergelayut di lengan Tio.


"Selamat datang di rumah baru," ucap Elvan dan Tanti juga orang -orang yang akan bekerja di rumah ini.


Calista masih kaget. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia memandangi rumah mewah itu dengan takjub.


"Mari masuk, ini rumah yang akan kita tempati mulai hari ini," bisik Tio. Calista memandangi Tio dan memeluknya erat.


Elvan dan Tanti yang melihat itu hanya bisa menatapnya. Tanti masih tampak kurang setuju dengan pilihan sahabatnya.


Setelah cukup lama Calista melepaskan pelukannya. Dia memandang ke depan dan berteriak histeris menyadari kehadiran Tanti.


"Tanti ...," teriak Calista dan memeluk sahabatnya itu.


"Aku kangen banget,"ucap Calista lagi dengan air mata kembali turun.

__ADS_1


"Aku juga kangen. Udah lama nggak mendengar bawelan kamu," gumam Tanti. Namun,suaranya masih dapat di dengar Calista.


"Aku pikir kamu tidak akan mau bertemu aku lagi. Aku tidak ada tempat curhat. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai pagi seperti dulu. Aku kangen tidur bareng kamu," ucap Calista dengan terisak.


Yang lain telah bubar. Hanya tersisa Tio dan Elvan menyaksikan dua sahabat melepaskan kerinduannya.


"Seharusnya aku tidak langsung menghakimi kamu. Sebagai sahabat seharusnya aku mencari tau semuanya. Aku baru tau jika kamu meninggalkan Elvan karena ketahuan dia selingkuh," ucap Tanti.


"Jangan bicara di sini. Ada Elvan dan papa-nya," bisik Calista.


Tanti merenggangkan pelukan mereka dan memandangi Elvan dan Tio yang berdiri di belakang Calista. Tanti memberikan senyumannya.


Tio mengajak Calista dan sahabatnya untuk duduk. Tio kuatir Calista akan pusing lagi jika kelamaan berdiri.


"Sebaiknya kita duduk di ruang keluarga. Calista baru sembuh, takut pusing lagi," ucap Tio.


"Daddy, aku udah kuat. Jangan ngomong gitu. Nanti aku diledek Tanti."


"Lebih enak mengobrol sambil duduk'kan? Bisa sambil makan camilan."


"Ayo, beb. Kita mengobrol sambil duduk," ajak Calista.


Tio dan Elvan berjalan mendahului menuju ruang keluarga. Lagi-lagi Calista takjub melihatnya. Di ruang keluarga terdapat televisi dengan layar yang sangat lebar lengkap dengan home theater.


...****************...


Bersambung


Mama kembali dengan rekomendasi karya teman mama. Jangan lupa mampir.


__ADS_1


__ADS_2